
Malam ini Amdara sama sekali tidak beristirahat. Melainkan memilih memainkan seluring irama ketenangan di bawah pohon besar. Hanya berhenti saat menghirup udara segar, dan kemudian meniup Benda Pusaka kembali.
Dia berniat menciptakan lagu baru, dengan cara terus memainkan irama yang sudah dikuasai dan mencari inspirasi.
Hingga pagi menjelang, dia baru menghentikan memainkan seluring. Dia teringat bahwa para Tetua akan menjenguknya saat tiga bulan sekali. Saat itulah dirinya berniat pergi ke Dark World untuk mengambil tanaman herbal, membuat pil bintang pelangi yang akan diberikan kepada Lintang bulan depan.
Dirinya membuat portal, membayangkan tempat Dark World. Dia masuk sambil memejamkan mata. Begitu membuka mata, dirinya disuguhi pemandangan tak biasa.
Di hadapannya, nampak banyak cahaya yang merupakan pengawal istana. Mereka juga terkejut dengan kehadiran Amdara yang tiba-tiba.
Amdara tidak buka suara, sampai akhirnya suara tak asing terdengar.
"Nona Muda?"
Are melesat mendekat, dia terlihat memperhatikan Amdara dari bawah sampai atas. Dirinya kemudian berujar, "apa ini benar-benar kau, Nona?"
Amdara mengangguk pelan dan bergumam sebagai jawaban.
Are sangat senang saat ini, dia kemudian berkata lantang, "kalian semua dengarlah! Beliau ini adalah Nona Muda, anak dari Nyonya Dewi! Beri hormat kepadanya."
Sontak semua cahaya di dalam istana memberi hormat dengan cara sedikit membungkukkan badan. Yah, ini lebih baik daripada saat Are yang dahulu memberi hormat dengan cara sujud.
Amdara menautkan kedua alis. Sepertinya kalimat Are ada yang kurang.
"Kenapa kau tidak sebut namaku?"
Perkataan Amdara membuat Are tersentak. Dia menepuk jidat saat sadar bahwa dirinya pun selama ini tidak mengetahui nama Nona Mudanya ini.
"A-aku minta maaf atas ketidaksopanan ini, Nona. Se-sebenarnya kau belum pernah menyebutkan nama."
Amdara dibuat berkedip dengan ucapan Are. Dia mendengus dan berkata, "kau tidak bertanya."
Are hanya merunduk tidak berani membantah. Bagaimana pun dirinya sangat menghormati anak dari Nyonya Dewi.
__ADS_1
"Namaku Amdara."
Kata Amdara tenang. Di Dark World dia tidak perlu mengganti nama. Toh, Tetua Bram hanya pernah mengatakan harus mengganti nama saat di Negeri Nirwana Bumi. Ini kan di Dark World. Jelas berbeda bukan? Pikirnya.
Are mengangguk sambil bergumam. Dia seperti pernah mendengar nama ini, tapi entah dari siapa. Ingatannya tidak setajam yang lain. Dia kemudian kembali menyerukan nama Amdara di hadapan para prajurit istana dengan lantang.
Terdengar suara tepuk tangan dan sorak sorai dari mereka. Tentu saja sangat senang dapat melihat anak dari pemimpin dunia ini secara langsung.
"Kau sudah mulai menjadi remaja, Nona Dara. Kecantikanmu sudah keluar, Nona," puji Are tiba-tiba.
Amdara tidak peduli dengan hal tersebut. Dia malah menyapu pandang ke depan, banyak cahaya dengan warna berbeda sebelumnya tengah terduduk entah karena apa.
"Apa yang terjadi di sini?"
Pertanyaan Amdara membuat Are tersentak, dia menoleh ke belakang dan kembali menunduk ke depan.
"Bukan masalah besar. Kau tidak perlu khawatir, Nona."
Are kemudian melayang, memberi perintah agar para pengawal istana pergi.
"Sudah lama kau tidak datang kemari. Aku sangat senang akhirnya Nona mau datang kemari lagi."
Amdara hanya bergumam sebagai jawaban. Entah mengapa suasana di istana ini terasa agak berbeda. Aura yang dirasakan juga sangat berbeda.
Amdara menaikkan sebelah alis saat Are mananyakan mengapa anak Nyonyanya ini bisa datang kemari.
"Mn? Aku sedang senggang," kata Amdara. Dia tidak perlu lagi khawatir terlalu lama di Dark World karena perbedaan waktu. Amdara kemudian kembali berbicara, "Are, aku ingin meminta tanaman herbal."
Are memiringkan sedikit kepala ke kanan. Dia mengangguk mengerti, mengapa Nona Muda ini datang kemari. Are lalu mengatakan bahwa tanaman herbal di sini memang sudah cukup lebat. Dia mengajak Amdara keluar istana untuk mengambil tanaman herbal.
Di luar, beberapa pengawal sedang memperdebatkan sesuatu. Namun saat mereka melihat Amdara, tidak ada lagi suara perdebatan. Mereka kemudian menunduk memberi hormat, yang diangguki Amdara tanpa menanyakan sesuatu pada Are.
Dia dan Are pergi ke wilayah barat, yang mana nampak jelas banyak sekali jenis tanaman herbal sangat subur nan lebat. Sejauh mata memandang.
__ADS_1
Tempat ini tidak jauh dari Perpustakaan yang berbentuk naga hitam dengan warna emas di sela-sela sisiknya.
Tanaman herbal yang hidup liar nyatanya tidak hanya hidup di wilayah tersebut. Tapi di wilayah lain juga tumbuh. Di depan matanya sekarang adalah jenis tanaman yang hidup di darat, dan di dalam tanah. Sementara untuk tanaman yang hidup di air juga ada.
"Nona, jika kau menyukai tanaman herbal aku akan merawat semua tanaman ini untukmu."
Are mempersilakan Amdara mengambil tanaman herbal sebanyak mungkin karena di sini dianggap tidak berguna. Atau bahkan disepelekan karena tidak ada manfaatnya bagi makhluk seperti mereka.
Tanpa ragu anak itu melesat memilih tanaman yang dibutuhkan. Ada banyak jenis tanaman di sini dengan usia terbilang sangat tua. Bahkan bahan-bahan untuk membuat pil dijamin akan berkualitas tinggi tidak seperti sebelumnya. Amdara sepertinya tidak perlu khawatir di mana dia akan mencari tanaman herbal dalam jumlah banyak.
Are juga membantu. Dia mengambil tanaman yang ditunjuk. Membutuhkan waktu lama sampai mereka bisa membawa beberapa jenis tanaman herbal dengan jumlah tidak sedikit, karena memang tanaman di sini tumbuh liar dan tidak terawat jadi ada yang menjalar ke tanaman lain.
Amdara memasukkan semua tanaman tersebut ke dalam Cincin Ruang.
"Nona Dara, apa kau akan pergi setelah semuanya selesai? Ah, aku akan sangat merindukanmu nanti."
Are bertanya tiba-tiba.
Amdara berpikir sejenak. Dia kemudian buka suara, "aku akan membuat pil di sini."
Are mengangguk-angguk paham. Namun, dalam hati dia bersorak gembira. Dia berniat mengantar Amdara ke dapur istana, akan tetapi suara debaman keras membuat perhatian mereka teralih.
Di atas gedung perpustakaan, dua cahaya ungu dan orange tengah sama-sama melesatkan serangan dahsyat bahkan sampai petir menyambar di langit.
Salah satu dari mereka terkena serangan telak, sampai terpental jauh. Lawan kembali melesakan serangan tidak main-main.
Are mengepalkan tangan melihat pemandangan di sana. Dia baru akan buka mulut, tetapi Amdara secepat kilat melesat ke arah cahaya yang terpental.
Dengan kecepatan luar biasa, anak itu berhasil menangkap cahaya orange. Dan membuat perisai pelindung dari serangan ungu.
BAAM!
Serangan tersebut benar-benar besar sampai terdengar ledakan besar. Asap ungu menguar ke segala arah. Angin kejut tercipta begitu besar.
__ADS_1
Are yang tak sempat menolong Amdara hanya bisa berteriak. Dia dengan cepat melesat ke sana, dengan perasaan tidak enak. Dirinya terkejut bukan kepalang melihat ke depan.