
"Apa?! Bagaimana ini terjadi?!"
Shi sontak melakukan serangan menggunakan kekuatan api. Tapi seperti sebelumnya, pepohonan itu tidak terbakar malainkan langsung meledak meninggalkan abu. Shi juga baru sadar akan hal ini, dia menatap tidak percaya. Shi masih melakukan penyerangan, selama hidupnya ini pertama kali melihat pohon yang tidak bisa terbakar. Hijau-hijaunya tumbuhan, jika terkena api apalagi kekuatan api milik Siluman Harimau Api, pastinya akan terbakar.
Cahaya bulan menyinari bumi, sehingga mereka bisa melihat pepohonan sekitar tanpa cahaya lain. Namun, jika masuk ke kedalaman hutan, maka dapat dipastikan di dalam sangat gelap. Sang dewi bulan kesulitan memasuki hutan.
"Mn, aku baru menyadarinya."
Kata Cakra sambil menggaruk pelan pipi. Dia sama halnya dengan kedua teman seperjuangan kali ini. Cakra lalu mendekati salah satu pohon, menyentuh pohon tersebut sebelum keningnya mengerut.
Pepohonan di sekitar memang terlihat biasa saja tanpa ada yang mencurigakan. Namun, ketika Cakra menyentuh dan merasakannya, pohon tersebut tidaklah terlalu keras. Saat tangan Cakra menekan pohon itu sesuatu tak terduga terjadi. Air warna putih bening kental muncrat begitu saja ke arah wajah dan jubah Cakra yang tidak sempat menghindar.
Amdara yang melihatnya hampir tertawa melihat ekspresi Cakra yang sedikit berubah. Amdara kemudian mendekati Cakra dan mengatakan bahwa refleks Cakra kurang cepat.
"Jika dalam pertarungan, bukan hanya soal kekuatan untuk menang. Tapi kecepatan juga tidak kalah penting."
Cakra menoleh ke samping, mendengar adik kelasnya seperti sedang mengajari tidak membuat Cakra kesal. Malahan Cakra dalam hati berdecak kagum dengan pengetahuan bocah berambut putih ini.
"Jaraknya terlalu dekat," ujar Cakra mengembuskan napas.
Itu memang benar, Cakra tidak bisa menghindar karena jarak pohon dan dirinya sangat dekat. Kecepatan muncratan airnya bahkan tak sempat Cakra lihat perlahan.
Amdara mendengus. Dia berkata tanpa nada, "sedekat apa-pun jaraknya, jika bisa menguasai teknik kecepatan tingkat tinggi. Itu semua akan sangat mudah."
Dalam menggunakan kekuatan dasar, kecepatan juga memiliki beberapa tingkatan. Amdara sendiri sebenarnya tanpa harus menggunakan portal bisa menggunakan tekhnik dasar kecepatan. Hanya saja terkadang Amdara tidak terlalu fokus karena keadaan sekitar. Menggunakan teknik kecepatan memang harus memfokuskan pikiran.
"Aku pernah mendengarnya. Tapi belum pernah menguasai."
Kata Cakra tanpa sedikitpun ada kebohongan. Cakra lalu mengatakan bahwa melakukan kecepatan yang dijelaskan Amdara sangat sulit, bahkan mungkin membutuhkan beberapa tahun hanya untuk menguasai teknik itu.
"Maka belajarlah."
Amdara mengakhiri pembicaraan. Dia tidak berniat mengajari teknik kecepatan kepada Cakra karena saat ini ada sesuatu yang ingin bocah berambut putih itu cari tahu.
__ADS_1
Amdara menyentuh air itu menggunakan jari, lalu menghirup aromanya yang menurut dia asing. Amdara baru saja hendak menjilatnya, tapi Cakra langsung mencegah dengan tatapan aneh.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mn? Hanya memastikan beracun atau tidak."
"Jika itu racun, kau akan mati."
"Tidak akan."
Amdara tetap menjilatnya. Dia terdiam sebentar sebelum meludah. Raut wajahnya sedikit berbeda. Hal tersebut membuat Cakra jadi khawatir, dia langsung menanyakan apa yang dirasakan bocah berambut putih ini.
Amdara menggeleng dan berujar pelan, "kau jangan meminumnya."
"Memang cairan apa ini?"
Tanya Cakra sambil menaikkan sebelah alis penasaran. Namun, Amdara langsung memperingati Cakra agar tidak meminumnya. Penasaran, Cakra akhirnya mengambil cairan itu, menghirupnya sebentar setelahnya dia menggelengkan kepala pelan.
"Ajaib,"
Suara Shi terdengar berteriak memanggil Amdara dan Cakra sontak segera pergi menghampiri kakak kelasnya. Ketika sampai, Shi dengan raut wajah pucat berkata, "aku tahu pohon ini! Pohon ini adalah pohon air."
Amdara berkedip mendengar penuturan Shi barusan. Amdara tidak tahu nama pohon ini, tapi jika dipikir-pikir memang cocok disebut dengan pohon air. Melihat Shi yang baru akan meminum airnya, Amdara langsung mencekal lengan Shi dan kemudian mengatakan bahwa minuman itu bukan air yang harus mereka minum.
Belum sempat bertanya, Cakra juga mengatakan bahwa minuman itu sebaiknya memang tidak diminum. Mendapat peringatan dari kedua temannya, Shi hanya bisa menghela napas panjang dan membuang air di tangan.
Shi mengedarkan pandangan, saat ini darah Siluman Harimau Api belum mereka urus. Jika sampai ada siluman lain yang mengendus darah tersebut, mereka akan dalam bahaya besar, jika pun menghanguskan tubuh besar siluman itu juga membutuhkan waktu yang lama.
"Haih, apa kita akan memasuki hutan yang gelap itu?"
Tanya Shi kepada Amdara dan Cakra yang memberikan pendapat langsung.
Cakra berkata tanpa nada, "sebaiknya begitu. Jika di sini hanya buang-buang waktu."
__ADS_1
"Mn. Kita lanjutkan perjalanan."
Tambah Amdara yang membuat Shi lemas seketika. Entah mengapa dia tidak memiliki keberanian seperti kedua adik kelasnya ini. Shi dengan berat hati setuju, lalu mengajak kedua temannya pergi.
Ketiganya tidak merasa lapar, karena bisa mengganti nutrisi menggunakan kekuatan dalam tubuh.
Suasana hutan yang gelap disertai hembusan angin yang dingin. Tidak ada bunyi apa-pun selain suara jubah mereka yang terbang dengan cepat untuk menghindari Siluman yang mungkin sebentar lagi akan menyerang entah dari sisi mana.
Ketiga bocah itu juga tidak mengeluarkan sepatah kata. Shi yang sebelumnya cerewet mendadak dia bungkam dan saat terbang pun berdekatan dengan Amdara.
Di suasana yang hening itu cukup mencekam. Tidak ada yang mengeluarkan cahaya, mereka terbang mengandalkan kekuatan yang disalurkan pada mata.
Untungnya, selama perjalanan tidak ada bahaya apa pun yang datang. Amdara bertanya sangat lirih kepada Shi, "kapan kita sampai?"
Namun, si lawan bicara malah tidak menghiraukan dan terus saja terbang lebih cepat. Amdara melajukan melesat, dia memerhatikan tampang Shi dari samping agak berbeda. Shi seperti sengaja tidak menjawab pertanyaan. Amdara memanggil nama Shi, tapi kembali tidak diacuhkan. Sampai akhirnya Amdara menyentuh bahu Shi pelan, tapi reaksi yang ditunjukkan malah membuat Amdara mengerutkan dahi.
"E-eh? Apa aku tidak mengatakan kepadamu sebelumnya bahwa a-aku ... tidak mengetahui pasti kediaman Te-tetua Ha-haki?"
Detik itu juga Amdara menghentikan tubuhnya ke depan. Dia mencerna maksud pernyataan Shi yang sungguh membuat batin Amdara terkejut. Apa maksud Shi dia tidak tahu kediama Tetua Haki? Bukankah sebelumnya Shi lah yang terlihat lebih mengetahui kediaman Tetua Haki? Lalu apa yang dia lontarkan barusan?!
Cakra yang mendengarnya juga menghentikan laju terbang. Dia menoleh ke belakang, yang mana Shi juga sudah berhenti di samping Amdara dengan raut wajah pucat pasi.
"Kau bercanda?"
Suara dingin Cakra mengintimidasi Shi yang langsung menelan ludah susah payah. Dia menggeleng cepat dan dengan gugup berkata, "a-aku memang tahu kediaman Tetua Haki karena saat datang, pasti sudah berada di depan kediamannya ...."
"Kenapa tidak bicara sejak awal?"
Kini Amdara menatap Shi lebih dingin dari Cakra. Shi sampai dibuat gemetar. Rasa-rasanya ditanyai oleh dua orang dengan tatapan seperti itu membuatnya tidak nyaman.
"H-hei, kalian jangan menyalahkan aku, oke?" A-aku, aku--"
"Berhenti bicara."
__ADS_1
Amdara memotong perkataan Shi, Amdara kemudian mendekati Shi yang sedang menatapnya. Tangan Amdara terurur, detik itu juga sebuah pedang besar muncul melesat ke depan. Shi membelalakkan mata, tidak bisa menghindari serangan mendadak tersebut.