Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
78 - Kelinci Percobaan


__ADS_3

Tetua Genta melayang, dan mulai mendekati satu kelompok pertama dari kelas Tiga Tingkat A yang mana barang sebelumnya merupakan barang yang sulit di cari, yaitu permata Siluman Rubah Perak sebesar kepalan orang dewasa. Tak disangka mereka berhasil mendapatkan, entah bagaimana caranya.


Tetua Genta meminta murid tersebut menjelaskan kegunaan dari barang yang baru saja dibuat.


Murid tersebut memberi hormat dan dengan sopan mulai menjelaskan. "Ini merupakan permata Siluman Rubah Perak yang kuukir menjadi bentuk rubah kecil."


Diperlihatkan permata berwana perak tersebut pada Tetua Genta yang menatap takjub. Tanpa membuat permata itu rusak atau kehilangan kekuatan, murid ini bisa membuat bentuk rubah dengan begitu telaten.


"Itu bagus."


Tetua Genta mengangguk dan beralih ke kelompok lain. Tepuk tangan meriah terdengar, murid itu menunjukkan tinggi-tinggi barang yang diukirnya agar semua murid bisa melihat. Dia tersenyum bangga.


Di meja kedua kelas Tiga Tingkat Unggulan yang diwakilkan oleh seorang perempuan berparas cantik dan memiliki senyuman ramah itu memberi hormat pada Tetua Genta dan langsung memperlihatkan jubah biru bercorak petir yang terbuat dari kulit Siluman Gajah Berkulit Emas.


Murid tersebut menjelaskan bahwa jubah tersebut tahan dari serangan api dan bisa menjadi jubah pelindung.


Amdara yang mendengarnya terpana. Memang tidak bisa memandang remeh kualitas para murid Akademi Magic Awan Langit.


Seruan dan sorakan kembali terdengar semangat. Kali ini jauh lebih banyak dan jelas pertandingan yang berbeda dari tahun sebelumnya sangat menarik.


Amdara dapat melihat benda-benda bagus yang dihasilkan dari perwakilan setiap kelompok. Dia seketika tersentak saat tiba waktu di mana Tetua Genta mendekati meja Cakra.


Ada aura yang dirasakan Amdara. Dingin dan seakan pernah dia rasakan ketika menggunakan kekuatan anginnya. Pedang dengan ukiran indah itu melayang, Amdara memerhatikan dan menahan napas sejenak.


Bahkan Tetua Genta sampai mundur selangkah merasakan aura dari pedang tersebut. Cakra memang terkenal berbakat sejak dahulu. Kekuatannya semakin bertambah setiap harinya, tidak heran sampai dia berada di kelas Tiga Tingkat Atas meninggalkan teman-teman seumurannya yang berada di kelas dua.


Banyak murid perempuan yang memanggil nama Cakra disertai kekaguman. Mereka sampai lemas melihat wajah tampan Cakra yang tersenyum. Memang seterkenal itu.


Ketika di meja Bena, sebuah tombak berkekuatan api yang dia ciptakan mengundang banyak tatapan. Bahkan Guru Ghana yang terlihat tengah memantau dari kejauhan nampak tersenyum bangga. Dan tersenyum remeh ke kelas Satu C yang mana hanya terlihat kuali di atas meja. Entah ramuan apa yang dibuat.


Amdara tak lagi memperhatikan. Dia sibuk berpikir sendiri. Dan seperti mencari seseorang ke belakang. Ternyata bukan hanya dari murid-murid yang tidak mengikuti pertandingan tengah menonton, tetapi murid penjaga gerbang yang tiga orang sebelumnya juga tengah menonton. Nampaknya mereka telah berganti jam menjaga gerbang. Amdara menyeringai, ide cemerlangnya muncul.


Seruan-seruan tak pernah pudar bahkan sampai di kelas kelompok Daksa yang memperlihatkan sebuah jarum yang amat kecil. Tetua Genta mengambil jarum tersebut dan meminta penjelasan.


Dengan bangga dan percaya diri Daksa menjelaskan, "ini adalah jarum peledak. Saya akan membuktikan."


Daksa tersenyum, dan meminta izin untuk membuktikan. Dia menyeringai, dan detik berikutnya menyerang tepat ke arah meja Atma.


BAAM!


Nyaris jantung Atma dibuat rontok karena debaman tak terduga tepat di hadapannya. Jelas dia terkejut bukan main, beruntung dia bisa menyelamatkan periuk dengan cepat. Namun, dirinya sampai terguling ke belakang, dan cairan yang dibuatnya sedikit tumpah.


Atma meringis, sikunya terluka. Semua yang melihat jelas tersentak termasuk Tetua Genta yang lengah tak bisa menahan jarum peledak barusan. Kegaduhan terjadi, dan membuat Tetua Genta menatap Daksa tajam.


Amdara melihat dengan jelas, Daksa masih membenci kelas Satu C. Makanya dia sengaja melemparkan jarum peledak ke meja Atma.


"Hoi, bukankah Daksa sengaja melakukannya ...?!" Tidak terima, Aray maju ke depan dan ingin sekali mengajak Daksa bertarung.


Diran juga sampai maju kali ini, tidak terima dengan perlakuan Daksa yang keterlaluan. Untung saja Atma bisa menghindarinya walaupun masih sedikit trauma.

__ADS_1


Inay, Rinai, dan Nada juga sama kesalnya. Tetapi mereka masih diam, hanya saja tidak dengan mulut.


"Kau mau mengajak bertarung, hah ...?!"


Aray melesat dan langsung mengangkat kerah baju Daksa marah. Sorot matanya ingin sekali menghajar Daksa, tidak peduli lagi dengan keberadaan Tetua Genta di sana. Sementara Dirgan membantu Atma.


"Hei, bukankah jika seperti ini kau yang terlihat mengajak berduel, heh?"


Daksa tersenyum picik. Dia membiarkan Aray yang mencengkram, karena tahu akan dihentikan Tetua Genta.


Aray semakin dibuat provokasi. Namun, Tetua Genta menghentikan.


"Jangan buat suasana kacau. Lepaskan dia."


Aray terpaksa melepaskan dan mendorong keras Daksa. Aray menatap Tetua Genta tanpa rasa takut sedikit pun.


Aray berkata sinis, "suasana sudah kacau saat cecenguk ini melemparkan jarum peledak, dan kau diam tidak berkutik melihat lesatan jarum itu ke arah meja salah satu peserta. Sama sekali tidak menahan atau pun menolong. Tetua yang terhormat, bukankah ini termasuk dalam suasana yang kacau di hadapanmu sendiri?"


Daksa dibuat membelalakkan mata mendengar penuturan tidak sopan itu dari Aray.


Semua murid yang mendengarnya pun dibuat tercengang mendengarnya. Mereka langsung bisik-bisik dan menyoraki Atma yang keterlaluan sekaligus tidak tahu etika. Beberapa murid bahkan dengan kesal mengatakan bahwa Atma layaknya orang yang tidak berpendidikan dan pantas dikeluarkan dari Akademi karena dianggap telah memalukan seorang Tetua.


Tetua Widya, Tiga Guru Besar dan guru-guru lain jelas merasa Aray telah keterlaluan dan pantas diberi hukuman setelah pertandingan selesai.


Termasuk Amdara yang tak menyangka Atma memiliki nyali sebesar itu. Dia memang kesal karena ulah Daksa pada temannya, tetapi perkataan Aray benar-benar menohok Tetua Genta.


"Kau, benar." Tetua Genta menarik napas panjang dan berkata, "aku yang lambat."


Semua orang dibuat membuka mulut dan mata lebar mendengar Tetua Berkata demikian di hadapan Aray yang jelas-jelas telah melukai harga dirinya.


Aray tersenyum miring dan berujar, "kuharap anda mengetatkan peraturan lagi."


Setelah berkata, dia memberi hormat dan langsung mendekati Atma menanyakan keadaan bocah itu yang mengatakan baik-baik saja.


Tetua Genta mengembuskan napas. Dalam hidupnya, ini kali pertama ditegur oleh seorang murid. Dia melihat Aray yang kembali bersama temannya pada barisan.


Tetua Genta melayang di udara. Dia menatap seluruh muridnya dan berkata menggunakan kekuatan agar bisa terdengar keras.


"Aku minta maaf atas kelalaian kali ini. Dan perlu kalian ketahui, bahwa peraturan sebelumnya masih tidak berubah." Penjelasan Tetua Genta membuat semua orang tak menyangka. Padahal mereka harap Aray lah yang meminta maaf bukan seorang Tetua.


"Dan jelas, kelompok dari Daksa akan diberi teguran keras karena hampir melukai peserta lain dengan sengaja. Ditambah, nilai kelompok ini akan berkurang."


Diakhir penjelasan, Daksa mendengus kesal mendengarnya. Dia terlihat tidak suka, menatap Aray yang juga tengah menatapnya sengit.


Dari sebagian orang berpikir, bahwa Tetua Genta sangatlah baik dan bijaksana. Namun, mereka tetap saja merasa tidak terima karena Tetua mereka telah dipermalukan dan Aray harus mendapat hukuman yang setimpal. Namun, beberapa orang beranggapan bahwa Tetua Genta memang salah. Perbuatannya yang meminta maaf adalah panutan yang harus ditiru. Bagaimana pun seseorang dengan pangkat tinggi, tetapi membuat kesalahan tetap harus meminta maaf.


Tetua Genta terlihat beralih ke arah Atma setelah meminta mereka agar tetap tenang.


Atma menelan ludah susah payah, dan membungkuk memberi hormat. Tetua Genta mengangguk sebagai respon. Tanpa diminta penjelasan, Atma dengan gugup menjelaskan.

__ADS_1


"I-ini adalah ramuan."


Atma menunduk, dan menyodorkan periuk yang ukurannya tidak terlalu besar.


Ada aroma aneh yang tercium, warna dari cairan yang dibuat adalah hitam pekat tetapi tidak ada aroma racun. Tetua Genta merasa tidak yakin dan menanyakan ramuan apa yang dibuat.


Atma menggeleng dan mengatakan dirinya tidak tahu. Karena asal membuat dengan bahan seadanya. Jelas perkataannya membuat para peserta lain menyoraki.


Tetua Genta mengangkat tangan, petanda mereka harus menutup mulut. Jika si pembuat ramuan saja tidak tahu ramuan apa yang dibuat, lalu bagaimana dengan hasil penilaian?


Amdara melihat Tetua Genta yang tengah berpikir apa yang harus dilakukan.


"Ini saatnya."


Amdara tiba-tiba menyeringai membuat Inay yang disampingnya tersentak dan langsung mengalihkan pandangan. Sejak keluar dari Hutan Arwah, ada aura mengerikan yang terasa di tubuh Amdara. Padahal jelas, inti spiritual milik bocah berambut putih itu masih terlilit Benang Merah.


Amdara segera maju dan mengangkat tangan sambil berujar, "Tetua, izinkan aku memberi saran."


Tetua Genta menolehkan pandangan ke arah sumber suara. Seorang berambut putih berjalan ke arahnya tanpa ragu.


Aray, Dirgan, Rinai, dan Nada dibuat tersentak dengan sikap Amdara. Mereka bahkan baru menyadari Amdara yang memakai ikat rambut bercorak unik.


Beberapa murid yang melihatnya menggelengakn kepala dan semakin mencibir akan tingkah laku kelas Satu C.


Tetua Genta menaikkan sebelah alis sebelum akhirnya mengangguk mempersilahkan.


Amdara menghentikan langkah sekitar lima langkah dari Tetua Genta. Masih dengan senyuman, Amdara berkata tanpa ragu, "bagaimana jika kita melakukan uji coba?"


"Uji coba?"


"Benar, Tetua. Untuk memastikan apakah ramuan yang dibuat temanku bekerja atau tidak."


Tetua Genta berpikir sejenak dan mendengarkan penjelasan Amdara lebih lanjut.


"Anda sendiri tidak merasakan racun di dalamnya. Ini jelas tidak berbahaya."


Di balik senyuman Amdara, dalam hati dia sangat berharap Tetua Genta menyetujui. Karena akan ada hal menarik lagi. Awal dari pembalasan.


Tetua Genta mengalihkan pandangan pada Tetua Widya yang ternyata memberi sinyal menggunakan anggukan. Setelah berpikir lagi, memang ada benarnya yang dikatakan bocah 'penyusup' ini.


Tetua Genta akhirnya mengangguk setuju, tetapi para murid ada yang tidak terima dan mengatakan bisa saja ramuan aneh yang dibuat Atma adalah racun.


Senyuman Amdara semakin menyeramkan. Bahkan Atma yang melihatnya sejak tadi dibuat merinding.


Amdara mengedarkan pandangan, mencari orang yang cocok dijadikan kelinci percobaan oleh ramuan racikan Atma. Tak mungkin Amdara menunjuk peserta pertandingan. Yang ada jika sesuatu terjadi, maka mereka akan langsung kena didiskualifikasi. Dan diundurkan dalam pertandingan.


Amdara berkata sambil menunjuk arah di mana tiga orang penjaga gerbang sebelumnya.


"Tetua, bagaimana dengan ketiga senior itu?"

__ADS_1


__ADS_2