
Lesatan angin berhembus kencang layaknya pedang melesat sangat cepat ke arah Waki yang bertambah menyeringai, dalam kejapan mata dia menghilang dan muncul kembali di atas salah satu atap.
BAAM!
Serangan angin Amdara meledak saat bersentuhan dengan dinding rumah yang langsung hangus. Debamannya sangat keras, sampai-sampai terdengar oleh beberapa orang.
Kecepatan Waki menghilang membuat Tetua Widya menahan napas. Mereka akan kesulitan melawan satu orang ini. Apalagi nampaknya Waki unggul dalam hal kecepatan.
Amdara mengepalkan tangan, raut wajahnya semakin dingin. Dia melesat bersama Tetua Widya, menyerang membabi-buta ke arah lawan yang juga balik melesatkan serangan tidak kalah besar.
"Tsk. Bersabarlah, bukankah kita belum berbincang lama?"
Waki mengelak dengan cara memutar tubuh sangat cepat. Bahkan kecepatannya nyaris tidak bisa ditandingi Tetua Widya.
Akar-akar menjalar berusaha menangkap tubuh Waki, tapi lagi-lagi gagal membuat Tetua dari Akademi Magic Awan Langit itu menggertakkan gigi kesal. Dia kembali melesat, tidak mempedulikan ocehan musuh yang mencoba mengecoh.
Amdara juga terus saja melesatkan serangan angin lebih kencang. Di sisi lain, dia juga harus melindungi diri dari serangan lawan yang fatal.
Semakin sengit pertarungan, menampakkan Waki yang mulai kewalahan melawan kekuatan besar musuh. Keringat dingin sudah bercucuran di mana-mana. Dari jurus yang dilesatkan selalu ditangkis oleh musuh dengan susah payah.
Waki termundur, menekan dadanya yang terasa sesak akibat serangan barusan. Dia menatap penuh amarah ke Amdara dan Tetua Widya.
"Sialan."
Akar hijau berbentuk tangan besar muncul di belakang Waki tanpa disadarinya. Detik selanjutnya akar tersebut memukul tubuh Waki dengan dahsyat sampai dia menabrak dua rumah sekaligus sampai hancur. Waki yang tidak sempat mengelak hanya bisa merasakan sakit di sekujur tubuh.
Di sisi lain, Amdara dan Tetua Widya juga sebenarnya kewalahan menahan serangan lawan. Akan tetapi karena kerja sama yang bagus, mereka dapat mengatasinya.
Amdara mengatur pernapasan. Mulai menyerap kekuatan alam untuk mengisi kekuatan di dalam tubuh. Begitu pula dengan Tetua Widya yang terbang mendekati Waki sambil tersenyum sinis.
"Bagaimana? Sebelumnya kau ingin berbincang, bukan? Apa kalimat terakhirmu sebelum bertemu neraka?"
Di belakang Tetua Widya sudah muncul akar-akar beracun siap menusuk tubuh musuh yang sedang lemah sambil memuntahkan darah.
Perkataannya membuat Waki semakin marah, terlihat dari wajahnya yang memerah.
"Kau benar-benar wanita picik! Bekerja sama dengan seorang bocah untuk melawanku. Ha ha ha. Ketara sekali sebenarnya kau ini lemah."
Waki malah tertawa sambil memegang dadanya. Dia berusaha memprovokasi, dan mencoba menyembuhkan luka dalamnya untuk sekarang.
Tetua Widya mengepalkan tangan. Sangat tidak terima saat dikatakan 'lemah'.
"Lemah, ya." Tetua Widya melirik sekilas ke belakang. Pandangannya menurun sebelum kembali melihat wajah menyebalkan musuh yang masih tertawa. Kini Tetua Widya tersenyum, lebih tepatnya menyeringai.
"Jika itu pendapatmu, bagaimana kalau kau merasakan akar milikku meng*litimu?"
__ADS_1
Akar-akar milik Tetua Widya langsung mengarah ke Waki dengan kecepatan kilat. Waki memelototkan mata, dengan sepenuh tenaga melindungi diri tetapi kekuatan musuh besar.
BAAM!
Serangan entah dari mana menghancurkan akar-akar milik Tetua Widya. Dia sampai terlonjak kaget. Dan tanpa sadar memundurkan langkah.
Asap mengepul di udara. Nyatanya Waki selamat dari serangan Tetua Widya. Dia juga sama terkejutnya saat ada bantuan.
"Wah, wah, wah. Sepertinya kami terlambat, Waki. Bagaimana ini? Apa kau membutuhkan bantuan?"
Suara seorang pria memakai jubah sama seperti Waki itu tersenyum. Dia bersama lima orang di sampingnya yang juga tertawa melihat Waki sekarang sedang kesulitan sendiri. Mereka terbang di belakang Waki.
Waki melirik sekilas, mendengus kesal mendengarnya. Dia memang kerepotan, tapi masih bisa mengimbangi dua orang ini jika dirinya tidak lengah.
Perlahan Waki bangkit, tatapan matanya beralih ke Tetua Widya. Dia mengusap darah di bibir menggunakan lengan.
"Tidak perlu. Aku bisa menghabisi mereka tidak lama lagi." Waki tersenyum, senyuman yang membuat perasaan Tetua Widya dan Amdara merasakan suatu bahaya besar.
Amdara dan Tetua Widya terkejut melihat ada lima orang yang ternyata rekan musuh. Keduanya mengepalkan kedua tangan, berusaha cepat menghabisi Waki sebelum menyerang yang lain. Jika rekan-rekan Waki turut turun tangan, jelas mereka akan kalah jumlah dan pasti kesulitan menyeimbangi.
Waki melesat tanpa di duga menyerang Tetua Widya. Beruntung Tetua itu cepat tanggap dan dapat menghindar. Keduanya kembali bertukar serangan. Tetua Widya terhenyak saat tenaga Waki sudah pulih. Padahal sebelumnya dia yakin musuh sudah menguras banyak kekuatan.
Amdara tidak ikut ke pertarungan itu. Dia diam sambil memikirkan sesuatu.
Rekan Waki itu berdecih. Dirinya melipat kedua tangan depan dada dan berkata sinis, "tidak lama lagi kau bilang? Apa sebegitu sulitnya melenyapkan mereka? Kau hanya perlu mengeluarkan jurus dan---akh!!"
Rekan-rekan Waki tiba-tiba saja berteriak kesakitan. Mereka melihat ke arah bawah, di mana kaki mereka yang terikat oleh rantai es yang entah datang dari mana. Mata mereka melotot seketika, rasa sakit semakin menjalar ke tubuh. Bukan hanya dinginnya es, tapi tubuh mereka rasanya seperti terbakar sesuatu.
Teriakan memilukan itu membuat Waki, dan Tetua Widya menoleh sejenak. Keduanya terkejut melihat kaki rekan-rekan Waki yang sudah mulai membeku tanpa bisa memberi perlawanan walau mereka mencoba melelehkannya menggunakan kekuatan tapi sama sekali tidak berhasil.
"Rantai es? Bagaimana mungkin kalian lengah! Sampai tidak bisa merasakan serangan itu?!"
Waki menghentikan serangan sejenak untuk melihat rekan-rekannya yang masih mengerang kesakitan. Bahkan es sudah merambat ke pinggang.
Terlambat merespon karena terlalu angkuh membuat Amdara menggelengkan kepala melihatnya.
"Sekali lagi lengah. Lenyap kalian."
Amdara terbang dengan cepat, menyerang Waki yang mengetahui hal tersebut juga menyerang. Kali ini Waki sedikit tidak berkonsentrasi akibat teman-temannya yang mendapatkan serangan tidak terduga. Di kesempatan ini Tetua Widya menggunakan kekuatan dengan baik untuk menyerang.
Waki terus saja merutuk. Dia menyerang secara beruntun. Pertarungan terjadi dalam sekejap mata. Serangan nyasar dahsyat menghanguskan rumah warga. Percikan kembang api akibat dua kekuatan bergesekan meledak di gelapnya malam. Suaranya sangat keras, tanah sampai dibuat retak di mana-mana.
Amdara dan Tetua Widya bekerja sama dengan baik. Keduanya saling melengkapi dan melindungi. Kekuatan mereka nyaris membuat Waki goyah dan terkena serangan fatal. Beruntung dia dapat menghindar dengan cepat.
Waki memperhatikan topeng kucing yang dikenakan bocah berambut cokelat ini. Entah mengapa jurus-jurus yang dilesatkan musuh terasa familiar.
__ADS_1
"Tapi di mana aku bertemu dengan bocah ini?" Waki melesatkan serangan dan langsung menghindar ketika serangan lain datang menyambar.
Dia berdiri di salah satu atap warga sambil mengepalkan kedua tangan. Napasnya mulai tidak stabil, kekuatannya sudah cukup menguras. Dia menatap tajam kedua orang itu.
"Tidak ada cara lain. Jurus ini satu-satunya agar pertarungan cepat selesai."
Waki menyeringai. Memunculkan jarum-jarum besar nan tajam berwarna merah darah.
Amdara yang melihat jarum-jarum itu berusaha mengontrol ekspresi yang sangat terkejut. Napasnya tidak beraturan melihat betapa banyaknya jarum-jarum merah itu. Masih ingat betul bagaimana karena jarum merah tersebut membuatnya terkena Benang Merah di inti spiritual. Amdara mengepalkan kedua tangan, tidak bis membiarkan musuh sampai menggunakan jarum-jarum itu ke arahnya dan Tetua Widya.
"Tetua---!"
Amdara baru akan mengatakan betapa berbahayanya jarum-jarum merah itu. Tapi Tetua Widya sudah terlebih dahulu melesat menyerang musuh.
Jarum-jarum musuh juga langsung melesat dengan kecepatan tinggi. Berbenturan keras dengan jurus yang layangkan Tetua Widya. Suara keras terdengar membelah langit malam.
Akar-akar hijau yang seharusnya besar dan tajam sebagai pelindung diri mendadak layu. Tetua Widya membelalakkan mata saat menyadari ada yang salah dengan serangan musuh.
"Apa yang terjadi?!"
Matanya melihat banyak jarum-jarum yang telah membuat akar perlindungan layu tiba-tiba. Dan sekarang langsung terjatuh. Masih dalam kondisi syok berat, Tetua Widya tidak menyadari tiga jarum sekaligus melesat dari arah belakang, depan tepat di perut, dan di atas.
Waki yang melihat tersebut bertambah menyeringai. Berharap dengan jurus ini pertarungan selesai. "Hmph. Kalian akan cacat selama hidup jika terkena Jarum Benang Merah."
Sebuah pelindung cukup besar tercipta di tubuh Tetua Widya. Udara di sekeliling berubah sangat dingin, layaknya seperti suhu di kutub utara. Angin keluar dari tubuh Tetua Widya dengan kecepatan tidak terlihat jelas oleh mata kepala manusia. Saking cepatnya pusaran angin, tiga jarum yang nyaris mengenai Tetua Akademi Magic Awan Langit itu terpental dan menancap ke tanah yang langsung berubah menghitam.
Tetua Widya langsung tersadar, dia dibuat menahan napas oleh kekuatan angin di sekelilingnya. Saat tahu Amdara melindungi, Tetua Widya terhenyak.
"Kekuatan angin ... lebih besar tiga kali lipat dari yang sebelumnya kulihat."
Tetua Widya masih kebingungan dengan akar-akar miliknya yang mendadak layu. Padahal akar itu juga ada racun tersembunyi.
Keterkejutan bukan hanya di wajah Tetua Widya. Tapi si musuh juga nampak membulatkan mata besar-besar melihat pusaran angin dahsyat melindungi seorang wanita.
"Sialan!" Waki merutuk. Padahal sedikit lagi dia akan memenangkan pertarungan ini. Akan tetapi langsung gagal oleh pusaran angin musuh.
Waki terdiam sejenak. Seperti pernah melihat pusaran angin ini. Saat sadar dirinya bertambah menahan napas mengingat seorang bocah berambut putih, bertopeng kucing hitam yang pernah menyerang di penginapan. Di dunia memang banyak yang memiliki kesamaan dalam jurus, akan tetapi setiap orang tetap berbeda. Dan Waki yakin kekuatan besar ini milik bocah yang sudah terkena Benang Merah olehnya di penginapan. Jika benar, lalu bagaimana bisa bocah itu menggunakan kekuatannya?!
Waki berpikir keras, setahunya sangat langka orang yang bisa melepas Benang Merah di Negeri Nirwana Bumi. Dia mengepalkan tangan kuat, tatapannya mendelik tajam menyapu pandang mencari bocah yang seharusnya berambut putih tapi malah berwarna cokelat.
"Mencariku?"
Waki mendongakkan kepala, mendengar suara seorang bocah. Saat mendongak, memang benar Amdara sudah berada di atasnya. Di balik topeng, Amdara menyeringai.
"Rantai Es. Aliran Api."
__ADS_1