Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
39 Mengambil Masalah 2


__ADS_3

"Apa?!"


Bocah-bocah itu terkejut bukan main. Mereka hampir tidak percaya oleh perkataan Senior Fans. Bagaimana mungkin dia mengalahkan wanita itu sendiri?! Berarti Senior Fans sangat kuat melebihi wanita tersebut?!


Inay menjatuhkan Atma begitu saja, untung Atma menjatuhkan tangan sebelum kepalanya yang menyentuh tanah. Daging di tangah Dirgan dia jatuhkan, menatap tak percaya Senior Fans. Rinai belum sempat menelan daging, rasanya jadi sulit menelannya mendengar perkataan Fans. Nada membuka mulut lebar.


"Senior, apa maksudmu?"


"Senior, apa kau tahu siapa wanita itu?"


"Kau tidak sedang membual 'kan, Senior?"


Fans diserbu banyak pertanyaan. Dia meletakkan daging yang akan dimakannya. Lalu mengembuskan napas panjang, menatap satu persatu bocah-bocah yang menurutnya luar biasa ini.


"Fusi. Wanita yang mengancam kalian."


Di akhir pertarungan, Fusi menyebut nama sendiri. Entah ada tujuan apa. Dari ciri-ciri yang dikatakan Inay, sama persis wanita yang dilenyapkan Fans. Mulai dari wajah sampai jurus yang dikeluarkan.


Sebenarnya Fans tidak ingin menceritakan bagaimana dia bisa mengalahkan Fusi. Akan tetapi Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada memaksanya bercerita.


Anak-anak itu terperangah mendengar cerita itu. Mereka sampai memuji berlebihan. Fans menarik napas dalam, tidak tahu reaksi anak-anak itu sampai membuatnya sedikit aneh.


Ada rasa lega di wajah mereka. Sekarang tidak perlu takut apa pun. Ditambah Senior Fans sekarang berada dengan mereka.


Siang cepat berlalu, matahari hampir tidak terlihat lagi walaupun sebenarnya masih sore. Suara binatang saat ini mulai terdengar. Ada satu hal yang cukup mengganjal di hutan ini. Biasanya di hutan identik dengan Siluman atau paling tidak binatang buas. Selama di hutan ini, Fans belum bertemu Siluman lain selain Siluman Rusa Berkulit Perak. Tapi dia tetap harus waspada dengan sekitar. Bisa saja tidak adanya binatang, ada kemungkinan malah orang-orang jahat yang akan datang.


"Senior, apa kau bisa mengajari kami teknik dasar saat kau melawan Siluman itu?"


Pertanyaan Dirgan membuyarkan lamunan Fans yang langsung menatapnya. Seperti yang terlihat, Dirgan tertarik dengan teknik tersebut.


"Itu benar. Kau sangat keren saat melawan rusa itu!"


Atma tersenyum, dia nampaknya juga tertarik. Rinai dan Nada juga nampak penasaran. Inay berharap Seniornya ini mau mengajari setidaknya sedikit ilmu dasar bertarung jika tidak bisa mengeluarkan kekuatan.


Terlihat Fans mengembuskan napas sebelum mengangguk. Dia berdiri di depan anak-anak itu yang menatapnya seakan terkesan padahal dirinya belum melakukan apapun. Fans mengambil ranting tidak.jauh darinya.


Senior Fans memulai dengan kuda-kuda, kemudian tangannya bergerak begitu lentur tetapi tajam ke depan. Gerakan-gerakan pelan, indah, bak seorang malaikat tengah menarikan sebuah tarian. Sepuluh gerakan berpedang dasar, gerakan yang dibuat Fans sendiri saat dia memiliki waktu senggang. Dia berhasil menciptakan jurus dengan sepuluh gerakan yang terlihat sederhana tetapi sebenarnya mematikan sebab gerakan tersebut mengarah pada titik vital lawan.


Setiap satu gerakan, Fans akan menjelaskannya detail.


Fans mendapatkan tepuk tangan, dan pujian. Kali ini dirinya melakukan gerakan barusan tiga kali agar anak-anak itu memahaminya dengan baik.


"Cobalah."


Fans memberikan ranting itu pada Dirgan yang tersenyum lebar. Dengan percaya diri dia melakukan gerakan yang dia hapal, walaupun banyak kesalahan tetapi Fans langsung memperbaikinya. Atma juga melakukan dengan kesulitan. Padahal saat melihat Senior Fans yang melakukannya terlihat mudah.


Rinai dan Nada walaupun perempuan tetap tertarik. Mereka mencoba mengingat gerakan-gerakan yang barusan dilihat lalu mempraktekkan. Walaupun kesulitan, tetapi mereka tetap semangat berlatih. Tidak terlihat beban di mata mereka, yang ada mereka melakukan dengan senang hati.


Malam menjumpai, mereka beristirahat sejenak kemudian kembali berlatih. Kegigihan mereka membuat Fans tersenyum tipis. Ada tawa di saat mereka melakukan kesalahan, bahkan Atma sampai tersandung kaki sendiri karena salah gerakan.

__ADS_1


Malam itu, malam yang cukup berkesan bagi Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada. Sampai mereka memilih tertidur di luar gubuk. Atma tertidur di dahan pohon, begitu pula dengan Dirgan.


*


*


*


Kicauan burung terdengar, matahari seperti biasa baru akan muncul saat siang. Dirgan dan Atma berniat pergi ke sungai yang walaupun cukup jauh, tetapi karena persediaan air habis. Mereka tidak ada pilihan lain. Bersama Senior Fans menemani.


Di gubuk itu, Inay, Rinai, dan Nada duduk menjaga Amdara. Berulangkali Rinai menanyakan kapan Amdara sadarkan diri, berulangkali juga Inay menjawab tidak lama lagi.


Harapan dan doa mereka tak pernah longgar. Amdara belum juga sadar satu hari ini. Padahal sebelumnya dia juga tidak sadarkan diri selama dua hari di kediaman Nenek Nian.


Hari itu, mereka melakukan aktivitas yang sama. Makan, dan berlatih pedang kembali. Senior Fans sedikit menjelaskan mengenai kekuatan. Mereka pun belajar pelan-pelan.


Malam kembali terlewati tanpa Amdara. Kecemasan mulai melanda saat hari kelima.


"Apa dia benar baik-baik saja?"


Malam keenam, semua di depan api unggun membakar ikan nampak diam. Pertanyaan Dirgan barusan sama sekali tidak ada yang menjawab. Bahkan beberapakali Senior Fans memalingkan pandangan, dia juga sama cemasnya. Pikirannya masih mencari cara untuk menghilangkan Benang Merah. Jika Benang Merah hilang, maka kekuatan Amdara akan pulih dan regenerasinya stabil.


Banyak hal yang dipelajari Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada selama mereka di hutan. Untuk mengalihkan pikiran mereka terhadap kondisi Amdara, Senior Fans dan Inay membuat sebuah pembelajaran bagi mereka.


Seorang bocah yang masih berbaring di dipan nampak perlahan membuka mata. Hal yang pertama kali dilihat sebuah jerami sebagai atap. Perasaannya jauh lebih baik. Dia mencoba duduk, melihat sekitar yang ternyata sebuah gubuk yang hampir roboh. Dan tidak ada orang. Sepi.


Dia bertanya pada diri sendiri. Mencoba mengingat apa saja yang terjadi. Ketika ingatannya kembali, bocah itu mengembuskan napas.


Dia memegang lengan. Baru saja akan berjalan, dirinya mendengar auman serigala yang tidak jauh dari sini. Bocah berambut putih yang bernama Luffy itu memasang sikap waspada, kepekaannya lebih baik sebelum dirinya berlatih di kediaman Nenek Nian.


Auman serigala berubah, suara kuda tetapi tidak terdengar suara kaki kuda. Berbagai macam suara binatang terdengar, Amdara dengan ragu berjalan keluar. Matahari masih terlihat, mata Amdara menyipit.


Dari kejauhan, seseorang tanpa sadar membuka lebar mata dan mulut. Dia segera berlari menuju Amdara yang masih diam memandangnya.


"Luffy ...?!"


Bocah yang membawa boneka itu sampai tak bisa berkata-kata. Dia memeriksa keadaan Amdara dari depan sampai belakang dengan mata berbinar-binar. Sementara Amdara terlihat kebingungan melihat temannya.


"Kau, ini benar-benar kau 'kan? Khakha."


Nada memeluk Amdara setelahnya. Dia benar-benar senang Amdara sudah sadar sekarang. Amdara masih diam, dia berpikir Nada terlalu berlebihan.


Nada melepaskan pelukannya. "Khakhaa. Apa kau merasa baik sekarang?"


Amdara mengangguk. Amdara diminta duduk di depan api yang hampir padam, di sampingnya banyak daging dan sayuran. Nada memberikan daging yang telah dibakar. "Kau pasti lapar. Khakhaa. Makanlah."


Amdara menerimanya, perutnya tiba-tiba saja lapar. Nada masih memerhatikan bocah berambut putih di depannya. Tak menyangka Amdara sudah sadar.


Seseorang melesat dari jauh ketika melihat dua bocah sedang duduk. Inay membawa Rinai menggunakan rambutnya dan mendarat di dekat Amdara.

__ADS_1


"Luffy?! Kau sudah sadar?!"


Inay menyentuh kedua lengan Amdara begitu saja. Raut wajahnya terlihat senang.


Amdara mengangguk. Dia menghembuskan napas saat Inay mulai cerewet. Apalagi sekarang Rinai dan Nada seperti telah tertular penyakit cerewet Inay. Amdara jadi tidak berselera makan daging yang dipegangnya.


Ada yang aneh saat ini. Dia tahu Benang Merah di inti spiritualnya semakin banyak. Dia juga kesulitan merasakan kekuatan alam. Mencoba mengeluarkan sedikit saja kekuatan, rasanya sesuatu yang amat menyakitkan menyerang. Amdara menahan napas. Ini benar-benar parah! Jika dirinya tidak bisa mengeluarkan kekuatan, lalu bagaimana akan melindungi diri sendiri dan orang lain? Bagaimana dengan misi yang diberikan Tetua Bram? Dan bagaimana dengan misi yang telah dia ambil dari Akademi?


Senior Fans! Amdara baru mengingatnya. Amdara berdiri, kekhawatiran terlihat di wajahnya. Inay, Rinai, dan Nada yang melihatnya tersentak.


"Luffy, ada apa?"


Inay ikut berdiri, dia melihat tatapan mata yang biasanya dingin itu kini sedikit buram.


"Senior Fans." Amdara tidak tahu harus berkata dari mana.


Inay tersenyum, lalu menepuk pelan bahu Amdara. "Dia baik-baik saja."


Amdara tersentak. Inay memintanya duduk, dia akan menceritakan bagaimana bisa bertemu Senior Fans. Inay sama sekali tidak bertanya mengenai pertemuan Amdara dan Rinai juga Nada. Itu hanya akan membuat Amdara bertambah kepikiran.


Amdara sama sekali tidak menyangka, Senior Fans bisa bertemu Dirgan dan Atma. Tanpa Amdara minta Inay menceritakan bagaimana dirinya bisa selamat dan berakhir di hutan ini. Andai saja Amdara bisa melindungi diri sendiri waktu itu, kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.


Bocah berambut putih itu mengepalkan tangan, menunduk. "Maaf. Aku tidak bisa melindungi kalian."


Inay dan Nada terdiam. Saling pandang sebelum mereka memeluk Amdara. Awalnya Amdara ingin menolak, tetapi sebuah pelukan hangat yang jarang sekali dia rasakan begitu membuat Amdara teringat Tetua Bram. Inay mengelus-elus punggung Amdara lalu berkata.


"Apa yang kau katakan? Ini bukan salahmu. Tidak ada yang perlu kau sesali. Tidak ada."


"Ini salahku."


"Sudahku katakan. Ini bukan salahmu."


"Tapi ...."


"Khakhaa. Jangan ada kata maaf di antara persahabatan kita. Aku memohon kali ini."


Kalimat yang diutarakan Nada membuat Amdara tersentuh. Dia tersenyum tipis. "Tapi---"


"Sudahku katakan, kau tidak bersalah, Luffy! Hah, kau ini selalu membuat beban diri sendiri."


Inay sedikit kesal tetapi dia masih setia memeluk Amdara semakin erat.


"Tapi--"


"Khakha. Diamlah setelah ini kita akan pergi ke Akademi."


"Yang dikatakan Nada benar. Kita akan---"


"Tapi sekarang aku merasa sesak. Lepas. Ini pegal." Amdara berkata dingin. Seketika Inay dan Nada melepas pelukan. Amdara menghancurkan suasana haru barusan. Akan tetapi Amdara juga membutuhkan udara segar, terus dipeluk erat membuatnya sesak napas.

__ADS_1


__ADS_2