Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
211 - Tabir II


__ADS_3

Pertanyaan demi pertanyaan telah dijawab oleh Amdara sebaik mungkin. Mereka juga berbicara lebih santai dari sebelumnya.


Baik Tetua Widya, Tetua Genta, dan Tetua Rasmi telah mengetahui bahwa Amdara mengetahui beberapa pengetahuan tentang ilmu obat-obatan. Bahkan Amdara telah berhasil menciptakan pil Lembah Penyembuh dengan sempurna. Namun, anak itu tidak mau menyebutkan jenis-jenis tanaman herbal untuk membuat pil. Yah, ketiga Tetua memaklumi.


"Tetua, tolong jangan beri tahu siapa pun tentang pil ini."


Pinta Amdara tiba-tiba. Karena dia tahu jika banyak orang yang mengetahui dia menciptakan pil luar biasa ini, banyak yang akan memintanya membuatkan pil, meminta resep, atau paling berbahaya kitabnya akan direbut. Tidak! Ini akan sangat membahayakan!


Amdara sampai tidak habis pikir isi dari kitab ini sangat luar biasa. Entah bagaimana isi kitab lain di perpustakaan Dark World.


Ketiga Tetua tampaknya mengerti kerisauan Amdara. Mereka juga tahu akan resiko jika kabar ini menyebar.


"Kau tenang saja. Kami tidak akan mengatakannya kepada siapa pun. Mengenai kabar sebelumnya, biarkan Guru Kawi yang mengurus. Kau tidak perlu khawatir."


Tetua Widya menenangkan, dia tersenyum ramah. Diangguki oleh dua Tetua.


Amdara bisa menghela napas lega. Dia tidak perlu terlibat ke dalam banyak masalah.


Tatapan ketiga Tetua masih berdecak kagum atas pencapaian kekuatan Amdara yang tidak biasa.


"Luffy, bukankah sebelumnya kau pengendali angin?"


Kali ini pertanyaan dari Tetua Rasmi yang penasaran dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar suasana tidak canggung. Berbeda dengan Tetua Widya yang sudah menyaksikan langsung kekuatan es milik Amdara yang sangat mengerikan bisa membekukan orang lain dan memecahkan.


Ah, berbicara tentang es, Tetua Widya jadi mengingat kejadian di ruang bawah tanah. Mendadak kepalanya terasa pusing. Entah harus bagaimana dia menjelaskan kepada yang lain.


Terlihat Amdara tersenyum sekilas dan menjawab tenang, "satu tahun lebih kupergunakan untuk berlatih banyak hal."


Tetua Rasmi mengangguk-angguk. Dulu dia yang paling tidak suka pada Amdara sekarang mulai berubah. Perasaannya telah digerakkan.


"Nak, jika aku boleh tahu. Bukankah sebelumnya kau datang kemari untuk mencari kedua orangtuamu?"


Tetua Genta bertanya, dia ingat jelas ini. Apalagi saat pertarungan di area pertandingan melawan klan Ang sendiri.


Amdara terdiam, dia menunduk dan mengangguk. Sampai sekarang informasi tentang kedua orangtuanya masih belum cukup.


Tetua Genta tahu reaksi itu mengatakan Amdara belum menemukan apa yang dia cari. Dirinya menghela napas.


"Kupikir sebelumnya kau pengendali angin, dari Klan Ang. Jadi, mungkin orangtuamu berasal dari klan itu."


Kali ini ucapan Tetua Genta membuat Amdara mendongak. Nampak wajah Tetua itu tersenyum ke arahnya. Senyum tulus, ingin membantu.


"Jadi, besok aku akan membawamu ke Klan Ang dan mencari tahu."


Tetua Genta menyeruput teh tenang. Sementara lawan bicara terhenyak mendengarnya. Tidak menyangka, sangat tiba-tiba.

__ADS_1


Tetua Rasmi mengangguk setuju. Hal ini tidaklah sulit. Dan sama sekali tidak bisa satu kali membalas budi.


Dia berkata, "benar. Kau tidak perlu memikirkan izin dari Tetua Haki. Aku yang akan mengurusnya. Pergilah besok. Lebih cepat kau menemukan mereka, lebih baik untukmu."


Tetua Widya bernapas pasrah. Dia menyenderkan kepala ke kursi.


"Mn. Pergilah besok. Untuk latihanmu selama ini, kurasa itu lebih dari cukup." Tetua Widya menjeda, dan kembali berkata, "tapi untuk hari ini kau tetap harus mendapatkan hukuman."


Tetua Genta dan Tetua Rasmi menatap Tetua Widya yang tengah memejamkan mata. Keduanya belum tahu bahwa apa yang dilakukan Amdara benar-benar fatal. Beruntung tawanan tidak semuanya dilenyapkan. Jika tidak ... Masalah akan bertambah besar.


"Jangan tanyakan apa pun kepadaku. Tanyalah pada anak itu."


Perkataan Tetua Widya membuat dua Tetua langsung menghadap Amdara yang berkedip dan mengepalkan tangan kuat. Dia berusaha tenang, mengambil teh dan menyeruputnya.


"Maaf, Tetua. Aku membunuh beberapa tawanan." Amdara menarik napas dalam. Sebenarnya dia juga mulai bingung dengan diri sendiri. Dirinya melanjutkan, "karena ... mereka menyebalkan."


Katanya sambil menggelembungkan pipi. Jawaban ini jelas langsung membuat Tetua Widya terbatuk-batuk, menatap aneh Amdara yang juga menatap polos.


"Benar-benar wajah penutup dosa." Tetua Widya menggeleng-gelengkan kepala tak ingin ikut campur.


Dua Tetua lain terkejut atas jawaban barusan. Keduanya berpikir sejenak sebelum menggeleng. Yah, mereka melihat kekuatan mengerikan Amdara melawan banyaknya musuh tanpa berkedip dan tanpa terkena racun. Itu sudah membuktikan Amdara memiliki cara untuk menyangkal racun dan kekuatannya tidak main-main.


Kemungkinan besarnya Amdara telah melewati Tingkat Tahap Bumi. Amdara benar-benar jenius.


"Haih, kau sudah tidak menjadi anak-anak di mataku. Kau sudah besar, bisa membunuh tanpa berkedip. Luffy, untuk sekarang kau tidak diizinkan pergi tanpa seizin Tetua."


"Aku tidak janji." Amdara mengangguk dan berdiri sambil memberi hormat.


"Aku akan pergi ke balai hukuman."


*


*


*


Amdara berpamitan kepada ketiga Tetua ke Balai Hukuman. Kedatangannya mengejutkan murid yang berjaga. Mereka sampai bingung harus berkata apa. Sebab Amdara baru datang tapi sudah membuat keributan. Telah diputuskan bahwa Amdara mendapatkan lima ribu cambukan sebagai hukuman. Dia menolak mendapatkan hukuman lain seperti mencuci. Alhasil Amdara harus menambah cambukan, tetapi untuk waktu cambuknya terserah pada Amdara sendiri.


Suasana di Akademi Magic Awan Langit, terlihat tidak seperti biasanya. Banyak murid yang matanya sembab, tetapi bibir mereka terus mengomel tidak jelas. Tentu saja ini karena sebuah berita yang sebelumnya mengatakan dua Tetua meninggal, sekarang ada yang mengatakan keduanya telah hidup kembali dan ada yang mengatakan mereka tidak meninggal.


Bahkan para guru sampai mendatangi Guru Kawi secara langsung untuk mendengar berita aslinya.


"Hmph. Beritanya sangat aneh!"


Atma berjalan sambil mendengus kesal. Dia baru akan pergi ke ruang istirahat, tetapi di sana sudah tidak ada orang. Mendengar kabar tidak terduga ini membuat dirinya menghembuskan napas lega. Dia yakin ini karena campur tangan Amdara.

__ADS_1


"Ke mana dia pergi?"


Aray juga bersama Atma. Dia terlihat sudah sembuh karena lukanya tidak terlalu serius. Kedua laki-laki itu kini sudah dewasa, dan nampak tampan. Bahkan para junior memandang kagum.


Tidak lagi pandangan meremehkan dari para murid karena mereka telah bisa mengaktifkan kekuatan dan mengubah diri. Mereka telah benar-benar menciptakan citra baru.


"Aku tidak tahu. Mungkin Luffy, berada di ruang Tetua."


Atma menjawab sambil mengedarkan pandangan. Tidak peduli dengan tatapan anak perempuan ke arahnya.


"Aku akan mencarinya ke sana, kau cari ke tempat lain."


Aray langsung melesat ke arah ruang Tetua. Sementara Atma berkedip dan mendengus.


"Sudah lama tidak bertemu. Apa pertemanan ini akan sama seperti dulu?"


Atma menggeleng. Dia melesat juga ke tempat asrama putri.


Di asrama putri, terlihat seorang gadis cantik berusia 14 tahun dengan rambut ungu kehitaman berjalan anggun sendiri. Dia duduk di salah satu kursi taman, memandang ke langit biru.


"Aku merindukanmu."


Dia adalah Inay. Inay yang selama setahun lebih hanya terus berharap bisa bertemu Amdara secepat mungkin. Dia sudah ingin pergi dari Akademi.


Telinganya bergerak, mendengar berita meninggalnya Tetua Rasmi dan Tetua Genta. Sampai-sampai mendengar bahwa kabar itu tidak lah benar. Tidak ada respon dari Inay.


"Bukan urusanku siapa pun yang meninggal."


Dia kembali memejamkan mata. Udara di sana sangat sejuk, jadi sangat nyaman untuk bersantai.


Seseorang menapak, mendekat ke arahnya. Inay sama sekali tidak membuka mata, karena tidak merasakan adanya bahaya.


Sampai suara seseorang terdengar.


"Kau ... mn, apa kau melihat Luffy kemari?"


Satu nama yang dirindukan terdengar. Dia membuka mata, menoleh ke arah seorang laki-laki berusia 15 tahun tengah mengalihkan pandangan setelah melirik sekilas.


Angin sejuk menerbangkan rambut Atma. Dia memang terlihat tampan, tapi tidak di mata Inay.


Inay berpikir sejenak, Atma tidak mungkin datang kemari dengan omong kosong. Pasti Amdara telah kemari.


"Kapan kau melihat terakhir kali?"


Tanyanya datar. Atma menoleh, dan menjawab, "setengah jam lalu."

__ADS_1


Alis Inay berkerut, itu tidak lama. Dia berdiri dan menggunakan kekuatan untuk terbang tanpa mengatakan apa-pun kepada Atma yang bergeming.


"Mungkin akan berubah dan sulit disatukan lagi." Atma menunduk. Dia tahu pertemanan dengan Inay tidak lagi seakrab dulu. Semuanya berubah saat Amdara pergi untuk berlatih.


__ADS_2