Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
174 - Daerah Roh Hitam II


__ADS_3

Amdara hanya diam, mendengarkan semua perkataan wanita yang masih setia memeluknya sambil menangis sesegukan. Tanpa sadar tangannya terkepal, matanya berubah tajam.


Wanita yang sedang memeluknya seolah sedang ketakutan. Sampai-sampai ketika berbicara belum selesai tangisnya selalu menyertai.


"A-aku tahu itu. Setelah selama ini, b-bantuan hiks akhirnya tiba." Wanita dengan tubuh kurus ini melepas pelukan. Beralih memeluk pria tua yang juga menangis dengan tubuh gemetar. "A-ayah, doa ku terkabul. B-bantuan sudah datang. Hiks. K-kita hiks tidak perlu takut kembali."


Pria tua berkulit coklat itu dengan lirih berkata, "aku tahu, Nak. Aku tahu. Mereka tidak akan melupakan kita."


Keduanya saling memberi kekuatan. Walau tangis belum juga reda. Sampai lima menit berakhir, keduanya tidak kunjung berhenti.


Amdara tanpa nada mulai bertanya melihat kedua orang ini sudah dapat diajak bicara.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Wanita dan pria tua itu menoleh ke arah bocah berambut putih. Keduanya saling melepas pelukan sebelum saling pandang dan mengedarkan pandangan ke sekitar ketakutan.


"N-nak? Mari ikut bersembunyi dengan kami." Wanita itu menarik tangan kecil Amdara masuk ke dalam lubang bawah tanah.


Kulit yang terasa kasar di tangan Amdara, serta mata yang terlihat ketakutan membuat bocah ini bertambah penasaran apa yang sebenarnya terjadi walau sudah memikirkan ada campur tangan Roh Hitam, akan tetapi dirinya perlu mendengar langsung dari orang desa ini. Amdara sama sekali tidak menolak ketika memasuki lubang itu.


Gelap, ternyata di ruang bawah tanah itu hanya ada satu obor sebagai penerang. Satu ruangan yang tidak cukup besar terlihat berantakan oleh bekas makanan, serta barang-barang lain. Ada aroma tidak sedap tercium. Amdara mendongak, melihat ada satu cerobong yang mungkin berfungsi sebagai pemberi udara.


Dia kemudian menoleh ke belakang, nampak pria tua itu menutup tanah di atas menggunakan besi besar.


"N-nak, kau duduklah."


Amdara kembali menoleh, di depannya hanya ada alas berupa jerami kering. Belum sempat bertanya, pria tua menyodorkan segelas air.


"Kau pasti kehausan. Minumlah, Nak."

__ADS_1


Amdara melihat segelas air keruh. Dirinya bertanya polos, "air apa ini?"


Pria tua tersebut mengusap air matanya dan berkata lirih, "kau minumlah. Aku bisa menahan dahaga, Nak."


Amdara terdiam, menatap segelas air di tangan lawan bicara. Dirinya mengambil segelas air tersebut, dan melakukan sesuatu yang membuat kedua orang dewasa ini terlonjak kaget.


Amdara menutup gelas tersebut, mendadak air tersebut terganti oleh air bersih dan terlihat menyegarkan. Kejadian itu sangat cepat, bahkan pria tua dan wanita ini sampai menahan napas melihatnya. Amdara kemudian menyodorkan segelas air itu kepada pria tua.


"Minumlah, paman yang lebih membutuhkan."


Bukannya menerima, dua orang dewasa itu termundur sambil menatap waspada Amdara. Keduanya kembali terduduk dan ketakutan.


"T-tolong, ampuni kami. T-tolong Tuan, ampuni nyawa kami ..."


Keduanya menangis ketakutan dengan tubuh bergetar hebat. Amdara terhenyak melihatnya. Semakin dibuat kebingungan.


Amdara berhenti melangkah. Dirinya baru hendak berbicara lagi, akan tetapi terhenti saat merasakan aura yang sangat menekan serta tidak asing. Dia mengepalkan kedua tangan, mendongak ke langit-langit yang terasa seperti akan roboh. Lantas dirinya mengeluarkan portal, sebelum memasukinya dia mengatakan bahwa dirinya bukanlah orang jahat yang perlu ditakuti.


Sementara itu, di luar rumah tersebut telah terjadi sesuatu yang menggemparkan. Kabut abu-abu menyelimuti desa, suara-suara mengerikan mulai terdengar. Angin berhembus terasa sesak, bahkan sangat tidak nyaman untuk dihirup. Sekelebat bayangan hitam melintas di depan rumah tersebut. Bukan hanya satu, akan tetapi ada lima sekaligus bayangan yang mengelilingi rumah-rumah.


Satu bayangan terhenti tepat di dalam rumah yang sebelumnya dimasuki oleh Amdara. Bayangan tersebut mulai membentuk wujud asli, tubuhnya masih melayang. Memiliki sepasang mata merah menyala, jubah hitam berkibar di belakangnya. Tidak nampak tangan serta kaki. Rambut hitam gondrong menambah kengeringan siapa pun yang melihatnya. Aura gelap memancar dari tubuhnya. Tatapan mata merah menyala mengedar ke sekeliling, kemudian berhenti di tanah yang tertutup jerami. Dia mengeluarkan suara mengerikan sampai membuat rumah bergetar hebat.


Baru saja hendak pergi, mendadak kakinya tidak bisa bergerak. Rantai merah darah mengikatnya dari bawah tanah. Lesatan serangan telak mengenai tengah tubuh. Dia tidak bisa mengelak, tubuhnya langsung terasa panas membakar. Dia mengeluarkan suara memekakkan telinga. Saat memutar kepala ke belakang, tatapan mata merahnya bertemu dengan mata seorang manusia bermata biru langit sedang menatap dingin.


"Ternyata benar, ada Roh Hitam."


Tanpa menunggu lama, Amdara menyatukan kedua tangan. Melakukan gerakan yang sama sekali tidak dimengerti Roh Hitam yang langsung memberontak ketika merasakan tekanan besar.


"Jurus Elang Abadi Pemusnah Roh."

__ADS_1


Cahaya emas membentuk pola elang di bawah Roh Hitam muncul. Cahaya emas tersebut sampai keluar dari celah-celah rumah, hingga cahaya tersebut menarik perhatian keempat Roh Hitam.


Roh Hitam di hadapan Amdara memberontak sambil menjerit kesakitan. Tanpa menunggu lama, cahaya itu langsung melahapnya. Api berkobar setelah lenyapnya Roh Hitam. Bahkan api tersebut sampai membakar rumah.


Cahaya lain datang, Amdara menghilang saat itu juga. Keempat Roh Hitam terkejut melihat kobaran api di satu rumah. Mereka mengeluarkan suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk meremang. Belum sempat bereaksi lebih lanjut, sebuah lesatan serangan menggores kepala.


Keempat Roh Hitam langsung membalikkan tubuh, marah bukan main dengan serangan tidak terduga barusan. Di depan mereka, seorang anak manusia berambut putih melayang dengan tatapan dingin.


Tangan Amdara terangkat, sebuah bola api muncul. Dia kemudian lesatkan ke arah salah satu Roh Hitam. Tidak sampai di sana, Amdara bahkan langsung membuat rantai api menggunakan kekuatan. Rantai api tersebut muncul dari bawah tanah, bergerak-gerak liar.


Keempat Roh Hitam menghindar, memberi serangan ke rantai api dan kepada Amdara. Akan tetapi sebuah portal muncul, malahap serangan Roh Hitam dan muncul kembali tepat di atas keempat Roh Hitam.


Tidak sempat mengelak karena kecepatan serangan sendiri, serta rantai api yang ternyata tidak bisa dimusnahkan, keempat Roh Hitam terkena serangan telak. Debaman keras serta percikan api terlihat di langit berkabut.


Suara-suara mereka sama sekali tidak membuat Amdara gentar sedikitpun. Amdara bahkan mengeluarkan kekuatan kembali lebih dahsyat dan menyerang dengan kekuatan penuh.


"Akan kubalas rasa sakit warga desa."


Amdara kembali melesatkan serangan bertubi-tubi. Menggunakan jurus andalan dari Organisasi Elang Putih untuk melenyapkan Roh Hitam. Memang membutuhkan kekuatan besar, tapi itu dilakukannya dengan cepat menyerap kekuatan alam secara besar-besaran.


Kobaran api semakin banyak, tapi tidak bisa menyentuh kesembilan rumah yang telah diberi perisai pelindung oleh Amdara. Membutuhkan waktu lima menit untuk melenyapkan keempat Roh Hitam.


Amdara menarik napas dalam. Memejamkan mata ketika salah satu Roh Hitam sebelum hangus terbakar memelototinya.


"Apa ini selesai?"


Amdara membuka mata perlahan. Mungkin harapannya agar melenyapkan Roh Hitam di daerah merah ini ingin digenggam. Akan tetapi sebuah suara menggelegar terdengar dari belakangnya.


"Arrggh. Graoorrgh. Berani sekali kau melenyapkan anak-anakku ...?!"

__ADS_1


__ADS_2