Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
170 - Perubahan


__ADS_3

"Aray ...! Apa yang kau lakukan?! Cepat berdiri. Kau pikir kau ini gadis, ya?! Tubuhmu itu sangat berat, tahu ...!"


Suara barusan membuat Aray langsung menutup kedua telinga. Dirinya mendengus kesal dengan perkataan Atma yang sungguh memalukan baginya. Berat?! Seorang gadis?!


Menggunakan kekuatannya, Aray membungkam mulut Atma. Sontak Atma langsung memberontak, tapi apalah daya, dirinya tidak bisa berkutik.


"Hmph, dasar mulut cerewet. siapa suruh kau masih berada di sini? Apa otakmu terbentur sesuatu hingga lupa perkataan Guru Aneh?!"


Atma membuka mata lebar, dia melupakan ucapan Guru Aneh yang memintanya dan yang lain untuk pergi ke kediamannya. Atma menelan ludah kesulitan, jika sampai telat, maka hukuman sudah menantinya.


"Hmpph!! Hmmmpphh!" Atma berusaha berbicara, tangannya mengusap-usap mulut berharap suaranya dapat keluar akan tetapi itu sama sekali tidak berguna.


Dirgan yang mendengar perkataan Aray juga menelan ludah kesulitan. Karena suatu urusan, dirinya jadi lupa untuk pergi ke kediaman Guru Aneh.


Sementara Aray mengambil sikap berdiri tiba-tiba. Raut wajahnya sudah pucat, tatapan matanya tertuju kepada dua bocah perempuan yang sedang menatap tajam sekaligus melesat ke arah mereka dengan aura lebih menekan. Bahkan, Dirgan sampai menahan napas ikut mencari hawa yang tidak asing ini.


Dirgan menarik napas pelan dan berujar, "gawat. Dua iblis itu akan menyeret kita jika tidak segera pergi ke kediaman Guru Aneh."


Atma yang mendengar perkataan Dirgan sontak mengerutkan kening. Dia mengikuti arah pandang Dirgan dan segera berdiri di samping Atma ketika matanya melihat dua bocah perempuan yang satunya memiliki rambut menjuntai ke bawah dengan raut wajah mengerikan, Atma langsung berpegangan pada pakaian teman laki-lakinya ini.


"A-apa kita masih memiliki waktu untuk melarikan diri?" Atma membatin cemas.


Suara tawa mengerikan terdengar dari salah satu bocah perempuan yang tidak lain adalah Nada. Penampilannya sudah berubah, bahkan aura yang terpancar mengandung tekanan bagi siapa pun. Sambil membawa boneka mengerikan, Nada mendekati ketiga teman laki-lakinya.


Sementara satu bocah perempuan lagi tidak lain adalah Rinai. Dia yang memiliki rambut panjang menjuntai ke bawah, tatapan matanya semuanya memutih. Bahkan kadang bergerak-gerak cepat, raut wajahnya tidak kalah mengerikan. Pucat bak mayat hidup, senyumnya bagai seringai mematikan.


"Kenapa masih di sini? Khakhaa, ayo pergi. Atau mau aku yang membawa kalian?"


Perkataan Nada membuat ketiga teman laki-lakinya merinding. Mereka langsung menggelengkan kepala cepat, buru-buru melesat pergi. Atma yang belum bisa mengaktifkan kekuatan sampai sekarang hanya mengandalkan kedua kakinya untuk lari secepat mungkin dari hadapan kedua teman perempuannya ini.

__ADS_1


"Hhhu. Dasar bocah laki-laki payah," Rinai mendengus. Kemudian mengajak Nada untuk pergi menyusul ketiga teman laki-laki barusan.


Amdara mengikuti mereka dari belakang. Karena kemampuannya sudah meningkat, bahkan teman-temannya tidak merasakan hawa kehadirannya. Tempat yang dilewati adalah hutan buatan, di sana terdapat sebuah lubang besar yang ditutupi oleh semak belukar. Nampak Dirgan masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Atma, Aray, Nada, dan Rinai. Setelahnya mereka menutup lubang tersebut menggunakan semak belukar juga.


Amdara menaikkan sebelah alis, mendarat di samping semak belukar tersebut. Dia terkejut sebab hendak menyingkirkan semak itu, tapi yang terjadi semak tersebut sangat sulit dicabut dari tanah. Seolah tidak pernah dicabut. Padahal jelas Amdara melihat bagaimana Dirgan menyingkirkan semak tersebut hanya menggunakan tangan kosong.


Dia memutari semak tersebut sambil mengamati apa yang sebenarnya terjadi. Amdara mendengus dan berkata, "segel penghalang."


Amdara tidak mungkin merusak segel penghalang ini, yang ada pasti akan mendapatkan masalah, dan lagi itu bukanlah tindakan yang sopan. Dia seharusnya menghampiri teman-temannya sewaktu belum memasuki lubang ini.


"Di mana Kak Nana?"


Nana atau Inay yang dimaksud Amdara tidak terlihat bersama teman-teman yang lain. Entah pergi ke mana bocah itu. Alhasil Amdara melesat pergi ke asrama, mencari Inay. Namun saat sampai, dia sama sekali tidak mendapati sosok yang dicari. Ketika Amdara memasuki kamar Inay, ruangan tersebut cukup berantakan. Terlihat dari sampai di atas meja dan di lantai yang tidak dibersihkan serta pakaian Akademi yang belum dicuci di atas tempat tidur.


Amdara menggelengkan kepala, tidak tahu apa saja yang diperbuat kakak seperguruannya itu selama ini. Bocah berambut putih itu membersihkan kamar Inay agar terlihat lebih rapi, dia sampai mencuci pakaian Akademi Inay di balik sekat.


Sementara itu, Inay ternyata sedang berjalan santai menuju asrama. Dia bersama dua bocah perempuan sedang bercanda, bahkan ketiganya terlihat akrab satu sama lain.


"Hei, bagaimana jika malam ini kita pergi ke pasar malam?" ajak salah satu teman Inay yang menggunakan masker hitam bernama Chi. Dia mengenakan pakaian Akademi, tapi dimodifikasi dengan menutup kepala menggunakan cindung dari pakaian tersebut.


"Itu akan seru! Kita akan pergi mencari mangsa malam ini. Hihihi."


Satu lagi temannya menimpali. Dia mengepang rambut ke samping, lehernya terlihat memiliki tanda lahir dengan gambar akar menjalar. Dia bernama Yufi.


Inay tersenyum, mengangguk setuju dan berkata, "tentu saja. Kita akan bersenang-senang malam ini."


"Hmph. Bagaimana jika kita taruhan? Siapa yang menang, dia boleh meminta apa pun."


Chi memberi ide, tersenyum di balik maskernya. Yufi mengangguk setuju, kali ini pasti akan menarik menurutnya.

__ADS_1


Inay tertawa dan merangkul kedua bahu temannya. Dia berujar, "tentu saja. Kalian siapkan uang, aku ingin pesta makan daging nanti!"


Chi mendengus dan mengatakan kali ini dirinyalah yang akan menang dari kedua temannya. Sedangkan Yufi melepaskan rangkulan Inay dan berdecak kesal karena selalu diremehkan, dirinya mengomel dan mengatakan malam nanti Inay dan Chi lah yang akan kalah.


Ketiganya tidak ada yang mau mengalah, seperti berdebat akan tetapi berakhir dengan tertawa bersama.


Inay melambaikan tangan kepada kedua teman perempuannya itu, dia kemudian melesat ke arah kamar melewati jendela dan mengatakan mereka akan bertemu di tempat biasa pada jam seperti yang telah dijanjikan.


Amdara yang melihat Inay dari balik sekat jendela hanya diam, tapi tatapan matanya terlihat berbeda. Dia duduk di salah satu kursi menunggu pemilik kamar datang.


Tepat ketika Amdara duduk, Inay baru saja melesat masuk ke kamarnya melewati jendela. Dirinya terlonjak kaget melihat seseorang tengah duduk tenang di kamarnya ini.


"Kau ...!"


Inay jelas terkejut dengan adanya Amdara yang kini menoleh ke arahnya tanpa ekspresi. Inay mendekat, masih tidak percaya dengan orang di hadapannya sekarang. Dia bahkan sampai menyentuh rambut putih lawan bicara yang tidak melakukan pemberontakan.


"Kau ... apa benar Amdara?"


Suara Inay sangat lirih, tapi masih terdengar di telinga Amdara yang bergumam sebagai jawaban.


Tatapan mata Inay berkaca-kaca, detik itu juga dia berteriak, "kenapa kau kembali, hah?! Bukankah kau seharusnya sedang latihan di sana?! Dara, apa kau kemari tanpa izin dari Tetua?!"


Amdara berkedip mendengar suara melengking Inay. Dia kira Inay akan menangis dan memeluk dirinya karena kerinduan, tapi apa-apaan ini? Inay malah mengomel.


Masih bersungut-sungut, Inay mendengus kesal dan duduk di depan Amdara. Dia memang mengomel, tapi jauh di lubuk hatinya sangat senang dengan kedatangan si rambut putih ini. Hanya saja dia tidak ingin memperlihatkan, karena yakin Amdara tidak akan berekspresi banyak seperti yang diketahui.


Inay memperhatikan raut wajah Amdara yang sama sekali tidak berubah, apalagi tidak menjawab. Dirinya mendengus dan mulai mengomel kembali.


"Katakan kepadaku, apa yang membuatnu kemari? Dara, kau ini sangat keras kepala. Bagaimana mungkin kemari tanpa izin dari Tetua? Apa kau sekarang menjadi anak nakal---?!"

__ADS_1


"Kau yang katakan kepadaku, apa hubungan pertemanan dengan yang lain tidak baik-baik saja?"


Detik itu juga Inay dibuat bungkam. Keterkejutan nya amat ketara. Tangannya mengepal mendengar perkataan tidak terduga dari Amdara yang sedang menatap tanpa berkedip.


__ADS_2