
Sontak Kawa menoleh ke arahnya. Tatapan datar itu terlihat jelas. Kawa belum menanggapi, tapi suara Ilan sudah terlebih dahulu terdengar.
"Apa? Kau masih terlalu muda, Luffy. Tidak. Biarkan aku saja."
Ilan dengan berani berkata, seolah ingin merasakan sendiri melawan musuh sekarang.
Amdara mendengkus. Dia ingin melawan Mitsu karena suatu alasan.
"Kekuatan tidak diukur lewat umur."
Mendengar perkataan Amdara, Ilan sampai dibuat berkedip dan berdecak karena teman barunya itu keras kepala.
"Tetap saja aku keberatan. Kau pasti belum banyak memiliki pengalaman bertarung. Walau kekuatanmu berada di atasku, bertarung tanpa pengalaman itu sama saja bohong!"
"Jangan remehkan aku." Amdara menatap dingin Ilan sampai lawan bicara dibuat bungkam dan merasakan hawa berbeda. Amdara kembali berbicara, "Kak Kawa dan laki-laki itu seperti sudah saling mengenal."
Kawa tersentak mendengarnya. Tapi dia tidak buka suara, sampai Amdara mengangguk seolah mengerti sesuatu.
"Jika kalian sudah pernah bertarung, pasti lawan sudah mengetahui celahmu. Biar kau bertarung sekarang, aku yakin kau akan mengalahkan lawan. Sementara orang yang kau sebut Mitsu aku yang akan menangani."
Amdara berucap tanpa menarik napas. Ucapannya dicerna baik oleh Kawa.
"Kau yakin?"
Anggukan lawan bicara membuat Kawa menghembuskan napas. "Aku tidak berpikir ini sebelumnya, tapi baiklah."
Kawa mengangguk dan pergi ke area. Kedatangannya di area membuat Mitsu menyerngitkan dahi bingung di sana.
Ilan dan kawan-kawan memandang Amdara, mulai berbeda. Merasakan aura sedikit aura mengerikan di tubuh gadis muda itu. Sampai-sampai mereka tanpa sadar menahan napas.
"Apa kau memiliki rencana?"
Gaku bertanya yang membuat Amdara menoleh. Dirinya tersenyum tipis, tanpa diketahui siapa pun. Mengangguk sebagai jawaban.
"Kalian persiapkan kekuatan untuk pertandingan kelompok. Kita tidak akan mengandalkan kekuatan saja, melainkan kerja sama." Amdara kembali menjelaskan tanpa diminta. "Tapi, jangan keluarkan jurus pamungkas masing-masing."
"Apa? Tapi kenapa?"
"Itu kesalahan. Jurus pamungkas kalian hanya akan diperuntukkan di Turnamen."
Mereka mulai mengerti. Jika mengeluarkan jurus pamungkas, yang ada mereka sudah membocorkan kekuatan asli di hadapan lawan.
Amdara juga mengatakan sebuah rencana kecil yang akan menjadi jurus baru bagi kelompok mereka nanti. Kalimat demi kalimat yang keluar dari bibirnya kembali membuat teman-teman tersentak. Antara kagum dan tidak percaya dengan rencana yang telah dibuat matang. Bahkan Amdara menjelaskan secara rinci, walau belum mengetahui kekuatan apa yang tersimpan dalam diri mereka.
"Apa dia sebenarnya Nenek Tua yang menyamar jadi anak muda?" Ilan mulai membatin sendiri. Dia mendengarkan dengan baik ucapan gadis berambut coklat itu.
"Aku tidak menyangka dia memiliki pemikiran dewasa." Phillomel juga membatin. Dia masih terus mengobati Jogu yang sedari tadi diam karena masih lemas.
Sementara itu, di area pertandingan Kawa dan seorang laki-laki berkulit gelap sudah mulai bertarung sengit.
Kawa dengan keahlian mengelak cukup membuat lawan mulai kesal. Lawan mengeluarkan kekuatan dan jurus secara serentak dalam jumlah besar. Nyaris Kawa sulit menghindar, tapi dia langsung membuat serangan balik ketika lawan baru saja melepas serangan.
Lawan yang telat merespon menghantam tanah keras. Walau dia berkekuatan besar, tampaknya dia masih belum menguasai teknik kepekaan sekitar. Itu adalah kesalahan fatal bagi petarung.
Bagi petarung hal yang harus diperhatikan bukan hanya kesempurnaan jurus, melainkan kecepatan, ketangkasan, kegesitan, dan kepekaan tidak kalah penting. Mereka juga harus memperhatikan celah kelemahan pada musuh, walau kemungkinannya sulit karena membutuhkan konsentrasi tinggi, sementara diri harus tetap waspada terhadap serangan lawan.
Kekuatan Kawa jelas besar, tapi lawan juga tidak kalah besar. Sekali Kawa terkena serangan lawan, dua kali dia akan membalasnya secara beruntun.
__ADS_1
Akar menjalar keluar dari tubuh Kawa, dia melesatkan serangan ke arah lawan. Yang mencoba menghindar sebisanya.
Dalam pertarungan, Kawa terus memikirkan Amdara yang dengan yakin akan melawan Mitsu.
"Aku tahu kekuatan Mitsu sangat besar. Aku pernah melawannya, dan kalah setelah kekuatanku benar-benar habis. Sementara Mitsu ... dia seolah tidak kelelahan. Dan dia memiliki regenerasi tubuh hebat. Apa Luffy bisa mengalahkannya?"
Kawa menghindar ketika lawan melepas kekuatan dan berhasil memotong akarnya. Kawa masih saja membatin sambil menyerang musuh.
"Aku tidak tahu kekuatan asli gadis itu. Tapi aura aneh yang keluar membuatku sedikit gentar saat berada di sisinya."
Blaaar!
Kembali ledakan dan hantaman keras terdengar memekakan telinga. Walau sudah ada perisai pelindung, tapi suara itu masih terdengar.
Akibat suara itu, beberapa murid Akademi Nirwana Bumi mulai berdatangan. Menyaksikan pertarungan sengit di area sana.
Seseorang yang mengenal Kawa sampai dibuat terkejut. Tidak menyangka Kawa akan kembali ke Akademi dan sekarang sedang melawan murid Akademi Nirwana Bumi dengan ganas, tetapi juga tenang.
Melihat temannya baru saja menghantam tanah, Mitsu mengepalkan tangan. Tatapannya tajam mengarah ke Kawa.
"Dia akan menang jika melawan si gelap itu. Sialan. Apa maksudnya dia tidak bertarung denganku? Lalu siapa yang akan menjadi lawan ku."
Mitsu mengarahkan pandangan ke teman-teman Kawa. Dia tahu si kulit gelap yang tengah bertarung tidak lama lagi akan kalah. Pandangannya mengarah ke gadis muda bercadar dengan rambut coklat terikat.
Alisnya terangkat. Dia bergumam, "gadis itu ... hmph. Sangat naif."
Senyuman simpul dia keluarkan. Tanpa memperhatikan area pertandingan lagi, dan tidak menghiraukan ucapan yang lain ketika berdecak melihat Kawa menggunakan kekuatan besar melawan teman mereka.
"Mari kita lihat seberapa besar kemampuanmu."
*
*
*
"Benar-benar menyebalkan. Hmph!"
Rambut merah tuanya tergerai begitu saja. Gadis itu berumur kisaran 17 tahunan. Dengan sekali menghentakkan kaki, dirinya duduk bersila sambil menyilangkan kedua tangan depan dada. Tatapan kesalnya masih tertuju pada Ian dan ketiga kawan.
Ian juga duduk di depan meja, begitu pula dengan yang lain.
"Kau tahu sendiri kondisi kami,'' kata Ian dengan tenang. Terlihat jelas jika gadis itu memang kenalannya.
Gadis itu memalingkan wajah sambil mengerucutkan bibir. Hal tersebut membuat teman Ian tertawa.
"Sudah lama, tapi kau sama sekali tidak berubah, Arlet." Tawanya malah membuat Arlet membulatkan mata tajam ke arahnya.
"Kau juga sama! Sama-sama tidak berubah Enric!"
"Tidak, tuh. Aku sudah berubah. Tidak sepertimu yang masih pemarah."
"Apa katamu?! Aku sama sekali bukan pemarah! Kau lah yang pemarah, sampai-sampai membuatku ingin menghilangkan hidung pesekmu!!"
Rambut merah Arlet berdiri secara serentak. Mata beningnya yang kesal menatap Enric. Ekspresi Arlet membuat Enric malah semakin tertawa kencang.
"Lihatlah, rambutmu bahkan sampai terbang begitu. Ha ha ha."
__ADS_1
Enric menepuk-nepuk paha teman sebelahnya yang juga tertawa. Tawa mereka seolah menandakan mereka memang sedekat itu dan toko ini membuat nyaman. Tidak seperti saat mereka berjalan ke sini, hanya ada ekspresi datar.
Ian hanya tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka.
Suasana misterius saat memasuki toko kini benar-benar berubah menghangat. Apalagi sikap Enric dan Arlet yang mencairkan suasana.
Arlet mengeluarkan rambut panjang dari telapak tangannya. Hendak melilit tubuh Enric, tapi dengan cepat Enric menggulingkan tubuh dan menangkis rambut itu menggunakan cahaya abu-abu kehitaman.
Arlet yang semakin kesal berdiri, menggunakan kedua tangan untuk melakukan serangan.
"Kalian berdua memang tidak berubah. Lihatlah tingkah kalian, itu mengingatkanku pada saat pertama kali kalian dipertemukan."
Perkataan Ian menohok Arlet dan Enric yang terdiam. Mengingat pertama kali keduanya bertemu.
Arlet menarik tangan, tidak ingin mengingat. Dia duduk dengan kesal.
"Lupakan hal memalukan itu. Cepat katakan ada apa kalian datang kemari?" Arlet berubah serius.
Ian menarik napas dalam. Dia dan ketiga temannya memang memiliki tujuan datang kemari.
"Kami ingin bertemu Aki. Ada sesuatu yang ingin dikatakan." Ian memulai pembicaraan inti. "Entah dia akan percaya atau tidak. Tapi, setidaknya aku akan mengatakannya."
Helaan napasnya membuat Arlet menaikkan sebelah alis. Enric juga langsung duduk di samping Ian, raut wajahnya terlihat serius.
"Apa yang terjadi?" Arlet bertanya.
Ian memandang Arlet sesaat. Ingatan Raja Roh Hitam yang muncul dan seorang bocah pengendali jiwa.
"Apa kau percaya ada manusia yang mengendalikan Roh Hitam?" pertanyaan pertama terluncur dari bibir Ian.
"Apa? Itu mustahil! Tidak pernah dalam sejarah hal seperti itu. Aku tidak percaya!"
Ian mengangguk, tahu reaksi lawan bicara. Dia kembali berkata, "sejarahnya baru dimulai sebulan lalu."
Arlet menelan ludah susah payah mendengar ucapan subjek di depan. Dia tidak ingin percaya, tapi Ian sangat sulit berbohong.
"Raja Roh Hitam yang Lima Belas Bintang Malam biasa lawan di kota. Malam itu, entah kebetulan atau takdir. Seseorang datang, menolong kami bocah pengemis. Penyerangan Raja Roh Hitam kembali muncul saat itu. Kami melawan seperti biasa."
Ian mengepalkan kedua tangan. Teringat jelas seorang bocah berambut putih yang melakukan hal tak terduga.
"Sampai suara ... Irama Ketenangan terdengar. Para Raja Roh Hitam tiba-tiba berhenti menyerang dan terduduk dihadapan gadis kecil yang dengan tenang memainkan seluring."
Terjadi jeda beberapa saat. Napas Arlet mulai naik turun mendengar cerita. Keringat dingin mulai muncul di telapak tangan.
"Apa seluring itu yang tiga belas ribu tahun lalu dicari-cari?"
Anggukan Ian sungguh membuat syok gadis berambut merah itu.
"Yang kutahu seluring itu hanya bisa mengendalikan jiwa binatang. Dan jika memiliki keahlian, bisa mengendalikan pikiran manusia. Tidak ada yang mengatakan bisa mengendalikan Roh Hitam!"
Arlet memijat-mijat kening. Kedatangan mereka malah membuat kepalanya terasa pening mendengar kabar ini.
Arlet menghentikan aktivitas. Terdiam, dia menatap Ian yang juga memandang dan lalu mengangguk.
"Kecuali dia ada kaitannya dengan Roh Hitam?"
"Mn. Itu baru dugaan. Tapi kenyataan gadis itu bisa mengendalikan Raja Roh Hitam benar."
__ADS_1
"Siapa gadis itu?"
"Dia bernama ... Luffy."