Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
186 - Misi Selesai


__ADS_3

"Angin apa ini?!"


"Siapa yang berani menyerang seperti pengecut ini?!"


Kedelapan penjahat langsung membuat perisai untuk melindungi diri masing-masing tanpa mempedulikan para penari yang sekarang entah sedang apa. Mereka mencoba menghilangkan pusaran angin besar tersebut akan tetapi yang ada malah angin tersebut semakin besar, menerbangkan apa pun bahkan jika orang biasa sudah dalam genggaman pusaran angin itu.


Agaknya kediaman Kepala Desa dibuat tidak hanya menggunakan material biasa, tetapi ada kekuatan besar yang melindunginya. Nampak jelas tidak sampai roboh karena kekuatan dahsyat angin beliung ini.


Tidak ada yang tahu di dalam pusaran angin itu ada Amdara yang sedang mengendalikan kekuatan. Tatapannya tajam dibalik topeng. Tangannya mengepal. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


Sebuah portal berhasil dia buat agar para penari memasukinya dan langsung berpindah tempat tidak jauh dari kediaman Kepala Desa. Tentu saja awalnya mereka mengira itu sebuah jebakan, akan tetapi merasakan aura Amdara membuat mereka yakin bocah itu adalah orang baik.


Pusaran angin di ruang utama semakin menjadi. Amdara menutup mata. Merasakan aliran kekuatan murni masuk ke dalam tubuh. Bocah itu tiba-tiba berjongkok dan menyentuh tanah, dia menggigit jari sampai berdarah. Setetes darah itu kemudian diteteskan di tanah. Sebuah cahaya merah darah muncul, pola elang terbentuk. Cahaya tersebut tiba-tiba menghilangkan pusaran angin.


Kejadian itu membuat kedelapan musuh terkejut melihat kehadiran


Amdara. Mereka nampak waspada merasakan aura menekan dan yang pasti mereka menganggap Amdara sebagai musuh.


"Siapa kau?! Berani-beraninya menyerang kami seperti pengecut!"


Salah satu dari mereka menggeram marah. Wajah garangnya nampak menakutkan siapa pun.


"Tsk. Hei, bocah bod*h! Kau yang membuat pusaran angin kecil barusan?! Hah, dari aliran mana kau dikirim?!"


"Seorang bocah sepertimu tidak akan bisa mengalahkan kami. Hah, apa aliran putih tidak ada kuasa menyerang lagi sampai mengirim bocah sepertimu?"


Mereka meremehkan Amdara. Sementara si lawan bicara hanya diam, tetapi mulutnya tidak berhenti merapalkan sesuatu yang perlahan tanpa disadari siapa pun. Pola elang yang sebelumnya kecil perlahan mengeluarkan benang merah tipis, menjalar mulai mendekati kedelapan rekan Waki.


Geram tidak mendapat balasan, kedelapan musuh saling menoleh dan mengangguk seperti merencanakan sesuatu. Salah satu dari mereka melesat terlebih dahulu memberikan serangan, akan tetapi serangan yang nyaris mengenai Amdara tiba-tiba saja terpental. Sebuah perisai pelindung muncul saat itu juga.


Keterkejutan terlihat jelas ditampang musuh. Dua dari mereka menyerang bersamaan, akan tetapi seperti sebelumnya kekuatan dahsyat mereka terpental.


"Sialan. Apa yang sebenarnya terjadi?! Sebenarnya siapa bocah itu?!"


Dari mereka ada yang mengira bahwa bocah di hadapan mereka bukanlah seorang bocah melainkan orang yang sudah mencapai tingkat tertentu dan mengubah diri menjadi muda.


"Peduli setan! Kita akan menang jika melawannya bersama. Serang ...!"


Dari berbagai arah, bocah berambut putih itu dikepung dan mendapat serangan dahsyat. Gedung sampai dibuat bergetar. Begitu pula dengan tanah.


Cahaya merah, hitam, dan bayang-bayang mata merah darah muncul dari belakang mereka. Seolah kekuatan mereka kian bertambah dengan adanya bayangan itu.


Detik di mana serangan tersebut hendak mengenai Amdara, dia mendongak. Menyeringai di balik topeng.


Asap hitam nampak jelas di matanya di tubuh kedelapan musuh. Aura tidak biasa sangat jelas terasa. Aura yang sudah ia rindukan.


"Kalianlah yang pengecut. Menggunakan kekuatan Roh Hitam untuk memperkuat diri."


Benang merah yang dibuatnya menyambar mengikat kaki kedelapan musuh begitu cepat. Mereka tidak bisa bergerak, kekuatan yang sudah dilesatkan pun hilang seketika. Keterkejutan terpampang jelas di wajah. Apalagi mendengar bocah itu mengatakan mengenai 'Roh Hitam'. Sontak melihat apa yang baru saja mengikat kaki.

__ADS_1


"A-apa ini?!"


"Jurus Darah Pelenyap Roh Hitam."


Benang merah itu langsung mengikat mereka begitu cepat saat Amdara mengatakan kalimat barusan. Cahaya dari benang itu langsung menyilaukan mata. Amdara melakukan gerakan-gerakan aneh, dan sesaat dia menyentuh tanah kembali. Sebuah kobaran api muncul karena benang tersebut. Kedelapan musuh tidak bisa berkutik atau mengeluarkan kekuatan. Mereka menggeram, dan mengerang kesakitan. Ketidaksangkaan ini membuat mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Api meluap-luap membakar tubuh mereka, layaknya seperti Amdara yang setelah menggunakan jurus untuk melenyapkan Roh Hitam. Kulit mereka langsung menghitam, tulang-tulang terlihat jelas. Rasa panas tidak terkira membakar tubuh. Namun, anehnya ada rasa dingin yang juga tidak ada batas tengah membekukan inti spiritual mereka. Umpatan dari mulut mereka dan permintaan ampunan tidak digubris Amdara yang malah menginjak pola elang dan setelahnya tubuh kedelapan musuh benar-benar hangus. Anehnya, api itu tidak membakar benda sekitar. Api tersebut langsung menghilang setelah nyawa musuh benar-benar lenyap.


Amdara membersihkan tangannya yang berdebu. Dia membuka topeng dan mengusap keringat di dahi. Wajahnya tetap putih bersih tanpa noda.


"Aku sudah bisa melakukan pelenyapan roh menggunakan darah sendiri. Itu artinya aku sudah berada di Tingkat Menengah Putih."


Dia melihat kedua telapak tangan dengan tatapan kagum pada diri sendiri. Pelatihan selama ini tidak sia-sia.


Jurus Darah Pelenyap Roh Hitam sebenarnya sedari kecil dia sudah diajarkan dan mengerti tekniknya, akan tetapi untuk mengeluarkan jurus ini membutuhkan banyak kekuatan. Jika kekuatan yang ada tidak sesuai peraturan, maka konsekuensinya tubuh diri sendiri yang akan meledak. Itulah mengapa selama ini Amdara hanya menggunakan Jurus Pelenyap Roh Hitam yang hanya bisa melenyapkan satu Roh Hitam.


Jurus yang baru saja Amdara gunakan memiliki kelebihan yang mana dapat mengikat Roh-Roh Hitam maksimal sepuluh dan melenyapkannya secara sekaligus. Ini sangat memudahkan pengguna jika berada di situasi gawat.


Amdara menarik napas dalam. Sebuah cairan merah darah tiba-tiba mengalir dari mulutnya. Dia mengusapnya menggunakan jari telunjuk.


"Yah, aku perlu istirahat."


Amdara kemudian duduk bersila, menyerap kekuatan alam untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Urusan di ruang utama sudah selesai. Yang lain dia serahkan kepada Tetua Widya.


Di sisi lain, Tetua Widya masih kerepotan menyerang satu musuh ini. Mungkin karena sebelumnya dia sudah mengeluarkan banyak kekuatan. Serangan tidak terduga mengenai Tetua Widya telak dari arah belakang tanpa disadari. Dia terpental ke depan dan mengeluarkan darah dari mulut. Dadanya terasa sakit akibat serangan dahsyat barusan.


Ternyata musuh sudah berada di belakangnya, dan menggeremutukkan gigi saking kesalnya.


Rekan Waki mengepalkan tangan. Melihat musuh yang baru saja terpental membuatnya yakin jika dia sudah kekurangan kekuatan saat ini. Untuk itu rekan Waki satu ini langsung melemparkan kekuatan besar menggunakan kepalan tangannya.


"Wanita, kau akan mati sekarang juga ...!"


Sebuah akar menjalar muncul melindungi tubuh Tetua Widya. Bersentuhan secara langsung tangan musuh yang tidak sadar bahwa sebenarnya akar itu bukanlah akar biasa melainkan akar yang memiliki racun.


"Hmph. Kau terlalu ceroboh."


Suara Tetua Widya yang ternyata sudah terbang sambil menyilangkan kedua tangan membuat lawan terkejut bukan main.


"Apa?! Bagaimana bisa?!"


"Hei, kau pikir aku bodoh sepertimu? Lihatlah tanganmu itu."


Perkataan Tetua Widya membuat musuh langsung mengalihkan perhatian ke arah tangan sendiri. Betapa terkejutnya dia saat melihat tangannya berubah warna hitam keunguan. Rasa sakit tidak terkira menggerogoti tubuhnya secara cepat.


"A-apa ini?! Akkhhh ...!"


Dia ambruk memegang tangan. Detik berikutnya berguling-guling merasakan panas di seluruh tubuh. Tidak lama kemudian seluruh tubuhnya menggelap, matanya melotot. Tubuhnya menegang dan tiba-tiba tidak ada hembusan napasnya lagi.


Tetua Widya mendengus kesal. Seharusnya dia menggunakan racun dengan cepat agar tidak buang-buang kekuatan. Merasa beres, dia menatap kediaman Kepala Desa sambil menaikkan sebelah alis. Merasakan ada kekuatan aneh yang menyelimuti rumah besar itu.

__ADS_1


"Bagaimana dengan keadaan Luffy? Di mana dia?"


Tetua Widya mengedarkan pandangan mencari muridnya, akan tetapi dia tidak menemukannya sana sekali. Yang ada beberapa warga muncul dari sebuah rumah dan menatapnya.


"N-nyonya, kau benar-benar telah melenyapkan para penjahat itu! K-kami sangat berterimakasih."


Tetua Widya tersenyum dan mendekati mereka sambil berkata, "itu sudah kewajiban. Apa kalian masih terluka? Kemarilah, aku akan menyembuhkan kalian."


Kondisi para warga memang memprihatinkan, ada penyakit yang hinggap dan belum disembuhkan. Ada juga yang mengalami luka akibat siksaan para penjahat.


Walaupun ragu, mereka yang mendapat luka segera mendekat dan meminta disembuhkan.


"Tapi bagaimana dengan penjahat lain) Bukankah mereka belum dikalahkan?"


Ucapan seseorang membuat orang-orang di sekitar sadar. Perasaan takut kembali menghampiri. Tetua Widya menepuk dahi lupa bahwa masih ada penjahat di dalam kediaman Kepala Desa.


"Kalian kembali bersembunyi, aku akan mengurus para penjahat."


Wanita itu baru akan kelesat, tetapi beberapa wanita penari berlari ke arah mereka dan mengatakan sesuatu tidak terduga.


"N-nyonya, tolong bantu adik kecil di dalam ruang utama. Dia sedang melawan kedelapan orang-orang aliran hitam."


Mata Tetua Widya membulat. Perasaannya mendadak tidak enak. Dengan kecepatan tinggi dia langsung pergi.


Dia menghancurkan pintu utama. Matanya mengedar ke sekeliling mencari seseorang. Ruang utama benar-benar hancur. Gelap dan terasa ada bau tak sedap. Dia mengeluarkan api untuk menerangi ruangan.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Luffy, apa kau di sini, Nak?"


Suara deheman membuat Tetua Widya langsung mengarahkan mata ke arah pojok di mana Amdara sedang bersila sambil menatap kosong ke arahnya.


Wanita itu dengan cepat menghampiri Amdara dan menanyakan keadaan bocah itu khawatir.


"Bagaimana keadaanmu? Di mana yang terluka? Luffy, katakan saja padaku."


Amdara yang melihat raut wajah khawatir Tetua Widya tersenyum tipis.


"Aku baik-baik saja, Tetua."


Mendengar perkataan barusan, wanita tersebut langsung menghela napas lega. Dia tersenyum, dan menepuk bahu Amdara.


"Syukurlah. Lalu ... di mana penjahat yang lain?"


Amdara berdehem. Tidak mungkin dia mengatakan dirinya lah yang mengalahkan semua. Jadi Amdara terpaksa berbohong dan mengatakan bahwa mereka meminum racun miliknya tanpa di sadari siapa pun. Awalnya Tetua Widya mengangguk paham, akan tetapi matanya menyapu sekeliling dan malah bertanya di mana mayat para penjahat.


Amdara menelan ludah. Dia kembali berbohong dan mengatakan mayatnya sudah dia bakar. Jawaban itu membuat Tetua Widya tersentak dan tanpa sadar menahan napas.


"Haih, baiklah. Misi kali ini selesai. Kita bisa pulang besok. Malam ini kita beristirahat di desa ini."


"Baik, Tetua."

__ADS_1


Amdara berdiri, mengikuti Tetua Widya yang sudah berjalan tanpa curiga apa yang tengah Tetuanya pikirkan saat ini.


__ADS_2