Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
197 - Pengendali Jiwa Makhluk II


__ADS_3

Amdara terperanjat kaget saat Seluring Putih yang tiba-tiba muncul dan mengeluarkan cahaya. Mendadak tubuhnya yang semula memar dan lebam akibat serangan Raja Roh Hitam menghilang. Rasa sakit yang sebelumnya mendera perlahan pulih. Kekuatan langsung mengalir dengan baik, walau masih terasa ada tekanan.


"Bagaimana bisa?"


Amdara terduduk begitu merasa tubuhnya tidak lagi sakit. Dilihatnya kedua telapak tangan. Kemudian tatapannya beralih ke Seluring Putih yang melayang-layang seolah mengisyaratkan sesuatu.


"Apa ini bantuanmu?"


Seluring Putih masih melayang-layang dengan cepat.


Amdara mengangguk dan berkata, "terima kasih."


Dia kemudian berdiri, mengambil seluring itu setelah mencoba berpikir apa yang harus dilakukan.


Cahaya putih sebelumnya mulai memudar. Menampakkan Amdara yang melayang tidak jauh dari sepuluh Raja Roh Hitam yang tersentak kaget.


Graaooorrhhgh!


"Bagaimana bisa?! Apa yang anak manusia itu lakukan?!"


Para Raja Roh Hitam terlihat semakin marah melihat Amdara yang tanpa ekspresi menatap mereka.


Amdara menarik napas dalam, matanya terpejam sesaat sebelum kembali terbuka dan mulai meniup Seluring Putih dengan Irama Kematian.


Suara dari irama ini sangat menganggu, memekakkan telinga hingga berdengung. Hal itu dirasakan para Raja Roh Hitam yang langsung berteriak kesakitan. Irama ini sangat mengguncang pikiran mereka menjadi lebih buruk.


Mereka mencakar tubuh, seolah melampiaskan rasa sakit yang tiba-tiba saja muncul. Bahkan dari mereka ada yang memukul kepala sendiri dan kawan.


"Manusia sialan! Berhenti mainkan nada kematian itu. Argghh!!"


Salah satu Raja Roh Hitam menatap bengis Amdara, dia berusaha mengejar Amdara dan merebut seluring itu akan tetapi dengan gesit bocah itu menghindar dan menciptakan rantai api untuk melilit musuh.


Musuh bisa menghindar dengan cepat walau sedang tersiksa oleh irama kematian. Mereka semua mengejar Amdara susah payah.


"Hentikan! Itu sangat menyakitkan. Groarhh!"


Amdara memerhatikan para musuh yang berteriak semakin menjadi. Seolah tubuh mereka sekarang tengah dibakar dan dihantam habis-habisan.


"Ada apa? Mengapa aku merasa aneh?"


Tatapan bocah itu memang tenang, tapi tidak dengan hati dan pikirannya yang sedang berpikir keras. Melihat para Raja Roh Hitam yang sedang kesakitan tanpa terbunuh secara langsung membuat Amdara merasa sedikit kasihan. Perasaannya benar-benar aneh!


Amdara menghentikan meniup seluring. Napasnya tidak beraturan, terlebih jantungnya berdetak lebih keras. Dia menelan ludah kesulitan. Memandang ke depan dengan tatapan mata sedikit berbeda.


Para Raja Roh Hitam mulai bisa sadar, mereka manatap Amdara penuh amarah. Tidak ingin anak manusia tersebut memainkan irama kematian lagi. Dengan cepat melesat ke arah lawan.

__ADS_1


Seluring Putih berdengung, bergerak-gerak agar Amdara cepat memainkan seluring lagi. Akan tetapi bocah itu masih bergeming dengan tatapan sendu.


"Tidak. Ada yang salah."


Dia masih bimbang dengan hatinya. Entah ini pengaruh musuh atau hati dan pikirannya sedang tidak menyatu. Keringat dingin mulai muncul di dahinya.


Para Raja Roh Hitam sudah mulai dekat dan bersiap menyerang. Seluring Putih juga semakin bergerak keras dan mengeluarkan suara dengungan, akan tetapi sang Tuan masih tidak melakukan pergerakan.


*


*


*


Lima Belas Bintang Malam dan para warga terkejut bukan main menyaksikan para Raja Roh Hitam yang tiba-tiba saja ambruk sambil mengeluarkan geraman aneh. Mereka mencoba menyakar, dan memukul diri sendiri seolah tengah merasakan sakit luar biasa di bagian kepala.


Sebenarnya mereka melakukan ini karena memang benar-benar ikut merasakan efek irama kematian yang dimainkan Amdara di alam bawah sadar mereka.


Lima Belas Bintang Malam menggunakan kesempatan itu untuk kembali menyerang beruntun. Tidak peduli dengan keanehan yang terjadi.


Salah satu dari Bintang Malam, mengeluarkan cahaya merah kehitaman dari tangan dan melesatkannya ke Raja Roh Hitam.


"Matilah ...!"


Namun, tiba-tiba Raja Roh Hitam melakukan serangan balik tidak kalah besar. Serangan ini jelas membuat lawan membulatkan mata tak menyangka.


Mereka berakhir dengan kembali saling menyerang dengan sisa kekuatan.


Seharusnya ini juga berlaku di alam bawah sadar mereka. Namun, Amdara yang hendak diserang tiba-tiba kembali meniup seluring.


Irama ini berbeda dari sebelumnya. Amdara meniup seluring dengan penuh perasaan. Dia sampai menutup mata tak ingin melihat para musuh yang mendadak terdiam dengan pikiran aneh.


Sebenarnya Amdara tidak yakin akan melakukan Pengendalian Jiwa Makhluk pada Raja Roh Hitam. Akan tetapi saat dia meniup seluring dengan nada ketenangan, dia berhasil membuat alam bawah sadar dan menjerat sepuluh Raja Roh Hitam.


Amdara membuka mata, di alam bawah sadarnya dia tidak memainkan seluring. Nampak sepuluh musuh berada di hadapannya dengan leher terikat oleh rantai merah darah. Mereka jelas terkejut, dan berusaha menyerang akan tetapi itu semua sia-sia.


"Graoooarhh!! Bagaimana bisa kau menjerat kami?! Apa yang kau lakukan anak manusia lemah?!"


Satu Raja Roh Hitam menggeram marah. Matanya yang bulat semakin besar menatap tajam manusia di depan.


Bukan hanya dia, tapi rekannya yang lain juga tidak terima.


"Cepat hentikan jurusmu itu! Argh!"


"Berani-beraninya kau menjerat kami seperti ini! Kau pikir kami lemah?!"

__ADS_1


"Hentikan atau kami lenyapkan warga kota sekarang juga!"


Kalimat terakhir membuat Amdara menaikkan sebelah alis. Senyumnya terlihat miring, dia mendekat ke arah musuh yang masih menggeram marah.


"Hmph. Bagaimana kalian akan menyerang warga kota jika pikiran kalian ada di genggamanku?"


Ucapan Amdara bagai ledakan besar bagi Sepuluh Raja Roh Hitam. Mereka sangat tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.


Mereka mencoba menyangkal, tetapi di kota tubuh mereka sama sekali tidak bisa digerakkan.


Suara tawa Amdara keluar. Mungkin ini pertama kali bagi dirinya mengeluarkan tawa selama di Negeri Nirwana Bumi. Suara tawanya yang tidak biasa bahkan sampai membuat musuh bergeming.


Amdara menghela napas. Dia berujar tenang, "aku mengetahui cara membuat kalian tidak berkutik, atau bahkan mengendalikan jiwa makhluk seperti kalian."


Kini berganti senyuman sinis terpampang jelas di wajahnya. Senyuman yang membuat musuh tidak dapat berbicara.


Amdara terbang lebih dekat, memutari mereka tanpa takut. Dirinya kembali berkata, "jadi, siapa yang lemah?"


Aura di sekitar berubah mencekam. Walau ini baru kedua kali dia melakukan hal seperti ini, akan tetapi Amdara sudah cukup paham. Bahkan aura yang berubah menekan musuh yang langsung terduduk tanpa bisa melakukan perlawanan.


Amdara menghentikan terbang, di depan musuh. Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Apa actingku bagus?" Amdara memperhatikan wajah mengerikan lawan. Dia dalam hati bersorak karena berhasil membuat lawan bungkam.


Amdara berdehem sebentar. Kembali berkata, "dengarkan aku. Jinaklah, atau kubantai semua bangsa kalian?"


Mata merah musuh semakin membesar dengan ekspresi tercekat.


"Walaupun kami dalam genggamanmu, tapi kami tidak mudah dijinakkan!!"


"Ggrr. Membantai bangsa kami?! Kau tidak sekuat itu! Kamilah yang akan membantai bangsamu seperti yang dahulu hampir dilakukan!"


Graoorr!


Mendengar perkataan tersebut ekspresi Amdara menjadi lebih dingin. Dia melibaskan tangan, dan saat itu juga pusaran angin dahsyat menerjang musuh cepat.


BAAM!


Suaranya benar-benar keras sampai sepuluh Raja Roh Hitam terpental jauh. Mereka merasakan sakit luar biasa. Sebuah rantai merah kembali menyeret mereka ke hadapan Amdara.


"Kupilih alasan kedua. Bersyukurlah."


Cahaya putih menembus penglihatan muncul. Di saat itu pula Amdara kembali ke dunia nyata dengan memainkan seluring irama ketenangan.


Raga Sepuluh Raja Roh Hitam yang sudah cukup terluka berkumpul di hadapan Amdara tanpa perlawanan. Mereka masih terjerat rantai merah yang artinya terpaksa dijinakkan paksa oleh Amdara. Walau nanti Amdara pergi, para Raja Roh Hitam itu tetap akan tunduk padanya dan tidak akan menyakiti para warga atau bahkan muncul di hadapan mereka. Tentu itu adalah karena kekuatan pengendali jiwa Amdara yang semakin mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2