
Amdara muncul kembali tidak jauh dari tempat sebelumnya. Dia menajamkan penglihatan. Di tempat sebelumnya, terdapat seekor Siluman Laba-laba yang tubuhnya setinggi dua tingkat rumah dengan besar tiga rumah yang digabungkan. Memang sangat besar. Siluman itu berwarna hitam dengan corak petir bercahaya ungu. Dia memiliki lima mata yang terus bergerak ke segala arah seolah sedang mengintai serta melakukan pengawasan.
Amdara menarik napas pelan. Beruntung dia dengan cepat menghindar, jika tidak sudah dapat dipastikan kondisi tubuhnya yang langsung pecah berkeping-keping.
Siluman Laba-laba itu entah sedang apa mengendus tanah yang sebelumnya terkena tetesan darah milik Amdara. Siluman itu seketika membalikkan badan, menatap Amdara dengan tajam. Dia mengeluarkan bunyi nyaring sampai membuat telinga bocah berambut putih itu berdenging hebat. Enam kakinya menghentak-hentak ke tanah sampai berlubang. Kaki-kakinya ternyata sangat tajam melebihi pedang.
Dia berjalan cepat ke arah Amdara yang langsung terbang menghindar, akan tetapi Siluman Laba-laba itu mengeluarkan sesuatu hingga membuat kaki Amdara terkena cairan putih. Terasa amat lengket dan membuat terbangnya tidak seimbang nyaris terjatuh jika saja tidak dengan cepat melepas cairan di kakinya menggunakan air yang diciptakan.
Amdara menapak di salah satu pohon. Napasnya tidak beraturan akibat serangan mendadak. Nampak Siluman Laba-laba yang berumur kisaran lebih dari 40.000 tahun masih berlari mengejarnya sambil memuncratkan cairan putih. Bocah berambut putih itu langsung membuat perisai pelindung sambil terus menghindar. Dirinya tidak mengetahui mengapa sampai diserang seperti ini.
Dia lalu menciptakan pusaran angin yang mengelilingi musuh. Musuh terperangkap tidak bisa keluar dengan kecepatan angin yang diciptakan Amdara, terasa seperti ribuan tusukan pedang jika sampai tersentuh.
Suara jeritan dari Siluman Laba-laba kembali terdengar. Baru sejenak menarik napas lega, sesuatu tak terduga terjadi. Siluman itu berhasil keluar dari pusaran angin tanpa terluka sedikitpun. Amdara yang melihatnya menahan napas. Ternyata kulit dari siluman itu sangat keras dan kebal. Ketika Amdara melesatkan serangan besar pun, yang ada sia-sia karena siluman yang sudah berevolusi itu semakin gencar menyerang tanpa goyah terkena serangan.
Debaman keras terdengar, tanah sampai retak di mana-mana. Pepohonan sekitar hangus dalam sekejap mata. Angin berhembus yang mulanya tenang sudah membuat Amdara merasakan sesak. Dia telah berurusan dengan Siluman Laba-laba yang tingkat kekuatannya sudah sangat tinggi darinya. Bahkan dari segi kecepatan, bocah itu sudah sangat kalah telak. Beberapa kali nyaris dibuat mat* oleh musuh yang sangat agresif.
Amdara terus saja mencari titik lemah. Setiap kulit musuh seperti terbuat dari pelindung yang sangat kuat. Sementara mulutnya terus menggencarkan serangan berupa cairan lengket.
Amdara mengangkat kedua tangan. Memfokuskan diri untuk memusatkan kekuatan. Bersamaan kekuatan dahsyatnya keluar menyerang, Siluman Laba-laba memuncratkan cairan putih ke arah tubuh Amdara.
__ADS_1
Kekuatan air dan angin bahkan tidak dapat menggores. Musuh seperti tahu akan serangan yang dilesatkan sampai terus saja bisa menghindar tanpa kesulitan.
Walau raut wajahnya datar, tetapi tangannya terkepal. Tatapan matanya sudah menajam sejak tadi. Bocah berambut putih itu tidak bisa pergi sekarang. Jika pergi pun, kemungkinan besar akan bertemu siluman yang lebih kuat dari ini.
BAAM!
Blaaar!
Tidak dapat terhindarkan tubuh Amdara yang terkena cairan putih hingga dirinya terjatuh ke tanah, kesulitan bergerak. Sementara jurusnya sudah mengenai tepat ke arah mata Siluman Laba-laba yang memuncratkan darah. Dugaan Amdara benar, bahwa titik lemah siluman itu berada di mata yang tidak terlindungi benda keras.
Siluman Laba-laba terdorong mundur sambil menjerit kesakitan. Kelima matanya mengeluarkan darah. Dia menghentak-hentakkan kaki ke tanah mengakibatkan tanah berlubang. Amdara yang melihatnya menelan ludah, jika dia berada di bawah kaki Siluman Laba-laba, dapat dipastikan tubuhnya sudah dibuat tewas mengenaskan.
Sebuah pusaran angin tercipta mengelilingi Siluman Laba-laba. Berkilauan, jurus air juga Amdara ciptakan. Sementara dirinya memegang sebilah pedang siap menebas untuk mencari permata. Amdara terus memfokuskan pikiran, kali ini dia akan memusatkan kekuatan dalam jumlah besar dan tiga jurus sekaligus digencarkan secara bersamaan.
BAAM!
Seperti mendapatkan keberuntungan besar. Amdara langsung melesat ke arah kepala Siluman Laba-laba dan menebasnya sekuat tenaga, akan tetapi bahkan dia tidak dapat menggoresnya. Amdara berdecak. Musuh menjerit dan terus menabrakkan tubuh ke arah pepohonan karena baru saja mendapat serangan beruntun.
Amdara yang sudah ingin berlama-lama memilih menusuk mata musuh dan mengorek ke dalam. Jeritan memilukan tidak membuat gentar bocah berumur 11 tahun itu. Dia terus saja mencari permata siluman sampai darah mengenai jubahnya. Tidak ada yang mengetahui apa yang dilakukannya karena terhalang oleh pusaran angin bercahaya biru. Karena di area mata saja yang tidak terlindungi, Amdara dapat dengan mudah mendapatkan permata warna hitam pekat. Jika diperhatikan dengan baik, ada cahaya putih setitik di dalamnya.
__ADS_1
Amdara menarik permata siluman yang berlumuran darah. Dia menaikkan sebelah alis melihat permata di genggamannya sebesar kepala bayi manusia. Tidak ingin berpikir panjang, dirinya segera melesat pergi tanpa memedulikan Siluman Laba-laba yang masih belum mat* dan merasakan sakitnya bagian tubuhnya yang sudah terkena serangan. Apalagi dia sudah tidak dapat melihat.
Amdara mengembuskan napas. Berjalan tenang, sambil menggunakan kekuatannya untuk membersihkan tubuh. Air bercampur darah mengalir dari jubahnya. Dalam sekejapan mata, jubahnya sudah bersih dan kering. Dia juga membersihkan permata dari darah.
Amdara menyimpan benda tersebut ke dalam cincin ruang. Dia melesat terbang mencari siluman kembali. Kali ini keberuntungan sedang menyertainya. Entah pertemuan dengan siluman selanjutnya. Namun, dia harap dengan seperti ini dapat mengembangkan bakatnya. Untuk pemusatan kekuatan, dia rasa sudah cukup.
Langit seharusnya sudah menampakkan senja. Namun, Amdara belum juga kembali bertemu dengan seekor siluman pun. Sudah terbang selama berjam-jam dan berkeliling akan tetapi suasananya sudah sangat sepi. Dia juga sudah lumayan jauh dari tempat pertama kali bertemu dengan Siluman Laba-laba.
Amdara mendarat, mengembuskan napas panjang. Dia memilih duduk bersila di bawah salah satu pohon paling besar sambil menyerap kekuatan untuk memulihkan diri. Tetua Haki memang tidak mengatakan berapa lama mereka baru kembali, dia hanya mengatakan mereka harus mendapatkan banyak permata siluman. Jadi, Amdara berpikir akan kembali setelah seminggu berada di dalam hutan. Ini juga adalah bentuk dari latihannya menyesuaikan diri dengan alam dan berlatih bertarung dengan binatang.
Suasana yang sepi ini jelas terasa aneh bagi Amdara. Seperti yang dikatakan Shi, seharusnya hutan ini dihuni oleh banyak siluman dengan umur tua. Hutannya juga terlihat aneh menurutnya. Amdara memejamkan mata, memfokuskan pikiran untuk mencari di mana para siluman sedang bersembunyi.
Angin berhembus secara besar. Amdara merasakan ada sebuah pergerakan dari arah samping. Sebuah cahaya api mendekat ke arahnya dan tanpa diduga menarik tubuh kecilnya.
Amdara mendelikkan mata ketika seekor siluman Burung Phoenix membawanya terbang. Dia tidak bisa melakukan elakan, alhasil sekarang tubuh mungilnya berada di cengkraman kaki Burung Phoenix ini yang melesat dengan begitu cepat.
Sementara di belakang, seekor Siluman Burung Rajawali terus menggencarkan serangan dari dalam mulut ke arah mereka. Siluman Burung Phoenix terus saja menghindar, akan tetapi satu serangan berhasil mengenai sayapnya yang langsung membuat terbangnya tidak seimbang. Dan terjun bebas ke bawah tanpa kendali. Amdara menahan napas dengan kecepatan tidak terkira ini. Dia akan jatuh bersama dengan Siluman Burung Phoenix yang menjerit kesakitan.
Mata Amdara terarah ke Siluman Burung Rajawali yang sudah mengumpulkan kekuatan dan berniat melesatkannya kembali. Amdara berusaha keluar dari cengkraman Siluman Burung Phoenix, tetapi gagal. Hingga serangan dari Siluman Burung Rajawali benar-benar berada di hadapannya tanpa dia bisa menyerang balik atau setidaknya membuat perisai pelindung.
__ADS_1