
Pertandingan kembali dimulai dengan khidmat. Namun, seketika kegaduhan tak terelakkan ketika Cakra naik ke arena panggung mewakili kelas Tiga Unggulan melawan kelas Tiga Tinggi yang berturut-turut selalu melawan kelas Tiga Unggulan. Dan di akhir pertandingan, kelas Tiga Unggulan selalu dikalahkan dengan sengit setelah lamanya pertarungan.
Cakra melayang, dan mendarat tepat di depan lawan perempuan yang bernama Puli.
Tetua Wan berada di tengah keduanya dan meminta mereka untuk saling memberi hormat sebelum pertandingan di mulai.
"Junior Cakra, apa kau benar akan melawanku?"
Pertanyaan tersebut terlontar dari Puli yang nampak mengedipkan sebelah mata.
Cakra tanpa ekspresi mengangguk. Dia memberi hormat dan berkata sopan, "Mn. Mohon bimbingannya, Senior."
"Tentu. Mari kita lihat, seberapa besar kau berubah setahun ini." Puli memberikan hormat balik dengan senyuman manis.
Tetua Wan mengangkat tangan, dan detik berikutnya sebuah suara berbunyi petanda keduanya boleh langsung menyerang.
"Junior, jangan salahkan aku jika sampai membuatmu terluka. Tapi salahkanlah teman-temanku yang memintaku untuk memenangkan pertandingan ini bagaimana pun caranya."
Kata Puli sebelum dia terbang dan menarik napas dalam menatap lawan yang juga melayang dengan ekspresi wajah datar.
Sebuah alat musik gitar muncul dan dipegangan Puli yang tanpa basa-basi memaikan gitar itu dengan nada tinggi. Dia adalah salah satu orang yang berkekuatan menciptakan musik dan memainkan nada-nada yang bisa membuat sebuah jurus hebat. Seperti membuat lawan berada dalam ilusi, membuat pendengaran sakit karena nada-nada yang dimainkan.
Nada yang dimainkan Puli membuat Tetua Wan sebagai wasit tak henti berdecak kagum dengan bakat murid-murid Akademi Magic Awan Langit. Pantas saja menjadi salah satu Akademi yang dikagumi. Bukan hanya rumor saja, tetapi kenyataan bahwa para Tetua dan Guru di sini memang menempa murid dengan keras hingga mereka menjadi hebat di usia muda.
Suara musik ini membuat gendang telinga terasa sangat sakit dan membuat telinga siapa pun yang mendengarnya berdenging sebelum mengeluarkan darah.
Hal itu bisa dirasakan oleh murid-murid yang tak sempat membuat perisai pelindung. Salah satunya adalah Nada yang kini menutup telinganya dan berteriak kesakitan karena tak sanggup mendengar. Padahal, Aray, dan Inay telah membuat perisai pelindung tetapi entah ada apa dengan Nada yang kini berguling-guling di tanah.
"Nada, kau kenapa?!"
Inay segera membantu Nada yang berteriak tetapi tidak mengeluarkan air mata. Bocah itu masih memegang telinga yang mulai berdarah.
Karena Inay dan Aray menggunakan kekuatan untuk membuat perisai pelindung, jadi suara teriakkan Nada tidak terdengar oleh orang lain selain teman-temannya.
__ADS_1
Amdara yang tengah memulihkan diri segera membuka mata dan membantu Nada. Dia mengerutkan kening saat menyentuh punggung Nada.
"Nada, tenanglah."
Amdara membantu Nada dengan menyalurkan sedikit kekuatannya, tetapi hal tak terduga terjadi. Nada malah semakin berteriak keras dan berkata tubuhnya terasa sakit.
"Sakit ...! Tubuhku ...!"
Jelas saja Dirgan, Atma, Aray, Rinai, Inay, dan Amdara sendiri terlonjak kaget dan sangat khawatir dengan keadaan Nada.
Mereka tidak peduli dengan arena pertandingan yang diguncang hebat oleh Puli dan Cakra yang mengeluarkan jurus terhebat. Angin kejut serta debaman keras tak henti-hentinya membuat lapangan latihan bergetar hebat.
"Aray, lakukan sesuatu! Nada, apa yang terjadi padamu?!"
Atma membentak Aray yang sedari tadi tidak bertindak. Aray yang dibentak langsung mengecek keadaan Nada dengan kekuatannya.
Inay menggeleng tidak paham. Dia berkata, "sebenarnya apa yang terjadi? Inti spiritualnya terbuka dan sebuah kekuatan asing muncul."
Amdara masih mengecek keadaan Nada dan mengangguk dengan perkataan Inay. "Akan kucoba menstabilkan."
Wajah Nada sudah sangat pucat. Dia merasakan sakit ditelinga semakin menjadi. Dirinya juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi mendengar nada-nada yang mainkan Puli membuat tubuh terasa sakit.
Dirgan tidak bisa membantu apa-pun. Ingin pergi mencari air saja tidak bisa. Yang ada dia juga akan terkena dampak dari jurus Senior Puli yang kini semakin sengit bertarung dengan Cakra.
Rinai terlihat menangis sesegukan melihat Nada yang tak kunjung membaik. Begitu pula dengan Atma yang dibuat khawatir.
Amdara sendiri membuat kekuatan Nada stabil. Hal ini pernah terjadi pada tubuh Aray yang sebuah kekuatan besar tak terkendali. Waktu itu Amdara dibuat kepalang panik bingung mau berbuat apa. Namun, untuk sekarang Amdara sepertinya mulai tahu bagaimana menekan kekuatan orang lain yang tidak terkontrol.
Keringat menetes dari dahi Amdara. Dia harus memfokuskan pikiran, jika tidak sesuatu yang buruk bisa terjadi pada tubuh Nada.
Sebuah gelombang merah seperti benang terlihat di dalam inti spiritual Nada. Amdara tidak melihat, tetapi dia merasa ada gelombang kekuatan yang tidak tentu arah.
"Kekuatannya aktif." Amdara menutup mata.
__ADS_1
Dia menyalurkan kekuatan ketenangannya pada tubuh Nada, lebih tepatnya ke inti spiritual Nada yang sekan menolak dan malah memberontak semakin menjadi.
Nada semakin berteriak menjadi merasakan sakit luar biasa. "Sakit ...! Sakit sekali tubuhku ...!"
Dirgan, Atma, Rinai, Aray, Inay, dan Amdara sendiri tersentak mendengar suara Nada seperti monster. Tidak sampai di sana, bahkan suara Nada berbeda-beda. Seperti seorang anak kecil, bayi, bahkan kakek-kakek dan suara mengerikan lainnya membuat teman-temannya menahan napas.
"A-apa? S-suara Nada mengerikan." Atma kesulitan menelan ludah. Dia berpegangan pada lengan Dirgan yang juga terlihat pucat.
Dirgan melihat wajah Nada yang menahan sakit dan terus berteriak. Dengan suara gemetar Dirgan berkata, "N-nada, dia mengubah jenis suara."
Rinai meringkuk mundur. Dia melihat temannya yang kesulitan, tetapi Rinai sama sekali tidak bisa membantu. Dia menggeleng, dan mengatakan maaf.
Dari peserta lain yang melihat keanehan dari kelompok kelas Satu C tidak menghiraukan. Mereka sedang asik-asiknya melihat pertandingan sengit Cakra yang baru saja terjatuh karena serangan lawan begitu hebat. Bahkan kali ini arena pertandingan kembali hancur parah. Para penonton tentu menganggap pertandingan kali ini lebih serius dan seru karena kedua peseta merupakan murid yang populer di Akdemi.
Aray menggertakkan gigi saat harus fokus pada dua hal. Yakni menjaga inti spiritual Nada dan juga membuat perisai pelindung yang kuat dari serangan nyasar. Begitu pun dengan Inay yang terlihat kesulitan. Padahal dia telah menekan rasa sakit pada tubuh Nada, tetapi hal tersebut seperti tidak berpengaruh.
Inay berkata, "apa sebegitu dahsyatnya kekuatan senior itu?"
Aray menggeleng dan menjawab, "Senior Puli memang hebat dengan jurusnya itu. Namun, aku tidak menyangka Nada akan bereaksi mendengar suara gitar. Ini memang ada yang aneh."
"Perisai pelindung ini tidak berguna bagi Nada."
Perkataan Amdara yang masih memejamkan mata membuat Inay dan Aray tercengang. Perkataan Amdara memang ada benarnya. Namun, mereka juga tidak bisa terlalu yakin dengan kondisi Nada saat ini.
"Apa sebaiknya kita meminta bantuan Guru Aneh?"
Dirgan memberi usulan.
"Tidak." Amdara menolak cepat dan berkata, "biarkan aku mencoba."
"Kau yakin? Katakan dengan jelas, apakah Nada akan bisa bertahan sampai kau bisa mengobatinya?"
Dirgan memberikan banyak pertanyaan. Dia setuju dengan Dirgan agar Nada diobati atau ditangani oleh Guru Aneh. Namun, Amdara masih tidak setuju.
__ADS_1
"Kekuatannya aktif."
Dua kata dari Amdara mampu membungkam mulut teman-temannya yang masih tidak menyangka.