
Kawa tersenyum dan berujar, "Aku Kawa, dari Akademi Akar Dunia. Mohon kerja samanya."
Mereka mengangguk. Di antara mereka yang paling muda jelas Amdara. Sementara yang lain berumur kisaran 15-16 tahun.
Jogu berdehem. Dia berucap, "itu berarti, dengan kata lain kita sudah menjadi teman, 'bukan?"
"Tentu saja. Walaupun mendadak, tapi kita sudah menjadi teman," kata Ilan yang langsung mendapatkan senyum Jogu.
Jogu, "Aku tidak menyangka akan mendapatkan teman secepat ini. Haih, ini luar biasa."
Pika tersenyum senang. Dia berkata, "aku senang bisa berteman dengan kalian. Apalagi bisa berteman dengan murid Akademi menengah seperti Kawa, Luffy, dan Phillomel."
Amdara hanya tersenyum mendengarnya. Dia juga tidak menyangka akan mendapat teman dengan cara seperti ini.
Suara Mitsu membuat mereka kontan menoleh. Dari pihak Mitsu, juga sudah ada tujuh orang yang siap bertarung. Mitsu melipat kedua tangan depan dada, tampak angkuh dan menatap remeh lawan.
Kawa, diikuti teman-temannya berjalan maju tanpa gentar.
"Apa kalian baru saja memikirkan strategi untuk mengalahkan kami?"
Perkataan Mitsu terdengar sinis. Teman-temannya juga terlihat tersenyum remeh.
"Itu bukan urusanmu. Jadi pertarungan seperti apa yang akan kita lakukan?" Kawa bertanya pada intinya.
"Tsk. Apa kau tidak sabar kukalahkan lagi, Kawa? Hm, baiklah. Pertarungan ini individu dan kelompok." Mitsu berjalan ke depan, berhenti tepat di depan Kawa. Dia buka suara dengan tenang, "tapi aku tahu dari kalian pasti akan langsung kalah dalam satu serangan. Jadi ... tiga orang pertarungan individu. Yah, itu pun jika kalian menerimanya."
Melihat senyuman Mitsu membuat Kawa kebakaran jenggot, tapi dia segera meredakannya. Bahkan Jogu hampir maju ke depan, tapi dihentikan oleh tangan Amdara yang mengerti situasi.
"Kami terima."
Tanpa ada jabat tangan, mereka menerima. Mitsu tersenyum picik. Bibirnya berkata, "semoga beruntung."
Dia berbalik badan, berjalan menuju teman-temannya.
"Dia benar-benar sombong! Aku ingin sekali menghantamkan tubuhnya ke tanah!" Jogu berdecak kesal.
Bukan hanya dirinya, termasuk yang lain juga demikian. IIan sampai menghentakkan kaki dan berkata, "biarkan aku maju untuk meremas mulut angkuhnya itu!"
"Tidak."
Tolakan Kawa membuat mereka tersentak dan terdiam. Kawa meminta mereka agar lebih tenang dan berpikir matang.
Bisa dikatakan di sini dialah yang menjadi ketua. Dan lagi dia terlihat pemikirannya lebih dewasa.
"Pertarungan individu ini hanya tiga orang. Jelas yang akan maju harus lebih kuat."
Kawa mulai menjelaskan. "Tentu aku akan ikut. Dan dua orang lagi, siapa di antara kalian?"
Jogu dengan semangat mengangkat tangan, begitu pula dengan IIan.
"Biarkan aku maju! Aku pasti akan mengalahkan salah satu mereka!"
__ADS_1
"Aku juga akan maju. Akan kubungkam keangkuhan mereka!"
Kata keduanya bersungut-sungut. Yang lain hanya terdiam berpikir.
Gaku mengangkat tangan, dia juga ingin maju. Dia yakin mereka semua ingin maju, tapi yang dibutuhkan hanya tiga. Dia buka suara memberi saran.
"Begini saja, perlihatkan tingkat kekuatan kalian. Yang lebih tinggi yang akan maju. Bagaimana?"
Pendapatnya langsung diterima dengan baik. Gaku lalu mengeluarkan sebuah alat berbentuk bola. Dia mengatakan itu alat pendeteksi tingkat kekuatan.
Amdara yang melihatnya jadi teringat alat ajaib milik Guru Aneh. Dulu dia berada di tingkat Tahap Emas, setelah satu tahun latihan, dia harap memiliki kemajuan.
"Baiklah. Biar ku tunjukkan kekuatanku yang pantas untuk maju!"
Jogu menyentuh bola itu. Dia berkonsentrasi, lalu sebuah cahaya hijau muncul. Memperlihatkan tulisan mengambang.
Tingkat Tahap Emas.
Dengan bangga, dia kemudian melepaskan tangan bersamaan cahaya dan tulisan menghilang. Gaku tersenyum, dia juga melakukan hal yang sama. Tulisan Tingkat Tahap Emas juga muncul.
IIan langsung menyerobot begitu tangan Gaku terlepas. Dia menggigit bibir cemas, begitu tulisannya terlihat, dirinya berdecih. Tingkat kekuatannya sama seperti Gaku.
Selanjutnya Pika, begitu tulisan Tingkat Tahap Bumi, membuat mulut Jogu dan IIan terbuka.
"Apa? Sejak kapan kekuatanmu bertambah?!"
"Aku berlatih keras, tahu. Kau pikir aku hanya bermalas-malasan di Akademi?"
Giliran Phillomel yang memiliki rambut coklat panjang menyentuh. Tulisan tingkat yang sama dengan Pika pun muncul.
Phillomel tersenyum dan mengangguk. Melepas tangannya.
Jogu yang sedari tadi memperhatikan sudah masam duluan. Kekuatannya di bawah dua perempuan itu. Dirinya berdecak pelan.
Amdara melihat telapak tangannya. Terdiam. Dia kemudian menyentuh bola tersebut.
Cahaya putih muncul, tapi tiba-tiba saja cahaya emas juga muncul. Tidak ada yang merasakan keanehan. Satu kata mulai terlihat. 'Tingkat'.
Cahaya hitam juga mulai muncul di dalam bola. Gaku yang memperhatikan dan memegang alat tersebut mulai merasakan ada keanehan. Ini tidak seperti warna biasanya.
Dan saat tulisan Tingkat Tahap Langit muncul, bola ajaib itu meledak. Kontan mereka terdorong mundur.
"Apa yang terjadi?!"
Mereka jelas tersentak kaget. Pandangan mereka langsung mengarah ke Amdara yang hanya diam memperhatikan telapak tangan. Ada rasa perih saat tiba-tiba ada darah keluar.
Kawa bukan terkejut dengan ledakan barusan. Akan tetapi tingkat kekuatan gadis muda itu. Bahkan yang lain juga demikian. Tidak menyangka gadis muda itu berkekuatan melampaui mereka. Entah dengan Kawa sendiri.
"Alatnya rusak. Jadi bagaimana?"
Pertanyaan Gaku menyadarkan Kawa. Dia menarik napas dan berkata, "sudah jelas siapa yang akan maju."
__ADS_1
*
*
*
"Maaf, tapi aku tidak maju di pertandingan individu."
Ucapan Phillomel membuat yang lain tersentak. Yah, mereka memahami karena Phillomel pasti memikirkan pertandingan sah nanti. Dia tidak egois dengan tidak terlalu termakan hawa nafsu. Dia memikirkan gurunya yang telah mempercayakan mengikuti Turnamen.
"Aku juga. Aku tidak akan maju individu."
Pika juga buka suara. Ilan yang terkejut sampai berkedip dan berkata geram, "apa? Kau lebih kuat dariku. Kau harusnya maju dan kalahkan mereka!"
"Aku juga ingin seperti itu! Tapi aku harus menyimpan baik-baik kekuatan untuk Turnamen. Jika aku ikut pertandingan kelompok, kekuatan kelompok akan bertambah."
Ucapan Pika ada benarnya. Ilan mendengkus kesal dan membuang muka.
Kawa juga tidak bisa memaksa orang lain untuk maju.
"Buang-buang waktu! Biar aku saja yang maju!"
Jogu melesat ke depan sebelum yang lain menjawab. Dia terlihat semangat tanpa memikirkan resiko besarnya.
"Apa dia gila?! Jogu benar-benar tidak berpikir. Dia akan terluka parah jika bertanding!"
Gaku berdecak. Khawatir sekaligus kesal. Dirinya saja tidak berani maju sendirian. Tapi temannya itu benar-benar keras kepala.
"Dia tidak akan terluka parah jika kekuatannya sudah di ambang batas dan mengatakan 'menyerah'." Perkataan Kawa membuat Gaku menoleh.
Gaku menggeleng. "Kau tahu mereka adalah 'Monster', kan? Tidak mungkin membiarkan lawan tanpa meninggalkan luka."
"Aku tahu. Tapi kita sudah membuat aturan sebelumnya." Kawa memandang Jogu yang sudah berhadapan dengan gadis petir. Bersiap bertarung. "Ayo ke sana."
Kawa terbang ke arah bangku penonton. Diikuti teman-temannya. Gaku masih berdecak kesal mendengar Kawa.
Di area pertandingan, mulai terlihat perisai pelindung. Berfungsi agar tidak merusak bangunan jika serangan nyasar dan tidak akan melukai penonton.
Di sana Jagu sudah bersiap menyerang Gadis Petir yang tersenyum remeh sambil terbang tanpa bergerak maju sedikit pun.
"Hmph. Kau akan terluka parah dalam satu serangan ku."
Ucapan Gadis Petir membuat Jogu kebakaran jenggot. Dia mengepalkan kedua tangannya benar-benar ingin membungkam Gadis Petir.
"Tsk. Angkuh sekali kau!"
Jogu mulai berkonsentrasi, sebuah aliran kekuatan berputar mengelilingi dirinya. Matanya menatap nyalang lawan, mata hitamnya tiba-tiba berubah warna menjadi abu-abu.
"Biar kubungkam mulut jahanammu!!"
Gadis Petir tersentak merasakan kekuatan menekan tubuh. Respon telatnya langsung digunakan Jogu untuk menyerang.
__ADS_1