
Shi membuka mata perlahan. Sinar matahari menyilaukan sampai membuatnya harus menghalau menggunakan lengan tangan. Dia merasakan tubuhnya yang sudah membaik, tidak merasakan sakit luar biasa seperti sebelumnya. Sesaat dirinya terdiam, mengingat apa yang terakhir kali terjadi. Sontak dia terduduk dan mengedarkan pandangan mencari bocah berambut putih yang tidak lain Amdara.
Tatapannya tertuju pada Amdara yang sudah menyelamatkannya dari maut sekarang sedang duduk sambil membakar daging. Entah daging apa itu, tapi aromanya sangat menggoda. Dia segera mendekati Amdara, menanyakan keadaan teman mudanya ini. Namun, Amdara malah menyodorkan daging sudah matang dan malah balik bertanya keadaan Shi.
Shi menerima daging tersebut, mendengus tetapi masih menjawab dengan baik. Dia mengambil air di kendi kecil di samping Amdara, dan menenggaknya cepat sebelum makan daging dengan aroma menggugah selera ini. Entah sudah berama lama tidak memanjakan lidah dengan makan, Shi melahap daging dengan ekspresi berbinar-binar.
Amdara yang melihatnya menggelengkan kepala sambil bergumam. Gumamannya didengar Shi yang langsung mengerucutkan bibir kesal, dia berujar bahwa dirinya memang sudah merindukan makan. Shi menelan kunyahan, teringat kekuatan hebat yang telah melenyapkan Siluman Lintah. Dia menatap Amdara, ada aura tidak biasa dari temannya ini. Dan jurus yang dikeluarkan Amdara, lebih kuat dan tentu saja sedikit berbeda dari yang pernah dilihatnya. Dia bertanya mengenai kekuatan tersebut, yang dikatakan Amdara melakukan jurus bersamaan dengan pemusatan kekuatan tanpa mengatakan lebih. Shi berdecak kagum, berterima kasih karena sudah diselamatkan. Namun, Amdara malah berucap bahwa jika Siluman Lintah belum mengalami luka fatal, maka dia tidak akan bisa mengalahkannya.
Shi juga sangat berterimakasih karena luka luar dan dalamnya yang diobati dengan baik. Dia tidak menyangka Amdara memiliki bakat pengobatan luar biasa.
Keduanya makan di siang hari itu, sambil terus berbincang-bincang dan tentunya Shi lah yang paling banyak berbicara. Bocah perempuan itu menuturkan dirinya baru mendapatkan empat permata siluman, menceritakan bagaimana aksinya berada di hutan ini. Dia bahkan sampai terlibat konflik antar kelompok siluman di sini. Bercerita sambil makan membuatnya terbatuk-batuk, punggung ditepuk-tepuk pelan oleh Amdara kemudian menyodorkan minum.
Shi sangat senang dengan kedatangan Amdara. Dengan seperti ini keduanya dapat bekerja sana untuk berburu siluman. Dirinya bertanya berapa permata siluman yang telah didapat Amdara. Amdara meminum air sebelum mengatakan bahwa dirinya baru mendapat dua permata siluman.
__ADS_1
Setelah makan dan beristirahat, keduanya sepakat bekerja sama berburu mencari permata siluman. Shi menjelaskan keadaan di daerah timur yang para silumannya hidup di bawah tanah dan beberapa keadaan lainnya yang sudah diamati.
Mereka terbang, menyapu pandang sekitar yang keadaan memang hening. Tidak ada suara pertempuran. Keadaan ini jelas mengingatkan Amdara di daerah barat.
Amdara tersenyum, ide cemerlangnya muncul. Dia meminta bantuan Shi untuk membuat lubang besar dengan jarak satu dengan lainnya sekitar lima belas meter. Shi menanyakan ide apa yang sedang dipikirkan bocah ini, bersamaan dirinya melesatkan kekuatan membuat lubang besar.
Amdara juga membuat lubang besar, sambil menjawab mereka akan membunuh banyak siluman sekaligus. Sontak mendengarnya Shi tersedak napas sendiri menatap Amdara tak percaya. Bagaimana mungkin melenyapkan siluman secara bersamaan?! Kekuatan mereka bahkan tidak sebesar satu siluman di sini! Jika sampai ide aneh Amdara dijalankan, yang ada mereka tewas dalam beberapa detik.
Shi langsung protes, menasehati Amdara agar tidak berbuat nekad. Namun, Amdara hanya berkata semua akan baik-baik saja. Amdara meminta informasi mengenai kelompok siluman yang biasa bertengkar. Shi segera menjawab dengan detail walau masih cemas dengan ide ini.
Amdara kemudian membuat sebuah aliran air yang sangat panas, mengalirkannya ke setiap lubang. Lalu memasukkan air tersebut dengan sangat cepat layaknya pedang membelah bumi. Uap panas menguar ke udara, tanah langsung dibuat lembek dengan udara amat panas.
Shi yang melihatnya dari kejauhan menahan napas. Jantungnya berhenti berdetak saat itu juga melihat ada suara geraman para siluman menggelegar. Apalagi tanah yang sebelumnya terkena air panas milik Amdara bergerak-gerak sampai sesuatu amat besar muncul dadi bawah tanah. Tubuh Shi mendadak lemas. Menghirup napas saja rasanya sudah sangat sulit. Dari dua puluh lubang, semuanya sekarang memunculkan lima belas siluman dengan empat jenis berbeda. Kulit mereka mengeluarkan asap yang ternyata ulah dari jurus Amdara.
__ADS_1
Mereka merupakan jenis siluman Cacing Bertanduk, Lintah Berbaja, Semut Berbulu, dan Laba-laba Tikus Bertaring. Mereka terlihat marah besar karena telah diusik apalagi diserang menggunakan air begitu panas. Keempat kelompok siluman ini saling bermusuhan, mereka menggeram dan menghentakkan kaki ke tanah mencoba menghilangkan rasa panas yang menjalar ke dalam tubuh menggunakan kekuatan masing-masing.
Amdara masih berdiri melayang dengan tenang. Dia tersenyum, detik berikutnya membuat serangan besar kepada kelompok Siluman Laba-laba Tikus Bertaring tepat di mata mereka. Kelompok Siluman itu tidak sempat menghindar dari kecepatan serangan barusan. Mereka berguling-guling di tanah sampai tidak sadar menabrak kelompok siluman lain. Pada saat itu juga, Amdara melesatkan serangan berupa rantai api yang melilit tubuh Siluman Cacing Bertanduk, agar tidak bisa bergerak dan berakhir diinjak-injak oleh Kelompok Siluman Laba-laba Tikus Bertaring.
Siluman Laba-laba Tikus Bertaring masih disibukkan dengan matanya yang masih mengeluarkan darah. Mereka bukan hanya merasakan sakit di mata, entah mengapa tubuh mereka rasanya seperti dibakar oleh sesuatu setelah terkena serangan. Saking tidak kuatnya, mereka melampiaskan rasa sakit tersebut sambil menginjak-injak tubuh Siluman Cacing Bertanduk yang tidak bisa bergerak karena rantai api mengikat tubuhnya.
Kelompok Siluman Cacing Bertanduk menggeliatkan tubuh kepanasan. Apalagi ditimpa oleh Siluman Laba-laba Tikus Bertaring, dengan segenap kekuatan Siluman Cacing Bertaring berhasil menggigit Siluman Laba-laba Tikus Bertaring yang sontak semakin menjerit kesakitan. Kedua kelompok siluman itu berakhir saling menyerang.
Sementara Amdara sudah membuat jurus angin secara besar-besaran, melewatkannya ke Siluman Semut Berbulu. Amdara tahu jika bulu siluman tersebut mengenai kulit, maka kulit itu akan terasa terbakar serta gatal-gatal tidak tertahankan. Amdara membesarkan jurus angin beliung ke arah Siluman Semut Berbulu, yang bulunya sudah berterbangan tidak jelas. Mereka memang melawan angin beliung tersebut, tapi tiba-tiba saja Siluman Lintah Berbaja menyerang kelompok mereka. Siluman Lintah Berbaja terkena bulu dari Siluman Semut Berbulu yang membuat mereka marah dan langsung menyerang. Bulu-bulu tersebut juga mengenai Siluman Laba-laba Tikus Bertaring dan Siluman Cacing Bertanduk, namun kedua kelompok siluman ini sedang saling berkelahi.
Suasana sungguh luar biasa gempar, riuh dan sengit. Tidak ada yang tinggal diam, mereka saling menyerang satu sama lain menggunakan kekuatan besar tanpa peduli dalang dari kejadian ini. Tanah retak di mana-mana, pepohonan hangus dan udara terasa sesak.
Pertarungan sengit itu disaksikan oleh bocah berambut putih yang masih melayang sambil tersenyum tipis. Dia kemudian menghampiri Shi yang terduduk lemas melihat kejadian ini. Wajahnya sudah pucat pasi, sampai lupa menghirup udara. Syok, tentu saja. Untuk pertama kalinya melihat pertarungan siluman sebanyak ini. Kekuatan mereka memang dahsyat dan sungguh membuat merinding. Dia sampai tidak merasakan kehadiran Amdara di sampingnya.
__ADS_1
"Kita tunggu mereka melemah."
Ujar Amdara santai tetapi tidak didengar baik oleh Shi lantaran suara debaman disertai gemuruh petir terlalu keras di langit sana.