Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
102 - Arena Pertandingan (5)


__ADS_3

Aray bersiap mengambil ancang-ancang menerjang lawan yang merupakan anak laki-laki yang juga tidak kalah sering mengejeknya dahulu.


Asap hitam mengelilingi Aray, detik berikutnya dia menghilang dan membuat lawan waspada.


"Hei, pengecut. Kau menghilang pun, aku akan tetap mengalahkanmu."


Perwakilan kelas dua B yang bernama Jao itu mencoba merasakan hawa keberadaan Aray, tetapi dia sama sekali tidak mendeteksi.


"Mn, pengecut? Mari, kita lihat siapa si pengecut yang kau maksud."


Suara lirih Aray tepat di telinga lawan membuat lawan melesatkan serangan. Tetapi sama sekali tidak melukai Aray yang tiba-tiba menghilang kembali.


Jao berdecak kesal. Dia melayang, dan mengedarkan pandangan ke arena pertandingan dengan cemas.


Sebuah asap hitam muncul tepat di atas kepalanya dan membentuk palu besar. Ketika nyaris mengenai kepala Jao, dia sigap menangkis menggunakan kekuatannya. Menbuat perisai pelindung yang lebih kuat, tetapi retak begitu saja ketika asap hitam lain yang membentuk pedang menembus dan nyaris mengenai tubuh Jao jika saja dia tidak bergerak cepat menghindar.


Jao mengeluarkan kekuatan cahaya, dia kemudian melesatkan cahaya yang bukan sembarang cahaya yang menyelimuti arena pertandingan.


Seseorang yang tiba-tiba muncul terjatuh dan terbatuk. Dia adalah Aray yang tidak menyangka cahaya ini adalah cahaya yang bisa membuat siapa pun yang tidak terlihat akan terlihat. Bukan hanya itu, tetapi juga membuat lawan merasakan tubuh yang tertekan.


"Sial. Tubuhku sangat sakit."


Aray menatap nyalang lawan yang kini tertawa. Jao berkata dengan sinis, "sudah kubilang, kau ini pengecut. Sekali menjadi pengecut selamanya pengecut. Sudahlah, lebih baik kau menyerah saja seperti biasanya."


Aray yang tersulut emosi mengeluarkan aura hitam dari dalam tubuhnya dan lantas melesat membuat sebuah bola hitam yang bersiap melenyapkan Jao.


"Pengecut?! Lihat ini! Aku akan membawa perubahan pada kelas Satu C ...!"


Aray melempar kekuatan bola hitam itu pada Jao yang langsung menyeringai dan membuat bola cahaya lagi untuk melawan kekuatan milik Aray.


BAAM!


Debaman keras akibat benturan kedua kekuatan itu membuat asap mengepul di udara. Menggunakan kesempatan itu, Aray menarik tangan dan melibaskan sebuah asap hitam yang mengelilingi Jao. Detik berikutnya serangan bola hitam mendarat keras di hadapan lawan.


Jao yang tak sempat menghindar sempat tegang. Namun, ketika asap hitam mulai memudar dia tidak merasakan tubuhnya yang sakit. Tentu Jao kebingungan.


Saat menunduk, terlihat bekas lubang seukuran bola tepat di depannya.


Jao tertawa, "heh, sepertinya seranganmu meleset."


Aray yang tidak jauh di depan Jao menyeringai. Dia menaikkan sebelah alisnya dan berkata, "benarkah? Coba lihat lubang besar itu, b**oh!"


Aray melakukan gerakan dengan tangannya. Sebuah asap hitam keluar dari lubang yang tengah ditatap Jao dan seketika melilit tubuhnya.


Jao yang lengah tak sempat menghindar. Dia terkena jebakan lawan.


Aray memang sengaja tidak mengenai Jao tetapi dia sengaja membuat lubang di depan Jao karena ada rencana yang telah disusun.

__ADS_1


Aray berjalan santai ke arah Jao yang memberontak, tetapi asap hitam itu semakin kencang melilit tubuhnya.


"Sialan, kau! Lepaskan aku dasar pecunda**! Kita bertarung secara pria sejati!"


Aray yang mendengarnya nyaris tersandung kaki sendiri seketika mendengar perkataan Jao. Aray berkedip beberapa kali sebelum mendengus kesal.


"Hmph. Bertarung secara pria sejati apanya? Kau bahkan tidak bisa lepas dari kekuatan lemahku ini."


Aray menjitak kepala Jao gemas. Dia membuat Jao semakin bersungut-sungut dan berkata, "kau bicara apa, hah?! Aku bisa lepas dari lilitan lemahmu ini ...!"


"Oh, benarkah? Sebelum kau melakukannya, aku akan membuatmu kalah dalam pertandingan."


Aray menyeringai. Dia memundurkan langkah, lalu menciptakan sebuah bola besar hitam menggunakan kekuatan.


Jao yang melihatnya membelalakkan mata. Dia kesulitan menelan ludah.


"Apa kau berniat memb*n*hku?!"


Aray menguap. Dia melihat Jao malas dan mengangguk. "Kenapa tidak? Kau sering meremehkanku sewaktu masih belum bisa mengaktifkan kekuatan. Dan saat aku sudah bisa mengaktifkan kekuatan, kau juga masih meremehkanku."


Aray menarik napas. Teringat kejamnya Jao dan teman-temannya.


"Jao, sekarang bukankah aku memiliki alasan pasti untuk membunuh?" Aray menyeringai. Dia mengusap-usap dagu seperti tengah menimang-nimang sesuatu. Dengan suara serius kembali berujar, "mn. Aku mau mulai dari mana, ya? Jika hanya menggunakan bola ini, maka kau lenyap dengan mudah. Bagaimana jika aku melesatkan serangan kecil yang tidak akan langsung membunuhmu? Dengan begitu aku akan terus-menerus melesatkan serangan dan melihatmu berteriak kesakitan. Yah, ini juga bukan ide yang buruk."


Tubuh Jao seketika melemas mendengar perkataan Aray yang seperti serius akan melakukannya. Entah mengapa Aray memiliki aura mengintimidasi. Jao yang belum pernah merasakan aura ini dari Aray tak bisa berkata-kata.


"Mn? Kau akan berteriak seperti seorang gadis yang meminta pertolongan orang lain?"


"Tidak!"


Jao berteriak spontan.


Aray menahan tawa melihat ekspresi Jao yang pucat. "Aiya, aku mengerjainya keterlaluan, ya? Haih, jika begini aku akan membuatnya menyerah dengan cepat."


Para penonton mengerutkan alis ketika dua peserta yang seharusnya bertarung sengit malah mengobrol. Satunya terlilit kekuatan, seperti pasrah oleh keadaan. Satu lagi duduk bersila entah sedang apa.


Kelompok kelas Satu B yang melihat itu dibuat marah pada Jao yang tak kunjung menyerang. Mereka berteriak dan menyerukan nama Jao untuk menyerang agar cepat selesai.


Amdara yang melihat Aray di arena hanya bisa mengembuskan napas dan menggelengkan kepala. Ide gila Aray pasti mucul saat ini.


"Aiya, apa Aray sedang berdiskusi agar dia menang? Tanpa ada perlawanan."


Atma menepuk jidat gemas melihat tingkat Aray yang kini memutari Jao.


"Kurasa ... Aray sedang menawarkan keuntungan besar jika Jao menyerah." Pikir Dirgan.


Inay yang tengah melipat kedua tangan depan dada mendengus kesal dan berkata, "memang keuntungan apa yang akan Aray berikan? Aray itu miskin. Aku yakin dia tidak memiliki banyak uang."

__ADS_1


Atma yang mendengar hal barusan segera menoleh ke arah Inay. Atma mengedutkan bibir atas. "Kau bukan hanya melukai hati Aray tetapi kami semua. Tsk. Jika tidak mengambil misi waktu itu, maka aku tidak akan memiliki uang."


"Miskin. Hah ... kapan aku kaya?" Atma melanjut dan menunduk.


Inay mengerucutkan bibir kesal. Dia tidak menanggapi perkataan Atma dan fokus ke arena pertandingan.


Di arena pertandingan belum juga ada perubahan. Tetua Wan tidak melakukan apa-apa walaupun Aray telah berkata kejam. Yah, memang ini tidaklah melanggar aturan.


Aray menghentikan langkah di depan Jao setelah banyak memprovokasi lawan dengan begitu mudah.


"Kau memiliki waktu sepuluh detik."


Aray mulai menghitung dengan jari. Tidak mempedulikan keterkejutan dan penolakan Jao.


"Hei, ini terlalu cepat---"


"Enam."


"Aray, kau--"


"Tiga."


Bersamaan dengan Aray menyebut angka tiga, bola yang terbuat dari kekuatannya mulai membesar dan sudah berada di atas kepala Jao.


Tubuh Jao sudah lemas. Dia melirik ke arah teman-temannya yang menatap tajam. Namun, di sisi lain Jao juga harus memikirkan nyawa sendiri.


"Satu."


"Aku menyerah ...!"


Jao berteriak keras dan tentu mengejutkan semua orang yang melihat. Mereka jelas bertanya-tanya apa yang telah dilakukan Aray hingga membuat Jao dengan lantang menyatakan menyerah.


Tetua Wan tersenyum. Tidak menyangka dengan ide bocah perwakilan kelas Satu C ini.


"Baiklah. Karena Jao perwakilan kelas Satu C mengatakan menyerah, maka pertandingan dimenangkan oleh Aray dari kelas Satu C."


Tetua Wan mengeraskan suara agar para penonton dapat mendengarnya. Seketika suara riuh dan kegaduhan muncul. Banyak pertanyaan-pertanyaan tak ada jawaban pasti.


Tidak ada kerusakan sama sekali. Tidak ada pertarungan sengit. Yang ada hanya dua orang peserta yang tidak terluka sedikitpun.


Bahkan kelima Tetua hanya bisa menggelengkan kepala melihat Aray yang langsung melepaskan lilitan pada lawan dan tersenyum senang sambil melambaikan tangan kepada penonton.


Guru Aneh sebagai wali kelas di sisi lain dapat menarik napas lega. Karena biasanya Aray mudah marah dan bertindak gegabah. Senyuman tipis terlukir di wajah Guru Aneh. Dia membatin, "awal perubahan, ya?"


Guru Aneh kemudian memandang ke arah kelompok Kelas Satu C yang nampak berdiri dan saling menyerukan nama Aray semangat.


"Dua kali lolos bukan berarti kelasmu bisa menuju babak lanjutan."

__ADS_1


Suara tak asing bagi Guru Aneh itu adalah milik Guru Ghana yang entah sejak kapan berada di belakang Guru Aneh yang merasa sesuatu yang buruk akan terjadi setelah Guru Ghana berkata demikian.


__ADS_2