
RAJA ROH
Amdara tiba di kota yang terlihat ramai oleh orang yang tengah berjalan santai. Beberapa orang terbang dan nampak damai menikmati aktivitas masing-masing. Tentu Amdara memakai topeng untuk menutupi wajahnya, dan juga mengganti pakaian.
Kota Angin, salah satu tempat yang pernah ditandai oleh Tetua Bram yang memiliki Roh Hitam, memungkinkan masih bersembunyi. Kota ini cukup jauh dari kota Awan Langit. Dari balik ketenangan Kota Angin, ada Roh-roh Hitam yang bersembunyi. Untung saja Amdara ingat peta yang pernah diberikan Tetua Bram, dirinya memilih kota Angin karena wilayahnya tidak terlalu luas dari kota lain.
Karena kesibukannya di sekolah, Amdara tidak sempat menjalankan misi apalagi mencari petunjuk mengenai orang tuanya.
"Mn, aku bahkan merindukan melenyapkan roh hitam." Amdara tersenyum tipis.
Sebuah toko sumber daya dengan dua tingkat menarik perhatian Amdara. Dirinya menuju toko tersebut tetapi dihentikan ketika penjaga toko dan mengatakan 'anak kecil' tidak boleh masuk kecuali bersama orang dewasa. Amdara menghela napas, dia memang masih begitu muda tetapi pemikirannya telah dewasa sejak berumur 7 tahun.
"Paman, aku ingin membeli." Amdara berucap tenang dengan tatapan polosnya.
Penjaga toko mengembuskan napas dan menatap tajam Amdara. "Pergilah, atau kau aku bunuh."
Aura menekan dari penjaga toko itu membuat Amdara merasa sesak di dada. Dirinya tidak bisa memaksa, yang ada akan terjadi keributan. Bukannya Amdara tipe orang yang mudah menyerah, Amdara hanya tidak ingin mencari masalah. Baru saja bocah berambut putih itu akan pergi, sesuatu dari dalam toko melesat ke depan tepat di atas Amdara.
Amdara begitu terkejut saat melihat seseorang dengan darah mengalir di seluruh tubuh di depannya. Suara teriakan dari dalam toko membuat Amdara segera menoleh dan melihat ada beberapa orang yang keluar dari toko dengan ketakutan. Bahkan penjaga toko telah melesat masuk untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Bau anyir darah tercium, dan yang paling membuat Amdara terkejut adalah sesosok makhluk hitam muncul dari dalam toko yang baru saja meledakkan tubuh manusia.
Amdara segera menghindar ketika potongan tubuh manusia terlempar ke arahnya. Makhluk hitam mengerikan itu tidak lain adalah Roh Hitam. Namun, mengapa bisa berada di sini? Bukankah Tetua Bram pernah mengatakan bahwa di kota ini Roh Hitamnya bersembunyi? Bahkan penjaga toko sebelumnya tidak terlihat lagi entah di mana.
Amdara melesatkan serangan ketika Roh Hitam baru saja akan mengincar seorang nenek tua. Amdara langsung membawa nenek tua itu ke tempat aman selagi Roh Hitam terpental.
"Nek, kau cepatlah pergi." Amdara berujar, walaupun jarak antara toko yang dimasuki Roh Hitam dan dirinya saat ini jauh tetapi bisa saja Roh Hitam itu dapat muncul sekarang di hadapan mereka. Tidak ada waktu untuk membawa Nenek Tua itu ke tempat yang lebih jauh karena kemungkinan ada orang-orang yang masih berada di sana yang membutuhkan bantuannya.
Nenek Tua itu menarik lengan Amdara. "Nak, apa yang kau katakan? Kita harus pergi dari sini bersama. Nenek berterima kasih karena kau telah menyelamatkan Nenek."
Amdara tersenyum dibalik topeng. 'Pergi di saat ada Roh Hitam di hadapanku? Tidak akan pernah,' Amdara kemudian menjelaskan situasi buruk yang akan terjadi jika dirinya tidak pergi melenyapkan Roh-roh Hitam itu. Namun, Nenek Tua ini bersikukuh dengan wajah ketakutan untuk Amdara juga harus pergi.
"Kau ini hanya anak kecil dengan kekuatan lemah. Cepat, kita harus segera pergi dari sini, Nak." Nenek Tua berwajah keriput menarik-narik tangan Amdara.
Amdara melepaskan perlahan walaupun sulit. "Aku tidak lemah." Amdara mengepalkan tangan kuat. "Nenek pergi. Akan kulenyapkan Roh Hitam."
Belum sempat Nenek Tua dengan rasa terkejutnya bertambah, Amdara segera melesat pergi.
Banyak orang yang berlarian dan terbang menghindar, membuat Amdara merasa bingung. Bukankah mereka juga memiliki kekuatan? Tetapi mengapa tidak lenyapkan bersama saja Roh Hitam itu?
GRAAA!
Roh Hitam mengamuk semakin menjadi, Amdara langsung melesatkan banyak serangan dahsyat saat melihat orang-orang sudah pergi menjauh. Dengan elemen airnya, Amdara membuat Roh Hitam bagai merasakan tusukan jarum di seluruh tubuh.
Roh Hitam bisa merasakan sakit walaupun wujudnya tetap roh. Roh Hitam ini benar lemah seperti yang dikatakan Tetua Bram. Lihat saja, setelah Amdara melesatkan serangan barusan, Roh Hitam lenyap dengan mudah. Namun, belum sampai di sana sesuatu yang membuat Amdara berdecak adalah tidak hanya ada satu Roh Hitam yang muncul.
"Satu, dua, lima, sepuluh."
Amdara merasakan adanya pergerakan Roh Hitam di sekeliling yang muncul dari bawah tanah, dan di dalam toko. Secara bersamaan, Roh-roh itu tiba-tiba saja menyerang Amdara.
BAAM!
Amdara telah membuat perisai pelindung kuat sebelumnya dan menggunakan elemen angin untuk Roh Hitam yang muncul dari toko. Sementara serangan dari Roh Hitam bawah tanah Amdara hampir tidak bisa menyerang karena fokus pada serangan roh-roh lain yang jumlahnya sekitar sepuluh.
Serangan Roh Hitam dari bawah tanah berhasil membuat perisai pelindung Amdara pecah dan membuat Amdara terpental ke rumah bertingkat sampai hancur.
"Mn. Menyenangkan." Darah keluar dari sudut bibir bocah berambut putih itu. Tubuhnya memang terasa sakit, tetapi ada setitik rasa senang saat berhadapan dengan Roh-roh Hitam.
Belum sempat Amdara berdiri, kesepuluh Roh Hitam seperti telah mengincar Amdara sebagai target mereka karena tidak melihat ada orang di sekitar. Roh-roh hitam itu menyerang secara brutal. Amdara mengeluarkan perisai pelindung terkuatnya, sambil mengeluarkan ****** beliung biru dan pedang-pedang yang terbuat dari elemen air untuk menyerang Roh-roh Hitam dari luar.
Bersamaan perisai pelindung Amdara yang meledak, tiga Roh Hitam terbunuh karena ****** beliung dahsyat Amdara yang mengandung senjata mematikan dan dua Roh Hitam lainnya lenyap karena serangan pedang air. Asap hitam langsung mengepul ketika Roh-roh Hitam lenyap. Amdara menggulingkan tubuh ketika salah satu Roh Hitam hampir mengenainya.
"Tidak mungkin aku menggunakan jurus itu untuk melawan makhluk lemah seperti kalian."
Amdara terbatuk darah, lima Roh Hitam lainnya berhasil membuat luka dalam Amdara terasa sangat sakit. Amdara langsung terbang tanpa pedulikan rasa sakit di tubuh, wajah bocah itu masih tetap tenang hanya saja sedikit pucat.
"Kilatan Angin Aliran Pertama ...!"
Dengan seluruh kekuatan, bocah berambut putih itu melesatkan jurus andalannya. Roh-roh Hitam yang sama melesatkan serangan lemah tidak membuat serangan dahsyat Amdara melemah dan hancur tetapi masih dahsyat melesat ke arah kelima Roh Hitam.
__ADS_1
BAAM!
Blaaar!
Debaman keras terdengar, asap hitam mengepul di udara dan angin kejut yang besar. Ini memang pertarungan termudah bagi Amdara yang telah lama melawan para Roh-roh Hitam. Walaupun jumlah Roh Hitam di sini ada kemungkinan banyak tetapi masih lemah.
"Hah, lemah."
Amdara mengusap darah di sudut bibir, dia mengembuskan napas kasar. Saat ini dirinya harus pergi mencari pedagang sumber daya lagi, padahal niatnya akan membeli sumber daya di toko itu saat penjaga toko pergi.
Toko sumber daya itu tidak hancur semuanya, hanya sebagian gedung yang hancur. Amdara duduk bersila memulihkan tubuh di atas reruntuhan bangunan, perlahan kekuatan alam murni memasuki tubuhnya.
*
Di asrama putri, Nada dan Rinai berada di kamar Inay yang sekarang merasa khawatir pada Amdara yang entah berada di mana. Ketiganya telah mencari tetapi tidak ditemukan, Inay berpikir bahwa Amdara pergi menggunakan portal. Pikiran Inay tengah kacau sekarang, dia saat ini juga memikirkan aturan yang belum dihapal. Ditambah dirinya belum membuat laporan mengenai buku yang baru setengah di baca dan juga punggung Inay yang dicambuk masih terasa sakit.
"Ini membuatku gila!"
Inay menggebrak meja, membuat Nada dan Rinai tersentak.
"Khakha, kau kenapa? Ini hanya membuat laporan biasa. Khakha." Nada tertawa melihat Inay yang mengacak-acak rambut frustasi. Bagi Nada dan Rinai ini hal biasa dan cepat dilakukan tetapi Inay terlalu banyak menggunakan waktunya.
Rinai memeluk lutut erat, dia baru saja menyelesaikan tugas. "K-kau jangan menakut-nakutiku. Ini lebih baik daripada bertarung."
Inay melirik Rinai dengan sinis. Pemikiran Inay dan Rinai sangat berkebalikan. "Hah, terserah kau sajalah. Aku sedang tidak ingin berdebat."
Kini bocah berambut ungu kehitaman itu mengetuk-ngetuk jari di meja. Dirinya menyembuhkan napas, ingin mencari Amdara di luar sana tetapi bagaimana caranya? Mendapatkan misi seperti hal mustahil sekarang.
"Apa kalian tahu cara keluar dari sekolah?" Tanya Inay serius pada kedua temannya.
Nada dan Rinai saling pandang, mereka menggeleng bersamaan. Inay menaikan sebelah alisnya, dia masih ingat ketika malam hari saat Nada yang tengah ditindas oleh Daksa.
"Lalu bagaimana bisa kau keluar mal--"
Nada menatap penasaran Inay yang berbicara padanya tetapi tidak melanjutkan. Inay baru saja mengatakan bahwa dirinya melihat Nada malam itu, Inay langsung menggeleng dan mengembuskan napas. Jika dirinya ketahuan keluar tanpa seizin Tetua, maka tamatlah riwayatnya walaupun kedua orang di hadapannya ini adalah teman tetapi Inay belum percaya sepenuhnya. Namun, melihat wajah Nada dan Rinai, sepertinya mereka memang menyembunyikan sesuatu.
*
"Bagaimana kau bisa membunuh Roh Hitam sebanyak itu, 'Nak?!"
"Tingkat kekuatanmu berada di bawahku. Tapi kenapa kau bisa melenyapkan mereka sekaligus?!"
"Nak, katakan bagaimana caranya?!"
Beberapa orang mengerumuni seorang bocah yang duduk dengan ekspresi tenang. Seorang Nenek Tua yang pernah diselamatkan Amdara kini mengguncang-guncang tubuhnya. Pertanyaan bertubi-tubi ini tiba ketika semua orang ternyata bersembunyi saat Amdara bertarung melenyapkan Roh-roh Hitam. Mereka yang melihat begitu terkejut dan tidak percaya, selama ini tidak ada orang yang dengan bahkan tanpa ragu menggunakan kekuatannya untuk melenyapkan Roh Hitam. Mereka bahkan tidak menanyakan keadaan Amdara setelah melenyapkan roh. Ck, benar-benar tidak pengertian pada anak kecil.
Amdara masih diam tidak menjawab, konsentrasinya menyerap kekuatan alam jadi terganggu. Amdara tidak mengerti mengapa mereka memilih bersembunyi daripada melenyapkan. Amdara mengembuskan napas pelan sebelum berbicara.
"Tuan, dan Nyonya kalian melihatku 'kan?" Amdara heran karena mereka melihat pertarungan itu tetapi sekarang malah bertanya bagaimana caranya dia melenyapkan Roh-roh Hitam itu.
Ada yang mengira bocah ini sebenarnya adalah seorang tidak waras berani melenyapkan Roh Hitam dan mengubah diri menjadi seorang bocah di kekuatan yang besar.
Rasa tidak percaya masih menyelimuti orang-orang. Mereka nampak terpana melihat bocah memakai topeng ini.
Nenek Tua yang tidak lagi mengguncang bahu Amdara nampak berdehem. Dirinyalah yang pertama kali menanyakan banyak hal. "Sepertinya kau butuh istirahat, Nak. Semuanya, biarkan dia beristirahat di tokoku!"
Semua orang tersentak, mereka juga ingin bocah ini masuk ke toko mereka. Namun, di sini tidak ada yang berani mengatakannya entah karena apa.
Amdara diajak ke toko Nenek Tua yang ternyata toko
sebagiannya hancur akibat pertarungan nya. Amdara sampai tidak menyangka bahwa pendiri toko sumber daya sebelumnya adalah Nenek Tua ini.
Masih ada bagian yang tidak hancur, di sana Amdara didudukkan di kursi yang sebenarnya terlihat mewah jika tidak terkena debu-debu.
Sementara Nenek Tua itu memerintahkan seorang pelayan untuk membawakan mereka minum.
"Nak, siapa namamu?"
Raut wajah Nenek Tua ini berbeda ketika diselamatkan Amdara. Sekarang hanya ada wajah biasa. Amdara menyebut nama asli, tentu agar ketika dirinya datang ke mari tidak ketahuan dengan wajahnya.
__ADS_1
Nenek tersebut mengangguk dan kemudian memperkenalkan diri sebagai pemilik toko sumber daya dan biasa dipanggil Nenek Tema.
"Kau datang kemari bersama siapa, Nak?" tanya Nenek Tema.
"Sendiri."
"Baiklah. Apa kau anak dari kota Angin?"
"Bukan."
"Hah, Nak, sebenarnya aku sangat terkejut melihat kau tanpa ragu melenyapkan para Roh Hitam." Nenek Tema mengembuskan napas. Wajahnya tidak terlihat baik.
Amdara bertanya mengenai mereka yang tidak melenyapkan Roh-roh Hitam. Nampak Nenek Tema ragu menceritakan sesuatu, tetapi mengingat Amdara bisa melenyapkan Roh Hitam membuat pandangan Nenek Tema sedikit berubah.
Seorang pelayan membawakan teh dan susu juga camilan. Amdara mengucapkan terima kasih, dirinya tersenyum tipis melihat susu di gelas perak.
"Kau pasti tidak tahu cerita mengenai 'raja roh' yang bersembunyi di kota Angin."
Nenek Tema mulai menceritakan mengenai Raja Roh yang bisa dikatakan para Roh Hitam yang baru saja dilenyapkan Amdara adalah anak-anak dari Raja Roh yang begitu kuat.
Raja Roh pernah mengamuk di kota Angin karena ada yang melenyapkan anaknya. Walaupun para warga telah menyatukan kekuatan untuk melawan, tetapi tidak bisa menang.
"Apa sekuat itu?"
Amdara tahu jenis-jenis roh, dia tahu mengenai Raja Roh tetapi di tingkat yang cukup membahayakan nyawa. Namun, jika Raja Roh saja bisa menghalau kekuatan banyak orang ada kemungkinan memang benar-benar kuat.
"Kekuatannya setara di Tingkat Pengabdian. Raja Roh ini mungkin akan segera mengamuk lagi karena anaknya lenyap. Hah, tapi aku tidak menyalahkanmu. Roh Hitam di sini memang banyak berulah, tetapi seperti yang kukatakan sebelumnya tidak ada yang berani melenyapkan karena akan dilenyapkan kembali oleh Raja Roh."
Nenek Tema mengembuskan napas sedikit lega karena mungkin Raja Roh tidak akan memporak-porandakan kota lagi karena yang melenyapkan anaknya bukan dari seorang penduduk asli kota Angin. Namun, di sisi lain dirinya merasa khawatir pada Amdara yang mungkin tidak bisa melawan dan lenyap dalam sekejap. Ini juga salah Nenek Tema yang tidak mengatakan sebelumnya pada bocah di depannya ini.
Amdara terdiam sesaat, Tetua Bram mengatakan roh-roh di sini bersembunyi dan lemah. Namun, setelah mendengar cerita Nenek Tema seperti informasi Tetua Bram kurang lengkap.
"Lalu apa Raja Roh akan muncul dan mengamuk?"
"Benar. Namun, kaulah yang akan diincar."
"Kapan?"
"Mm, mungkin sebentar lagi. Tapi kau jangan takut, Nak. Aku akan membantumu melawan Raja Roh."
Nenek Tema tersenyum, dia tentu tidak akan membiarkan seorang bocah lenyap di depan matanya. Akan tetapi perkataan Amdara kali ini hampir membuat jantung Nenek Tema copot.
"Aku tidak takut. Nenek tahu di mana Raja Roh sekarang?"
Nenek Tema menggeleng. "Aku tidak tahu pasti. Tapi dari aura Raja Roh yang begitu kuat berada di Gua Angin."
Nenek Tema merasa tidak sedang berbicara pada seorang bocah, melainkan seperti berbicara pada orang dewasa yang jenius. Ini pertama kalinya ada bocah yang begitu berani.
Amdara mengangguk paham. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Dirinya meminum susu sebelum kembali berbicara. "Aku akan pergi. Terima kasih, Nek."
Nenek Tema segera berdiri seperti mengetahui tujuan kepergian Amdara. Dirinya mengatakan bahwa Amdara tidak boleh pergi mencari Raja Roh itu hanya akan mengantarkan nyawa.
Amdara mengangguk, tetapi akan lebih berbahaya jika sampai Raja Roh keluar gua dan mengamuk di kota. Penjelasan Amdara dimengerti Nenek Tema tetapi dia menyuruh Amdara pergi dari kota saja karena tidak mungkin Amdara melenyapkan roh sendiri.
"Tidak. Aku bisa sendiri."
"Apa kau sebenarnya Tua Bangka yang bisa merubah wujud?"
Amdara tersentak dengan pertanyaan barusan. Nenek Tema memicingkan mata seperti tengah mengintograsi.
Amdara dengan tenang menggeleng. "Tidak."
Nenek Tema mengembuskan napas panjang, jika dilihat dengan baik Amdara memang bukan bocah sembarangan. Nenek Tema memerintahkan seorang pelayang untuk memanggil banyak penjaga kuat, tetapi Amdara segera menghentikan dan mengatakan itu hanya akan merepotkan.
"Kau anak kecil! Jangan bertindak semaumu! Kau Hah .... " Nenek Tema memijat kening. Amdara memang keras kepala.
Nenek Tema mengajukan diri untuk ikut tetapi Amdara menolak dan bisa mencari gua yang dimaksud, dirinya juga tidak memiliki banyak waktu sekarang.
Amdara langsung melesat setelah berterima kasih. Nenek Tema memang tidak yakin Amdara bisa menemukan gua tersebut. Sekarang Nenek Tema harus menyiapkan pasukan untuk memungkinkan besar kemunculan Raja Roh.
__ADS_1