
Desa Igir merupakan desa yang berada jauh di antara desa lain. Dari desa lain ke desa Igir membutuhkan waktu paling lama satu minggu. Di sekitar desa tersebut merupakan lahan yang dipakai untuk bertani. Warga desa memang bermata pencaharian tani, untuk melakukan transaksi dengan desa lain, mereka menggunakan transportasi ajaib yang dibuat dengan kekuatan besar agar cepat sampai ke desa dalam hitungan jam. Namun, sudah lama transportasi ini tidak pernah dilihat desa lain. Mereka jelas kebingungan, desa Igir yang jelasnya membutuhkan barang lain tidak lagi bertransaksi ... pasti ada satu masalah di desa Igir. Hanya saja ketika seseorang mencoba memasuki desa Igir, ada sebuah segel penghalang yang sangat kuat. Dan beberapa jebakan yang sudah dipersiapkan oleh sekelompok orang.
Di dalam desa Igir, seseorang baru saja berlari terengah-engah. Dia mengedarkan pandangan, memastikan tidak ada orang yang melihat. Begitu yakin tidak ada orang, dia langsung mencoba membuka gerbang desa akan tetapi yang terjadi adalah belasan panah melesat tepat ke arahnya. Kecepatan panah itu tidak bisa dilihat menggunakan mata biasa. Pria yang tidak bisa mengelak terkena serangan dari berbagai sisi. Tubuhnya ambruk, darah mengucur di tubuh. Erangannya tertahan, takut ada yang menyadari dia berusaha kabur.
Dia menatap gerbang di depannya. Matanya yang sudah berlinangan air sangat berharap ada seseorang yang menghancurkan perisai pelindung itu dan membawanya keluar dari desa. Harapan tinggal harapan. Sampai napasnya berakhir, belum ada bantuan yang datang.
Di dalam rumah kepala desa, sekelompok orang mengenakan pakaian serba hitam sedang bersuka ria menikmati hidangan yang baru saja disajikan. Mata mereka tengah asik menonton pertunjukan tarian wanita-wanita cantik.
Sekitar ada lima belas orang itu, salah satu dari mereka berambut merah. Berwajah garang dan berotot. Dia memutar mata malas menyaksikan tarian yang menurutnya membosankan. Dia keluar ruangan, mencari udara segar malam hari.
"Hmph. Ada yang mencoba kabur lagi?" Pria berambut merah itu melesat.
Perisai pelindung yang dibuat di desa Igir merupakan buatan sekelompok penjahat dari Aliran Hitam. Selama ini satu persatu warga desa sudah banyak yang lenyap akibat mencoba melarikan diri. Selebihnya disiksa oleh kelompok Aliran Hitam ini. Warga desa tidak bisa melawan. Kekuatan mereka tidak bisa digunakan entah karena apa.
Pria berambut merah itu adalah Waki, orang yang pernah menyerang Amdara menggunakan kekuatan besa hingga membuat bocah itu mendapat Benang Merah di inti spiritualnya. Kemungkinan besar Waki menggunakan kekuatan jarum merah untuk membuat warga desa tidak bisa menggunakan kekuatan.
Matanya menyipit melihat dua orang pria dewasa sedang berjalan mengendap-endap. Waki yang melihatnya menyeringai, dan lantas mengangkat tangan. Rumah di samping dua orang itu melayang-layang di udara. Keterkejutan nampak di wajah dua orang itu. Rumah tersebut meledak saat Waki mengepalkan kedua tangan. Dia tertawa di atas atap rumah. Tawanya menggelegar, membuat dua orang itu langsung mati kutu di tempat. Menelan ludah susah payah. Keringat dingin sudah bercucuran di dahi. Jantung yang berdetak lebih keras dari sebelumnya. Apalagi Waki malah mendarat di depan mereka dengan tatapan mata ingin melenyapkan tanpa ampun.
"Dasar keras kepala. Apa kau tetap ingin melarikan diri hm?"
Dua pria warga desa menggeleng cepat. Keduanya terduduk dan menyatukan kedua tangan seolah meminta ampun.
"T-tidak, Tuan. Ka-kami, ka-kami hanya ...."
"La-lapar, Tuan tolong beri aku makanan. Seminggu ini hanya baru makan b-buah---"
Waki semakin menyeringai membuat lawan bicara menahan napas. Detik itu Waki mencengkram kuat leher keduanya dan berkata, "makan? Jadi kalian hanya ingin makan, yah. Baiklah, aku akan mengabulkannya. Tapi tidak di sini. Melainkan ...."
*
*
*
__ADS_1
"Ada perisai kuat di desa ini."
Amdara merasakan adanya perisai yang dikatakan Tetua Widya. Keduanya baru saja sampai dan langsung terkejut dengan adanya perisai itu. Saat Tetua Widya mencoba menghancurkan perisai itu, yang ada dirinya langsung terpental sejauh lima meter.
Gerbang tersebut tidak ada yang menjaga. Karena perisai itu membuat Amdara dan Tetua Widya tidak dapat melihat dengan jelas ke dalam desa tersebut. Keduanya harus bisa memasuki desa secepatnya sebelum orang-orang desa ini dihabisi sampai tidak terkecuali.
Tetua Widya menggeleng dan berujar, "ini terlalu kuat. Tapi aku akan mencobanya kembali."
"Tetua, hentikan."
Tetua Widya menaikkan sebelah alis mendengar ucapan Amdara yang tiba-tiba mengatakan kemungkinan di dalam ada jebakan lainnya. Untuk itulah, Amdara berinisiatif membuat portal untuk memasuki desa ini.
Tetua Widya terkejut dengan yang dikatakan murid ini. Tidak menyangka muridnya di usia sangat muda sudah bisa membuat portal.
Hal pertama yang dilakukan Amdara adalah berkonsentrasi. Dia menarik udara, memasukkannya ke dalam paru-paru. Perlahan sebuah titik-titik air muncul di depannya, bercahaya putih. Setelah yakin, Amdara mempersilakan Tetua Widya memasuki portal.
Tanpa ragu Tetua itu masuk. Diikuti oleh Amdara dari belakang. Keduanya muncul di dalam desa langsug. Tetua Widya sampai berdecak kagum.
"Kenapa kau tidak mengeluarkannya untuk langsung kemari?"
Yang dimaksud Amdara tentu saja dia tidak pernah datang kemari. Jadi tidak bisa melakukan teleportasi.
Tetua Widya mengangguk saja. Dia mengedarkan pandangan, tapi matanya membulat seketika melihat penampakan seorang pria terkapar tidak berdaya. Dia segera melesat mendekat. Amdara juga melihatnya. Dia melesat.
Kondisi pria itu tidak baik-baik saja. Sekujur tubuh sudah terluka oleh panah. Bahkan detakan jantungnya sudah terhenti. Melihat kematian orang ini membuat Tetua Widya berpikir baru beberapa menit dia tewas.
Tetua Widya memeriksa, selain panah yang tertancap di tubuh tidak ada lagi hal lain.
"Apa sekelompok Aliran Hitam yang menyerangnya?" Tetua Widya mencabut salah satu panah. Memperhatikannya sebelum melempar ke gerbang.
Sesuatu terjadi. Lesatan panah dari berbagai sisi melesat dengan kecepatan tinggi. Nyaris sampai ratusan menyerbu Amdara dan Tetua Widya yang langsung membuat perisai pelindung. Saking banyaknya, panah-panah itu sampai menimbulkan bunyi cukup nyaring. Ternyata panah tersebut bukanlah panah biasa. Melainkan panah yang sudah disiapkan menggunakan energi spiritual.
Suara tepukan tangan disertai tawa menggelegar membuat Amdara dan Tetua Widya tersentak. Keduanya menolehkan pandangan ke belakang.
__ADS_1
Seseorang mendarat, dan berkata bengis. "Wah, sepertinya ada orang hebat di sini sampai bisa masuk tanpa merusak perisai."
Waki menyeringai, memperhatikan dua orang yang akan menjadi musuhnya. Dia melihat perisai pelindung keduanya yang saling menguatkan.
"Dari Organisasi apa kalian?"
Tetua Widya menggertakkan gigi. Tatapannya berubah menajam. Jika dugaan Amdara sebelumnya benar, maka di dalam desa sudah disiapkan banyak jebakan.
"Kau yang sudah menyiksa warga desa? Hmph. Tidak tahu diri."
Akar-akar hijau menjalar keluar dari tanah dan langsung menyerang Waki dengan kecepatan tinggi. Namun, Waki masih saja bisa menyeringai. Dia menghindar, membuat perisai pelindung dan menyerang akar-akar kuat tersebut.
"Kau baru saja sampai. Sudah tidak sabar melihat neraka yah?"
BAAM!
Debaman keras terdengar. Tanah retak secara besar karena serangan Waki ke arah akar-akar tersebut.
Tetua Widya mengepalkan kedua tangan melihat akar-akarnya yang tiba-tiba saja meledak.
Waki melayang, dia menaikkan sebelah alis ketika memperhatikan dengan baik topeng kucing bocah berambut cokelat itu.
"Hmph. Melihat topeng buruk itu mengingatkanku dengan bocah bodoh."
Tatapan Tetua Widya beralih ke Amdara ketika mendengar ucapan musuh. Dirinya tidak tahu bagaimana ekspresi Amdara saat ini yang mengenakan topeng kucing.
Amdara sudah mengepalkan kedua tangan. Giginya bergemerutuk menahan amarah. Jelas dia ingat siapa musuh kali ini yang tidak lain adalah orang yang telah membuat dirinya lupuh tidak bisa menggunakan kekuatan spiritual.
"Tetua, kita harus hati-hati dari setiap serangannya."
Amdara masih menyimpan keinginan untuk membuat Waki merasakan sakit. Bukan tentang Benang Merah yang membuatnya lemah, akan tetapi karena ucapan Waki yang masih terngiang di kepala mengenai kedua orang tuanya yang dikatakan kucing.
Angin berhembus sudah terasa berbeda. Ratusan panah tidak lagi menyerang. Amdara sudah mengumpulkan energi alam ke dalam tubuh, bersiap menyerang.
__ADS_1
"Kilatan Angin Aliran Pertama."