
"Tahu atau tidak, bukan urusanmu." Tetua Bram sama sekali tidak merasa takut. Dia mengeluarkan aura kekuatan khasnya yang membuat roh hitam di depan ini tersentak dan termundur.
Fuyi tertawa melengking. Dia mencengkram leher Tetua Bram kuat hingga darah mengucur dari sela-sela jarinya.
"Perkataanmu ini sudah menjelaskan bahwa kau memang tahu. Hmph. Tapi, dari mana kau mengetahuinya?"
Tetua Bram bungkam. Dia merasakan sakit di bagian leher. Napasnya tercekat dan sulit bernapas. Kebungkamannya ini membuat Fuyi jengkel dan mendorongnya hingga menghantam bukit hingga retak parah.
Fuyi terbang dengan tenang, mengarah ke Tetua Bram. Kaki jenjang tanpa alas kaki itu menapak sempurna di hadapan Tetua Bram yang sedang menahan sakit.
Pakaian Fuyi terlihat aneh. Ada bulu-bulu halus di bagian leher dan lengan. Tidak bermotif, tetapi ada dua kain panjang yang melilit bagian perut. Pakaiannya sendiri seperti terbuat dari kulit binatang.
"Katakan yang sebenarnya, atau kau mau masuk ke neraka." Tatapan Fuyi terlihat mengintimidasi.
"Kaulah yang harusnya kembali ke neraka. Dunia ini bukan tempat yang pantas untukmu!"
"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku, Tua Bangka!! Arrggghhh!! Mulutmu bau tanah tidak mau menjelaskan yah, biar kurobek saja!"
"Heh, kau yang bau busuk!!"
Tetua Bram mengeluarkan kekuatan besar hingga rantai yang melilit tubuhnya terlepas.
Selendang putih muncul, melesat menyerang roh hitam dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat Fuyi tersentak dan terdorong mundur.
"Gggrrhhh. Benar-benar harus kurobek mulutmu!!"
Fuyi menggeram marah. Dia terbang dan melakukan sebuah gerakan jurus, yang mana sebuah asap hitam muncul dan berusaha menyerang Tetua Bram.
Serangan roh hitam itu sangat besar, tetapi di tangkis oleh selendang putih. Kontan serangan tangkisan itu membuat tanah meledak dan berlubang besar. Roh hitam itu semakin dibuat marah semakin gencar menyerang dan berusaha mengelak dari setiap serangan selendang putih yang gesit.
__ADS_1
Kekuatan gelap muncul. Menggumpal, sebelum dia luncurkan ke arah Tetua Bram. Tetua Bram menatap ke depan, lalu menghilangkan diri menggunakan portal.
Serangan Fuyi berhasil meledak, menghantam bukit yang seketika hancur. Tanah kembali bergetar hebat. Asap hitam mengepul di udara. Fuyi mengepalkan tangan saat serangan nya tidak mengenai lawan.
Selendang putih kembali melesat ke arah Fuyi, kali ini tiba-tiba saja Tetua Bram memegang selendang dan menerjang musuh begitu cepat. Fuyi tersentak dengan kecepatan lawan.
"Lingkar Elang Pemusnahan Iblis ...!"
Tubuh Tetua Bram tampak bersinar dengan membentuk elang putih besar. Selendang sebelumnya berubah menjadi pedang yang sangat panjang dan tajam. Tetua Bram meliuk-liukkan badan menghindari serangan Fuyi yang terkejut.
BAAM!!
Blaaar!
Sebuah serangan tidak terduga berhasil menusuk perut Fuyi dari arah belakang, dan bawah. Dia terdorong mundur dengan jeritan melengking. Asap hitam bercampur merah darah keluar dari perutnya.
Tetua Bram kemudian melakukan gerakan aneh. Asap putih keluar dari bawah kaki, dan kemudian terbang mengarah ke Fuyi yang terjatuh. Asap itu mengurung Fuyi. Tidak sampai sana, Tetua Bram juga melakukan serangan yang membuat Fuyi terkurung dalam kekuatan besar dan akan sulit keluar.
Tetua Bram mengatur kekuatan dalam tubuh. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih keras, perasaan tidak enak mendadak muncul. Pikiran nya teringat pada Amdara yang keadaannya entah bagaimana. Padahal jelas-jelas Tetua Bram tahu, bahwa kekuatan gelap yang membuat roh-roh hitam muncul adalah karena Amdara. Walaupun dia tidak tahu apa penyebab gadis berambut putih itu bisa mengeluarkan kekuatan besar ini. Entah hal buruk apa saja yang gadis itu alami.
"Gadis itu tidak salah. Ini adalah takdir pahit yang harus dia emban."
Tetua Bram menutup mata. Teringat dahulu, bagaimana dua orang yang membawa bayi manis kepadanya. Memohon agar dia merawat, lalu melepas ketika umurnya mencapai 11 tahun, dan mulai menanyakan keberadaan orangtuanya. Tetua Bram bungkam mengenai identitas dua orang yang tidak lain adalah orang tua Amdara, sebab dia bingung bagaimana harus menjelaskan dan tidak enak mengatakannya.
Setelah lama berada di Negeri Nirwana Bumi dengan mengatakan ada misi di sana, Tetua Bram hanya tahu beberapa cerita dari Inay. Entah gadis berambut putih itu sudah mengetahui identitasnya atau belum, Tetua Bram hanya berharap Amdara bisa memilih sesuai keinginan hati sendiri.
"Sekarang, tugasku melindungi orang-orang dari roh hitam."
Tetua Bram melibas jubah belakang dan bersiap dengan jurus penghabisan. Lingkaran yang mengurung Fuyi bersinar terang. Menekan kekuatan Fuyi dari dalam.
__ADS_1
BAAM!
Kurungan itu meledak setelah Tetua Bram melesatkan serangan mematikan dari Organisasi Elang Putih. Dia yakin musuh sudah tewas sekarang. Asap hitam langsung mengepul. Terdapat lubang sangat besar sebab ledakan barusan. Tanah bahkan kembali dibuat bergetar hebat.
Tetua Bram menghembuskan napas lega. Diusapnya keringat di dahi. Akibat menyerang, Kekuatannya sudah terkuras setengah.
Asap hitam sebagai pertanda kehancuran musuh memang terlihat. Akan tetapi Tetua Bram kembali bersiaga merasakan kekuatan gelap kembali. Tatapannya kembali ke depan, tepat ke arah asap hitam. Asap hitam itu memunculkan mata semerah darah tanpa pupil.
Tetua Bram terdorong mundur saat sebuah angin kejut melesat ke arahnya. Dirinya dibuat tersentak saat sadar roh hitam itu belum tewas dan sekarang berubah menjadi asap hitam.
"Aarrghh. Kau benar-benar membuatku marah! Biarkan aku melahap tubuhmu!!"
Asap hitam itu dengan cepat mengarah ke Tetua Bram yang sontak menghindar dan membuat perisai pelindung. Tetua Bram segera menggunakan selendang putih ke depan, akan tetapi selendang itu menembus Fuyi dalam bentuk asap dan tidak membuat Fuyi terluka sama sekali. Kejadian ini membuat Tetua Bram tersentak dan melakukan serangan lain.
"Tubuhnya sama sekali tidak bisa diserang. Bagaimana aku melawannya?!" Tetua Bram Terus menghindar dari serangan Fuyi yang semakin besar.
Hingga salah satu serangan Fuyi meleset, mengenai gunung hingga hancur lebur. Tetua Bram yang melihatnya menelan ludah susah payah. Ini keadaan yang sangat merepotkan!
Sebuah rantai terbuat dari asap berhasil melilit Tetua Bram yang lengah sebab harus menghindar ketika perisai pelindungnya berhasil dihancurkan.
"Sial!"
Tetua Bram menghantam tanah hingga retak besar. Tubuhnya lalu dibanting ke sana-kemari oleh Fuyi dalam bentuk asap.
Asap Fuyi kemudian berubah menjadi kepalan tangan sangat besar. Mengarah dengan cepat ke tubuh Tetua Bram yang melayang kesulitan berontak.
BAAM!
Tetua Bram terkena serangan hingga darah muncrat dari mulut. Dia membuka mata lebar, merasakan seluruh tulang tubuhnya seperti hancur. Dia menghantam pepohonan dengan jarak jauh.
__ADS_1
Matanya mulai meredup, kehilangan kekuatan karena rantai yang melilit ternyata memiliki efek menyedot kekuatan. Tubuhnya penuh luka luar dan dalam.
Dia bergumam, "Amdara ...."