Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
66 - Pertanyaan Tak Terduga


__ADS_3

Dirgan, Atma, Amdara, Inay, Nada, dan Rinai segera menoleh ke arah Aray yang telihat tengah berpikir serius.


"Di mana?"


Dirgan bertanya mewakili isi hati yang lain. Beberapa detik Aray masih diam, menambah penasaran mereka. Sampai Atma menguap berulang-ulang menunggu jawaban.


Suasana lapangan latihan untuk berkumpul mulai sepi. Hingga tertinggal satu kelompok, kelas Satu C yang masih diam menunggu satu jawaban meluncur dari bibir bocah pemarah.


"Hutan Arwah."


Aray mengangguk, dan membuat teman-temannya mengembuskan napas panjang.


Dirgan menaikkan sebelah alis, seperti pernah mendengar tempat tersebut. Saat sedang mengingat-ingat, Rinai mengatakan hal tak masuk akal.


"Huhuhu. Jangan ke sana ... tempat itu benar-benar berbahaya. Hutan Arwah ... mereka menghabisi semuanya. Mereka, huhuhu. Jangan pergi. Kita cari tempat lain, huhuhu."


Rinai menangis tersedu-sedu sambil menunduk dalam. Tidak ada yang merasa aneh saat Rinai menangis, tetapi kalimat yang dilontarkan cukup membuat Amdara penasaran.


Nada memegang pundak Rinai, mencoba menenangkan.


"Hutan Arwah? Aku tidak pernah mendengarnya. Di mana itu?"


Atma bertanya pada Dirgan yang langsung mendapat jitakan keras di dahi. Dirgan berkata gemas, "kau ini lahir dari goa, ya? Hutan Arwah berada di tempat wilayah aliran hitam."


Atma mengusap-usap dahi dan tersentak saat mendengar jawaban Dirgan.


"Aliran hitam?! Bukankah itu sangat berbahaya?!"


Atma menelan ludah susah payah. Dia tahu benar bagaimana sikap orang-orang dari aliran hitam. Di Negeri Nirwana Bumi memang ada sedikit aliran hitam, tetapi kekejaman mereka saat diganggu lebih mengerikan. Dan Aray mengatakan salah satu tanaman herbal berada di sana? Bukankah jika mereka nekad mencarinya, hanya berakhir tewas mengenaskan?


Amdara dan Inay juga tersentak. Keduanya tahu betul orang-orang dari aliran hitam. Karena di Negeri Elang Bulan juga ada aliran-aliran hitam. Kedua bocah itu juga pernah berurusan dengan kelompok mereka.


"Apa jaraknya jauh?"


Amdara bertanya, dia membuat Inay menoleh. Dan terlihat memberi tatapan agar mencari jalan lain.

__ADS_1


Aray mengembuskan dan menatap teman-temannya datar. Dia mengerti kecemasan Rinai, dan yang lain. Namun, mencari tanaman herbal dalam waktu singkat adalah hal sulit. Terlebih jika mereka mencarinya di toko, kemungkinan besar tidak ada. Karena ketiga tanaman herbal yang disebutkan memang langka.


"Kita hanya perlu mengikuti aliran sungai desa ini. Tidak butuh waktu lama, satu jam akan sampai."


Atma menggeleng cepat. "Yang ada saat kita sampai di sana, nyawa kita yang dihabisi. Aku menolak. Ini terlalu berbahaya. Kalian harus menurut padaku, karena aku tampan, oke?"


Dirgan kali ini mengapit leher Atma dan menggilas kepala Atma menggunakan tangannya gemas.


"Ini memang berbahaya. Tapi kita tidak memiliki pilihan lain."


Atma meringis dan mencoba menyingkirkan tangan Dirgan. "A-aduh! Hentikan. Kau menyakitiku. Kau juga akan menyakiti yang lain jika sampai mengambil keputusan yang salah."


Sontak Dirgan menghentikan aksinya. Dan menatap satu persatu teman-temannya. Dia bertanya bingung, "bagaimana pendapat kalian?"


Amdara berpikir sejenak. Yang dikatakan Dirgan memang benar. Tidak ada pilihan lain untuk hal ini. Namun, sangat membahayakan nyawa mereka juga.


Rinai terus menangis dan meminta agar mereka tidak pergi ke sana. Hal ini jelas membuat yang lain mencoba menenangkan, karena rasanya ada yang aneh saat Rinai sampai tubuhnya bergetar hebat. Seakan ada kejadian tidak baik pernah dialami Rinai.


"Tsk. Kalian pikir, aku tidak memikirkan cara agar kita tidak dalam bahaya?" Aray menyilangkan kedua tangan depan dada dan kembali berkata, "ikuti caraku, dan kalian akan aman."


Sontak semua pandangan beralih pada Aray yang tersenyum miring. Perasaan Amdara mengatakan Aray akan berbuat hal-hal aneh.


Dialiran sungai yang tenang kota Awan Langit, sesuatu bergerak-gerak di sungai itu. Melesat cepat menerjang ketenangan pagi-pagi buta. Dinginnya udara, menusuk sampai ke tulang.


Jika dilihat menggunakan mata te****ang, tak akan ada yang merasakan keanehan. Namun, jika menggunakan kekuatan untuk melihat dengan baik maka gelombang air yang seharusnya mengikuti jalan, tetapi yang ada malah melawan arus.


Seperti yang diduga Amdara, ide Aray memang tidak beres. Sekarang mereka memakai alat aneh yang diciptakan Guru Aneh untuk melewati aliran sungai tanpa ketahuan. Yang mana alat ini bisa menampung mereka dan bisa menghilangkan hawa keberadaan sekaligus tembus pandang. Memang alat ajaib yang diciptakan oleh orang berbakat.


Bentuk dari alat ini adalah segi panjang, cara menjalankannya hanya perlu mengeluarkan sedikit kekuatan dan mengarahkan alat ini ke arah yang diinginkan. Di dalamnya, tidak ada apa-pun. Bahkan Aray yang mengendarai hanya perlu menyentuh permukaan atas dan menjalankan seperti yang dijelaskan Guru Aneh.


Di dalam, Amdara mengedutkan sebelah alis karena melihat Aray yang membanggakan diri sendiri yang katanya pandai. Sepertinya dia tertular penyakit Atma.


Rinai telah ditenangkan oleh Nada dan Inay. Amdara sendiri hanya menepuk-nepuk pelan punggung bocah yang sering menangis itu.


"Aku melupakan satu hal." Aray yang posisinya paling depan dan di samping Amdara menoleh ke belakang. Di mana teman-temannya masih merasa ragu dengan keputusan ini. Aray mengembuskan napas panjang, sebelum tatapannya bak elang siap menerkam dan berbicara, "sebenarnya dari mana saja kalian selama sebulan ini?!"

__ADS_1


Amdara, Inay, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada tersentak. Saling pandang dan akhirnya saling membuang pandangan. Seakan salah satu dari mereka harus ada yang menjawab. Hal itu jelas membuat Aray kesal setengah mati. Dia yakin pasti ada yang disembunyikan teman-temannya.


Inay menutupi wajahnya menggunakan rambut, berharap Aray mengalihkan pandangan ke yang lain. Dirgan berdehem, dan menatap ke atas. Tatapan Aray sungguh mengerikan menurutnya. Atma sendiri bersiul-siul dan membuang wajah ke arah mana pun, saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata tajam Aray, Atma menelan ludah susah payah dan segera mengalihkan tatapan.


Rasanya yang lebih menakutkan sekarang bukan ke Hutan Arwah, melaikan tatapan dan pertanyaan Aray bagi Rinai dan Nada yang menunduk tak merespon.


Padahal, Amdara dan yang lain berharap Guru Aneh, teman kelas Satu C termasuk Aray melupakan kehilangan mereka. Namun, entah mengapa Aray tiba-tiba saja mengingat.


Tatapan tajam Aray sekarang menatap Amdara yang sama sekali tidak mengalihkan perhatian. Amdara sengaja, dia telah memikirkan jawaban ini sebelumnya.


Amdara menarik sebelah alis ke atas dan bertanya, "kau mengkhawatirkan kami?"


Aray berkedip. Itu bukan jawaban, melainkan pertanyaan yang membuat Aray memicingkan mata.


"Apa maksudmu?"


Jelas pertanyaan Amdara barusan mencuri perhatian Inay yang mengintip lewat rambutnya. Dia yang biasanya cerewet, kali ini diam dan lebih memerhatikan.


Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada kali ini memberanikan diri melihat Aray yang tengah ditanya Amdara. Mereka jelas tersentak dengan pertanyaan Amdara.


Bocah berambut putih itu menarik napas dalam. Ini akan menarik jika dirinya sampai bisa menyudutkan Aray atau setidaknya membuat Aray tidak lagi bertanya ke mana perginya mereka selama sebulan.


"Aku bertanya, kau mengkhawatirkan kami selama sebulan ini?"


"Lebih tepatnya, Guru Aneh yang mengkhawatirkan kalian. Lagi pula keberadaan kalian yang tidak ada di kelas, jelas akan mencurigakan."


"Kau pengertian."


"Apa?"


"Kau bahkan sampai mencari kami selama sebulan."


Kegugupan entah yang berasal dari mana secara tiba-tiba muncul di benak Aray yang kini menelan ludah. Dan merasakan tatapan pertanyaan dari teman yang lain. Apalagi Atma yang tengah menatapnya dalam, dan jelas itu menambah Aray jadi tidak ingin ketahuan bahwa sebenarnya dia sangat khawatir dan selama sebulan itu mencari mereka sampai harus terlibat beberapa masalah. Dan jika dirinya menjawab jujur, yang ada teman-temannya pasti akan meledek.


"A-apa maksudmu? Aku diminta oleh Guru Aneh, tau ...!" Aray mengepalkan kedua tangan. Dia menekan kegugupannya dengan lebih mengeraskan suara. "Jika Guru Aneh tidak meminta pertolongan padaku, mana mungkin aku mencari kalian!"

__ADS_1


Amdara menatap Aray tanpa berkedip. Aray segera mengalihkan pandangan, tetapi yang ada malah dirinya sekarang ditatap teman-temannya curiga.


__ADS_2