Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
106 - Ketakutan


__ADS_3

Terlihat, beberapa murid penjaga gerbang tengah makan sambil bercanda gurau. Salah seorang dari mereka yang telah sembuh dari ramuan aneh Atma tengah memuji pil yang diberikan oleh Atma. Walaupun teman-temannya masih sempat meledek karena dada senior itu, tetapi dia sama sekali tidak lagi tersinggung dan malah bertambah semangat membahas mengenai pil ajaib yang dia makan.


Dia menduga-duga, bahwa pil yang diberikan dibeli dengan harga fantastis. Namun, jika direnungkan kembali pil itu juga tidak akan dijual sembarangan dan bisa dikatakan kemungkinan terbesar pil berkualitas itu langka, atau dibuat lima tahu lebih. Membayangkan hal tersebut membuat senior itu merasa menjadi orang beruntung bisa mengonsumsi pilnya. Bukan hanya membuat dadanya kembali normal, tapi kekuatannya yang lemah juga berangsur-angsur bertambah dan sekarang dia telah berada di Tingkat Tahap Bumi. Tentu saja dia jadi sombong dan memuji diri sendiri.


Dia belum bertemu kembali dengan Atma dan teman-temannya semenjak malam itu. Padahal jelas-jelas ketika dia sedang mengantri makanan, Atma dan kawanan juga berada di Balai Istirahat barusan. Dari yang dia dengar, Pertandingan Antar Kelas ini cukup menarik dan lebih seru dibanding tahun-tahun lalu. Bukan hanya tingkat kekuatan setiap peserta yang meningkat, tetapi yang membuat semua orang tercengang adalah perubahan dari kelas Satu C. Baik dari kekuatan, maupun persahabatan mereka sudah membuat orang lain yang melihatnya menganggap mereka seperti keluarga atau adik kakak yang saling menjaga.


Perubahan kecil itu jelas akan mulai merubah pandangan orang-orang di sekitar.


Senior itu melihat orang yang tengah dicarinya sedang berjalan menuju tempat antrian mengambil makanan. Sontak saja dia melambaikan tangan dan menyerukan nama Atma agar dia mendekat.


Atma yang mendengar namanya disebut tercengang melihat seseorang yang telah menjadi kelinci percobaannya telah sembuh total dan sekarang malah meminta Atma mendekat. Tentu saja Atma langsung bersembunyi dibalik punggung Dirgan ketakutan.


Dirgan terlonjak kaget sampai dia menjatuhkan nampan menatap kesal Atma.


Aray menyerngitkan dahi ketika salah seorang senior terus saja memanggil nama Atma dan memintanya pergi ke sana.


"Atma, bukankah dia yang menjadi kelinci percobaanmu?" Aray memastikan kembali. "Apa pil sekali coba milik Luffy berhasil?"


Atma menggeleng dan menjawab gugup, "s-sepertinya begitu. Aku tidak mau ke sana. Pasti senior itu akan bertanya dari mana aku mendapatkan pil penawarannya."


Aray tahu maksud Atma yang tidak mungkin mereka mengatakan bahwa Amdara lah yang telah meraciknya sendiri dengan sekali percobaan. Yang ada nanti mereka pasti akan mendapat masalah lebih rumit jika menjawab dengan jujur.


Hal ini harus dibicarakan terlebih dahulu dengan Amdara yang bersangkutan, tetapi bocah berambut putih itu entah berada di mana sekarang.


Inay berdecak kagum saat Amdara bisa meracik obat dan sekali coba berhasil. Dirinya merasa sudah ada perubahan yang terjadi pada kekuatan Amdara.


Rinai dan Nada memilih diam dan bersembunyi di belakang Inay dengan takut.


Jika pun mereka tidak mendekat, pasti para senior itu akan tersinggung. Ini juga tidak kalah berbahaya. Akhirnya Atma yang masih bersembunyi di belakang Dirgan terpaksa berjalan ke arah para senior itu bersama Dirgan, Aray, Inay, Rinai dan juga Nada.

__ADS_1


Senior itu tertawa dan memuji, "aku tidak menyangka pil yang kalian bawakan sungguh luar biasa."


Tidak ada jawaban dari kelompok kelas Satu C yang dibuat tegang. Senior itu kembali berbicara dengan nada yang seakan menjunjung mereka.


"Hei, santailah. Rasanya kurang pas jika kalian tidak duduk dan makan bersama."


Dirgan menggeleng dan menolak sopan, "maaf, Senior. Kami sudah memilih tempat duduk."


"Itu benar. Senior, apa hanya itu yang ingin kau katakan pada kami?" pertanyaan Dirgan memang cukup langsung ke inti.


Para senior itu jadi memutar malas menunggu teman mereka yang terlihat masih sabar.


"Ah, apa kalian merasa terganggu? Mn, sebenarnya aku ingin mengajak kalian makan bersama sebagai tanda terima kasih."


"Huhuhu. Untuk apa kau berterima kasih? Bukankah kami hanya membuatmu jadi dipermalukan?"


Sontak semua pandangan beralih ke bocah yang tiba-tiba menangis dan menunduk tanpa sadar ucapannya telah benar-benar menyinggung senior.


Aray menepuk dahi sendiri lupa mengingatkan Rinai agar tidak perlu ikut campur. Terlanjur sudah, sekarang tatapan senior itu juga berubah.


Dirgan tertawa masam, dan berkata gugup, "senior mohon jangan pikirkan perkataan teman kecil kami. Y-yah, sepertinya makanannya telah siap. Jadi kami permisi,"


Buru-buru Dirgan menarik tangan Aray yang juga bisa menarik napas lega karena Dirgan lebih sigap kali ini. Namun, baru lima langkah mereka dicegah.


"Baiklah. Langsung ke intinya saja. Dari mana kalian mendapatkan pil luar biasa itu?"


Pertanyaan yang ditakutkan akhirnya keluar juga. Ketegangan terjadi di antara Dirgan yang mencoba menahan gemetaran diri. Atma yang nyaris pingsan jika saja tidak langsung dicubit oleh Aray karena terlonjak kaget.


Inay menelan ludah susah payah. Keringat dingin mulai bermunculan di pelipis berharap si pembuat penawar cepat kembali dan membantu mereka.

__ADS_1


Dengan gugup, Aray dan Dirgan perlahan membalikkan tubuh dan saling pandang. Seolah dari mereka harus menjawab dengan benar-benar tidak akan menjerumuskan ke dalam masalah.


"Ah, senior. Mn, kami mendapatkannya dari ...."


Dirgan menggantung ucapannya tidak yakin dengan kalimat yang akan dia lanjut. Jelas terlihat wajah penasaran dari para senior yang menunggu jawaban.


Beberapa menit berlalu dengan Dirgan yang seolah tidak ingin melanjutkan kalimat lagi.


Sebuah seruan Inay membuat Dirgan, Aray serta yang lain segera menolehkan pandangan. Mendapati bocah berambut putih tengah berjalan santai di samping bocah laki-laki yang memiliki aura wibawa tinggi.


Dirgan segera berjalan ke arah Amdara yang kebingungan ketika teman-temannya menghampirinya dengan wajah pucat pasi seakan baru saja bertemu dengan hantu.


"Syukurlah kau datang tepat waktu."


"Luffy, kau dari mana saja? Kami nyaris tidak bisa berkutik karena senior itu."


Amdara menaikkan sebelah alis dan mengarahkan pandang ke tempat yang ditunjuk Inay. Di sana Amdara bisa melihat senior yang menjadi kelinci percobaan tengah menatap balik.


"Ada apa?" tanya Amdara bingung.


"Sebaiknya kau saja yang menjawabnya, Luffy."


Permintaan Dirgan yang tiba-tiba meminta Amdara pergi ke meja para senior membuat perasaan Amdara terkejut. Dia dengan santai berjalan, bahkan teman-temannya berdoa agar Amdara tidak akan membawa mereka dalam masalah kembali.


Beberapa saat Amdara terlihat menghela napas dan menjelaskan bahwa pil yang didapatnya membeli dari toko ilegal yang sekarang sudah berpindah tempat. Tentu saja para senior awalnya tidak yakin, tetapi jika dipikirkan lagi kualitas pil tersebut memang bagus. Sementara untuk biaya, Amdara menjawab mereka memiliki simpanan dan bekerja di toko tersebut.


Jantung Dirgan, Atma, Inay, Rinai, Nada, dan Aray nyaris melompat ketika salah seorang senior menggebrak meja sambil memelototi Amdara yang masih terlihat tenang.


Cakra sendiri yang awalnya berjalan di samping Amdara nampak mengerutkan dahi ketika teman-teman Amdara begitu ketakutan.

__ADS_1


Amdara menghampiri mereka setelah urusannya selesai nyaris setengah jam. Dia kemudian mengajak teman-temannya untuk segera mengambil makanan. Bunyi perut Atma sudah menjawab. Mereka akhirnya bisa menarik napas lega setelah Amdara menjelaskan apa yang dia katakan pada senior.


Setelah mengisi perut dan beristirahat sejenak. Waktu terasa berputar begitu cepat. Malam tiba dan acara pertandingan antar kelas akan segera dimulai kembali.


__ADS_2