Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
23 Permintaan


__ADS_3

Amdara hanya tersenyum tipis saat pundaknya ditepuk keras oleh Atma.


Suasana siang hari ini hanya beberapa murid berada di luar sekolah. Kebanyakan masih berada di kelas karena ada pelajaran.


Amdara mendengar teriakan familiar, saat dirinya melihat ke samping sekolah, terlihat Ketua Kelas Dirgan dan empat anggota kelomponya tengah berlari dengan napas ngos-ngosan ke arah Amdara dan yang lainnya.


"Cepat lari!"


Dirgan menarik rekannya yang hampir menyerah, dia terlihat mengkhawatirkan sesuatu. Atma baru saja akan bertanya ketika Dirgan dan kelompoknya baru saja sampai. Namun, tiba-tiba saja tiga orang murid laki-laki mendarat tepat di depan Dirgan. Tiga orang itu tidak lain adalah Bena dan dua temannya.


Amdara menaikkan sebelah alisnya, menerka Ketua Kelas Dirgan dikejar oleh Senior Bena. Tatapan mata Amdara bertemu dengan Bena yang terlihat tersentak. Pertarungan kemarin membuat Bena kesal, tetapi di sisi lain juga ada sedikit rasa kagum.


"Lihat, siapa yang bertemu kali ini." Bena tersenyum sinis. Dia tidak menyangka akan bertemu Amdara dan murid-murid dari Kelas Satu C di sini.


Dirgan langsung berdiri di depan Amdara dengan tatapan murka. Pertarungan kemarin hampir membuat temannya kehilangan nyawa dan Bena terlihat sama sekali tidak menyesal.


Bena dan kedua temannya langsung tertawa. Seakan-akan Dirgan yang lemah itu akan melindungi orang yang memiliki kekuatan. Ck, benar-benar pemandangan lucu.


Amdara menepuk pundak Ketua Kelas Dirgan dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Dia tahu Ketua Kelas ini pasti ditindas lagi oleh Bena.


Empat rekan Dirgan ditenangkan oleh Atma, Nada, Rinai dan yang lain.


Dirgan baru saja akan berbicara, tetapi Amdara maju ke depan dan langsung berbicara pada Bena.


"Aku meminta permintaan."


Yang dimaksud Amdara tentu atas kemenangan kemarin yang boleh meminta permintaan apa saja pada yang kalah. Ini waktu yang tepat untuk meminta permintaan tersebut.


Bena menaikkan sebelah alisnya. Dia memang kesal dan malu karena kalah. Teman-temannya dan para senior bahkan menertawakannya saat bertemu, tidak hanya itu mereka bahkan mengatakan bahwa Bena lemah tidak bisa menang dari seorang bocah dari Kelas Satu C.


Bena masih ingat betul mata putih tanpa pupil yang menatapnya tajam, aura menekan dan perasaan gemetar itu benar-benar berbeda dari orang yang pernah ditemui selama ini.


"Kau melakukan kecurangan pada pertandingan kemarin! Ck, kau sangat licik." Bena mengepalkan tangan. Dia masih berpikir bahwa Amdara telah dirasuki oleh makhluk. Ketika dirinya mengatakan hal seperti itu pada temannya, dia malah ditertawakan dan mengatakan bahwa Bena berhalusinasi.


"Aku tidak melakukan kecurangan," kata Amdara tegas. Dia sama sekali tidak pernah takut menghadapi bahaya apa pun selama ini.


"Benarkah? Lalu mengapa kau bisa mengalahkanku?! Tingkatan kekuatanmu berada di bawah!" Bena berteriak marah. "Aku melihat kau dirasuki makhluk sampai matamu berubah putih!"


Inay yang baru saja datang tersentak mendengar perkataan Bena. Inay sampai menahan napas sejenak, dia tahu Amdara waktu itu memang memunculkan kekuatan dahsyat tetapi sama sekali tidak dirasuki oleh makhluk. Keempat rekannya masih merasakan sakit di punggung akibat cambukan dan berwajah pucat.


Kini semua pandangan mengarah pada Amdara yang masih tenang. Seseorang memang bisa saja dirasuki oleh makhluk. Apalagi Roh Hitam yang kuat biasanya bekerja sama dengan manusia untuk menghancurkan dan melakukan tindakan semena-mena.


Amdara tidak tahu jika matanya sampai berubah warna, saat ini pun dia tidak mengingat kejadian bagaimana perutnya yang tertusuk pedang.


"Tingkat kekuatan bukan menjadi masalah. Kau kalah karena kurang pengalaman bertarung."


Ucap Amdara tenang, matanya yang meneduhkan membuat siapa pun akan terpana jika tidak tengah diliputi emosi.


Bena berdecih, dan mengatakan, "berani sekali kau meremehkan pengalamanku bertarung?!"


"Kau kalah."


"Kau melakukan kecurangan! Kau bocah tidak tahu malu! Berani-beraninya meremehkanku!"

__ADS_1


"Sepertinya senior yang tidak tahu malu, tidak menerima kekalahan yang sudah jelas dan tidak menepati peraturan."


"Kau---!"


Bena kehilangan kata-kata, dia benar-benar marah pada bocah berambut putih ini. Entah mengapa Amdara sangat menyebalkan dipandangan Bena.


Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada sampai terpana mendengar perkataan Amdara yang begitu jelas. Bocah itu memiliki mulut semanis madu dan sepahit obat. Inay sendiri hanya tersenyum, semakin hari Amdara terlihat berbeda.


Dua teman Bena bahkan tersedak napas sendiri. Bena kalah telak dalam hal kekuatan bahkan sekarang dalam hal silat mulut.


Pandangan orang-orang yang lewat seketika terarah pada Bena. Yang dikatakan Amdara barusan menarik perhatian mereka.


Bena mengepalkan tangan kuat. Saat ini reputasinya benar-benar akan hancur selamanya jika dia tidak menepati peraturan yang dilihat banyak orang. Harga diri Bena pastinya akan jauh lebih jatuh.


Bena mengembuskan napas kasar. "Hah! Jadi apa permintaanmu?!"


Amdara menatap Ketua Kelas Dirgan, Atma, Nada, Rinai, dan teman-teman yang lain. Selama ini mereka menderita, dihina, dicaci maki, dan ditindas. Benar-benar anak-anak malang, dan butuh pertolongan.


"Kau dan seluruh temanmu di sekolah ini, jangan pernah lagi menindas teman-temanku, Kelas Satu C." Amdara berujar tegas. Belum sempat Bena menjawab, Amdara kembali berkata, "Dan jika kau melanggar permintaanku, berarti kau adalah pecundang."


Bena bungkam, dia baru saja akan menolak tetapi kalimat terakhir membuat darah Bena mendidih.


Ketua Kelas Dirgan, Atma, Rinai, Nada dan yang lain tersentak. Tidak menyangka permintaan Amdara tersebut, ini kali pertama mereka mendapatkan pembelaan dan dengan berani tanpa ragu berhadapan dengan orang yang selama ini menindas. Padahal usia Amdara sangat muda, keberaniannya patut diacungi jempol.


"Hah, lihat. Dia mengorbankan nyawa hanya untuk teman-temannya yang lemah dan payah." Salah satu teman Bena tertawa. Dia juga tidak menyangka Amdara akan meminta permintaan yang menurutnya konyol ini. Mempertahankan nyawa untuk kemenangan dan pada akhirnya meminta permintaan seperti ini sangatlah lucu.


"Heh, pertemananmu sepertinya erat sekali, yah." Satu teman Bena lagi tersenyum sinis. Jika dia menjadi Amdara, maka permintaannya tentu yang menguntungkan dirinya sendiri, meminta sumber daya 1000 misalnya?


Kedua teman Bena yakin Bena akan menolak permintaan ini, karena menindas Kelas Satu C adalah kebiasaan mereka sejak lama.


Setelah mengatakan hal tersebut Bena langsung melesat pergi, membuat kedua temannya terkejut bukan main dengan jawaban barusan.


Kepergian Bena barusan menyadarkan Ketua Kelas Dirgan, Atma, Nada, Rinai dan yang lain, mereka segera bertanya apa yang barusan mereka dengar bukanlah mimpi? Bahkan Atma sampai mencubit pipi sendiri saking tidak percaya.


Inay tersenyum bangga pada Amdara. Jika itu kemenangannya tentu tidak akan berpikir permintaan seperti Amdara. Rasa-rasanya Amdara sekarang jauh lebih banyak bicara dibanding dirinya.


Amdara mendapatkan pelukan dari Ketua Kelas Dirgan, Rinai, Nada dan yang lain. Sebuah keajaiban jika mereka tidak akan ditindas lagi, Amdara bagaikan seorang malaikat untuk mereka.


Amdara mengatakan semua akan baik-baik saja dan mereka akan tidak akan ditindas lagi. Jika ada yang menindas katakan saja Senior Bena seorang pecundang yang tidak bisa menepati janji.


Amdara tersenyum, setelah teman-temannya melepaskan pelukan, Amdara kemudian menarik Nada dan mengatakan pada anggotanya untuk lari.


"Cepat lari!"


Nada dan rekan-rekannya berlari sesuai perintah Amdara walaupun kebingungan tetapi mereka tetap melakukan.


Inay, Atma, Dirgan sebagai ketua kelompok masing-masing masih bingung dan belum menyadari bahwa mereka belum menuju kelas.


"Harta karun masih belum diambil!"


Amdara berteriak dan membuat yang lain tersentak. Mereka sampai lupa mengenai harta karun karena kejadian barusan.


Kelompok lain segera lari tetapi tiba-tiba saja Amdara meniupkan sesuatu di tangan yang membuat angin sampai kelompok Dirgan, Atma, dan Inay terdorong mundur sepuluh langkah.

__ADS_1


"Monster Kecil itu ...!" Atma melihat Amdara yang tersenyum tipis.


*


Di dalam kelas, Amdara dan rekan-rekan telah mencari harta karun tetapi tidak juga menemukan. Kelompok Dirgan, Atma, dan Inay yang baru saja sampai langsung mendobrak pintu, Inay berlari ke arah Amdara dan menggoyang-goyangkan bahu Amdara.


"Di mana harta karunnya?!"


Inay yakin Amdara telah menemukan harta karun itu tetapi Amdara mengatakan belum menemukan harta karun yang dimaksud. Jelas Inay dan kelompok lain tidak percaya, mereka menggeledah di seluruh bangku dan mengintrogasi anggota kelompok Amdara. Namun, jawabannya tetap sama.


Beberapa menit berlalu, dan mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk apa pun. Cahaya merah tiba-tiba saja muncul di depan papan tulis dan kemudian memunculkan seseorang yang mereka tunggu-tunggu.


"Harta karunnya ada di kelas ini," ucap Guru Aneh tiba-tiba tetapi tidak ada yang menjawab.


Amdara mengembuskan napas, sepertinya Guru Aneh tidak berniat memberikan harta karun itu.


"Guru, katakan yang jelas!" Inay menggelembungkan pipi saking kesalnya.


Guru Aneh tersenyum, dia melihat murid-muridnya ketika mencari petunjuk yang sama sekali tidak terduga dari balik cermin ajaib. Dirinya juga melihat bagaimana Amdara meminta permintaan pada Bena di depan sekolah.


"Harta karunnya adalah kalian."


Keheningan terjadi beberapa saat, Amdara, Inay, Dirgan, Atma dan yang lain menatap Guru Aneh penuh tanya. Perkataan Guru Aneh sama sekali tidak dimengerti. Bagaimana mungkin harta karunnya adalah mereka? Bukankah harta karun itu biasanya berisi emas atau barang berharga?


Guru Aneh berdehem sebelum menjelaskan.


"Harta karun itu sesuatu yang berharga, benar? Menurut kalian, apa pertemanan itu tidak berharga dibanding emas? Nak, kalian bisa mencari emas atau yang lainnya dengan mudah tetapi tidak dengan teman."


Amdara terdiam seribu bahasa, dia memikirkan perkataan Guru Aneh. Memang sejak dirinya datang ke sekolah ini, perubahan-perubahan kecil muncul dan salah satunya Amdara jadi memiliki banyak teman.


"Teman." Amdara tersenyum tipis. Nampak hanya dirinya yang paham dan puas dengan harta karun yang dimaksud. Sementara yang lain terlihat berdecak kesal karena merasa Guru Aneh mengerjai mereka.


Waktu pembelajaran kali ini diakhiri dengan gelak tawa dan cerita-cerita menarik saat mencari petunjuk. Mereka semangat menceritakan kejadian demi kejadian yang dialami. Bahkan Rinai yang biasanya menangis sekarang bisa menampakkan senyuman. Yang paling heboh ketika bercerita tentu Atma dan Inay, Guru Aneh sampai dibuat geleng-geleng kepala mendengarnya.


Sepulang sekolah, Amdara pergi ke lapangan latihan ketika seseorang memanggilnya. Di sana sudah ada Mega dengan segerobak kepingan emas. Mendengar bahwa Amdara sudah sembuh dalam semalam membuat Mega tidak menduga, padahal serangan Bena sangat fatal. Jika serangan itu mengenai Mega tidak yakin akan selamat.


Mega dengan wajah berseri-seri menjelaskan segerobak emas itu milik Amdara setelah memenangkan pertandingan. Amdara tidak menduga akan mendapat segerobak emas, dirinya tersenyum bangga karena otaknya yang cerdik bisa menghasilkan emas dalam sekejap.


Amdara tidak serakah, dia memberikan 500 keping emas pada Mega yang sudah menjaga gerobak tersebut dengan baik. Tentu Mega menolak karena jumlahnya yang terlalu banyak, tetapi Amdara memaksa. Jumlah emas yang dimiliki Amdara sekitar 1000 emas sekarang, dirinya berniat membeli sumber daya.


"Senior, di mana tempat penjualan sumber daya?"


Mega menaikkan sebelah alis ketika mendengar pertanyaan barusan. Mega mengatakan di sekolah memang tidak ada yang menjual, karena sekolah pun mendapatkan sumber daya dari hasil bisnis dengan sekolah lain dan mendapatkannya dari pedagang langganan.


Amdara tahu bahwa dia dan teman-temannya tidak akan mendapatkan sumber daya dari sekolah dengan mudah. Jadi bocah berambut putih itu berpikir akan membeli sendiri.


"Kau tidak bisa membeli di luar sekolah. Penjaga pasti melarang."


Amdara mengangguk paham, tetapi dia bisa menggunakan portal untuk keluar. Jika dirinya mengambil misi, belum tentu juga akan diizinkan karena statusnya sekarang adalah murid luar negeri.


Mega hanya mengatakan biasanya di pasar ada pedagang yang menjual sumber daya. Namun, dengan kualitas buruk.


Amdara segera melesat ke tempat sepi setelah Mega pergi untuk menyimpan emasnya. Mega tidak tahu bahwa Amdara memiliki cincin ruang.

__ADS_1


Titik cahaya keluar ketika Amdara membuat portal, dia segera masuk dan hilang di balik pepohonan.


__ADS_2