
Terlihat Cakra yang sedang duduk bersila, kekuatan alam mengelilingi dirinya untuk menyembuhkan luka dalam dan luar. Dia juga sedang memulihkan kekuatan.
Sementara itu, Shi disibukkan menyerap kekuatan permata Siluman Harimau Api. Udara panas disekelilingnya membuat Shi berkeringat. Dia menahan panas yang mulai menyelimuti demi mendapatkan pertambahan kekuatan dari permata tersebut. Satu jam sudah menyerap dengan sangat perlahan, tapi kekuatan yang terserap baru 25%. Dia tidak mengkhawatirkan keadaan sekeliling karena ada Amdara yang sedang berjaga.
Amdara mengerkan pandangan, dia mulai berjalan masuk ke dalam hutan. Tapi tidak terlalu jauh. Kekuatan di sini memang sangat murni, jadi Amdara bisa menyerapnya dengan mudah. Kata Shi, kediaman Tetua Haki berads tepat di tengah-tengah lebatnya hutan.
Mata bocah berambut putih itu menyipit, sebelum akhirnya mendekati salah satu tanaman merambat berwarna perak. Tanaman tersebut memiliki daun yang panjang-panjang, bunganya berwarna putih bersih dengan tangkai bunga warna hitam. Amdara tidak tahu jenis tanaman apa itu, ketika dia menyentuh daunnya tangannya langsung berdarah. Daun tersebut memang terlihat lembek, tapi ternyata saat dipegang tajamnya layaknya pedang bukan main dapat membelah batu sekali tebasan.
"Mn, menarik."
Suara teriakkan membuat Amdara terkejut. Dia baru saja akan menyentuh tanaman tersebut, tapi suara Shi yang sedang kesakitan membuatnya menatap bunga tersebut sejenak sebelum pergi di mana tempat Shi berada.
Shi sekarang berguling-guling di tanah. Tubuhnya terasa sangat panas, bahkan Cakra yang hendak membatunya seketika menghentikan langkah karena tidak kuat menahan rasa panas itu.
Shi terus berteriak kesakitan sambil memegang permata di tangannya yang tidak bisa terlepas. "Panas! Tolong aku ...! Ini sangat panas ...!"
"Senior, bertahanlah." Cakra memaksakan diri mendekat. Dia mengeluarkan kekuatan yang membuat sekeliling sejuk tapi dalam sepuluh detik kembali panas seperti semula.
Cakra tidak tahu awal mula Shi sampai berguling-guling, saat dia membuka mata. Shi sudah berteriak tak keruan. Saat ingin menyentuh tubuh Shi, Cakra mengepalkan tangan. Ternyata berada di dekat Shi kekuatan panas semakin besar.
Lesatan air yang entah datang dari mana menghantam tubuh Shi yang menjadi basah kuyup. Tapi dalam lima detik Shi bisa merasakan tubuhnya tidak lagi merasa panas. Dia menghentikan menggulingkan tubuh. Mengatur napas yang tidak stabil.
Amdara melesat ke arah Shi, lalu segera membantu Shi untuk duduk agar dirinya bisa membantu. Amdara berkata, "Senior, lepaskan permata itu."
Shi menggeleng dan mengatakan tidak bisa melepas permata tersebut. Perlahan tubuhnya kembali panas, tapi ketika Amdara menyentuh kedua pundaknya, sesuatu yang sejuk menyelimuti.
Keterkejutan terlihat di wajah Cakra. Dia mendekat dan bertanya, "sebenarnya apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Senior Shi terlalu terburu-buru menyerap kekuatan dari permata."
Amdara kemudian menjelaskan yang mana ketika menyerap kekuatan permata dari siluman sebenarnya tidak mudah. Jika sampai salah, maka akibatnya sama seperti Shi atau yang paling parah adalah kematian.
Permata yang Shi pegang sekarang adalah termasuk permata dengan jenis elemen api berkekuatan besar. Untuk menyerap kekuatan dari sebuah permata juga harus menyesuaikan keadaan tubuh seseorang. Jika tubuh orang tersebut tidak mampu menerima kekuatan dalam jumlah besar itu maka yang ada membuat tubuh terasa sakit. Tubuh seseorang juga harus sesuai dengan elemen yang diserap dari kekuatan.
Cakra yang mendengarnya menatap Shi yang sekarang memejamkan mata mencoba menekan kekuatan besar di dalam tubuhnya yang tidak tentu arah.
"Jika begitu bukankah sekarang Senior Shi harus mengurus kekuatan membludak dalam tubuhnya dahulu?"
Amdara mengangguk setuju dengan perkataan Cakra. Amdara lalu meminta Shi untuk lebih berkonsentrasi mengatur kekuatan dalam tubuh tanpa memedulikan kekuatan panas. Kasus Shi sekarang nyaris sama dengan Aray dan Rinai yang pernah ditangani Amdara.
"Ini sangat panas! Tubuhku panas sekali. Aku tidak bisa menahannya ...!"
Shi menggeleng tak kuat, Cakra langsung bertindak membantu menekan rasa panas tersebut walaupun hanya berefek sedikit. Begitu pula Amdara yang menyalurkan kekuatan menekan rasa panas dalam tubuh Senior Shi.
Amdara meminta Shi mengatur pernapasan. Lalu mengontrol kekuatan dalam tubuh perlahan. Awalnya Shi kesulitan, tapi dalam bantuan dan bimbingan Amdara sedikit demi sedikit dia bisa mengatasinya.
Hawa panas disekeliling belum sepenuhnya menghilang. Cahaya orange sekarang memutari tubuh Shi yang menggigil. Nampaknya Shi sudah bisa menyerap kekuatan di dalam permata itu lagi.
Amdara terus mengatakan, "pelan, lalu satukan dengan tubuhmu."
Tidak hanya sampai di sana, Amdara menjelaskan bahwa kekuatan asing itu harus diterima Shi bagaimana pun caranya. Dengan begitu tubuh Shi tidak akan merasa kesakitan lagi.
Butuh waktu sangat lama untuk menyerap kekuatan permata itu. Bahkan sang dewi bulan sekarang sudah muncul tanpa disadari ketiga bocah itu. Suasana sudah menjadi lebih kondusif. Udara yang berhembus tidak lagi panas melainkan dingin.
Amdara tidak pernah mengendurkan kekuatan membantu pemulihan tubuh Shi. Amdara juga terus memberi pengarahan agar Shi dapat bertahan sampai sekarang. Sementara itu, Cakra juga tidak melepas kekuatan untuk menekan hawa panas dalam tubuh Seniornya ini.
__ADS_1
Amdara menaikkan alis, melihat kekuatan besar dalam tubuh Shi mengelilingi Shi. Amdara segera menarik tangan dan memundurkan langkah. Sepertinya Shi akan bisa mengeluarkan kekuatan berelemen api.
Cakra juga melakukan hal yang sama. Ada perasaan kagum saat Shi hanya dalam waktu satu hari bisa menyerap kekuatan dari permata Siluman berumur 10.000 tahun.
Tubuh Shi melayang di udara, cahaya orange tipis menyelimuti tubuhnya. Entah datang dari mana angin menerpa jubah dan rambut Shi sampai terlambai-lambai. Satu menit selanjutnya debaman keras disertai cahaya meledak dari tubuh Shi.
Amdara dan Cakra spontan menghalangi mata menggunakan lengan tangan. Keduanya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketika menyingkirkan lengan tangan, dua bocah itu melihat Shi yang sedang tersenyum ke arah mereka.
"Aku berhasil! Aku berhasil menyerap kekuatannya ...!" Shi terbang ke sana- ke mari dengan raut wajah bahagia. Dia lalu mendarat di depan Amdara dan Cakra lalu berkata, "aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua. Tanpa kalian, aku tidak mungkin bisa menyerap kekuatannya."
Shi memberi hormat, tapi dengan cepat Amdara menarik tubuh seniornya dan berkata tanpa nada, "tubuhmu yang kuat."
"Kau memang berbakat," tambah Cakra.
Shi tersenyum penuh haru, dia baru saja akan mendekap tubuh mungil Amdara tapi tiba-tiba bocah berambut putih itu segera mengambil jarak. Shi berkedip, dia menggelengkan kepala.
"Kalian ini benar-benar baik. Nah, mulai sekarang aku akan membalas kebaikan kalian dua kali lipat. Haih, aku masih tidak menyangka dengan kekuatan baru ini."
"Kalau begitu tunjukan kekuatan barumu," ujar Amdara.
Shi mengangguk, dan kemudian terbang. Cahaya orange tipis menyelimuti. Lalu detik berikutnya melakukan serangan pada pohon dalam jarak jauh, sesuatu tak terduga terjadi.
BAAM!
Amdara yang melihat serangan itu tersentak. Dia memerhatikan arah serangan Shi. Begitu sadar, dia menahan napas dan mengatakan sesuatu yang membuat kedua temannya terkejut bukan main.
"Pohon yang tidak terbakar?"
__ADS_1