
Keberuntungan memang sedang memihak. Ketiga bocah itu terus terbang tanpa ada gangguan apa-pun. Bahkan yang dikatakan Shi sebelumnya mengenai hutan yang penuh dengan siluman-siluman dengan berbagai usia sekarang tidak nampak. Walaupun memang dari kejauhan ada suara-suara binatang buas. Shi sebenarnya cukup heran, selama perjalanan itu tidak ada siluman yang mendekat.
"Apa hanya firasatku saja yang tidak enak?" Shi menoleh ke belakang, masih sangat gelap karena pagi belum juga datang. Shi menatap Amdara dari samping lalu berkata, "apa kau tidak merasa aneh? Mengapa perjalanan kita sangat aman terkecuali saat kita baru memasuki hutan?"
Amdara menoleh ke arah Shi yang sedang mengerutkan kening. Amdara menggeleng dan berkata, "sebaiknya tingkatkan lagi kecepatan terbang."
Amdara terus meningkatkan kecepatan terbangnya. Jawaban yang dia berikan membuat Shi sedikit kebingungan. Shi tahu dikondisi seperti ini memang seharusnya mereka cepat-cepat pergi. Namun, tetap saja ada yang mengganjal perasaan senior itu. Lagi-lagi Shi menanyakan seperti sebelumnya baik kepada Cakra maupun Amdara yang juga terus mengingatkan kedua temannya agar lebih cepat terbang. Shi dan Cakra tentu tidak tahu bahwa sekarang Amdara sedang mencemaskan sesuatu.
Amdara dapat merasakan adanya kekuatan besar sedang mengincar mereka. Kekuatan yang sangat tidak asing baginya, dan juga kekuatan hitam ini sedari tadi belum melakukan penyerangan. Jika Amdara melakukan serangan secara tiba-tiba maka kekuatan itu pasti akan merespon dengan cepat. Makanya sedari tadi Amdara berpura-pura tidak ada kejanggalan sama sekali.
"Cepatlah keluar," Amdara mengepalkan kedua tangan. Kekuatan hitam yang dia rasakan sekarang adalah milik Roh Hitam. Amdara sengaja tidak mengatakannya kepada Cakra dan Shi karena khawatir hanya akan membuat cemas saja.
Suara aneh dari depan semak-semak, membuat Cakra sontak menghentikan terbang. Dia mengerutkan kening ketika matanya tidak melihat apa pun di depan, lalu suara aneh apa barusan?
Shi dan Amdara jadi ikut menghentikan terbang. Dia kebingungan saat Cakra berhenti secara mendadak. Shi bertanya, "hei, kau ini kenapa? Apa ada sesuatu di depan?"
Cakra menoleh ke belakang, sebelum mengangguk memberi jawaban. Tanpa nada dan ekspresi datar berkata, "ada suara aneh di depan semak itu."
Cakra menunjuk arah semak-semak yang sebelumnya juga bergerak aneh. Namun, ketika Shi mendekat tidak melihat sesuatu yang aneh sedikit pun.
"Apa? Tidak ada yang aneh." Shi menggeleng-gelengkan kepala ke arah Cakra. Dia juga tidak merasakan apa-apa saat itu.
Berbeda dengan Amdara yang diam-diam sudah bersiap menyerang jika benar Roh Hitam akan muncul kemudian menyerang tiba-tiba.
__ADS_1
Suasana mendadak menjadi berbeda. Angin dingin berbalik arah membuat perasaan ketiga bocah itu merasa ada firasat buruk akan terjadi.
"Kalian mundurlah,"
Perkataan Amdara membuat Cakra dan Shi tersentak. Kedua bocah itu belum sempat mundur, tapi kekuatan hitam tiba-tiba nyaris mengenai Cakra andai Amdara tidak segera menolong dengan cara melesatkan serangan balik.
Cakra dan Shi terkejut bukan main. Keduanya melihat dengan kepala mata sendiri sebuah asap hitam mengepul di depan mereka. Ada sepasang mata merah menyala menatap nyalang. Kekuatan besar itu cukup membuat dada terasa sesak.
"Roh Hitam?! Bagaimana bisa ada Roh Hitam di hutan ini?!"
Shi kepalang panik. Dia menelan ludah susah payah. Padahal mereka belum bertemu sang fajar, tapi yang datang justru makhluk mengerikan yang wujudnya seperti asap sulit dilenyapkan. Ini mungkin akan menjadi pertarungan yang lebih sulit dari sebelumnya.
Walaupun bukan pertama kali melihat Roh Hitam, namun tetap saja ada rasaa gentar mengingat ada Roh Hitam yang nyaris menewaskan para peserta Pertandingan Antar Kelas ketika babak final. Yang paling mengerikannya adalah Raja Roh Hitam yang pernah menyamar menjadi Qi bisa sampai mengelabui para Tetua dan juga memiliki kekuatan yang tidak main-main.
"Bersiap," kata Cakra yang tangannya sudah menggenggam tombak petir hendak dilesatkan.
Roh Hitam itu melesat membuat asap hitam lebih banyak. Bahkan sampai pandangan mata Cakra dan Shi tidak bisa melihat dengan benar. Amdara sendiri masih bisa mengatasi kekuatan hitam yang sangat menekan ini.
Cakra, Shi, dan Amdara saling merapatkan punggung. Ketiganya tidak boleh sampai berpisah, jika hal itu terjadi maka bisa dikatakan bahaya sedang mengincar nyawa.
Serangan pertama mengarah ke Amdara, beruntung bocah berambut putih itu bisa menyadarinya sehingga membuat jurus angin beliung yang membuat serangan lawan terpental jauh.
Shi dan Cakra yang terkejut disertai kecemasan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Di saat seperti ini, bahkan dua senior Amdara masih kebingungan.
__ADS_1
"Aku akan menghilangkan asap. Kalian langsung serang Roh Hitam itu,"
Ucapan Amdara langsung disetujui Cakra dan Shi tanpa pikir panjang. Walaupun Shi lebih tua, tapi sebenarnya dalam segi pemikiran dia kadang masih kebingungan apa yang harus dilakukan.
Amdara membuat angin beliung dahsyat. Sehingga asap Roh Hitam menghilang dengan cepat. Hanya satu titik di mana sepasang mata merah menyala sedang marah karena ulah Amdara.
Cakra dan Shi langsung mengambil sikap. Keduanya menyerang secara bersamaan ke arah Roh Hitam. Angin kejut tercipta. Pepohonan sekitar hangus seketika. Walaupun Cakra dan Shi sudah mengeluarkan jurus terbaik, nyatanya Roh Hitam itu cukup lincah dan sulit diatasi.
Amdara membantu dengan mengeluarkan kekuatan pedang, tapi saat mengenai asap Roh Hitam, yang ada langsung tembus begitu saja. Tentu ini adalah kesulitan yang harus mereka hadapi.
Lima menit saja rasanya pertarungan itu sangat sengit dan sulit mereka lakukan. Serangan Roh Hitam juga tidak main-main. Roh Hitam bisa menghilang dan tiba-tiba muncul juga bisa membuat pandangan memburam.
Roh Hitam itu seketika menghilang kembali. Amdara memasang sikap. Dia mengedarkan pandangan. Tanpa diketahui siapapun, asap hitam keluar dari tanah dan langsung menyeret kakinya ke bawah. Amdara yang telat merespon tidak bisa menghindar ketika tubuhnya tiba-tiba dilempar begitu cepat dan keras oleh Roh Hitam.
"Luffy ...!"
Amdara terlempar ke arah pepohonan hingga rubuh. Dia merasakan serangan Roh Hitam mengenainya secara fatal. Cakra dan Shi tidak sempat menolong karena harus terus melawan Roh Hitam yang terus saja menyerang tanpa terlihat kelelahan.
Amdara mengusap darah yang mengalir dari bibir. Dia menggeleng, ternyata Roh Hitam ini lebih sulit diatasi dari yang dia kira. Tatapan mata bocah itu beralih ke arah Cakra dan Shi yang sedang bertarung sengit, bahkan kedua bocah itu sedang kesulitan. Jika mereka terus mengeluarkan banyak kekuatan, pasti akan merepotkan diri sendiri. Apalagi perjalanan mereka mungkin saja masih jauh.
Amdara menarik napas dalam. Dia sudah mengambil keputusan agar cepat-cepat menghabisi Roh Hitam. Saat ini dia berada di belakang semak-semak bersembunyi setelah merasa harus berbuat sesuatu. Mencari celah Roh Hitam agar terperangkap dalam jurusnya. Tepat ketika Cakra dan Shi mengeluarkan jurus secara bersamaan, Roh Hitam itu kesulitan melawan dan mempertahankan diri.
Amdara memfokuskan diri. Dia menarik napas pelan sebelum mengeluarkan jurus andalan dari Organisasi Elang Putih. Walaupun kondisinya tidak terlalu stabil, tapi apa boleh buat untuk sekarang dia harus berusaha lebih keras.
__ADS_1
"Jurus Elang Abadi Pemusnah Roh."
Cahaya emas membentuk pola elang di bawah Roh Hitam muncul secara tiba-tiba. Jelas sangat mengejutkan Roh Hitam maupun Cakra dan Shi yang langsung menahan napas. Keduanya tidak tahu apa yang terjadi, tapi satu hal yang mereka lihat sekarang. Cahaya emas itu perlahan melalap tubuh asap Roh Hitam. Suara erangan mengerikan di telinga keluar dari Roh Hitam. Api berkobar setelah lenyapnya Roh Hitam secara mengenaskan.