Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
135 - Sebuah Kebanggaan


__ADS_3

Rinai si gadis cengeng, yang biasanya rambutnya terurai ke depan, sekarang rambutnya terlihat diikat menggunakan ikat rambut, dihiasi juga hiasan rambut bermotif bunga putih. Bahkan wajah yang biasanya terlihat pucat, sekarang bisa menampilkan senyuman manis.


Nada si gadis yang selalu tertawa cekikikan sambil membawa boneka seram, rambutnya kini berganti model. Dengan hiasan merah bercampur hitam bermotif kupu-kupu menempel pada bagian kiri rambut yang setengahnya lagi dibiarkan terurai panjang menjuntai sampai ke pinggang. Dia masih tetap membawa boneka seram, tapi wajahnya terlihat melebarkan senyuman.


Seorang Ketua Kelas Satu C, Dirgan menyanggul rambut seperti seorang anak bangsawan atau keluarga kekaisaran. Tubuh tinggi serta wajah tampannya nyaris membuat siapa pun akan mengatakan Dirgan sangat tampan dan juga akan menyangka Dirgan adalah bangsawan. Penampilannya yang mencolok ini membuat murid-murid perempuan membuka mata lebar, jantung mereka berdetak keras. Bahkan ada yang keceplosan menyerukan namanya dengan tambahan embel-embel 'tampan'.


Seruan itu membuat Dirgan mengepalkan tangan. Tatapan tegas ke depan. Atma, Aray, dan teman-teman yang lain nampak tersedak napas sendiri mendengar seruan barusan.


Atma mengedutkan sebelah mata. Dengan pedenya dia melibaskan poni rambut dengan penuh gaya. Gaya rambutnya pun terlihat berbeda, terlihat klimis dan hitam legam. Ikat rambut yang diikat didahi serta rambut yang ikat ke belakang, gaya rambut baru. Wajah bersih, serta ukiran wajahnya yang sedikit berbeda dari kebanyakan itu menambah kepercayaan diri Atma. Apalagi saat dia tersenyum ke arah murid-murid, entah itu laki-laki atau perempuan.


Histeris! Murid perempuan sampai menyentuh dada mereka saking tidak menyangkanya dengan perubahan gaya rambut Atma. Padahal biasanya mereka merasa mual ketika melihat Atma yang tebar pesona, entah mengapa malam ini mereka membuka lebar mata melihat ketampanan Atma. Sementara murid laki-laki bergidik ngeri melihat senyuman Atma ke arah mereka.


Penampilan Aray yang memiliki rambut pendek dan bergaya poni ke samping kanan dan kiri, merupakan gaya rambut baru yang pertama kali dibuat oleh Atma. Aura yang keluar dari Aray begitu besar, sampai murid-murid yang merasakan aura tersebut merasa Aray seperti seorang yang kuat. Tatapan mata tajam serta menegakkan kepala ke depan tanpa menghiraukan orang lain yang sedang menyerukan nama-nama temannya.


Yang paling mencolok dari kelompok kelas Satu C adalah Inay. Dia mengikat rambut di sebelah kanan tinggi menggunakan ikat rambut pita ungu muda, lalu rambut samping kanan dan kiri dibuat kepang kecil yang dibiarkan menjuntai. Inay menggunakan hiasan rambut bulat yang menyala ungu muda dipakaikan pada sisa rambut yang terurai ke belakang. Tidak hanya sampai sana, Inay mengenakan kain ungu muda bermotif akar menjalar yang dipakai di leher.


Begitu percaya dirinya dia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Tentu saja Inay sangat senang karena mendapat sambutan meriah. Seolah Inay sedang menjadi seorang aktris.


Seorang bocah berambut putih terurai panjang, dikepangnya rambut samping kanan dan kiri yang kemudian diikat ke belakang dihiasi jepit rambut motif bunga anggrek, lalu ikat rambut miliknya diikatkan pada jepit rambut tersebut hingga menjuntai ke bawah. Mata birunya terlihat dingin, tegas, menatap ke depan tanpa mengalihkan pandangan ke sekitar. Dia adalah Amdara yang susah payah didandani rambutnya oleh Atma dan Inay akhirnya pasrah dengan gaya rambut ini. Padahal Amdara tidak terlalu menyukai gaya rambut terurai, menurutnya lebih nyaman diikat karena ketika sedang bertarung tidak menggangu penglihatannya.


Wajah putih bersihnya entah mengapa kali ini terlihat berbeda. Ada aura wibawa yang terasa oleh murid-murid sekitar. Entah mereka yang baru menyadari keindahan wajah Amdara sampai membuat mereka terperangah melihatnya.


Mereka menggunakan jubah khas kelompok kelas Satu C yang pernah dibelikan oleh Guru Aneh sebelumnya. Walaupun kualitasnya tidak bagus, tapi mereka masih terlihat keren karena wajah-wajah bocah itu memiliki ciri khas tersendiri.


"Bukankah penampilan mereka cukup berlebihan?"


"Apanya yang berlebihan? Mereka jadi terlihat keren dengan tampilan baru!"


"Aiya, aku baru sadar jika Dirgan sangat tampan ...!"


Banyak murid yang memberikan pendapat. Dari mereka ada yang menyukai, ada juga yang tidak segan-segan mengatakan hal yang tidak baik pada kelompok kelas Satu C yang kini berdiri di hadapan para Tetua. Suara tepuk tangan semakin meriah, memicu kegaduhan.


Tetua Haki dan yang lain juga tersentak melihat perubahan penampilan pada bocah-bocah ini. Tetua Haki tersenyum, lalu mengucapkan selamat kepada mereka.


"Aku ucapkan selamat atas keberhasilan pertama ini. Jadilah murid-murid yang hebat kelak agar bisa membawa nama baik Akademi."


Para Tetua bertepuk tangan bangga. Lalu tujuh benda pusaka menengah yang merupakan hadiah untuk sang juara pertama dilayangkan, tepat kepada satu persatu sang juara. Senjata pusaka tingkat menengah pertama yaitu Busur Es dilayangkan dihadapan Rinai yang langsung menengadahkan tangan. Busur tersebut berwarna putih, tapi ketika disentuh Rinai, busur tersebut langsung berubah warna menjadi biru.


Tetua Haki tersentak, dia memerhatikan Busur Es dan Rinai secara bergantian. Rinai tidak memperhatikan raut wajah Tetua Haki yang sedikit berubah.


Selanjutnya adalah Senjata Lotus berwarna merah muda dan hijau dilayangkan kepada Nada yang tertawa cekikikan. Sungguh hal tidak disangka dia bisa mendapatkan benda pusaka menengah yang luar biasa ini. Senjata Lotus itu melayang memutari Nada, sebelum akhirnya mendarat di telapak tangan Nada yang lalu mengucapkan terima kasih kepada Tetua Haki.

__ADS_1


Tatapan mata Dirgan tertuju pada sebuah tongkat, dalam hati kecilnya dia ingin mendapatkan tongkat tersebut. Tiba-tiba saja Tongkat Pusaka yang ingin dimiliki Dirgan mengeluarkan cahaya emas, Tetua Haki sampai dibuat terkejut. Senjata pusaka tersebut melesat mengelilingi Dirgan, lalu berhenti di depan Dirgan yang tidak menyadari jika senjata tersebut melayang sendiri menghampiri. Dirgan memegang Tongkat Pusaka, ada perasaan aneh yang mengalir ke dalam tubuhnya. Setelahnya ketua kelas itu memberikan hormat kepada Tetua Haki.


Sebuah Periuk Pusaka berwarna putih, besar dan memiliki ukiran petir membuat Atma terpesona. Bayang-bayang mengenai dirinya yang bisa menggunakan periuk tersebut untuk membuat obat-obatan membuat Atma tersenyum. Tetua Haki yang melihat tatapan mata itu menggelengkan kepala sambil tersenyum, tangannya terulur lalu Periuk Pusaka melayang di depan Atma.


Saking terkejutnya, Atma sampai memeluk periuk tersebut bahkan sampai menciumi. Tindakannya ini membuat semua orang yang melihat berkedip. Suara Atma yang seolah sangat mencintai Periuk Pusaka membuat teman-temannya menepuk dahi.


Pusaka selanjutnya adalah Kapak Phoenix, Tetua Haki melayangkannya di depan Aray yang terdiam. Menatap Kapak Phoenix lalu beralih ke teman-temannya yang mengangguk setuju. Senyuman simpul terukir di wajahnya, kemudian dia mengambil Kapak Phoenix tersebut dengan senang hati.


Inay sudah tidak sabar mendapat benda pusaka selanjutnya. Dia tidak keberatan melihat benda pusaka teman-temannya yang mendapat pusaka bagus. Menurut Inay, benda pusaka apa-pun akan sama dan bahkan bisa lebih kuat dari yang lainnya jika dirinya bisa menggunakan dengan benar dan baik.


Pusaka Teratai Penghisap Energi Murni merupakan pusaka yang dapat digunakan untuk menghisap energi murni atau alam sekitar untuk si pengguna. Tentu ini pusaka yang tidak kalah keren dengan pusaka lain.


Pusaka terakhir diberikan kepada Amdara, dia terdiam menatap seluring warna putih. Ada aura agung yang dirasakan Amdara. Amdara menengadahkan tangan, seluring tersebut tergeletak di atas tangannya. Seluring Ketenangan ini jika dimainkan, maka akan memunculkan nada-nada ketenangan dan tentu saja memiliki kekuatan di dalamnya.


Tepuk tangan dan sorakan dari penonton semakin meriah. Bahkan ada yang sengaja melesatkan kembang api ke atas langit malam. Suasana yang meriah tersebut belum surut. Setelah penerimaan hadiah untuk sang juara pertama, kini juara kedua dipanggil.


Tetua Wan menyebut kelompok kelas Tiga Atas sebagai pemenang kedua. Satu kelompok tersebut terlihat senang, sementara kelompok lain terlihat menghela napas kesal karena tidak memenangkan juara.


Kelompok kelas Satu C kembali ke tempat mereka dengan kebanggaan pada diri sendiri.


"Baiklah, sebelum kalian membubarkan diri. Aku ingin mengumumkan satu hal lagi. Akan ada tiga anak yang akan mengikuti Turnamen Magic Muda tiga tahun lagi. Anak-anak ini tentunya telah kami pilih secara matang, dilihat dari segi kekuatan dan kecerdikannya."


Tetua Haki mengedarkan pandangan, lalu dengan senyuman dia kembali berbicara.


"Jadi aku harap siapa pun yang kusebut nantinya tidak menolak karena ada pelatihan berat serta beban yang harus dipikul dengan penuh tanggung jawab. Tiga anak ini adalah Shi dari kelas Tiga Atas, lalu Cakra dari kelas Tiga Unggulan dan yang terakhir adalah Luffy dari kelas Satu C."


Seketika suasana jadi riuh. Mereka bertepuk tangan sedikit kecewa karena tidak terpilih menjadi perwakilan Akademi untuk mengikuti Turnamen Magic Akademi Awan Langit.


Amdara yang terdiam detik saat Tetua Haki menyebut namanya. Dia menatap Tetua Haki dengan perasaan terkejut bukan main.


Teman-temannya menatap Amdara dalam. Ada raut tidak percaya karena pemikiran mereka mengenai para senior yang mungkin jauh lebih kuat. Tapi saat Dirgan pikir-pikir lagi, Amdara memiliki kekuatan yang bisa menghilangkan tubuh dan kekuatan besar. Tidak hanya itu, bahkan Amdara memiliki pemikiran tidak biasa.


"Luffy, kau terpilih! Kau akan menjadi perwakilan Akademi." Atma menatap kagum Amdara. Dia lalu berkata, "aih, aku sangat iri kepadamu."


"Selamat Luffy, seperti yang kau dengar. Tidak boleh ada penolakan dari murid. Walaupun beban ini besar, tapi aku yakin kau bisa!"


Kata Dirgan penuh keyakinan kepada Amdara sambil tersenyum bangga karena temannya ternyata bisa menjadi perwakilan Akademi di antara banyaknya murid senior yang kuat.


Nada cekikikan, dia berkata, "kau hebat sekali. Kha kha, sampai membuat Tetua mengakui kekuatanmu, Luffy."


"Huhuhu. Selamat, Luffy. Kau luar biasa dan aku sebagai temanmu merasa bangga. Huhuhu," ujar Rinai yang masih saja menggunakan nada menangis padahal tidak ada air mata yang mengalir setetes pun.

__ADS_1


Amdara masih diam, dia mengepalkan kedua tangan setelah menyimpan Seluring Ketenangan pada Cincin Ruang.


Aray mendekat, dia lalu menepuk bahu Amdara yang langsung tersadar dari lamunan. Aray tertawa, lalu mengatakan bahwa Amdara memang pantas menjadi perwakilan Akademi ini.


"Baguslah Tetua bisa melihat kemampuan sebenarnya darimu."


Amdara tidak merespon perkataan Aray barusan. Berbeda dengan teman-teman yang mendukung Amdara, Inay belum mengatakan apa-pun. Seolah dia menolak Amdara yang menjadi perwakilan Akademi.


Dalam hati Inay membatin, "tidak. Jika Luffy mengikuti Turnamen ini, maka akan bertambah kesulitan menjalankan misi dari Tetua. Dan lagi, ini bukan bagian dari misi. Jadi untuk apa Luffy mengikuti turnamen?"


Bersamaan Inay yang menatap Amdara juga menatapnya seolah meminta pendapat.


Suara Tetua Haki yang menyelesaikan ucapan, para murid segera bubar dan beristirahat. Tapi ada juga yang memilih melakukan hal lain. Mereka juga berbisik-bisik mengenai murid dari kelas Satu C yang terpilih.


Dirgan mengajak teman-temannya untuk istirahat. Untuk malam ini adalah malam yang begitu menyenangkan bagi mereka. Mendapat benda pusaka, tentu saja harus dilatih dengan baik.


Seseorang mendarat di hadapan kelompok kelas Satu C, dia adalah Guru Aneh yang tidak pernah melepas topeng rubah. Raut wajah Guru Aneh tidak terlihat, tapi dari ucapannya mengandung makna bahwa dia sangat bangga menjadi guru bocah-bocah ini.


"Selamat atas kemenangan yang kalian raih. Ini sungguh keajaiban yang tidak disangka-sangka. Aku bangga kepada kalian semua. Dan juga selamat untukmu, Luffy."


Mendengar kalimat itu membuat Atma yang merasa tersentuh langsung memeluk Guru Aneh erat. Tindakannya mengejutkan Amdara dan yang lain termasuk Guru Aneh sendiri.


"Hua ...! Guru, apa kau sungguh bangga kepada kami ...?"


Detik itu juga Atma menangis. Guru Aneh berkedip, sebelum dia akhirnya tersenyum sambil mengelus kepala Atma.


Guru Aneh berkata, "tentu saja. Kalian sudah kuanggap seperti anak sendiri. Melihat kemajuan besar ini membuatku sangat bangga."


Atma bertambah kencang menangis. Hal itu tentu saja membuat teman-teman dan juga Guru Aneh tersentak.


Rinai dan Nada tiba-tiba mendekat, mata kedua bocah itu sudah membendung air mata. Tanpa diduga, Rinai dan Nada juga memeluk Guru Aneh sambil menangis. Hanya saja tangisan kedua bocah itu masih kalah dengan suara Atma. Sampai-sampai orang-orang yang melihatnya berkedip sambil menggelengkan kepala. Tingkah Atma, Rinai, dan Nada menarik beberapa perhatian murid-murid yang sedang berjalan.


Dirgan berdehem, sebenarnya dia merasa sangat senang sekaligus terharu dengan perkataan Guru Aneh. Tapi untuk menjaga wibawa, Dirgan hanya mengucapkan terima kasih kepada Guru Aneh yang selama ini telah mendidik mereka dengan kesabaran.


Aray sendiri malah memalingkan wajah. Dia tidak ingin terlihat lemah, walaupun sebenarnya matanya sudah menggenangkan air.


Inay tersenyum tipis melihat teman-temannya. Dia menghembuskan napas, merasa senang dengan ucapan Guru Aneh.


Begitu pula dengan Amdara yang tersenyum, tapi pikirannya sedang memikirkan cara agar bisa menolak menjadi perwakilan Akademi.


"Hei, sudahlah. Jangan menangis terus. Atma, kau ini laki-laki, kenapa menangis di depan umum? Haih, sudah berhentilah. Lihat, hidungmu sampai mengeluarkan lendir."

__ADS_1


__ADS_2