Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
147 - Tabir


__ADS_3

Di Akademi Magic Awan Langit, sekelompok bocah dengan perubahan pada gaya rambut menarik banyak murid. Bahkan salah satu dari mereka ada yang melibaskan rambut di hadapan murid laki-laki, padahal dia juga laki-laki. Kejadian itu membuat murid laki-laki lain nyaris muntah melihatnya. Sementara sang tersangka malah tertawa sambil berjalan santai.


Kelima temannya hanya menggelengkan kepala. Mereka adalah Atma, Dirgan, Aray, Inay, Rinai, dan Nada yang tidak lagi merasa benar-benar dipandang remeh. Bahkan salah seorang murid lain sekarang sudah ada yang menyapa. Perubahan pada diri mereka juga nampak, walau Dirgan, Atma, dan Rinai belum bisa mengaktifkan kekuatan, tapi ketiganya yakin tidak lama lagi bisa mengaktifkan kekuatan.


Perasaan mereka sebenarnya tidak benar-benar senang, karena Amdara yang tidak bersama mereka dalam jangka waktu lama. Apalagi mereka juga kesal karena Amdara sama sekali tidak berpamitan. Yang paling kesal di antara yang lain adalah Inay. Sejak menemukan kertas pesan dari adik seperguruannya, Inay langsung merobok kertas itu setelah membacanya. Dia bahkan terus mengomel karena Amdara yang tidak membangunkannya ketika hendak pergi.


Inay menghela napas panjang. Dia tidak memedulikan perhatian di sekitar. Satu minggu tidak bertemu dengan bocah berambut putih itu ternyata cukup berefek membuat Inay merasa kehilangan sosoknya. Setelah kepergian Amdara, Inay sudah berusaha mencari Senior Fans, tapi dia tidak menemukannya. Ketika bertanya kepada Tetua Widya, katanya 'Pamannya Luffy' sudah kembali. Inay jelas bertambah kesal, dia tidak tahu tujuan Senior Fans menyetujui. Tapi yang pasti Inay saat ini sangat ingin bertemu dengan Senior Fans.


Dirgan yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Inay mengerutkan dahi. Dirinya menyenggol lengan Atma yang langsung kebingungan. Dirgan menunjuk menggunakan dahu, sontak Atma mengerti apa yang dimaksud Ketua Kelas Satu C ini.


"Hei, Inay. Coba tunjukkan senyuman jelekmu kepada orang-orang sekitar."


Perkataan Atma tidak membuat Inay tergugu. Dia malah mengabaikan ucapan Atma seperti angin lewat. Padahal Atma baru saja mengatakan 'jelek', tapi Inay tidak bertindak.


Atma dan Dirgan yang melihatnya berkedip. Saling pandang sebelum akhirnya menghela napas panjang. Atma mendekati Inay, dengan cengiran bodoh yang hanya dilirik sekilas oleh lawan bicara.


"Aku barusan mengataimu jelek, kenapa kau tidak marah? Hei, kau yang biasanya cerewet tidak mau diam. Sekarang malah menjadi hemat bicara seperti ini sungguh tidak baik, kawan." Atma mendengus ketika Inay tidak menanggapi sama sekali. Atma lantas berujar, "sikapmu malah mengingatkan kami kepada Luffy."


Seketika Inay menghentikan langkah. Teman-teman yang lain dibuat bingung karena sedari tadi kurang memerhatikan terkecuali Dirgan.


"Padahal kami berusaha baik-baik saja tanpa kehadiran Luffy. Kami juga merasakan kehilangan seperti yang kau rasakan." Atma menatap Inay yang juga balik menatap tanpa ekspresi.


Perkataan Atma memang tidaklah bohong. Dalam hati mereka saat ini sedang menahan rindu, padahal baru seminggu tidak bertemu. Mereka sedang memendam kekhawatiran karena berpikir pelatihan yang akan diterima temen mereka akan sangat sulit.


Inay tanpa nada buka suara, "kehilangan? Hmph, apa kalian benar merasakan kehilangan Luffy?"


Atma berkedip dengan perkataan Inay yang seolah tidak mempercayai mereka. Atma mendengus kesal, dia berucap sedikit sinis, "apa maksudmu? Tentu kami merasa kehilangan sosok seperti Luffy."


"Huhuhu. Itu benar. Kami merindukan Luffy, padahal kita belum lama menjadi teman. Huhuhu." Rinai menambah. Dia tersedu-sedu sambil menatap sendu Inay yang malah menaikkan sebelah alisnya.


"Kha kha. Luffy sudah banyak membantuku. Kha kha, dia adalah teman yang luar biasa. Satu Minggu tidak bertemu, aku merasakan kehilangan."


Kata Nada sambil tertawa cekikikan. Dirinya masih tetap memeluk boneka kesayangan dengan erat. Tatapan matanya sedikit menurun, menandakan dia sedang sedih.


Dirgan menarik napas dalam. Jujur saja, dia juga merasakan kehilangan sosok teman kecil mereka yang selalu melindungi dan tidak membeda-bedakan orang lain. Teringat pertama kali Dirgan yang ditolong bocah berambut putih, dan membela. Padahal keduanya sama sekali tidak saling mengenal.


Dirgan membuka mulut, dia menatap Inay dan berujar tenang, "Luffy sudah seperti teman yang melindungi dan juga dia anak yang sangat baik. Jika boleh jujur, aku tidak setuju Luffy mendapatkan pelatihan khusus dan pergi jauh dari kita. Tapi saat aku berpikir kembali, semua yang didapat Luffy memang baik dan dia pantas mendapatkannya."

__ADS_1


Atma, Rinai, dan Nada mengangguk menyetujui. Mereka menarik napas dalam. Bayang-bayang Amdara yang selama ini melindungi mereka selalu hadir.


Aray yang sejak tadi mendengarkan dibuat berkedip mendengar penuturan teman-temannya. Dia mendengus kesal dan berkata dengan sedikit menaikkan intonasi nada, "tsk. Kalian ini apa-apaan? Luffy belum mati. Kenapa harus merasa kehilangan?! Dengar, bocah itu pasti akan kembali. Jadi kalian tidak perlu terlalu mendramatisir, mengerti?!"


Dirgan, Atma, Rinai dan juga Nada berkedip mendengar Aray yang langsung buka suara. Nadanya jelas terdengar sangat kesal. Berbeda dengan Inay yang masih diam tiba-tiba buka mulut dan mengatakan sesuatu yang membuat teman-temannya terkejut.


"Jadi kalian merasa kehilangan Luffy karena kalian sudah menganggap dia sebagai penyelamat dan juga pelindung?" Inay tersenyum miring. Melihat ekspresi teman-temannya sepertinya dia menebak dengan tepat sasaran. Inay kemudian mengatakan suatu hal yang langsung membuat teman-temannya tersedak napas sendiri.


"Itu bukan kehilangan seorang teman. Tapi kalian kehilangan pelindung yang biasanya melindungi di saat kalian dalam masalah. Mendengar pendapat kalian, aku berpikir bahwa kalian tidak pernah menganggap Luffy seorang teman melainkan seseorang yang kalian manfaatkan kekuatan untuk melindungi dan kecerdikan Luffy untuk menutupi kesalahan kalian."


Inay tertawa kecil. Dia mendekat ke arah Atma lalu menepuk pelan bau Atma yang langsung tersentak.


"Apa tebakanku benar, Atma? Jika bukan karena Luffy, kalian sudah dib*li oleh Senior Bena dan juga yang lain hingga detik ini. Dan jika bukan karena kecerdikan Luffy, kesalahanmu membuat ramuan aneh itu. Maka kau sekarang sudah mendapatkan hukuman berat dan sudah dikeluarkan dari Akademi."


Tubuh Atma menegang, dia menatap Inay tak percaya. Apa-apaan dengan ucapan barusan? Inay mengungkit-ungkit masalah yang sudah berlalu. Ada apa dengan Inay yang tiba-tiba berubah sikap setelah kepergian Amdara? Bukankah mereka adalah teman yang memang saling bantu? Kenapa Inay mengatakan semua itu seolah selama ini dia tidak memberikan pendapat untuk kesempatan yang memang ccocok. Semua pertanyaan di kepala Atma itu masih berputar-putar mencari jawaban.


Dirgan, Aray, dan kedua teman perempuannya juga masih terkejut dengan perkataan Inay barusan. Mereka dibuat bungkam tidak bisa mengatakan sepatah kata. Kata-kata Inay terlebih dahulu menusuk hati yang membuat bibir sulit berkata.


Masih dengan senyuman tipis, Inay menggelengkan kepala. Dia berjalan mendekati Dirgan yang bergeming di tempat.


Inay menurunkan tangan. Dia kemudian berjalan pelan mengelilingi Dirgan. Inay mengatakan suatu hal lagi yang sejak lama dia pendam karena keberadaan Amdara.


"Diselamatkan oleh murid baru, yang bahkan rela bertarung dengan senior. Hanya untuk apa?" Inay menghentikan langkah tepat di belakang Dirgan. Dirinya meletakkan kedua tangan di belakang sambil menggelengkan kepala teringat Amdara yang mati-matian untuk mendapatkan kemenangan. Inay berucap, "untuk membawa perubahan pada kalian. Agar kalian tidak lagi mendapat cac**n dari murid lain. Sementara Ketua Kelas sendiri tidak mampu melakukannya."


Dirgan mengepalkan tangan ketika mendengar kata demi kata yang terluncur dari Inay. Rahangnya mengeras, semua ucapan Inay memang ada yang benar. Tapi menurut Dirgan, Inay melebih-lebihkan cerita.


Masih dalam kebungkaman teman-temannya, Inay berjalan mendekati Aray yang menatapnya seolah ingin memakan hidup-hidup tapi belum bisa membuka mulut. Inay tertawa kecil melihat ekspresi Aray, dirinya mendekat.


"Kau ingat perkataan Guru? Jika bukan karena bantuan Luffy, kau mungkin tidak bisa seperti sekarang."


Saat itu juga tatapan mata Aray lebih tajam dari sebelumnya. Tangannya sudah terkepal sejak tadi, kekuatan hitam terkumpul di kepalan tangan hendak dilesatkan. Namun, dia urungkan ketika Inay kembali buka suara.


"Luffy itu ... di matamu hanya anak baik yang bisa kau manfaatkan, bukan?"


"Tidak! Apa maksudmu sedari tadi mengatakan kami memanfaatkan Luffy, hah?!"


"Oh, bukankah apa yang aku katakan adalah kebenaran? Kenapa kau marah? Apa yang aku katakan ini adalah pemikiran terpendam kalian yang sekarang aku kuak?"

__ADS_1


Rasanya Aray ingin sekali mengatakan sumpah serapah. Perkataan Inay benar-benar pedas di telinganya. Karena teriakan Aray barusan, beberapa murid memerhatikan mereka secara teliti. Aray tidak ingin bertindak bodoh dengan menyerang seorang bocah perempuan. Apalagi di pandangan murid-murid lain, teman-temannya pasti nanti akan mendapatkan pandangan seperti dahulu.


"Itu tidak benar!"


Suara Nada langsung membuat Inay menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya. Nada terlihat tidak tertawa ataupun menampilkan senyuman, yang ada dia bertatapan dengan Inaay tanpa ekspresi.


Inay mendekati Nada sambil berdecih. Dirinya memiringkan sedikit kepala ke arah kanan lalu mengatakan, "mn? Lalu apa yang menurutmu benar, Nada? Kurasa ... andai waktu itu kekuatanmu tidak aktif secara mendadak, kemudian Luffy tidak memberimu arahan, apa kau yakin masih bisa hidup?"


Nada membuka mata lebar mendengar penuturan Inay. Dirinya jelas sangat terkejut. Rinai, Atma, Dirgan, dan Aray bahkan sampai mulai tidak terima dengan ucapan Inay. Kemarahan mereka nampak terpampang di wajah.


Ucapan Inay sudah sangat keterlaluan sekarang. Mereka tidak boleh membiarkan Inay terus mengatakan sesuatu yang tidak benar.


"Inay, hentikan omong kosongmu!"


Dirgan sudah sangat kesal. Ketika Inay menoleh ke belakang, Dirgan dengan sikap tegas mengambil tindakan berjalan dan berkata, "kami menganggap Luffy sebagai teman sungguhan bukannya anak yang dimanfaatkan! Camkan ini baik-baik."


Tatapan tajam bak elang Dirgan sama sekali tidak membuat Inay gentar sama sekali. Dia malah membalas ucapan Dirgan, "camkan ini juga, Dirgan. Aku dan Luffy bukan orang sembarangan yang bisa kalian manfaatkan. Aku akan membuat Luffy sendiri yang berpikir kalian memang tidak pantas dijadikan teman seperjuangan."


Inay menepuk bahu Dirgan sambil melayang di udara sebelum melesat pergi. Dirgan mengatupkan bibir rapat. Dia menahan ucapan tidak pantas keluar dari mulut. Berbeda dengan Aray langsung mengutuk Inay karena perkataan omong kosongnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan bocah itu?! Omong kosong apa yang dikatakannya?!"


Aray dan teman-temannya melihat kepergian Inay yang sudah jauh entah menuju ke mana. Aray baru saja akan melesat mengejar, tapi tangannya dicekal oleh Atma. Atma menggelengkan kepala dan mengatakan mereka tidak boleh bertindak gegabah di saat seperti ini. Atma meminta teman-temannya untuk mendinginkan kepala, agar bisa berpikir jernih. Marah-marah pun rasanya akan sia-sia belaka sekarang.


Mereka masih tidak menyangka dengan segala hal yang diucapkan Inay barusan. Perasaan sakit karena ucapan Inay tentu saja akan membekas. Tapi mereka tidak mengatakan mengenai perasaan sekarang.


"Apa ini sifat asli Inay? Mungkin selama ini dia bersikap baik kepada kita karena ada Luffy?" Rinai memberikan pendapatnya. Walaupun dia tidak diberi kata-kata oleh Inay, tapi mendengar temannya sendiri dikatakan seperti itu membuatnya kesal.


"Aku tidak tahu. Tapi jika melihat tatapan mata Inay, ada kesedihan serta kemarahan yang dia sembunyikan."


Kata Atma yang langsung mendapat dengusan dari Aray yang langsung berucap, "kesedihan apanya? Matamu bermasalah, Atma."


Atma tidak menggubris ucapan Aray. Namun, Atma memiliki persepsi sendiri kepada Inay. Inay seperti sedang memikirkan banyak hal. Entah apa yang sudah membuatnya berubah.


"Semuanya berubah dalam sekejap. Kha kha. Apa Luffy juga memiliki sifat seperti Inay?" ujar Nada. Dia menarik napas dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan. Terngiang masih di kepalanya ucapan Inay.


"Yah, aku harap Luffy tidak berpikir seperti Inay." Dirgan mengembuskan napas panjang. Menatap langit-langit biru di atas sana. Jauh di hatinya, dia ingin membuktikan kepada Inay apa yang dikatakan adalah salah.

__ADS_1


__ADS_2