Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
101 - Arena Pertandingan (4)


__ADS_3

Segerombolan pria itu memasuki sebuah rumah kecil dekat dengan sungai yang tenang. Dan tanpa diduga salah satu dari mereka menggunakan kekuatan, menyerang rumah tersebut. Debaman keras tak terelakkan. Hancur sudah dalam sekejap rumah tersebut.


Sebuah perisai pelindung yang kuat dari dalam rumah tak melukai empat orang sekeluarga tersebut. Lantas keenam pria ini tertawa melihat seorang pria yang melindungi keluarga kecilnya.


Cakra yang melihat kejadian ini mengepalkan kedua tangan. Antara kesedihan dan dendam yang belum terbalas tiba-tiba bergejolak.


Dua anak kecil seumuran yang satunya miring dengan Cakra berekspresi tenang di saat seperti ini. Dia merangkul sang adik yang nampak ketakutan.


Keenam pria itu melesat dan dalam sekejap menghancurkan perisai pelindung pria itu. Dia melawan empat sekaligus musuh. Sementara seorang wanita yang merupakan ibu dari kedua anak itu melawan dua musuh.


"Ra, Ma. Kalian pergilah. Lari sejauh mungkin dan mencari bantuan."


Pesan terakhir yang terlintas di bayangan Cakra ketika dia mengingat masa lalu ini. Menyakitkan. Kedua anak itu berlari dengan air mata yang menetes dan tak bisa membantu kedua orang tua yang tengah mempertaruhkan nyawa.


Cakra merasakan dadanya sesak. Dia menatap tajam segerombolan pria yang menyerang keluarganya. Cakra terbang, dan melesat memberikan serangan pada salah seorang lawan berjubah hitam. Namun, tembus begitu saja. Cakra membelalakkan mata. Dia bahkan tidak bisa menyentuh mereka.


"Ada yang salah."


Suasana dan tempat masalalu Cakra memang nampak nyata. Cakra bahkan dibuat terguncang hebat akibat kejadian masalalu ini.


Namun, setelah mencoba sekali lagi menyentuh musuh, dia sama sekali tidak bisa merasakannya. Tembus begitu saja. Saat menyadari ini merupakan jurus yang dibuat Puli, Cakra mengepalkan tangan. Dia mengedarkan pandangan, tidak menemukan titik yang bisa membawanya keluar.


Cakra duduk bersila. Suara debaman dan suasana mencekam dapat dirasakan. Pertarungan dahsyat antara kedua orangtuanya dan musuh masih terasa nyata. Cakra memejamkan mata. Dalam menghadapi jurus membahayakan ini, dia harus bisa mencari titik kelemahan lawan.


Di sisi lain, arena pertandingan dibuat tenang seketika setelah Puli menyanyikan lagu sedih. Sementara lawan tak berkutik dari tempat dengan mata terpejam.


Jelas saja para penonton tahu jurus hebat Puli. Mereka sampai dibuat menahan napas, saat Cakra tiba-tiba ambruk.


Para Tetua tidak bisa mencegah, karena aturannya telah dikatakan Tetua Wan sebelumnya.


Wali kelas Tiga Unggulan sontak berdiri dan berkata dengan keras, "ini sudah terlewat batas! Hentikan pertandingannya atau muridku akan dalam bahaya ...!"


Tetua Wan sebagai wasit juga berpikir sama. Dia tidak mengetahui apa yang tengah terjadi pada Cakra.


BAAM!


Sesuatu tak terduga terjadi. Puli terlempar dari arena pertandingan dengan keras. Dia memuntahkan darah karena tekanan hebat menyerang dari dalam pikirannya.


Semua orang yang melihat tentu terkejut dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Tetua Wan saja tak sempat membantu Puli.


Cakra yang sebelumnya ambruk mulai berdiri dengan tenang. Ekspresinya yang tak ubah benar-benar membuat siapa pun terpana.


Melihat Puli yang sudah keluar arena pertandingan karena kekuatan spiritual Cakra. Tanpa basa-basi lagi Tetua Wan mengumumkan pemenang.


"Pertandingan dimenangkan oleh Cakra dari kelas Tiga Unggulan ...!"


Sontak para penonton bertepuk tangan dan bersorak. Tak menyangka hari ini kelas Tiga Unggulan berhasil mengalahkan kelas Tiga Tinggi. Rekor pertama yang mereka buat.

__ADS_1


Wali kelas Tiga Unggulan menarik napas lega dan terlihat senyuman melihat muridnya yang tengah berdiri tenang di arena yang telah hancur.


Tetua Haki mengangguk melihat tidak sangkanya Cakra. Dia berkata, "dia memang berbakat. Kerja kerasnya tidak sia-sia."


Tetua Genta yang mendengarnya menanggapi dengan dengusan kecil. Sementara Tetua Rasmi dan Tetua Widya yang biasanya mengantuk melihat pertandingan para murid kali ini malah membelalakkan mata.


"Ini lebih seru dibandingkan tahun-tahun lalu yang monoton." Tetua Rasmi berdecak. Dia menggeleng pelan. "Yah, setelah melihat semua pertandingan nanti. Bukankah kita harus mulai memilih tiga anak untuk mengikuti pertandingan tiga tahun lagi?"


Tetua Widya menoleh, dia berkata dengan raut wajah serius. "Itu benar. Tiga tahun nanti kita harus melatih anak yang terpilih untuk mengasah kemampuan."


"Aku tahu. Kita lihat saja sampai pertandingan akhir. Bukan hanya soal bakat, kemampuan dalam kekuatan. Tetapi kejeniusan seseorang untuk melawan lawan juga perlu kita perhatikan."


Tambah Tetua Haki yang tak mengalihkan perhatian ke depan. Ketiga Tetua lainnya mengangguk setuju dan mengerti apa yang dimaksud Tetua Haki.


Kelompok kelas Tiga Tinggi nampak tidak percaya rekannya terluka parah karena melawan Cakra yang terluka tetapi tak menunjukkan ekspresi kesakitan, hanya wajah yang pucat.


Sementara kelompok kelas Tiga Unggulan bersorak karena kemenangan Cakra. Dua dari mereka langsung melesat membantu Cakra berjalan.


Yang sama sekali tidak memperhatikan jalan pertandingan sampai akhir adalah kelompok kelas Satu C yang tengah sibuk menenangkan Nada.


Nada mulai merasa kekuatan dalam tubuhnya terasa nyaman dan dia tidak lagi berteriak atau merasakan sakit. Ini tentu karena bantuan Amdara.


"Kau teruslah sesuaikan kekuatan dalam tubuh."


Arah Amdara kemudian. Dia membuka mata, dan menepuk bahu Nada.


Benang tipis yang tak terhitung jumlahnya terlihat mengelilingi Nada perlahan. Seperti kekuatan baru yang mencoba menyesuaikan diri dengan tuannya.


Amdara, Inay, dan Aray yang melihat benang tipis itu menahan napas. Kekuatan Nada nampaknya berbeda dengan umumnya.


Aray memundurkan langkah dan bersikap waspada jika sesuatu yang buruk terjadi.


"Jenis kekuatan apa itu?"


Pertanyaan Aray tidak ada yang menjawab. Inay juga terlihat memundurkan langkah dan berkata, "aku tahu jenis kekuatan orang berbeda-beda. Namun, Nada ... apa dia seorang pengendali?"


"Bisa saja. Kita lihat setelah dia membuka mata."


Kata Amdara yang berdiri dan nampak duduk di bangku peserta. Dia terlihat kelelahan karena mengeluarkan banyak kekuatan. Amdara mulai memejamkan mata dan menyerap kekuatan alam perlahan.


Dirgan, Atma, dan Rinai yang tidak melihat benang pada Nada hanya mengerutkan kening dan saling pandang sebelum mengedikkan bahu. Nanti mereka juga akan diberi tahu.


Sebuah seruan dari Tetua Wan masih bisa didengar Amdara. Dia mendengar Tetua Wan yang memuji bakat murid-murid Akademi Magic Awan Langit.


"Setelah banyaknya pertandingan kali ini, aku benar-benar harus membuka mata dan menajamkan pendengaran. Melihat potensi para murid, membuatku tak henti terpana."


Tetua Wan tak berkata bohong. Dia kemudian memperbaiki arena pertandingan menggunakan kekuatan. Pujian terus terlontar, dia kemudian berkata kembali dengan raut wajah senang.

__ADS_1


"Baiklah, waktu sudah sore. Setelah satu pertandingan lagi, kalian diberi waktu istirahat. Sampai petang, pertandingan kembali dilanjutkan."


"Pertandingan selanjutnya adalah kelompok kelas Satu C melawan kelas Satu B. Kedua peserta mohon segera naik ke arena pertandingan."


Suara riuh kembali semakin menjadi. Para penonton kali ini saling berteriak. Antara yang mendukung kelas Satu B dan meremehkan kembali kelas Satu C.


Salah seorang penonton dari kelas dua berceletuk, "apa kali ini ada hal menarik lagi? Sebelumnya kelas Satu C berhasil mengalahkan kelas Tiga Unggulan. Bukankah itu luar biasa?"


"Benar sekali. Apa kali ini kelas Satu C akan mengubah nama julukan 'kelas terbuang' menjadi kelas setara Satu A?"


"Kurasa pertandingan sebelumnya hanya keberuntungan saja. Aku yakin kali ini siapa pun yang mewakili kelas Satu C adalah bocah menyedihkan yang akan babak belur."


Mereka terang-terangan masih meremehkan kemampuan kelas Satu C. Beberapa murid kelas Satu B yang mendengarnya berdecak kesal karena harus melawan kelas Satu C yang nanti akan mencoreng nama baik kelas Satu B.


Sementara itu, Amdara langsung membuka mata saat mendengar kelasnya disebut. Terlihat Aray dan Inay yang keras kepala ingin maju mewakili kelas.


Aray menarik rambut Inay yang baru saja akan melesat. Aray berkata dengan kesal, "kau ini apa-apaan? Kali ini giliranku yang maju. Kau nanti saja!"


Inay mengerucutkan bibir dan menangkis tangan Aray setengah mati menahan marah.


"Ini giliranku, Aray. Tsk. Pertandingan selanjutnya adalah kau. Sekarang biarkan aku maju. Aku tidak sabar memberi pelajaran pada murid-murid lain."


Inay mengepalkan kedua tangan depan dada. Tatapannya menusuk ke arah lawan yang tersenyum remeh di atas arena panggung.


"Kau yang selanjutnya. Aku juga tidak sabar memperlihatkan kehebatan kekuatan kelas Satu C yang akan mulai membawa perubahan."


"Tidak. Aku yang akan maju. Kau istirahatlah, Aray. Kau sudah banyak mengeluarkan kekuatan untuk membuat perisai pelindung dan membantu Nada. Jadi biarkan Kakak ini yang mewakili kelas, oke?"


"Kau yang seharusnya istirahat, idiot!"


"Apa--!"


Aray melesat cepat ke arena pertandingan sebelum Inay melanjutkan perkataan. Inay yang tak sempat menahan hanya bisa menggelembungkan pipi dan duduk dengan kesal.


"Kenapa aku selalu terakhir?! Padahal aku bisa mengalahkan lawan hanya dengan satu serangan!"


Inay yang kesal sampai menggunakan rambutnya untuk memukul tanah keras. Nyaris saja Atma terkena rambut Inay yang mendadak tidak lentur.


"Simpan kekuatanmu. Tidak tahu lawan selanjutnya apakah lebih kuat dari ini."


Perkataan Amdara membuat Inay menoleh. Dia menaikkan sebelah alis. Dan berkata, "ada benarnya juga ucapanmu, Luffy. Haih, Aray memang pantas menjadi lawan kelas Satu."


Dirgan mengepalkan tangan melihat lawan Aray yang tersenyum remeh. Sebagai Ketua Kelas, tentu Dirgan merasa kesal dengan tatapan orang-orang.


Atma sendiri tengah mengedarkan pandangan. Dia sibuk tebar pesona. Rinai menjaga Nada yang masih belum juga membuka mata. Dia terlihat sedih melihat Nada.


"Kau berhasil mengaktifkan kekuatan. Apa aku juga bisa mengaktifkan kekuatanku ...?"

__ADS_1


__ADS_2