
Langit malam terganti oleh cahaya putih dan merah yang membuat netra tak kuat melihat. Perasaan dingin sekaligus nyaman itu terasa, membawa angin menusuk tulang. Aroma khas wewangian kayu cendana menusuk indera penciuman seseorang.
Amdara perlahan membuka mata, setelah samar-samar cahaya menyilaukan menghilang. Hal pertama yang terlihat adalah ruangan besar, pilar warna hitam yang menjulang tinggi serta patung seseorang yang tengah memegang tongkat berbulu putih yang berkepala naga, dan memiliki sayap phoenix api. Dindingnya berwarna hitam dan biru tua, karpet hitam bercorak angsa putih terlihat di bawah. Mengagumkan! Amdara sampai dibuat terpana. Apalagi melihat wajah patung yang sempurna, rambut bergelombang dan senyuman cantik terukir menambah mempesona patung tersebut.
Netra bocah itu menyapu sekeliling, dia dibuat tersentak tidak menyadari dirinya tengah duduk di singgasana berbentuk naga hitam. Amdara segera berdiri, dan nampak memundurkan langkah.
Aray entah berada di mana sekarang. Saat Amdara membuka mata, Aray sudah tidak ada. Apa bocah itu baik-baik saja?
"Sebenarnya di mana ini?"
Amdara mengedarkan sekitar, walaupun mengagumkan tetapi sama sekali tidak ada orang membuatnya merasa merinding.
Hawa dingin menyeruak, memenuhi ruangan besar itu. Amdara menajamkan penglihatan, melangkah mundur waspada.
"Nona ...."
Suara lirih nan terdengar mengerikan dari arah belakang membuat Amdara terkejut dan segera membalikkan badan. Napas Amdara terhenti beberapa saat, wajah bocah itu nampak memperlihatkan keterkejutan bukan main.
"Siapa kau?"
Merasakan aura yang berbahaya, Amdara melangkah mundur sampai kakinya bertabrakan dengan singgasana.
Cahaya hitam berbentuk tubuh manusia, memiliki aura hitam dan jelas membuat Amdara tertekan itu tiba-tiba seakan bersujud di hadapan Amdara.
Jelas Amdara tersentak, tetapi dia tidak berkata-kata. Dirinya masih terlalu syok dengan kondisi saat ini. Cahaya yang pernah dilihat Amdara sebelumnya sama persis dengan cahaya di depannya, hanya saja aura yang keluar dari cahaya ini lebih kuat dan mengerikan.
"Maafkan saya membuat nona terkejut."
Amdara dibuat menahan napas. Entah makhluk apa di depannya ini seakan sangat menghormatinya.
Amdara bertanya pelan, "kau ... Roh?"
Masih dalam keadaan bersujud, makhluk itu menggeleng. Dan menjawab penuh rasa takut, "saya bukan bagian dari golongan mereka. Anda bisa mengartikan saya sebagai makhluk yang keluar dari tubuh manusia yang mati mengenaskan."
"Bukankah itu termasuk roh?"
__ADS_1
"Kami berbeda dari roh, Nona. Walaupun keluar dan hidup dari energi negatif."
"Kau arwah?"
"Bukan juga. Kami makhluk istimewa."
Amdara nyaris tersedak napas sendiri saat mendengar perkataan makhluk di hadapannya. Istimewa? Memang apa yang membuat istimewa? Memang ada makhluk istimewa, yah?!
Di dunia memang ada beberapa jenis makhluk. Mereka memiliki golongan tersendiri dan tidak ingin disamakan dengan makhluk lain. Walaupun di pandangan manusia, makhluk hanya ada satu golongan dengan nama berbeda-beda.
Amdara tidak mengerti maksud dari makhluk di depannya. Setelah merasa makhluk ini bisa diajak bicara, Amdara meminta agar makhluk di hadapannya berdiri dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Amdara tidak merasa takut karena wujud makhluk di hadapannya, karena memang hanya cahaya hitam yang berbentuk tubuh manusia dewasa.
"Nona, bisakah kau menceritakan kehidupanmu selama ini?"
Amdara tersentak karena perkataan barusan. Dia diam dan menatap dingin membuat makhluk di depannya merasa terintimidasi.
"A-ah, maafkan aku nona yang tidak sopan menanyakan hal itu." Kembali cahaya hitam ini bersujud beberapakali.
"Berhenti. Katakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi."
"Nona, sebelum saya mengatakan semuanya. Anda boleh memanggil saya Are." Makhluk yang bernama Are itu terduduk dan menunduk sambil mulai bercerita.
"Anda sebelumnya berada di Hutan Arwah, bukan?" Are bertanya dan jelas Amdara mengangguk pelan.
Are berkata kembali, "dua cahaya yang anda lihat sebelumnya adalah pengawal istana. Mereka membawa anda kemari karena merasakan aura yang sama seperti nyonya. Walaupun telah tercampur dengan aura lain."
"Ini ... di istana?"
"Benar, nona. Istana ini milik Anda. Istana ini telah lama ditinggal nyonya, dan kami telah mencari beliau selama ini tetapi masih belum bertemu. Merasakan aura anda, membuat kami sangat bahagia. Nyonya ternyata telah menjalani kehidupan layaknya manusia ... kuharap beliau bahagia." Terjadi jeda beberapa saat.
Are kembali bercerita tanpa dihentikan Amdara yang sebenarnya beberapakali muncul pertanyaan di benaknya.
Are mengatakan bahwa Amdara sekarang berada di dunia lain. Dunia yang berbeda dari dunia manusia.
"Dunia lain?"
__ADS_1
Are mengangguk dan membuat Amdara tersentak. Tubuhnya telah lemas mendengar cerita demi cerita sebelumnya dan sekarang bertambah lemas mendengar pernyataan Are mengenai Amdara yang tidak lagi di dunia manusia, melainkan dunia makhluk lain.
Bagaimana mungkin ada dunia lain selain dunia manusia? Bahkan Amdara tak pernah membaca atau mendengar mengenai dunia lain ini. Amdara menatap lekat, mencari kebohongan pada raut wajah Are tetapi tidak ditemukannya.
"Bagaimana mungkin ...?"
Amdara menyenderkan kepala ke belakang. Napasnya mulai tak beraturan, dan jelas membuat Are khawatir.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" Are mendekat, tetapi segera tangan Amdara terulur ke depan, menghentikan Are.
Amdara memijat kepalanya yang pusing karena diisi banyak pertanyaan. Dia menengadah, dan memejamkan mata.
"Nona--"
"Siapa yang kau maksud nyonya itu?"
Amdara berkata lemah. Dia tak membuka mata saat bertanya. Ketakutan mulai menggerogoti hatinya. Dia hadap cerita Are tidak berbohong, walaupun sulit mempercayai makhluk seperti Are.
Are berkata kebingungan, "bukankah beliau ibu anda?"
Seketika mata Amdara terbuka lebar, dan langsung menatap Are penuh rasa keterkejutan.
"Ibu?" Bibir Amdara terasa kaku saat mengeluarkan kata tersebut. Matanya berkaca-kaca dan detik berikutnya bertanya, "apa ibuku adalah pemimpin dunia kalian?"
Anggukan Are kembali membuat lemas Amdara. Dirinya tak kuat berkata-kata lagi. Sebenarnya siapa ibunya sampai menjadi pemimpin dunia lain manusia? Sebenarnya seperti apa ibunya itu? Amdara memang tak terlalu percaya, bisa saja Are berbohong, bukan? Tetapi, Are menceritakan kembali.
"Beliau pemimpin luar biasa. Baik dan sangat kuat. Apa Nyonya Dewi tidak menceritakan hal ini pada Anda, Nona?"
Amdara masih membeku. Matanya yang berkaca-kaca berhasil meloloskan air mata dan membuat Are kembali khawatir. Keterkaitan apa yang membuat ibu Amdara bisa hidup di dunia makhluk ini? Apanya yang luar biasa? Apanya yang baik? Amdara yang sejak kecil ditinggal, apakah itu bisa disebut ibu yang baik? Untuk apa kuat, tetapi tidak sekali pun menjenguk anaknya yang kini telah besar dan tengah menjalankan misi?
Satu yang berhasil Amdara temukan, bahwa dia anak dari seorang pemimpin dunia lain.
"Nama ibuku ... Dewi?"
"B-benar, Nona."
__ADS_1
"Ceritakan mengenai dirinya."