Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
191 - Negosiasi


__ADS_3

Amdara melesat ke arah keramaian. Pikirannya jadi kacau karena teringat ucapan bocah-bocah pengemis barusan. Bukan hanya karena membahas orang tuanya, akan tetapi pemerintahan di Negeri Nirwana Bumi yang sepertinya memang kurang baik.


Dia kesal, tetapi bingung harus berbuat apa. Amdara ingin sekali membantu Nuri dan yang lainnya, tetapi itu membutuhkan banyak hal. Setelah sekantong emas diberikan kepada Nuri, lebih tepatnya diletakkan di atas meja. Uangnya tidak banyak untuk membantu banyak orang. Dia menghembuskan napas panjang.


"Aku benar-benar miskin."


Dia menunduk, melihat sepatunya kotor dia segera membersihkannya menggunakan kekuatan air dan angin. Amdara mengedarkan pandangan, saat ini dia berpikir akan menjual pil-pil buatannya.


Dia masuk ke salah satu toko, di sana dirinya di sambut dengan baik oleh pelayan. Pelayan tentu melakukannya karena merasakan aura berwibawa dan pakaian bagus bocah berambut putih ini.


"Nona, pil apa yang anda inginkan?"


Tanya pelayan tersebut sambil tersenyum ramah.


"Aku ingin menjual pil."


Perkataan Amdara membuat pelayan tersebut terdiam sebelum kembali tersenyum ramah. Dia sama sekali tidak merasa curiga, tetapi langsung pergi begitu mengatakan Amdara harus menunggu sebentar. Pelayanan ini sangat berbeda dengan yang dahulu pernah Amdara temui.


Asosiasi Sinar Dunia ini memiliki tiga tingkat. Ada banyak pil yang disediakan. obat dan pil di sini sangat berkualitas. Amdara bahkan melihat ada banyak pil dengan aroma kuat dan jelasnya pasti pil itu memang sangat bagus.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita bersama pelayan sebelumnya datang menghampiri Amdara dengan senyuman ramah.


"Nona Muda, apa benar kau ingin menjual sebuah pil?"


Amdara mengangguk dan menjawab dengan gumaman. Dia tidak melihat ketidaksukaan dari pemilik toko dan pelayan ini.


"Mari, ikut kami."


Amdara mengikuti wanita itu yang berjalan ke sebuah ruangan. Dia dipersilakan duduk dengan nyaman.


"Sebelumnya perkenalkan, namaku Lintang. Pemilik Asosiasi Sinar Dunia." Wanita yang masih muda itu memperkenalkan diri dan dia menanyakan nama bocah berambut putih ini.


"... Luffy."


Lintang masih tersenyum ramah. Dia kemudian menanyakan jenis pil yang akan bocah di depannya jual.


"Nona Muda, boleh aku melihat pil yang ingin kau jual?"


Amdara segera mengeluarkan sebuah kotak berisi pil-pil yang dibuat. Aroma tidak biasa tercium. Bahkan dari segi warnanya cukup unik, seperti satu pil dengan warna pelangi dengan bentuk bintang. Terlihat seperti permen. Tapi Lintang sama sekali tidak menyepelekannya.


Lintang mengambil pil tersebut, menghirup aromanya yang ternyata menyegarkan. Dia terbatuk pelan, melirik Amdara yang menatapnya tanpa ekspresi lebih.


"Nona Luffy, apa khasiat pil ini?"


"Aku tidak tahu."


"Apa?"


Lintang berkedip dengan jawaban yang membuatnya terkejut. Dia mendengus dan raut wajahnya sedikit berubah. Bagaimana bisa seseorang ingin menjual pil tapi tidak mengetahui khasiat dari pil tersebut?!


"... apa kau memiliki pengawal?"


Lintang menaikkan sebelah alisnya dan mengangguk. Dia masih belum memberi keputusan mengenai hal ini.


"Aku membutuhkan kelinci percobaan."


Kali ini Lintang kembali dibuat tercengang. Dia memijat kepalanya dan berkata, "Nona Muda, apa maksudmu ingin membuat pengawalku babak belur kemudian membuatnya menelan pil yang entah apa khasiatnya ini?"


"Benar."

__ADS_1


"Bagaimana jika pil ini tidak memiliki khasiat dan pengawalku terluka parah?"


"... aku akan bertanggung jawab."


"Bagaimana kau akan bertanggung jawab?"


"Aku akan mengikuti semua permintaanmu." Amdara menjeda kalimatnya. Dan kemudian kembali berbicara dengan sedikit lengkungan senyum di bibir. "Tapi jika pil itu memiliki khasiat bagus, aku ingin kompensasi atas ketidakpercayaanmu."


Lintang terdiam. Dia merasa berbicara tidak dengan seorang bocah melainkan orang dewasa. Apalagi melihat Amdara yang duduk tegap dengan aura wibawa. Dia menarik napas dalam. Dan menepuk tangan, detik itu juga dua orang pengawalnya muncul. Dari segi penampilan, nampak rapi. Berotot dan terlihat sangat kuat. Lintang juga membuat segel pelindung yang cukup kuat di ruangan tersebut.


"Kau boleh memulainya, Nona Luffy."


Amdara tersenyum. Dia benar-benar dilayani dengan baik. Tangannya terangkat, saat itu juga sebuah rantai es muncul yang langsung melilit tubuh pengawal yang terkejut bukan main.


Rantai es yang dibuat Amdara memiliki racun. Ketika pengawal mencoba melepaskan rantai es itu, tetapi malah semakin kuat melilit. Tubuh pengawal itu terasa sangat dingin sampai ketulang-tulang. Dia bahkan menggunakan banyak kekuatan hanya untuk melepas rantai es tersebut. Giginya gemerutuk, geram dan marah. Walau kekuatannya besar, tetapi sama sekali tidak dapat dilepas.


"Sialan! Rantai es ini sangat kuat. Dan akhh---!"


Pengawal itu ambruk. Bukan rasa dingin yang dirasakan sekarang, melainkan rasa sakit luar biasa menggerogoti tubuhnya. Rantai es yang sebelumnya berwarna biru sekarang berubah warna ungu. Kulit pengawal itu juga mulai menghitam. Teriakannya terasa berdengung di telinga Lintang yang terkejut. Dia menatap Amdara yang sedang tersenyum miring.


"Nona Muda, hentikan. Bukankah dia sedang terkena racun?!"


Lintang terlihat khawatir. Dia tidak mau kehilangan pengawal yang ini. Dirinya segera mengeluarkan kekuatan untuk menebas rantai tersebut nyatanya tidak bisa. Keringat dingin mulai bermunculan saat Amdara tidak melakukan apa-apa.


"Nona--"


"Berikan pil yang ada di tanganmu."


Lintang tersentak. Tanpa pikir panjang menghampiri pengawalnya yang nyaris sekarat. Amdara segera menghilangkan rantai es.


"Racun ini ...." Lintang menahan napas saat mencoba mengetahui racun apa ditubuh pengawalnya. Dia menelan ludah susah payah melirik ke arah Amdara yang masih diam memperhatikannya.


Lintang segera memasukkan pil di tangannya ke dalam mulut pengawal.


Dengan susah payah pengawal tersebut menelan pil itu. Napasnya yang semula tidak beraturan kini sudah mulai stabil. Rasa sakit yang sebelumnya sangat menyiksa perlahan menghilang. Tubuhnya yang menggelap akibat racun sekarang juga berangsur-angsur pulih.


Melihat reaksi pil barusan membuat Lintang menatap Amdara yang mengangguk seolah pil itu memang adalah untuk penawar racun tingkat menengah.


"I-ini ...."


Pengawal tersebut segera duduk dengan perasaan terkejut. Tubuhnya terasa sangat segar dan kekuatannya bertambah. Dia menatap pemilik asosiasi.


"N-nyonya, bukan hanya racunnya yang menghilang. Tetapi rasa sakit, dan kekuatanku bertambah. Pil ini benar-benar luar biasa!"


Lintang menatap pengawalnya yang tidak berbicara bohong. Dia mengangguk mengerti dan menepuk tangan, seketika pengawal itu menghilang. Lintang menarik napas dalam, sepertinya dia melakukan kesalahan sebelumnya. Dia segera duduk di tempat semula.


"Nona Muda, maafkan aku yang tidak percaya sebelumnya. Pil ini ... dari mana anda mendapatkannya?"


Amdara mengambil kotak yang sebelumnya di atas meja. Di dalam kotak itu berarti semuanya adalah pil berkualitas tinggi dengan khasiat yang sama.


"Beri aku sepuluh persen saham asosiasi ini. Setiap bulan aku akan membuatkan pil ini sebanyak lima puluh butir."


Suara barusan benar-benar terdengar seperti sambaran petir di dada Lintang. Dia tidak menyangka Amdara adalah seorang alkemis hebat di usianya yang begitu muda. Dia lebih terkejut dengan keinginan bocah ini untuk memiliki 10% saham Asosiasi Sinar Dunia.


"N-nona Muda, itu terlalu berat untukku. Kau hanya memberikan lima puluh butir pil ini. Bukankah aku akan mendapat kerugian besar?"


"Kau akan mendapatkan untung besar. Apalagi jika kau melelang pil ini."


"Begini saja, bagaimana jika aku hargai satu pilmu dengan seribu koin emas?"

__ADS_1


"Nona, bahan yang kucari sangat langka. Satu bahan harganya dua ribu koin emas bahkan lebih. Bukankah aku yang akan rugi jika seperti ini?"


Lintang dibuat membisu. Dia mengelalkan tangan. Tidak menyangka bocah di hadapannya bisa melakukan negosiasi sebagus ini.


Sementara Amdara masih tersenyum. Dia yakin setelah ini akan menang.


"Jika begitu aku hargai satu pilmu dengan lima ribu koin emas?"


Amdara menghela napas. Dia menyilangkan kedua tangan depan dada. Tatapan matanya lebih dingin.


"Apa kau tidak menghargai kesulitanku dalam membuat pil berkualitas ini?"


Lintang menelan ludah susah payah. Ini pertama kalinya dia harus sabar dan memutar otak dalam bernegosiasi.


"Nona Muda, aku tidak bisa memberikan sepuluh persen sahamku. Kecuali ... jika kau memberiku resep pil ini."


Amdara terdiam. Dia kemudian menghela napas. Dan berkata, "enam puluh pil setiap bulan."


"Ah, ini terlalu sulit--"


" ... baiklah, kuanggap semua perkataanmu adalah tolakan halus."


Amdara berdiri dan beranjak pergi. Tindakannya membuat Lintang bertambah terkejut. Dia memanggil Amdara tetapi tidak dihiraukan. Dirinya memegang kepala yang terasa sakit.


"Bagaimana bisa dia negosiasi sampai membuatku pusing?! Didikan bangsawan memang berbeda. Tapi pil ini sangat langka. Jika kujual ... memang mendapatkan untung."


Lintang menyenderkan kepalanya di kursi. Mencoba berpikir tenang.


"Sepuluh persen sahamku ... tapi ini adalah kesempatan emas. Tidak akan pernah terulang kembali." Lintang menyentuh kepalanya. "Argghh. Baiklah, keuntunganku memang tidak tinggi tapi ... nama Asosiasi Sinar Dunia akan melambung tinggi!"


Lintang segera beranjak dan melesat pergi, dia harap bocah berambut putih itu belum pergi jauh.


Di depan asosiasinya, terdengar debaman keras bahkan membuat tanah retak. Beruntung asosiasi ini memiliki segel pelindung kuat. Suara teriakan memekakan telinga terdengar. Seorang bocah pengemis terpental menabrak salah satu pohon. Nampak luka disekujur tubuh, dia bahkan memuntahkan darah segar.


Sementara seorang pria baru saja mendarat dan tertawa jahat. Dia menginjak tubuh kecil lemah itu dengan keras bahkan terdengar retakkan tulang. Bocah itu menjerit sejadi-jadinya tetapi tidak berdaya.


Orang-orang yang melihatnya hanya diam tanpa membantu bocah malang itu.


Amdara yang baru saja keluar, tercengang melihat pemandangan tidak jauh darinya. Dia menatap tajam pria yang tidak manusiawi itu. Melihat pakaian pria itu, sepertinya dia adalah pelayan di Asosiasi Sinar Dunia ini.


Pria itu mengeluarkan sebuah cahaya merah, seperti akan kembali menyerang bocah di bawahnya.


"Hei, bocah pengemis. Sekarang adalah waktu kematianmu ...!"


Serangan itu langsung melesat tepat di depan wajah bocah pengemis yang langsung menutup mata ketakutan. Akan tetapi lintasan cahaya putih menghancurkan serangan itu. Ledakan besar terjadi, pria tersebut membulatkan mata karena tidak sempat menghindar dari ledakan itu yang mengakibatkannya terpental jauh.


Kejadian itu benar-benar cepat. Bahkan bocah pengemis yang sebelumnya akan tewas merasakan jantungnya berhenti berdetak beberapa saat.


Orang-orang yang melihatnya juga sangat terkejut. Tidak ada yang tahu siapa yang baru saja menyelamatkan bocah pengemis.


"Nona, Nona Muda ...!"


Seseorang memanggil, dia adalah Lintang yang langsung berdiri di sebelah Amdara. Dia sangat bersyukur karena Amdara ternyata belum pergi.


"Nona Luffy, aku menyetujui permintaanmu. Tapi---"


"Aku menolak. Empat puluh lima pil setiap bulan."


"A-apa?!"

__ADS_1


"Aku tidak menyukai pelayanmu."


Amdara mengangkat tangan, menggerakkan jari telunjuk dan saat itu juga pelayan pria yang sebelumnya dia lihat menindas bocah pengemis nampak menggantung dengan rantai es.


__ADS_2