Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
254 - Keberadaan Amdara


__ADS_3

Ledakan akibat jurus Mitsu memang sangat besar. Shi yang tengah nyenyak tertidur, terlonjak kaget merasakan tanah bergetar hebat. Kontan dia keluar, melihat banyak orang ramai sedang membicarakan guncangan itu.


"Cakra, apa yang terjadi?"


Shi menghampiri Cakra panik. Cakra berkata, "ada yang mengatakan ledakan barusan diakibatkan jurus murid Akademi Nirwana Bumi.


Shi sampai dibuat menahan napas mendengar perkataanya. Murid Akademi Nirwana Bumi memang monster. Shi memandang ke kepulan asap hitam di sana. Seketika dirinya teringat junior perempuannya.


"Apa Luffy sudah kembali?"


Cakra menoleh, dirinya berkedip dan berkata, "belum."


Shi sontak bertambah panik mengingat kepribadian Amdara yang menurutnya selalu ikut campur urusan orang lain.


"Cakra, ayo cari Luffy, dia sering terlibat masalah orang lain!"


Shi langsung melesat pergi diikuti Cakra yang baru sadar Amdara bisa saja berada di kejadian itu.


Shi melewati orang-orang yang juga penasaran dengan tempat kejadian. Perasaannya tidak enak mengingat Amdara.


Kekhawatirannya begitu jelas terpampang. Shi mempercepat terbang melewati orang-orang. Sampai, pendengaran tajamnya mendengar seseorang menyerukan nama Luffy. Kontan dia memandang orang yang menyerukan nama Luffy.


Gadis berpakaian hijau muda terbang dan tengah membuang kepingan reruntuhan. Dia Phillomel yang sama khawatirnya dengan yang lain.


"Luffy, kau di mana?"


"Hei, apa kau baru saja menyebut nama 'Luffy'?"


Phillomel segera menoleh ke belakang di mana Shi bertanya. Alisnya mengerut menatap Shi.


Sementara subjek di depannya tampak tersenyum tipis, bentuk ramah.


Phillomel segera mengangguk dan berkata, "aku mencari temanku, Luffy."

__ADS_1


"Aku juga sedang mencari temanku, Luffy. Dia berambut coklat dan mengenakan cadar tipis. Apa kau melihatnya?" Shi bertanya langsung ke inti. Dia cukup tersentak orang di depannya juga sedang mencari teman bernama Luffy. Tidak mungkin ini kebetulan, 'kan?


Sekarang Phillomel yang tersentak. "Apa kau dari Akademi Magic Awan Langit?"


Anggukan Shi membuat Phillomel terdiam. Menelan ludah susah payah. Entah bagaimana dia harus menjelaskan. Sekarang bahkan Phillomel belum menemukan Amdara setelah ledakan besar itu.


Kebungkaman Phillomel membuat Shi bingung.


"Jadi kau mengenalnya? Apa kau melihat Luffy? Di mana dia? Dia sudah cukup lama tidak kembali ke tempat istirahat. Aku sangat khawatir padanya. Dia gadis kecil yang suka ikut campur urusan orang lain." Shi terus berbicara. Antara kesal dan khawatir kepada gadis berambut putih yang merupakan juniornya.


"Itu ... Luffy ...."


*


*


*


Semburat jingga dari ufuk barat memperlihatkan diri. Menenggelamkan cahaya matahari. Pengganti dewi malam akan datang di malam nanti. Rombongan Kawa masih tidak berhenti mencari Amdara, bahkan sampai berpikir gadis itu sudah tewas dengan tubuh meledak. Mereka ingin menyangkal, tetapi tidak menemukan Amdara sampai sore ini membuat hati dan pikiran kecil mereka mulai berpikir dia memang sudah tiada.


Shi, dan Cakra sampai terkejut bukan main mendengar cerita Phillomel. Tubuh Shi lemas seketika. Dia tahu Amdara kuat, tapi asap beracun dari lawan sangat kuat. Apalagi katanya Amdara tepat di bawah jurus dahsyat itu. Mungkin Amdara bisa menghindar, tetapi sebelumnya dia telah mengeluarkan kekuatan besar.


Shi sudah menangis memikirkan hal yang tidak-tidak. Rasa putus asa mencari Amdara mulai menyergap.


"Aku tahu dia hanya gadis kecil yang selalu ingin ikut campur urusan orang lain. Kenapa aku yang dewasa ini tidak mencegahnya pergi saat itu?!"


Shi terduduk dengan mengusap air matanya yang bercucuran. Entah bagaimana reaksi Tetua Rasmi saat mengetahui hal ini nanti. Bagaimana pula Shi menjelaskannya.


Padahal dia sudah mewanti-wanti junior perempuan itu agar tidak membuat masalah dengan Murid Akademi Nirwana Bumi. Sekarang sudah jelas, sekali membuat mereka tersinggung nyawa akan melayang.


Cakra mencoba menenangkan dengan mengusap pelan bahu senior. Dia juga cemas dan bingung saat ini.


"Senior, tenanglah. Luffy pasti masih ada."

__ADS_1


*Kalau dia masih ada, lalu di mana tubuhnya?! Kau dengar dan rasakan getaran hebat jurus lawan Luffy?! Itu sangat besar! Hiks. Entah ada masalah apa Luffy sampai membuat gara-gara dengan lawan."


"Aku tahu. Tubuh Luffy belum ditemukan, kita tidak menemukan tanda-tanda ketiadaannya. Kemungkin dia masih hidup," Cakra terdiam. Teringat Amdara bisa menggunakan portal.Dia lalu berkata, "Luffy bisa menggunakan portal, kemungkin dia pergi ke tempat lain."


Mungkin hanya Cakra saat itu yang hati kecil dan otaknya berpikir Amdara masih hidup. Namun, dia entah berada di mana.


Shi terdiam berpikir lagi. Memang tanda ketiadaan Amdara tidak ada di tempat kejadian. Tidak ada darah berceceran, atau setidaknya pakaian yang hangus walau selembar. Mendengar Amdara bisa menggunakan portal membuat dia terhenyak.


"Tapi dia ada di mana?"


Shi menggigit bibir bawah. Mencoba berhenti menangis, tetapi rasanya sulit. Dadanya terasa sesak membayangkan kepergian Amdara saat ini.


"Sebaiknya kita cari kembali.".


Shi menatap Cakra yang terlihat tenang. Shi mengangguk dan berdiri. Mulai mencari lagi sampai ke bagian dalam Akademi, karena berpikir Amdara berhasil menyelamatkan diri dari serangan dahsyat itu.


Bangunan yang hancur sudah mulai diperbaiki oleh para petugas menggunakan kekuatan mereka. Kemungkin dalam waktu satu hari pembangunan bisa diselesaikan.


Dari pihak Guru atau Tetua tidak ada yang turun tangan. Seolah kejadian ini sudah terbiasa.


Rantai besar tidak jauh dari Akademi yang menghubungkan ke hutan terlihat tenang. Namun, membuat tegang saat melewati rantai besar itu. Pasalnya di sana kekuatan para murid Akademi Nirwana Bumi tidak bisa terbang, dan hanya bisa berjalan melewati rantai itu. Walau rantainya besar, akan tetapi terlihat licin dan membahayakan karena jika terpeleset, mereka akan masuk ke dalam jurang kabut.


Di dalam hutan, sebuah kediaman besar berdiri. Seorang pria lagi-lagi menghela napas panjang sambil menghisap teh biru sebab lelah menunggu sadarnya gadis berambut putih.


Pria itu mengetuk-ngetuk paha menggunakan jari telunjuk kiri. Tangan kananya dia gunakan untuk menyangga dagu. Pandangannya mengarah ke depan. Di mana taman indah berdiri. Sementara di sekelilingnya ada hutan lebat.


"Jurusnya hebat. Auranya tidak biasa. Ini pertama kalinya aku melihat jurus sayap emas itu."


Gumamnya sambil terus berpikir, "Benang Merah melilit inti spiritualnya. Tapi dia masih bisa menggunakan kekuatan besar. Hmph."


Dia bahkan sampai menyerngitkan dahi. Asap hitam yang merupakan racun Mitsu bahkan tidak membuat Amdara terluka apalagi lumpuh saat diperiksa. Ini menandakan dia memang bukan gadis biasa. Ada identitas hebat yang tersembunyi.


Pria itu tidak tahu jika saat ini Amdara baru saja membuka mata. Dia mengedarkan pandangan. Sangat asing dengan ruangan itu. Apalagi merasakan aroma obat-obatan cukup menyengat membuatnya tersadar, dia seperti di tempat pengobatan.

__ADS_1


Tidak ada siapa-siapa di sana. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Sekelebat ingatan yang hampir merenggut nyawa terlintas. Dia menggelengkan kepala saat tidak mengingat apa pun setelah merasakan hampir tewas karena racun Mitsu.


"Apa yang terjadi setelahnya?"


__ADS_2