
Sekarang Amdara dan Inay sedang berada di kamar milik Amdara. Inay beberapa kali menghela napas sambil menikmati kacang rebus di atas meja yang dibelinya di pasar.
Sementara Amdara juga masih diam belum mengeluarkan sepatah kata. Malam sudah larut, tapi keduanya juga tidak mengantuk sama sekali.
Inay tentu tidak setuju Amdara yang mengikuti Turnamen Magic Muda yang hanya akan membatasi waktu Amdara untuk melenyapkan Roh Hitam di negeri ini. Entah mengapa rasa-rasanya jika hendak menghindari hal yang akan mengikat pada Akademi, sesuatu yang lebih besar datang dan benar-benar mengikat mereka.
Bahaya mengikuti Turnamen Magic Muda tidak main-main. Apalagi jika sampai berhadapan dengan Aliran Hitam. Sudah barang tentu ada pertumpahan darah.
"Jadi bagaimana? Apa kau sudah memikirkan cara untuk menolak?" Akhirnya Inay buka suara setelah lima menit diam sambil makan kacang rebus.
Amdara mengangguk dan menjawab, "mn, aku akan memberi alasan masuk akal."
"Tapi aku tidak yakin kau sanggup melakukannya." Inay melempar kulit kacang tepat pada wadah. Dia lalu menghembuskan napas panjang sebelum kembali berujar. "Hah ... kenapa Tetua memilihmu? Kenapa tidak senior yang lain saja. Tsk, jika begini kita tidak akan pernah menyelesaikan misi."
Inay juga menanyakan mengapa Amdara yang jelas-jelas bukan orang asli negeri Nirwana Bumi, malah diikut sertakan dalam turnamen. Apa mereka tidak berpikir bahwa Amdara bisa saja melakukan rencana agar bisa menghancurkan Akademi Magic Awan Langit ini?
Amdara juga merasa keberatan dengan keputusan Tetua. Dia tidak ingin diikut sertakan dalam turnamen.
"Aku akan berusaha." Amdara berdiri, hendak pergi ke tempat Tetua Haki untuk memberikan alasan menolak mengikuti turnamen. Dia lalu berkata kembali, "mereka akan kalah berdebat denganku."
Inay menaikkan sebelah alis sambil melihat ke arah Amdara yang sudah berdiri di depan jendela. Inay lalu berujar, "seribu kali kau memiliki alasan, seribu kali pula mereka akan membuat cara agar kau dapat mengikuti turnamen. Kau tahu bagaimana para Tetua cerdik itu bisa melakukan banyak hal. Yah, tapi aku sangat berharap kau mampu memberikan alasan bagus. Pergilah, aku mendoakanmu."
Amdara mengangguk, dia lalu melesat pergi ke tempat Tetua Haki berada.
Ada kalanya Inay terlihat dewasa, kadang juga seperti anak-anak tidak tahu malu. Karena Inay yang terbiasa hidup di lingkungan Organisasi Elang Putih, dia memiliki kepribadian berbicara seperti orang dewasa. Begitu pula dengan Amdara yang dididik memiliki sifat dewasa.
__ADS_1
Amdara pergi ke Gedung Tetua, tapi saat sampai dia sama sekali tidak melihat satu pun Tetua di dalam. Akhirnya Amdara menanyakan keberadaan para Tetua kepada salah satu murid.
"Senior, apa kau tahu di mana para Tetua berada?"
Murid laki-laki yang melihat wajah Amdara tersedak. Tidak menyangka seorang juara dari kelas Satu C dan menjadi perwakilan Akademi bertanya kepadanya.
Senior itu dengan gugup menjawab, "ku-kurasa ada di Ruang Tetua sebelah sana."
Dia menunjuk ke arah gedung tinggi. Amdara mengangguk dan mengatakan terima kasih sebelum melesat pergi.
Senior itu masih melihat bagaimana Amdara yang melesat pergi dengan anggun. Dia berdecak kagum sambil bergumam, "kenapa baru malam ini aku menyadari dia sangatlah cantik?"
Amdara mencari hawa keberadaan para Tetua. Ketika menemukannya, dia segera pergi ke ruang tersebut.
Tempat Tetua berada sepertinya sedang ramai. Tetua Wan pastinya juga belum pulang. Dari suara yang terdengar, mereka sedang menikmati acara mengobrol hal yang asik.
Amdara mengetuk pintu tiga kali. Dia sudah siap dengan apa-pun yang akan dia katakan. Pintu mulai digeser ke samping, memperlihatkan Tetua Widya yang terkejut karena kehadiran bocah berambut putih terurai ini.
Amdara langsung memberikan hormat, dia lalu berkata sopan, "maaf, mengganggu waktumu, Tetua."
Tetua Widya mengangguk dan menanyakan apa yang ingin Amdara katakan. Amdara berdehem, dia tidak bisa melihat ke dalam ruangan karena terhalang tubuh Tetua Widya yang lebih tinggi darinya.
"Aku sangat menghormati keputusan Tetua yang memilihku untuk menjadi salah satu perwakilan Akademi."
Amdara menghentikan ucapannya. Dia menunduk, hendak berkata lagi tapi Tetua Widya seketika mengajak Amdara masuk ke dalam ruangan tersebut. Tidak ada pilihan lain, Amdara akhirnya mengikuti Tetua Widya dari belakang.
__ADS_1
Kehadiran Amdara jelas mengejutkan Tetua Wan, Tetua Haki, Tetua Genta, Tetua Rasmi juga. Mereka memerhatikan bocah berambut putih ini yang langsung memberikan hormat.
"Nak, kau bisa mengatakannya sekarang."
Kata Tetua Rasmi yang sudah duduk di salah satu kursi. Tempat ini sangat sederhana, seperti ruangan biasa tidak seperti ruang Tetua yang pernah Amdara lihat saat pertama kali datang.
Tanpa ragu, Amdara mulai mengutarakan maksud yang dia sampaikan.
"Tetua, aku tidak ragu dengan keputusan kalian mengenai aku yang diikut sertakan dalam turnamen. Namun, aku keberatan menerimanya."
Kelima Tetua nampak tersentak mendengar penuturan bocah ini. Mereka tidak menyangka ada murid yang menolak mengikuti Turnamen Magic Muda, padahal ini merupakan kesempatan emas di mana bisa dilatih langsung oleh para Tetua dan tentu bisa melihat dunia luar. Apalagi yang paling terkejut adalah Tetua Wan yang sampai berkedip beberapa kali.
"Nak, apa kau lupa bahwa murid dilarang menolak keputusan ini?" Kata Tetua Rasmi memperingati. Dia menatap Amdara dalam, mengingat bagaimana Amdara yang tidak sadarkan diri serta memiliki tubuh istimewa perlahan mengubah pandangan Tetua Rasmi.
Amdara mengangguk mengerti. Dia lalu dengan sopan kembali berkata, "aku baru beberapa bulan tinggal di negeri ini. Bukankah tidak baik memilihku menjadi perwakilan Akademi?"
Tetua Haki menggelengkan kepala mendengar perkataan Amdara yang seolah keberatan karena dia dari negeri lain, bukan negeri Nirwana Bumi. Yah, jika boleh dibilang Amdara memang masih termasuk murid baru di sini. Namun, selama ini Tetua Haki dan Tetua yang lain sudah melihat bakat dalam diri Amdara. Jika dilatih selama tiga tahun ini, maka mereka yakin Amdara akan bisa mengeluarkan kekuatan yang lebih hebat.
Tetua Wan menatap Tetua Genta karena mendengar penuturan Amdara yang ternyata bukan berasal dari Negeri Nirwana Bumi. Tentu saja Tetua Wan sangat terkejut dan membutuhkan penjelasan.
Tetua Genta yang melihat tatapan Tetua Wan lalu mengatakan bahwa Amdara memanglah bukan orang asli dari Negeri Nirwana Bumi, melainkan dari Negeri Elang Bulan.
"Kau memang datang dari negeri lain. Tapi setelah kau masuk ke Akademi, kau sudah dianggap murid. Kau belajar di sini, dan memiliki bakat luar biasa. Kami mengakuimu sebagai murid, bukan anak yang hanya menumpang di asrama." Tetua Rasmi berkata sedikit dingin. Dia menghela napas lalu kembali berbicara, "kalaupun kau memiliki niat lain di negeri ini, kami sudah menindak lanjuti bocah penyusup sepertimu."
"Nak, setiap keputusan sudah dipikirkan baik-baik. Kau berkata demikian seolah tidak mempercayai kami," tambah Tetua Widya.
__ADS_1
Amdara yang hendak berbicara bahkan dibuat bungkam. Amdara sampai berkedip melihat keempat Tetua Akademi Magic Awan Langit ini. Sebelumnya bocah berambut putih itu bisa menang debat, tapi kali ini seolah dirinya tidak diberi waktu sedetik untuk berbicara. Setiap kali satu Tetua berhenti berbicara, Tetua lain akan menambah. Tidak mungkin Amdara menyela begitu saja, yang ada dirinya akan dikatakan tidak 'sopan'.
"Satu jam." Amdara masih mendengarkan. Belum buka suara juga, sekarang keempat Tetua seperti tidak lelah terus berbicara. Bahkan Tetua Wan sampai menghentikan napas sejenak dan berkedip melihat keempat Tetua Akademi Magic Awan Langit ini.