
Amdara tahu bahwa dirinya lah yang harus bertanggung jawab atas Dark World. Dia tahu masalah yang sedang terjadi harus diri sendiri yang turun tangan. Karena mendengar penuturan Are yang tidak mau bertindak karena bukan pemimpin, Amdara berpikir bisa menjadikan Are sebagai pemimpin sebab tidak mungkin dirinya akan terus menerus berada di tempat ini.
Walau anak itu masih berumur 12 tahun, tetapi ketajaman berpikirnya seperti orang dewasa. Saat ini bahkan dia tengah merencanakan sesuatu untuk melenyapkan manusia yang sudah berani mengganggu mahkluk Dark World. Prinsipnya masih sama, 'membayar hutang dua kali lipat.'
Are sudah diperintahkan untuk mengumpulkan semua mahkluk Dark World depan istana.
Amdara menunggu di depan istana sambil melayang tegak. Aura wibawanya sama sekali tidak menghilang di saat gawat. Jubahnya telah berganti warna menjadi hitam, dengan corak naga emas di belakangnya nampak dimain-mainkan angin yang berhembus bersama ikat rambut peninggalan Ibu Dewi. Wajah cantik dengan tatapan dingin, mendominasi rupa yang sangat mirip dengan pemimpin tegas.
Beberapa makhluk sudah berkumpul melihat Amdara terkesima. Mereka sampai ada yang menyerukan nama Amdara begitu keras.
"Hidup Nona Dara!! Dia akan menjadi pemimpin hebat kita!!"
Seruan-seruan lain mulai terdengar, sangat semangat sampai Amdara yang mendengarnya berkedip dan menggeleng pelan.
Tangannya terangkat, penanda agar makhluk-makhluk itu diam.
Tidak butuh waktu lama Are membawa kawan-kawannya untuk mendekat. Mereka nampak antusias dengan kehadiran 'pemimpin' yang telah lama ditunggu-tunggu.
Are memperhatikan Amdara yang berwajah cantik nan dingin. Aura wibawanya sungguh menyamai persis Nyonya Dewi.
"Nona, ini adalah langkah pertama kau menjadi pemimpin." Are tersenyum tipis. Dia berada di belakang Amdara.
Amdara menghela napas panjang. Dia berusaha menenangkan diri di balik wajah datar.
"Baiklah, langsung ke inti saja. Are telah menjelaskan semuanya kepadaku. Hal pertama yang harus kita lakukan secepatnya adalah membuat segel pelindung lebih kuat di Dark World." Amdara menarik napas panjang, kembali melanjutkan ucapan. "Urusan manusia yang menangkap bagian dari kalian, aku yang mengurus."
Para makhluk itu terkejut atas penuturan Amdara, tetapi tidak berani menolak perintah.
Salah satu dari mereka bertanya, "Nona Pemimpin Muda, bukankah seharusnya kami juga ikut melakukan balas dendam atas apa yang terjadi?"
Amdara menoleh ke sumber suara cahaya hitam pekat. Dia menggeleng pelan.
"Tidak ada balas dendam. Kalian tidak perlu melakukan hal seperti itu."
Para cahaya makhluk tersebut jadi bingung sekarang. Yang sebelumnya bertanya, kembali buka suara.
"Bukankah kau kata akan mengurus manusia-manusia itu? Itu balas dendam, bukan?"
Saat itu juga Amdara menyeringai. Angin yang berhembus terasa menekan makhluk Dark World.
"Bukan balas dendam. Melainkan 'membayar hutang yang harus dibayar'."
*
*
*
Bagai petir menyambar di langit Dark World. Para makhluk menahan napas melihat serangai Nona Muda Dara. Mereka setelahnya mengikuti instruksi tanpa banyak bertanya kembali.
Saat ini, mereka berkumpul menjadi satu dengan mengerahkan kekuatan terbesar. Tanpa boleh kehilangan fokus. Di tengah-tengah mereka, Amdara sudah meneteskan darahnya sendiri ke bawah pola segel naga besar. Segel itulah yang akan melindungi Dark World dari penglihatan manusia.
__ADS_1
Segel tersebut bercahaya saat terkena darah. Kekuatan besar meledak, karena banyaknya satuan kekuatan mereka.
Gerak terakhir yang dilakukan Amdara adalah melakukan gerak tangan yang langsung menekan ke segel pelindung. Detik selanjutnya, langit berubah warna menjadi gelap, angin terasa membuat dada sesak, bau tak sedap keluar. Namun, pada sepuluh detik lanjut semua itu menghilang dan kembali ke semula.
Segel pelindung sudah diperkuat sepuluh kali lipat dengan bantuan Amdara. Dengan begitu dia sudah merasa Dark World aman sementara waktu.
Keringat dingin menetes dari dahi Amdara, bukan hanya dia. Melainkan para makhluk juga tampak kelelahan karena menggunakan kekuatan besar.
"N-nona Dara--"
"Aku akan pergi sekarang."
Ucapan Are terpotong. Sebuah portal muncul, Amdara langsung pergi begitu saja tanpa peduli pada Are yang menghela napas panjang sambil memperhatikan segel naga yang tidak akan menghilang.
Segel tersebut akan menghilang jika Dark World benar-benar dalam bahaya.
"Benar-benar sisi gelapnya dibalik wajah cantik."
*
*
*
Amdara muncul di Hutan Arwah yang dikatakan tempat para Aliran Hitam. Saat ini langit masih siang, nampak hutan yang terlihat ada bekas cakaran dan pertarungan. Beberapa pohon telah tumbang, semak belukar telah hangus.
Amdara yakin itu pertarungan makhluk Dark World dengan seseorang. Amdara melayang, melesat pergi merasakana da pergerakan tidak jauh darinya.
Tidak jauh darinya, dua orang mengenakan jubah hitam tengah duduk bersila saling berhadapan. Sementara di tengah-tengah mereka ada cahaya merah tengah dibaringkan tanpa bisa melawan. Ada aura gelap menyelimuti mereka.
Kepalan tangan terlihat, Amdara menatap tajam dua orang itu. Tanpa ragu melesatkan angin beliung ke arah mereka begitu dahsyat. Saking dahsyatnya pepohonan turut terbang dan menghantam pohon lain.
"Kilatan Angin Aliran Pertama."
Serangan tersebut mengenai telak kedua musuh dari titik buta yang sama sekali tidak menyadari kehadiran bocah itu. Mereka yang tengah menyerap kekuatan cahaya Dark World sampai terpental jauh. Sementara si cahaya masih terbaring, Amdara yakin dia masih hidup. Hanya dengan sentuhan, cahaya tersebut menghilang dan muncul di Dark World.
Ada perasaan marah di dada anak itu. Entahlah, dia merasa tidak berguna bagi Dark World. Padahal jelas-jelas makhluk Dark World menganggapnya sebagai pemimpin untuk menggantikan Dewi Ibunya yang entah pergi ke mana selama ini.
Sekilas mata birunya berubah warna putih, sebelum kembali seperti semula. Tangannya terkepal kuat, terangkat dan menghempaskan kekuatan dahsyat. Pusaran anginnya melesat cepat ke arah kedua lawan dengan arah berbeda. Mereka yang hendak menangkis, kembali terlempar jauh akibat tekanan besar itu.
"Sialan! Siapa yang berani mengganggu?!"
Salah satu dari mereka mengumpat dan menerjang pusaran angin menggunakan ledakan. Ledakkan besar terjadi sampai menghanguskan banyak pohon sekitar. Dalam sekejap, angin beliung tersebut menghilang.
Tampang garang pria itu mengedarkan pandangan untuk mencari sosok yang berani mengganggu urusan pentingnya. Jelas sekali kemarahannya tengah diambang batas.
"Siapa pun kau, muncullah di hadapanku! Dasar pengecut!"
Pria itu termasuk dari orang Aliran Hitam yang berada tidak jauh dari Hutan Arwah. Dia memiliki ciri khas berupa tato tengkorak di bagian leher.
Angin berhembus kembali membuatnya merasa tidak nyaman. Di depannya, pusaran angin kembali muncul dan kali ini menampakkan seorang bocah berambut putih tengah menatap dingin lawan.
__ADS_1
Pria ini membelalakkan mata kaget. Pasalnya yang menyerang hanyalah seorang bocah ingusan.
Dia menggeram marah dan berkata, "dasar bocah se*an! Berani sekali kau menggagalkan rencanaku! Akan kukul*ti tubuhmu. Rasakan ini ...!"
Dia menerbangkan sekitar lima belas bom ke arah Amdara yang sama sekali tidak berkutik. Yang ada hanya tangannya terangkat, dan memunculkan portal besar yang dapat memasukkan lima bom dengan jarak tidak terlalu dekat. Tidak hanya itu rupanya, dia juga mengeluarkan rantai es dari tanah dan melilit tubuh lawan dengan cepat menyeret paksa ke arahnya dan kemudian dilempar bertepatan dengan bom meledak di atas.
BAAM!
Asap hitam langsung menyeruak ke atas. Perlahan, sebuah geraman kembali terdengar yang membuat Amdara cukup tersentak.
Musuh masih berdiri sambil melayang, tatapannya berubah bengis ke arah bocah berambut putih. Terlihat jubahnya sudah koyak sebagian, sementara dia juga mendapatkan luka luar.
"Oh, rencana bagus, Bocah. Tapi itu rencana yang sia-sia!
Perkataan musuh membuat Amdara masih berdiam diri. Di sisi lain, dia tengah mengendalikan rantai es untuk melawan musuh satunya.
Pria di hadapan Amdara tertawa bengis. Dia mengumpulkan asap bom, dan melesatkannya ke arah Amdara.
"Matilah!"
Bom asap yang dilempar bukan hanya sekadar bom, melainkan ada racun di asap tersebut. Jika orang biasa yang menghirupnya, akan langsung menjadi tulang-belulang. Sementara jika orang kuat tubuhnya perlahan akan menghitam, lalu membusuk, dan kemudian tewas dalam hitungan menit.
Tidak ada pergerakan dari Amdara yang membuat musuh tertawa sambil mengejek dengan bangga. Namun, pada menit ke tiga, mata dan mulut dibuat terbuka sempurna.
Di hadapannya, bocah berambut putih masih berdiri tenang. Sementara, ada dinding es yang mengelilinginya. Dinding tersebut bukan dinding biasa, melainkan bisa menyerap kekuatan lain atau bahkan racun sekaligus.
Sekarang ini, racun telah terperangkap di dalam dinding es tanpa bisa melukai Amdara.
"B-bagaimana itu bisa terjadi?!"
Musuh menahan napas melihat seringai lawan. Dia menunjuk Amdara mulai gemetar dan mengutuk. Karena selama ini baru pertama kali ada orang yang tidak terpengaruh oleh racun bomnya.
Amdara tiba-tiba saja menghilang dan muncul kembali di hadapan musuh sambil mencek*k.
"Paman, bukankah kau yang pengecut? Mengambil kekuatan makhluk lain, padahal kau bisa berlatih untuk menjadi kuat."
Tangan Amdara yang bersentuhan dengan musuh mulai mengeras, es menjalar ke leher dan keseluruh tubuh yang mengakibatkannya tidak dapat mengeluarkan kekuatan. Amdara melepas tangan, di saat itu juga dirinya melesat tanpa mempedulikan musuh saat ini yang tengah merenggang nyawa.
"Anak seta*! Tidak! Bagaimana aku bisa tew*s secepat ini?! Akhh---"
Pecah berkeping-keping dia tanpa meninggalkan apa-pun. Kemat*an yang sangat tidak terduga.
Di sisi lain, Amdara melesat ke arah musuh satunya yang sudah kewalahan. Tanpa menunggu lama, dia melesatkan lima puluh pedang es dan api secara bersamaan.
Musuh membuat perisai pelindung, tapi hancur saat bersentuhan dengan pedang es. Hawa dingin serta panas tidak biasa membuatnya mulai ketakutan.
Dia berusaha melawan, tapi satu pedang api menggores lengan. Awalnya tidak ada yang terjadi, tapi selanjutnya dia merasakan panas luar biasa yang membuat kekuatan tidak bisa keluar. Dia ambruk sambil mengerang kesakitan, detik berikutnya napasnya tersedat-sendat dan berakhir tidak ada lagi napas yang dikeluarkan.
Amdara hanya menatap. Tanpa ada rasa takut atau pun sedih setelah melakukan semua ini. Dulu dia memang tidak terbiasa melawan manusia, tapi seiiring berjalannya waktu, melawan manusia dia anggap seperti melawan Roh Hitam. Lebih cepat lenyap, lebih baik.
Dia pergi, mendeteksi markas Aliran Hitam ini. Dia yakin, kelompok ini sudah mengetahui tentang 'cahaya istimewa'. Jika mereka buka mulut ke banyak orang lagi, Dark World akan benar-benar tidak selamat.
__ADS_1