
"N-napasnya ...."
Detik itu juga Inay mengalirkan kekuatan pada inti spiritual. Napas Amdara hampir tidak terasa. Bahkan tangan Inay semakin bergetar hebat. Pikirannya melayang ke mana-mana. Andai saja dia bisa mengalahkan wanita itu, mungkin saja dirinya bisa menyelamatkan Amdara dan tidak akan mengikuti perintah wanita sia*an itu. Beruntung nyawanya dan teman-teman masih aman untuk sekarang.
"Dirgan dan Atma, cari seseorang untuk menyembuhkan Luffy sekarang!" Inay menahan sesak. "Jangan kembali sebelum kalian bertemu seseorang!"
Dirgan dan Atma mengusap air mata. Tidak ada gunanya menangis. Mereka harus melakukan sesuatu. Dirgan dan Atma langsung berlari mencari seseorang yang akan menyelamatkan nyawa Amdara. Namun, seharusnya Inay tahu bahwa tubuh Amdara tidak akan menerima kekuatan orang lain. Mencari orang lain malah tidak berguna sama sekali, yang ada tubuh istimewa Amdara akan diketahui banyak orang dan tentu hal tersebut akan membahayakan. Untuk saat ini Inay sama sekali tidak berpikir jernih. Dia terlalu mengkhawatirkan Amdara.
Di sisi lain, Fans entah bagaimana merasakan perasaan tidak enak. Pikirannya tertuju pada Amdara yang dia tinggalkan. Dengan sisa kekuatan dan tenaga, Fans menggunakan jurus terhebat hanya untuk melenyapkan Fusi yang langsung hangus karena tidak kuat menahan kekuatan.
Napas Fans tidak beraturan. Dia ambruk, ternyata tidak mudah mengalahkan lawan di Negeri Nirwana Bumi. Matanya memandang langit malam. Jubahnya koyak di beberapa bagian, darah mengalir di lengan dan perutnya. Sambil memejamkan mata, dia menyembuhkan luka luar dan dalam. Membutuhkan waktu lama, tidak ada cara lain selain menyembuhkan luka secara manual.
Setelahnya dia berjalan pelan, ke arah di mana dirinya meletakkan Amdara. Dia berharap bocah berambut putih itu baik-baik saja.
Sebuah misi yang dikatakan langsung oleh seorang Tetua, bukanlah misi yang harus diabaikan dan tentunya misi tersebut bukanlah misi biasa. Bukan sembarang orang mendapatkan misi dari Tetua, hanya yang dianggap mampu saja yang diberikan misi.
Lalu bagaimana dengan seorang bocah yang mendapatkan misi? Terlebih misi itu sebenarnya mudah tetapi tempatnya yang amat berbahaya. Bukan di suatu daerah, tetapi di Negeri lain. Negeri yang jelas berbeda dengan Negeri sendiri. Nyawa akan terenggut kapan pun jika sampai salah melangkah. Bahaya selalu ada di depan mata, sementara jika sampai lengah maka tak akan selamat.
"Apa sebenarnya tujuanmu Tetua?" Fans memijat keningnya yang pusing jika memikirkan hal tersebut. Pasti ada sesuatu yang tidak ingin Tetua katakan padanya secara langsung.
"Tolong ...! Siapa pun tolong kami ...!"
Dari jauh, Fans dapat mendengar seseorang yang meminta tolong. Dia melajukan langkah, tetapi tidak terbang karena masih dimasa pemulihan.
Dua bocah laki-laki memakai jubah hitam berlari ke arahnya. Terlihat mata yang sembab karena menangis, serta napas yang tidak beraturan karena terus berlari itu memegang kaki Fans membuatnya terkejut bukan main.
"Tuan, tolong kami. Kumohon tolong ...."
Bocah laki-laki yang lebih pendek dari temannya itu sampai memperlihatkan matanya.
"Tuan, nyawa teman kami dalam bahaya. Kami tidak memiliki kekuatan, kumohon tolong kami."
Dua bocah itu terus saja memohon. Fans menepuk bahu keduanya, meminta untuk berdiri. "Tidak bisa. Aku tidak bisa membantu kalian."
Tolakan tersebut membuat dua bocah yang tidak bukan adalah Dirgan dan Atma langsung kembali menangis.
Terlihat Fans memijat kening. "Aku sedang mencari seorang bocah. Dia juga membutuhkan pertolonganku."
Fans tidak berbohong. Dari pada menolong orang lain, lebih baik dia harus cepat menolong Amdara yang entah berada di mana. Fans berjalan begitu saja tanpa mempedulikan tangisan dan permohonan Dirgan dan Atma.
__ADS_1
Sampai langkah kakinya berhenti saat dua bocah itu berkata yang membuat Fans berbalik badan.
"Hiks. Apa Luffy akan selamat?" Atma masih menangis sesegukan.
Dirgan menepuk bahu Atma. "Kita hanya bisa berdoa. Anak itu akan selamat jika kita segera menemukan orang dewasa untuk menyembuhkan luka dalamnya."
Keduanya berjalan lemas. Tidak bisa memaksa seseorang, yang ada nyawa mereka akan melayang.
Fans seperti pernah mendengar nama 'Luffy', tetapi dia kembali mengembuskan napas saat tidak mengingatnya. Dia kembali melanjutkan berjalan. Dua puluh lima langkah, Fans mencoba mengingat nama tersebut. Dia yakin pernah mendengarnya.
Tatapan matanya datar, napasnya terhenti sejenak sebelum akhirnya dia melesat ke arah dua bocah yang ternyata sudah cukup jauh.
"Tunggu."
Fans mendarat tepat di depan Dirgan dan Atma yang terlihat terkejut.
"Kalian ... teman Luffy?"
Lebih terkejut lagi saat orang yang dimintai bantuan tetapi menolak itu tahu nama teman mereka. Dirgan dan Atma saling menatap sejenak sebelum mengangguk.
"Bawa aku ke tempatnya."
*
*
*
Malam masih lama, dewi malam tak pernah menghilangkan sinarnya. Angin berhembus kencang di hutan. Beberapa suara burung dan binatang liar terdengar. Suasana malam yang seharusnya damai bagi semua orang untuk beristirahat tetapi di dalam gubuk tengah hutan tidak ada yang tenang sama sekali. Hanya ada isakan tangis dan keputusasaan bocah.
Di dalam gubuk itu, Inay masih menjaga inti spiritual Amdara dengan baik. Kepalanya pusing, kekuatan sebelum menyembuhkan Amdara telah banyak dia gunakan untuk suatu hal.
Nada membawakan air di sebuah bambu dan memberikannya pada Inay. Sekarang harapan mereka hanya menunggu Dirgan dan Atma membawa seseorang untuk menyelamatkan Amdara di ujung nyawa.
Tiga bocah perempuan yang masih menangis, dan bocah perempuan yang terbaring dengan wajah pucat. Tak peduli dengan beberapa binatang yang mengaum.
Pintu gubuk didobrak keras, sampai roboh. Orang di dalam gubuk terkecuali Amdara terkejut bukan main. Terlihat pria tampan dengan jubah koyak dibeberapa bagian, membawa dua bocah laki-laki yang memperlihatkan senyuman kecil.
"S-senior?"
__ADS_1
Inay menahan napas, tidak menyangka dengan orang di hadapannya sekarang yang memeriksa keadaan Amdara. Wajah tampan itu mengeluarkan keringat dingin di dahi.
"Apa kau memiliki pil penyembuh?"
Inay tersentak. Dia mengusap air matanya menggunakan punggung tangan. Dia baru saja teringat Amdara pernah membeli pil penyembuh. Inay mengambil Cincin Ruang milik Amdara, beruntung dahulu dirinya pernah diberikan izin untuk menggunakan cincin tersebut jadi ketika Inay menggunakannya dia dapat melihat isi dari Cincin Ruang milik Amdara.
Inay memberikan lima pil energi dan pil penyembuh. Inay bahkan tidak teringat bahwa Amdara pernah membeli pil. Memang orang yang terlalu khawatir tidak akan bisa berpikir jernih.
"S-senior, apa bisa ...?"
Tidak ada waktu untuk bertanya mengapa Dirgan dan Atma bisa membawa Senior Fans. Yang terpenting sekarang adalah nyawa temannya.
Fans mengambil semua pil, kemudian melayangkannya. Mencairkan pil-pil tersebut kemudian dijadikan satu pil.
Teknik Penyatuan. Sebuah teknik dasar, tetapi tidak semua bisa melakukannya. Karena memang menbutuhkan ketenangan besar untuk melakukannya.
Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada sampai terperangah melihatnya. Ada banyak pertanyaan di benak mereka tetapi mereka urungkan niat itu. Berbeda dengan Inay yang terlihat biasa saja.
Fans mengangkat sedikit kepala Amdara, dan kemudian memasukkan pil tersebut ke mulut Amdara, setelahnya memberika air yang diberikan Inay.
Hembusan napas Fans terdengar. "Kalian beristirahatlah. Aku akan menjaganya."
Wajah-wajah polos itu, membuat mata Fans berkedut. Tidak tahu apa saja yang dilalui Amdara dan Inay selama ini. Tetapi yang pasti mereka memiliki teman-teman baik.
"T-tuan, bagaimana dengan luka Luffy?"
Pertanyaan dari Dirgan langsung dijawab oleh Fans. "Dia akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Istirahatlah."
Dirgan, Atma, Rinai, Nada, termasuk Inay mengembuskan napas lega. Atma bersujud di hadapan Fans. "T-terima kasih, Tuan. Kau mau menolong teman kami. Kami tidak bisa membalas sekarang. T-tapi suatu hari kami akan membalasmu lebih."
Rinai dan Nada ikut-ikutan bersujud. "T-tuan, terima kasih banyak."
Dirgan hanya menurunkan lutut menyentuh tanah. Dia menunduk. Sikapnya jelas seperti seorang bangsawan. "Terima kasih, Tuan."
Inay yang melihatnya mengedipkan mata beberapa kali. Dirinya bisa tersenyum kali ini, lebih tepatnya tertawa kecil. Fans melirik ke arah Inay, dia kemudian mengembuskan napas dan meminta mereka berdiri. "Aku paman Luffy."
Baik Dirgan, Atma, Rinai dan Nada tersentak. Mereka hampir tersedak napas sendiri mendengarnya. Tawa Inay pecah saat itu juga.
Nampaknya Inay juga mengenal orang yang baru saja menolong Luffy. Tetapi Inay tidak mengatakannya pada teman-teman.
__ADS_1
Malam itu, Inay menceritakan Paman Luffy dan bagaimana dirinya mengenal. Tentu Inay mengarang cerita, untung saja Fans membantunya menyakinkan mereka.