
"Ha ha ha. Anak manusia keras kepala, bagaimana sakitnya? Mhn, tidak terasa sampai urat-uratmu bukan?"
Raja Roh Hitam mendekat, melayang sambil terus tertawa melihat betapa tidak berdayanya bocah berambut putih itu. Di sampingnya Raja Roh Hitam juga turut tertawa.
Satu Raja Roh Hitam berkata, "sejak dahulu, kaum manusia memang sangat lemah. Tidak bisa disandingkan dengan makhluk seperti kita apalagi iblis."
Keduanya kembali tertawa. Keadaan sekitar sudah sangat kacau, sepuluh rumah sudah dibuat hangus. Tanah retak di mana-mana. Bahkan pepohonan dari skala tiga puluh meter turut hangus karena serangan pertarungan barusan.
Asap hitam mulai mudar, nampak keadaan kacau terlihat jelas. Asap bekas pertarungan dan rumah yang terbakar mengepul di udara. Entah tempat ini akan disebut desa lagi atau sudah dikatakan hutan.
Sebuah tanda elang hitam muncul di dahi Amdara, bercahaya emas sampai tiba-tiba angin berhembus begitu kencang. Membawa perasaan aneh di benak kedua Raja Roh Hitam yang langsung saling pandang.
"Perasaan ini ...." Raja Roh Hitam sontak mengedarkan pandangan. Hawa menekan mulai terasa di keduanya. Tidak ada lagi tawa, yang ada sekarang hanyalah perasaan gelisah.
Tanpa keduanya sadari, cahaya di dahi Amdara semakin besar sampai membuay Dua Raja Roh Hitam menyipitkan mata tidak kuat dengan cahaya tersebut.
"Apa itu?!" Raja Roh Hitam dibuat termundur oleh angin kejut yang berasal dari cahay keemasan itu. Keduanya masih kebingungan dengan apa yang terjadi.
Cahaya keemasan di dahi Amdara membuatnya melayang. Ikat rambutnya terlepas, turut melayang di depannya. Corak naga itu juga mengeluarkan cahaya. Angin beliung mendadak muncul memutari tubuhnya. Aura aneh keluar dari tubuh Amdara.
Raja Roh Hitam yang tidak kuat dengan tekanan pada tubuh mereka berlutut lemas. Mereka masih menggunakan jubah untuk menghalau cahaya ke arah mata.
Sementara Amdara perlahan membuka mata, bukan lagi mata biru langit. Melainkan mata putih sempurna, tajam seakan dapat membinasakan apa-pun. Cahaya keemasan di dahinya mulai pudar, ikat rambut yang sebelumnya melayang kini beralih di tangan Amdara yang menengadah. Pusaran angin juga perlahan memudar.
Kedua Raja Roh Hitam menyingkirkan jubah, untuk melihat ke depan apa yang sebenarnya terjadi. Keduanya membelalakkan mata dengan pemandangan di depannya. Bahkan tanpa sadar tubuh roh mereka sampai bergetar hebat.
Satu Raja Roh Hitam berkata terbata-bata, "kau dan aura ini ...."
"Tidak mungkin ...." Ketidak percayaan terbesit di benak mereka.
Di hadapan keduanya, anak manusia yang sebelumnya telah tidak berdaya karena serangan mereka kini berubah. Mata biru langit, berubah putih sepenuhnya menatap tajam seakan ingin menghabisi mereka segera. Angin yang berhembus semakin menekan tubuh Raja Roh Hitam. Angin tersebut melambai-lambai rambut putih Amdara, dan ikat rambut bercorak naga yang nampak mengeluarkan cahaya membuat kedua Raja Roh Hitam semakin tidak percaya.
__ADS_1
Sementara si anak manusia itu hanya diam tanpa bicara sepatah kata. Entah dia sadar atau tidak, tapi aura yang keluar dari tubuhnya membuat Dua Raja Roh Hitam langsung melemas tidak berdaya, bahkan untuk kembali berbicara saja rasanya sangat sulit.
Amdara merenggangkan tangan kanan sambil mengangkatnya perlahan, detik itu juga Dua Raja Roh Hitam melayang tanpa bisa melakukan perlawanan. Leher mereka terasa terbakar, mulut mereka terkunci rapat oleh sesuatu. Amdara lalu mengeluarkan rantai api dari tanah, kekuatannya kali ini dua kali lipat lebih besar hingga Dua Raja Roh Hitam tidak dapat berkutik. Mereka menjerit kesakitan tidak tertahan.
Bocah berambut putih itu tanpa nada berkata, "kau yang membuat orang-orang desa tersiksa?"
Entah bagaimana, tapi ketika Amdara bertanya sengit, mulut Raja Roh Hitam langsung bisa terbuka dan mengeluarkan suara. Keterkejutan masih memenuhi Raja Roh Hitam.
"A-anda, A-anda, Nyonya---!"
Sebuah bola es muncul dan melesat ke arah tepat dahi Raja Roh Hitam yang berbicara. Raja Roh Hitam terpental sejauh lima puluh meter, dengan dahi yang langsung berlubang. Namun, langsung kembali muncul di hadapan Amdara.
"Itu bukan jawaban."
Amdara semakin mengepalkan kedua tangan. Bayangan dua orang desa yang menangis ketakutan, kemungkinan memang ulah Roh-roh Hitam ini. Mengingatnya semakin membuat hati Amdara terbakar. Walau ekspresinya dingin nan datar, tapi tatapan matanya sangat tajam bak elang.
Raja Roh Hitam merasakan sakit luar biasa di dahi. Dia sampai sulit mengeluarkan suara. Sementara satu Raja Roh Hitam lagi menahan napas saat tatapan matanya bertemu dengan anak manusia itu.
Dengan menahan sakit yang menjalar ke seluruh tubuh akibat rantai api, dia berkata, "k-kami tidak tahu apa-apa. Or-orang-orang desa pasti telah disiksa o-oleh ib-iblis."
Raja Roh Hitam menatap takut-takut, tapi dalam hati masih bertanya-tanya tentang identitas bocah berambut putih ini. "siapa dia?! Tubuhku sangat sakit. Kekuatan apa yang dimiliki anak manusia ini?! Akh!! Rasanya aku mengenal aura menyeramkan ini."
"Tunggu. Aura ini ... " Raja Roh Hitam menahan napas mengingat sesuatu. "Tidak salah lagi. Dia pasti anak dari Ratu Roh dan manusia itu!"
Api berbentuk tangan muncul, selanjutnya menampar pipi Raja Roh Hitam yang telah berkata bohong. Raja Roh Hitam semakin merasakan sakit luar biasa. Bisa dibilang dia memilih mengakhiri hidup dari pada harus bertemu dengan Amdara.
Amdara sudah berusaha menahan amarah membuncah. Dia menarik napas dalam. "Berbicaralah dengan jujur."
Raja Roh Hitam semakin dibuat tidak berdaya, dia dengan ucapan sangat lemah bersuara, "be-benar. Ka-kami yang telah menyerap kekuatan mereka, sampai mereka benar-benar lemah dan menyiksa mereka selama ini."
"T-tapi kami---Akhhh!!"
__ADS_1
"Jurus Elang Abadi Pemusnah Roh."
Cahaya emas membentuk pola elang di bawah kedua Raja Roh Hitam muncul. Cahaya emas tersebut langsung melahap mereka. Suara jeritan kesakitan semakin keras. Namun, manusia yang telah melenyapkan mereka sama sekali tidak berekspresi. Api berkobar setelah lenyapnya Raja Roh Hitam.
Amdara memandang kobaran api tersebut. Kemudian menghilangkan debu-debu yang bertebaran. Mata putihnya kembali berubah menjadi mata biru langit seperti sebelumnya saat berkedip lagi. Amdara mengangkat kedua tangan, menatap seolah sedang kebingungan. Dia sadar apa yang baru saja terjadi, tapi di sisi lain seperti ada yang sedang mengendalikannya.
"Apa barusan adalah kekuatanku?"
Masih berpikir dengan hal barusan, suara seseorang membuatnya menoleh. Bukan dua orang yang sebelumnya Amdara lihat di desa, akan tetapi ada dua puluh lima orang yang sedang berdiri berjejeran sambil menatapnya.
Amdara menaikkan sebelah alis. Dia melayang mendekati mereka, akan tetapi mereka malah mundur dengan wajah ketakutan. Amdara pikir mungkin mereka baru saja melihat pertarungan barusan, dirinya menarik napas dalam. Mulai melihat satu-persatu warga desa yang sebelumnya tidak ada, wajah mereka tidak terlihat jelas sebab karena kotor oleh tanah. Entah bersembunyi di mana mereka sebelumnya.
"A-apa kau orang yang diutus untuk membantu kami?" Seseorang dengan takut-takut bertanya.
Amdara yang mendengarnya terdiam sebelum mengangguk saja sebagai respon.
Melihat anggukan kepala tersebut membuat warga desa mendadak menerbitkan lengkungan senyuman. Bahkan mereka ada yang sampai menangis dan berterima kasih kepada Amdara.
"K-kau sungguh kuat. Terima kasih Tuan Muda, terima kasih."
"Wa-walau pun terlambat, tapi kami sangat berterimakasih kepadamu."
"Bagaimana kami membalas budimu karena telah menolong kami?"
Ada banyak ucapan terima kasih, Amdara tidak bisa mendengar semuanya. Melihat kelegaan di wajah mereka membuat Amdara tersenyum tipis, entah mengapa dirinya merasa senang. Pasti mereka telah menderita selama ini, dan pastinya mereka sangat bahagia setelah lenyapnya Raja Roh Hitam yang telah mereka siksa. Amdara sendiri tidak peduli ada yang memanggilnya 'Tuan Muda', mungkin karena jubahnya seperti laki-laki dan rambutnya yang diikat.
"Bangun kembali rumah kalian. Tidak perlu takut kembali, Raja Roh Hitam tidak ada lagi."
Katanya dengan irama tenang. Warga desa itu langsung mengiyakan dengan semangat. Amdara memunculkan portal, hendak pergi kembali setelah menyelesaikan misi di daerah ini.
Suara wanita mengatakan sesuatu sampai membuat Amdara yang hendak memasuki portal terhenti, "Tuan Muda, siapa nama Anda?"
__ADS_1
Amdara menoleh, dan tersenyum tipis. Dirinya berkata, "Dara."
Setelahnya cahaya putih menyilaukan muncul membuat warga desa tidak dapat melihat dengan jelas cara kepergian Sang Penolong mereka.