Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
171 - Perubahan II


__ADS_3

Amdara masih menunggu jawaban dari bibir mungil Inay secara langsung. Persepsinya melihat teman-temannya yang lain pergi ke kediaman Guru Aneh tanpa Inay dan Inay yang bersama tiga murid lain membuat Amdara berpikir demikian.


Ekspresi Inay berubah, dia tersenyum miring dan buka suara, "Bagaimana menurutmu?"


Amdara terdiam, mengamati ekspresi Inay. Menghembuskan napas panjang. Pasti telah terjadi suatu masalah yang membuat perubahan ini.


Pertemuan kali ini tidak ada saling menyapa, bertanya kabar atau bercerita kisah beberapa hari tanpa kehadiran masing-masing. Mereka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Amdara buka suara.


"Apa terjadi masalah?"


Tanyanya, masih memperhatikan Inay yang beranjak mendekati jendela. Inay mendengus, tanpa menoleh berujar, "hmph, kau mengerti dengan benar. Masalahnya memang ada sampai membuat kami berjarak."


Inay mengepalkan kedua tangan. Tatapan matanya menajam saat itu juga. Tenggorokannya terasa tercekat. Perasaannya menjadi tidak karuan untuk menjelaskan apa yang dirasakan.


Inay melirik Amdara yang tidak berkutik duduk. Dirinya menarik napas dalam dan berkata, "Kau tahu? Jujur saja, sangat menyebalkan hidup di Akademi ini tanpa dirimu. Apalagi bukankah aku di sini hanya untuk menemanimu menjalankan misi? Bukan belajar di Akademi. Sejak awal, aku tidak pernah menyukai mereka. Semua yang kulakukan itu adalah karena ada kau"


Inay tertawa kecil. Dia duduk di jendela sambil memandang ke depan, menenangkan tapi tidak dengan perasaannya sekarang. Hatinya terasa terbakar ketika kembali mengutarakan.


"Aku tidak mungkin mengacaukan pertemanan di antara kalian. Di mana kau adalah pelindung sekaligus pahlawan bagi mereka." Satu kakinya terangkat, diletakkan di atas kaki lainnya. Inay berkata sinis, "hei, apa kau tidak merasa bahwa mereka hanya memanfaatkanmu? Kau tahu 'kan, jika sebuah pertemanan bukan hanya dibumbui oleh perlindungan? Tapi 'saling' menolong. Apa selama ini mereka pernah menolongmu saat kau sedang kesulitan? Lalu sebuah pertemanan adalah mereka yang saling berbagi kisah, bukannya masih saling memendam dan tidak pernah mengungkapkannya."


Amdara mengepalkan kedua tangan. Harusnya dia ingat bagaimana Inay yang pernah ingin kembali ke Organisasi. Hanya saja waktu itu Amdara dalam kondisi mengkhawatirkan. Bocah berambut putih itu menarik napas dalam. Baru ditinggalkan beberapa hari saja pertemanan mereka sudah di antara hancur dan tidak karena kurangnya komunikasi. Entah bagaimana jadinya jika dia pergi selama tiga tahun atau lebih untuk berlatih.

__ADS_1


Pada akhirnya, mereka memang sulit disatukan untuk menjadi teman yang benar-benar utuh.


Namun, di sisi lain Amdara tidak pernah merasa menjadi seorang pahlawan atau pun pelindung. Dia hanya menolong siapa yang baru pertama dilihatnya, sama sekali tidak ada niat menjadi pahlawan. Dia hanya melakukan apa yang menurut hatinya bisikkan. Mendengar perkataan Inay, Amdara menangkap satu hal bahwa Inay merasa dirinya sedang dimanfaatkan, bukan menjalin hubungan pertemanan yang kisahnya saling melindungi dan berbagi cerita. Tapi, bukankah menjadi hak mereka untuk bercerita atau tidak?


"Itu hak mereka jika tidak ingin mengatakannya," Amdara berdiri. Mendekati Inay yang langsung menoleh dan berdecih.


"Yah, itu juga hak untukmu tidak mengatakan identitas sebenarnya. Namun, aku masih bingung sampai sekarang tentang mereka. Mengapa mereka memiliki kekuatan unik? Luffy, kau tahu bagaimana karakter asliku. Setelah kutelusuri beberapa hari ini, latar belakang dari teman-temanmu tidak jelas. Pasti ada yang tidak beres, aku akan mencari tahunya nanti."


"Kak Inay," panggilnya. Amdara sudah merasa Inay terlalu waspada serta kesalahpahaman ini harus berakhir. Amdara tanpa nada bertanya, "apa hanya karena kau tidak menyukai mereka, kau menganggap semua yang kita lakukan selama ini bukan sebuah pertemanan?"


Inay memutar bola mata malas. Niatnya hanya membantu Amdara agar mendapatkan teman yang jauh lebih baik, memiliki latar belakang yang jelas. Tidak seperti 'mereka'.


Lima belas menit Amdara belum buka suara. Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Tanpa diduga, mengatakan suatu hal yang membuat Inay nyaris dibuat terjatuh.


Inay dibuat terbatuk-batuk keras saat itu juga. Menatap tak percaya bocah berambut putih ini. Dirinya sontak buka suara dengan intonasi tinggi, "apa?! Jadi maksudmu aku tidak menyukai mereka karena gangguan pada pemikiran sebab tidak lagi penyucian jiwa?! Kau benar-benar keterlaluan. Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau juga keras kepala dalam keadaan tertentu? Kau juga tidak lagi melakukan penyucian jiwa!"


Inay menggeleng-gelengkan kepala. Mengelus dada yang jantungnya rasanya nyaris copot dari tempat. Dia mendengus kesal dan melanjutkan ucapan.


"Aku baik-baik saja tanpa penyucian jiwa. Lagi pula, aku memang tidak menyukai mereka. Kau benar-benar bertambah menyebalkan setelah pergi beberapa hari. Heh, dengar. Aku akan membuktikan 'teman-temanmu' itu berbahaya suatu saat nanti. Dan selama ini kau hanya dimanfaatkan oleh mereka."


"Aku menunggu,"

__ADS_1


"Karena kau adik seperguruanku, aku akan membantu mengurus hal ini dan setelahnya, aku akan langsung kembali ke Organisasi Elang Putih. Urus misi ini sendiri."


"Aku akan pergi, tiga tahun atau lebih. Masih tetap berusaha menjalankan misi dari Tetua Bram."


Perkataan terakhir Amdara sebelum dia membuat sebuah portal, memasukinya tanpa menoleh ke belakang di mana Inay yang berubah ekspresi.


Amdara muncul di tempat sebelumnya saat memasuki Akademi. Dia menghembuskan napas panjang sambil menurunkan pandangan. Ucapan Inay masih terngiang-ngiang di pikirannya. Memang apa itu teman? Benarkah teman itu mereka yang saling berbagi kisah? Amdara menatap ke depan hampa. Amdara sebenarnya tidak keberatan teman-temannya tidak bercerita masalah pribadi, toh dirinya juga tidak menceritakan apa-pun kepada mereka. Namun, dia berharap hubungan ini tidak berakhir begitu saja. Dia harap Inay dapat menyelesaikan dan memahaminya sendiri.


Amdara menggeleng, dia tidak boleh terlena hanya karena hal sepele seperti ini Sekarang dirinya harus fokus berlatih selama tiga tahun, sambil terus menjalankan misi dari Tetua Bram. Saat kekuatannya sesuai keinginannya, dia akan pergi ke dunia luar dan secara langsung mencari keberadaan kedua orangtuanya.


Siang itu, Amdara hanya terus berdiri di atas gedung. Menyaksikan murid-murid Akademi melakukan aktivitas masing-masing. Tidak ada yang menyadari kehadirannya, itu memang keberuntungan. Jika ada yang tahu, akan merepotkan.


Senja menyapa bumi, di sana Amdara hanya berdiam diri. Memejamkan mata, merasakan kekuatan alam mengalir secara terus menerus sejak siang.


Shi baru datang, dengan tampang ceria. Belum sempat menceritakan apa yang dilakukan, Amdara sudah terlebih dahulu membuat portal dan meminta Shi untuk memasukinya karena kemungkinan Tetua Haki akan menyadari mereka tidak berada di hutan.


Mereka muncul di hutan tidak jauh dari kediaman Tetua Haki. Langsung melesat pergi ke rumah masing-masing sebelum pergi ke kediaman Tetua Haki.


Shi memperhatikan raut wajah Amdara yang terlihat dingin, tapi dia tidak mengatakan apa-apa karena Amdara seperti biasa memang terlihat dingin.


"Ini pertama dan terakhir. Kita tidak akan kembali ke Akademi sebelum tiga tahun," kata Amdara sebelum melesat pergi ke rumah yang disediakan.

__ADS_1


Shi tersentak, dia menatap punggung Amdara. Dirinya mengerutkan alis, nampaknya temannya itu memang sedang dilanda kegundahan hati. Shi menaikkan bahu sebelum dia pergi ke rumah sendiri untuk membersihkan diri.


__ADS_2