Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
188 - Seluring Putih


__ADS_3

Semakin memejamkan mata dan berusaha tenang, napas Amdara malah tidak beraturan. Dia segera membuka mata. Tangannya terkepal kuat. Perasaannya mendadak sangat kesal entah karena apa. Warna mata birunya berubah menjadi putih. Dia berdiri menaikkan satu tangan yang langsung membuat batu yang sebelumnya dia duduki meledak. Melesat keluar dan langsung menyerang hutan sekitar dengan kekuatan besar. Mulai dari jurus angin, api, air, dan es dia lakukan untuk meredakan gemuruh di dadanya. Rasa ingin menghancurkan sesuatu terus terasa di hati, telinga dan juga pikirannya.


BAAM!


Seperti bukan Amdara, dia memiliki aura tidak biasa. Aura gelap yang menekan siapa pun. Aura yang membuat dada seseorang terasa sesak dan ketakutan. Asap hitam muncul dari bawah kaki bocah itu. Berubah menjadi bayangan seorang bocah yang berdiri di belakang Amdara.


Amdara semakin kehilangan kendali. Dia melepas rasa yang selama ini terpendam. Perasaan lelah. Perasaan yang ingin cepat-cepat mencari tahu kebenaran mengenai kedua orangtuanya. Bukan selalu mengikuti keinginan Akademi Magic Awan Langit ini.


Burung-burung berterbangan tak tentu arah ketakutan. Mereka seolah merasakan ketakutan luar biasa.


Debaman keras disertai gemuruh petir di langit, dan awan yang tiba-tiba saja berubah gelap. Angin yang terus berhembus membawa hawa tak mengenakan. Di sana, Amdara berdiri dengan tatapan tajam. Sudah banyak pepohonan yang hancur. Entah di mana perasaan tenang, pikiran jernih yang dimiliki bocah itu.


"Aku lelah."


Rasanya bocah itu ingin berteriak keras. Menumpahkan segala kerisauan di hati. Dia menunduk, pandangan matanya menggelap. Dan kembali mendongak dengan seringai yang tidak pernah dia perlihatkan sebelumnya. Dia terbang semakin tinggi. Tangannya terangkat, membuat hujan buatan di langit disertai gemuruh petir menyambar pohon yang langsung terbakar habis. Udara yang dibuat tidak lagi dingin, akan tetapi terasa panas dan menyesakkan walau ada hujan yang sedang turun.


Nyatanya kekuatan itu berpengaruh pada hutan di sekitar dalam jarak yang lumayan jauh. Para siluman yang melihat keadaan alam yang tidak biasa dibuat menahan napas dan bergidik ngeri, mereka langsung mencari tempat persembunyian.


Sementara Mon juga merasakan tekanan berat di pundaknya tiba-tiba. Dia yang berada di kediaman Tetua Haki dibuat terkejut bukan main melihat awan yang sebelumnya cerah menjadi tidak bersahabat. Perasaan tidak mengenakan itu kembali datang. Dia segera mencari Tetua Haki untuk segera menyelidiki hal ini.


Tidak ada yang tahu bahwa alam berubah karena kekuatan Amdara yang tidak terkendali. Bocah itu seperti kehilangan jati dirinya sendiri.


Sebuah seluring putih tiba-tiba muncul. Seluring itu merupakan benda pusaka. Cahaya putihnya membuat Amdara menatap dingin.


Seluring tersebut naik turun seolah tengah berbicara. Namun, yang terjadi Amdara malah menyambarkan sebuah api ke arah seluring itu yang langsung menghindar.


Irama ketenangan terdengar berbunyi dari seluring tersebut. Awalnya Amdara langsung menutup telinga yang terasa sakit. Dadanya terasa sesak mendengar irama ketenangan. Dia mencoba menghentikan Seluring Putih yang sedang mengelus irama ketenangan. Tetapi selalu gagal karena aliran kekuatan dalam tubuhnya bergejolak tidak terkendali. Bayangan aneh di belakangnya seperti tengah berpegang pada kepala, seolah tengah merasakan sakit luar biasa. Amdara menekan dada. Memuntahkan segumpal daging hitam. Mata yang awalnya putih mulai berganti biru seperti biasa. Aura gelap perlahan memudar setelah bayangan itu menghilang.


Amdara ambruk, kehilangan kesadaran. Sementara itu, seluring putih masih terus mengeluarkan irama ketenangan.


Cukup lama Amdara tidak sadarkan diri. Hingga senja sudah mulai menampakkan diri. Seluring Putih terus saja melayang-layang mengelilingi Amdara dengan mengeluarkan irama ketenangan. Jika dilihat dengan baik, mata Amdara nampak terpejam. Dia seperti tertidur sangat nyenyak tanpa terganggu udara yang semakin dingin. Seolah irama ketenangan benar-benar menghanyutkan, menenangkan diri.


Seluring Putih itu seperti memiliki pemikiran sendiri. Tidak berhenti mengeluarkan irama ketenangan bahkan sampai matahari kembali terbit. Seluring putih itu kira hanya membutuhkan satu hari untuk membangunkan sang bocah.

__ADS_1


Nyatanya satu minggu, tepat saat malam hari mata Amdara bergetar. Perlahan matanya mulai terbuka. Hal pertama yang dia lihat adalah Seluring Putih. Perlahan Amdara bangun, memperhatikan sekeliling yang sudah gelap. Dia menyentuh kepala yang terasa sakit, teringat sebelumnya dia sedang bermeditasi.


"Bagaimana bisa ...?"


Seluring Putih terbang tepat di hadapan bocah berambut putih itu sambil melayang-layang. Amdara berkedip melihat kejadian ini, dia bahkan tidak ingat mengeluarkan Seluring Putih. Benda Pusaka itu kemudian menunjuk sebuah tulisan di tanah. Amdara mengikuti petunjuk itu.


"Kau bodoh. Manusia sepertimu bisa dikendalikan aura gelap. Memalukan."


Amdara yang membacanya tersentak. Dia melihat Seluring Putih itu melayang-layang dan kembali menulis. Padahal selama ini Seluring itu tidak melakukan apa-apa. Lalu bagaimana ini bisa terjadi?!


"Sekarang kau tidak memiliki banyak waktu. Cepat berlatih!"


Amdara memegang kepalanya yang bertambah sakit. Dia melirik seluring putih dan berkata dingin, "apa kau memiliki roh?"


Seluring Putih itu kembali menulis.


"Tidak."


"Lalu siapa yang mengendalikanmu?"


"..."


Amdara memperhatikan Benda Pusaka miliknya. Entah apa yang terjadi sebelumnya. Kepala Amdara bertambah sakit jika memikirkan Seluring ini.


"Apa yang terjadi sebelumnya?"


Amdara mencoba bertanya. Seluring Putih malah menunjuk tulisan pertama. Amdara menautkan kedua alis, bingung. Bagaimana mungkin dirinya sampai dikendalikan aura gelap? Itu sangat mustahil. Akan tetapi tidak mungkin juga benda pusaka ini berbohong.


"Berapa hari aku tidak sadarkan diri?"


"Satu Minggu."


"..."

__ADS_1


Amdara menghembuskan napas panjang. Dia terlentang dengan lengan sebagai bantal menghadap langit malam. Ini kejadian pertama yang dialaminya. Dia memejamkan mata sesaat untuk berpikir. Apa mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan kekuatan, dia sampai kehilangan kendali? Atau karena dirinya terlalu banyak membunuh? Masuk akal! Tapi Amdara berpikir lain lagi. Ada kemungkinan ini adalah efek karena terlalu sering melenyapkan Roh Hitam.


Amdara sepertinya melupakan hal ini, semakin banyak melenyapkan Roh Hitam semakin banyak pula aura gelap yang akan menyelimuti. Ketika kecil, Amdara memang sudah banyak membunuh, akan tetapi efek dari aura gelap yang dia dapat baru akan terasa jika dia sudah mencapai tingkat melenyapkan Roh Hitam tertentu. Mungkin saat ini Amdara sudah mencapai tingkat itu! Efek dari aura gelapnya adalah kehilangan kendali atas dirinya, dan untuk meredakan atau menghilangkan aura gelap itu membutuhkan penanganan khusus. Seperti melakukan pembersihan jiwa. Dan itu dilakukan di Organisasi Elang Putih. Tidak mungkin Amdara pergi ke Organisasi Elang Putih untuk saat ini. Memang tidak mudah menjadi 'pelenyap roh'.


Amdara menarik napas dalam. Dia membuka mata dan melihat Seluring Putih ini terbang tepat di atasnya.


"Apa kau yang menjagaku seminggu ini?"


Seluring Putih itu naik-turun seperti menjawab. Amdara mengangguk dan mengatakan terima kasih. Entah apa yang akan Amdara lakukan kepada seluring itu.


Tiba-tiba saja Seluring Putih memukul dahi Amdara, sontak saja bocah itu tersentak. Seluring itu kembali menunjuk tulisan.


Amdara segera bangkit, sambil menaikkan sebelah alis. Nampaknya benda pusaka ini mengetahui sesuatu.


"Aku mengerti. Kau tahu cara mengendalikan aura gelapku. Kau akan membantuku melatih mental dengan mu?"


Seluring itu naik-turun. Amdara mengangguk dan segera duduk bersila dengan baik. Memperhatikan benda pusaka tersebut yang sedang kembali menulis.


Hal pertama yang dilakukan Amdara adalah meniup seluring dan membunyikan irama ketenangan.


Dia melakukannya dengan baik. Bahkan perasaan Amdara jauh lebih baik setelah membunyikan irama ketenangan. Pikiran Amdara jadi jauh lebih tenang dan jernih tetapi semakin lama meniup seluring, perut Amdara semakin terasa sakit dan seperti ada yang menguliti. Dia pikir karena masuk angin atau belum makan, tetapi mendadak dadanya juga terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang sedang bergerak-gerak di perut, naik ke dada dan ke tonggorokan sampai Amdara memuntahkan segumpal daging hitam. Amdara jelas terkejut, dia tidak tahu sampai memuntahkan itu.


Seluring putih lepas dari tangan Amdara dan kembali menulis.


"Itu aura gelap yang membeku dalam tubuhmu. Semakin banyak yang kau muntahkan akan semakin baik."


Amdara mengangguk mengerti. Dia kembali mengambil seluring dan memainkan irama ketenangan. Tanpa banyak bertanya.


Semalaman itu dia terus memainkan seluring irama ketenangan. Beberapa kali dia memuntahkan hal yang serupa, dan semakin sering maka gumpalan itu semakin kecil.


Setelah dikatakan merasa cukup, Amdara memain-mainkan seluring tersebut. Dia pernah mendengar irama yang ditiup oleh Ang. Dia mulai mencobanya, akan tetapi tiba-tiba udara yang semula tenang berubah menjadi menyesakkan dan aura di sekitar jadi berubah. Amdara segera menghentikannya.


Seluring tersebut terlepas dan menulis sesuatu.

__ADS_1


"Irama Kematian. Kau bisa memainkan irama ini hanya di saat-saat tertentu dan hanya boleh dilakukan untuk hal kebaikan. Hei, bocah. Ingat itu baik-baik!"


Amdara mengangguk, dia kembali diajarkan mengenai irama-irama lain oleh Benda Pusaka itu. Amdara tidak menyangka akan mendapatkan pengajaran oleh 'benda'.


__ADS_2