Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
234 - Siluman Naga Air


__ADS_3

Menyeberangi Laut Hitam untuk sampai ke kota Pelita biasanya membutuhkan waktu satu minggu. Itu pun jika tidak ada kendala saat di laut. Semuanya tergantung cuaca yang mendukung atau tidak.


Sudah tiga hari kapal berlayar tenang, tanpa hambatan. Sehingga penjaga dan awak kapal bisa melakukan tugas dengan lebih santai.


Senja datang sebagai pengganti mentari. Awan abu-abu mulai mengumpul di langit sana. Desir angin membawa hawa tidak biasa.


Gelembung-gelembung kecil di Laut Hitam tiba-tiba muncul, sampai mulai sedikit membesar dan tiba-tiba sebuah guncangan pada kapal membuat kaget orang-orang di sana.


Dua kali guncangan tidak biasa membuat kapal terpaksa berhenti. Para penjaga dan awak kapal sontak melihat ke depan, melihat letupan-letupan di laut mulai membesar. Hawa tidak mengenakan mulai terasa.


"A-apa itu?!"


Seorang awak kapal menelan ludah kesulitan. Ini memang bukan pertama kali dia menemui hal semacam ini. Akan tetapi, kali ini ada sesuatu yang berbeda.


Beberapa penumpang juga langsung mengalihkan perhatian ke depan. Kebingungan melihat letupan air laut yang seolah tengah mendidih.


Sekali lagi guncangan dari bawah kapal membuat kapal hampir terguling. Beruntung seseorang dengan kekuatannya membantu agar kapal kembali seimbang. Kepanikan mulai melanda mereka dengan kebingungan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?!"


"Apa ada Siluman atau makhluk yang menyerang?!"


"Diamlah, dan lihat ke depan!"


Seseorang menunjuk ke arah depan. Mata mereka tidak lepas ke depan. Sesuatu berwarna hitam dengan sisik hijau muda terlihat. Sampai semburan air ke arah kapal menghalangi pandangan semua orang. Kapal kembali terhuyung, tapi beberapa orang menggunakan kekuatan agar stabil kembali.


Kepala Siluman entah apa terlihat sebagian. Memiliki dua tanduk merah darah. Mata merah darah juga terus menatap ke arah kapal yang berisi para manusia itu.


Sontak semua orang dibuat terkejut melihat kepala itu. Mereka merasakan tekanan kekuatan dari makhluk itu yang tiba-tiba menyemburkan air.


Beberapa orang langsung membuat perisai pelindung untuk kapal agar tidak rusak.

__ADS_1


"Itu adalah Siluman Naga Air Penjaga Laut Hitam ...!"


Teriakkan barusan kembali membuat kehebohan dan kepanikan. Beberapa orang yang mengetahui cerita dari Siluman Naga Air Penjaga Laut Hitam dibuat merinding dan ketakutan. Pasalnya, siluman itu diceritakan sangat ganas dan kuat. Dia penjaga Laut Hitam, yang jelas para manusia itu akan sulit keluar dari lautan yang merupakan sarang dari Siluman Naga Air.


Kontan beberapa penjaga kapal langsung turun tangan dan menyerang. Ledakan dan hantaman terjadi dalam waktu singkat.


Di ruang istirahat, seorang gadis muda masih dengan tenang bermeditasi tanpa peduli dengan kehadiran siluman di luar. Dia pikir akan ada orang yang mengatasi hal tersebut. Toh, pembayaran sepuluh keping emas seharusnya mendapatkan jaminan keamanan.


Namun, perasaannya mendadak tidak enak. Mata terbuka, jantung berdegub lebih cepat dari biasanya.


"Perasaan apa ini?"


Amdara meneguk air dalam wadah bambu. Berusaha menenangkan diri. Tapi sedikit guncangan pada kapal membuatnya segera bangkit, dan melesat keluar.


Nampak Siluman Naga Air itu juga membalas serangan para penjaga kapal dengan semburan air. Kulitnya yang amat keras sulit dilukai. Dia menggeram marah, menghasilkan angin kejut bukan main.


Tiga penjaga itu terpental ke laut akibat terkena pukulan telak dari ekor musuh. Melihat ketidakmampuan penjaga kapal, Tetua Rasmi turut turun tangan membantu.


"Kita juga tidak bisa hanya diam. Ayo, serang siluman itu!"


Awak kapal langsung menjauhkan kapal dari pertarungan yang semakin sengit itu. Kapal juga telah diberi perisai pelindung oleh seseorang.


Sekitar lima orang termasuk Tetua Rasmi masih melancarkan aksi. Suara serangan yang bertubrukkan dengan kulit siluman itu menghasilkan percikan api dan bunyi keras.


Setiap serangan yang dilancarkan ternyata sama sekali tidak membuahkan hasil. Bahkan menggores saja tidak. Yang ada mereka hampir terkena serangan musuh dengan telak.


Nampak Cakra langsung melesat membantu Tetua Rasmi. Petir menyambar dari langit, turun dan langsung menyengat Siluman Naga Air. Tapi itu tidak berguna. Kekuatan besar saja sulit melukai musuh.


Sementara Shi membuat perisai pelindung untuk kapal. Dia harus berkonsentrasi agar serangan nyasar tidak berhasil memecahkan perisainya.


Giginya bergemerutuk kesal. "Sial. Jika seperti ini perjalanan akan memakan waktu lagi."

__ADS_1


Satu remaja di samping Shi melirik sekilas. Mata birunya sedikit menajam ke arah Siluman Naga Air. Remaja itu mengenakan gelang ukiran ombak.


"Tsk. Ini sangat mengganggu." Dia melesat, cahaya biru terlihat di bawah kakinya.


Tiga temannya yang mengenakan jubah hitam juga melesat untuk membantu. Ketiga temannya itu juga memiliki cahaya berbeda warna di bawah kaki.


Mereka bekerja sama menyerang Siluman Naga Air dengan baik. Mengeluarkan jurus hebat hanya untuk melawan siluman tersebut dengan kekuatan tidak main-main.


"Sial. Kulitnya terlalu keras!"


Tetua Rasmi nampak berdecak kesal. Jika seperti ini terus, yang ada kekuatannya hanya terkuras habis tanpa memberi luka sedikit pun.


"Menghindar!"


Kali ini Siluman Naga Air menyemburkan air tidak biasa. Air tersebut akan mengelupaskan benda jika terkena.


Remaja dengan mata biru itu membuat perisai, dan menolong Tetua Rasmi yang telat mengelak. Pertarungan semakin sengit, tapi para manusia itu juga mulai nampak kelelahan karena terkuras kekuatan.


Amdara yang melihatnya sedari tadi hanya diam. Pikirannya kacau oleh perasaan aneh. Perasaan kasihan, sakit, dan rindu. Dia tidak membantu sama sekali. Titik keringat dingin mulai bermunculan di dahi. Memandang Siluman Naga Air yang masih sibuk melawan. Sekilas siluman itu bertatapan dengan mata Amdara. Sesaat Amdara melihat mata siluman tersebut terlihat berbeda. Tidak ada keinginan untuk membunuh.


Amdara memang melihat pertarungan itu, tapi dia tidak sadar siapa saja yang tengah melawan Siluman Naga Air. Gadis muda ini menelan ludah kesulitan. Napasnya mulai tidak beraturan. Dia mengepalkan tangan kuat.


Sebuah serangan dahsyat berhasil mengenai mata musuh. Sontak siluman itu menggeram, mengeluarkan angin kejut begitu besar. Ekornya bergerak-gerak liar. Matanya langsung mengalirkan darah.


Siluman Naga Air termakan amarah besar. Awan di langit memunculkan petir yang menyambar. Nampak ada ombak mendadak yang mengguncang kapal. Dia terbang ke atas, tatapan kemarahan ditujukan pada orang-orang yang telah menyerang. Sisik hijau besar dan sangat kuat serta warna hitam yang mendominasi tubuh. Siluman Naga Air itu memiliki tangan kecil, tapi di mata para manusia masih sangat besar.


Semua orang dibuat ketakutan setengah mati melihat betapa besarnya tubuh Siluman Naga Air. Apalagi sosok binatang naga sangat jarang terlihat. Siluman Naga Air kembali menggeram marah.


"Itu titik lemahnya. Serang lagi ...!"


Seruan seseorang menyadarkan. Kontan mereka kembali bersiap menyerang lagi. Kekuatan gabungan untuk menyerang arah mata begitu besar. Melesat ke arah musuh.

__ADS_1


"Hentikan ...!"


Amdara melesat menangkis serangan besar itu ke arah laut, yang langsung meledak. Dia mengeluarkan kekuatan sangat besar hanya untuk menangkis. Nyaris dirinya terkena serangan besar itu.


__ADS_2