Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
43 - Desa Terpencil Tanah Mati


__ADS_3

Untuk sampai di desa Bumi Selatan, harus melewati dua desa yang jaraknya lumayan jauh. Pada desa pertama, Senior Fans membeli keperluan untuk di desa Bumi Selatan. Dia mengajak bocah-bocah yang bersamanya makan di penginapan, walaupun masih ada sedikit trauma, tetapi mereka tidak menolak. Di pengipan, mereka disediakan pakaian dari bahan bagus. Di sana mereka membersihkan diri dan beristirahat.


Beruntung di setiap perjalanan tidak ada hambatan sama sekali. Dan ini tentunya akan mempercepat perjalanan. Namun, diperjalanan selalu ada di antara bocah-bocah itu yang berbuat ulah. Seperti Atma yang menggoda anak laki-laki seusianya, beruntung orang-orang tidak bertindak karena berpikir Atma anak iseng.


Dirgan, dia hampir menyinggung seorang pejabat karena tatapan matanya yang dingin. Dan dalam hal ini Senior Fans yang menyelesaikan karena Dirgan sama sekali tidak mau meminta maaf, karena merasa dirinya tidak bersalah.


Bukan hanya dua bocah laki-laki itu, tetapi Rinai bahkan melakukan hal tak terduga. Dia mempromosikan barang dagangan seorang kakek tua yang masih belum laku. Untuk kali pertama Rinai berbicara tanpa menangis, dia melakukan sebuah trik yang membuat pembeli tertarik.


"Wah, kau ternyata hebat dalam berdagang, Rinai." Goda Dirgan diselingi tawa teman yang lain.


Malam yang dihiasi gemerlap lintang, di desa sebelum memasuki desa selanjutnya. Amdara, Inay, Dirgan, dan Rinai tengah berjalan melewati pasar malam. Pemandangan yang indah di desa kecil itu.


Amdara menyetujui. Dia nampak terpana saat banyak orang yang langsung membeli barang kakek tua itu.


Sejak perjalanan ke desa Bumi Selatan, Inay lebih banyak diam. Dia membuat teman-temannya bingung dan khawatir.


Suara meminta tolong terdengar, beberapa orang terbang dan berlari ke arah teriakan. Amdara, Inay, Dirgan dan Rinai penasaran. Mereka berjalan mengikuti orang-orang dari belakang.


Di tengah kerumuman itu, dua orang saling berteriak menyalahkan. Satu pria dan satu wanita itu hampir melepaskan kekuatan jika seseorang tidak menginstruksi.


"Sebenarnya ada apa?"


Pertanyaan keluar dari Kepala Desa yang memiliki perawakan ramah. Dia memegang tongkat untuk menyangga tubuhnya. Beberapa orang nampak mundur, memberi jalan Kepala Desa.


Pria yang memakai topi dengan jubah hitam di tubuhnya itu menunjuk wanita yang berusia kisaran 40 tahunan dengan keras berkata, "dia menuduhku mengambil permata silumannya!"


Dia kembali berbicara, "bukankah ini keterlaluan? Dia berani sekali menuduh, berarti dia berani kuhab*si!"


Pria tersebut mengeluarkan asap dari dalam tubuhnya tetapi segera ditarik saat Kepala Desa mengatakan siapa pun yang bersalah akan dihukum. Dan mendapat sanksi atas perbuatannya.


"Aku tidak menuduhmu begitu saja! Aku akan memperlihatkan buktinya. Kalian, geledah jubah pria itu dan cari permata siluman milikku!"


Adu mulut terus terjadi. Si pria malah mengajak berduel dan saling mengeluarkan jurus terkuat. Bahkan Kepala Desa sampai kebingungan harus berbuat apa.


Di tengah kerumunan, terlihat Nada yang memeluk boneka erat. Dia terus saja melihat kejadian barusan. Tatapan matanya menajam. Dia mengelus-elus kepala boneka.


"Kau, pria itu yang salah."


Di saat mereka sedang saling berteriak, tiba-tiba saja si pria yang berteriak merasakan tenggorokannya yang sakit. Dia tidak bisa bersuara sama sekali. Namun, suaranya kembali tetapi kalimat yang keluar bukanlah keinginannya.

__ADS_1


"Benar. Aku yang telah mengambil permata siluman wanita itu. Semua yang kukatakan hanya dalih agar kalian percaya padaku. Aku yang bersalah. Jika tidak percaya, geledah jubahku dan temukan permata siluman wanita itu."


Semua orang yang melihatnya tersentak. Mereka hampir tidak percaya, tetapi melihat si pria yang akan melarikan diri. Seseorang langsung melilitkan tali ajaib ke tubuh pria itu.


Sementara Nada tersenyum, dia baru saja membuat pria itu tak bisa berbicara. Benar. Yang dikatakan si pria itu, adalah suara yang diambil Nada kemudian dia yang berbicara demikian. Tidak ada yang tahu, bahwa dirinya sekarang bisa menirukan gaya berbicara seseorang dan membuat orang lain kehilangan pita suara untuk beberapa saat.


Dua orang yang berhasil menggeledah jubah pria itu, mengangkat tangan dan memperlihatkan sebuah permata siluman. Semua orang dibuat riuh.


Nada pergi begitu saja setelah merasa puas dengan yang dia lakukan barusan. Dirinya pergi ke tempat Senior Fans dan Atma berada sebelumnya.


Senior Fans yang melihat keanehan pada aura Nada dibuat tersentak. Pasalnya Nada seperti akan bisa membuka kekuatannya tidak lama lagi. Entah bocah yang membawa boneka itu sadar atau tidak.


Untuk malam ini mereka menginap di penginapan. Dan melanjutkan perjalanan dengan persiapan sebelumnya pada pagi-pagi buta kembali.


Di sepanjang perjalanan, Amdara terus mencoba menyerap kekuatan alam sebisanya. Dia meneteskan keringat di dahi saat tubuhnya terasa sakit kembali.


Senior Fans dibantu Inay saat menerbangkan lempeng kayu. Mereka lebih mempercepat terbang agar cepat sampai.


Hawa yang dirasakan Senior Fans dan Inay yang tidak jauh lagi akan mendekati desa kedua menuju desa Bumi Selatan. Hawa yang begitu mengerikan, seakan pernah mereka rasakan saat berhadapan dengan Roh Hitam. Namun, kali ini sedikit berbeda karena ada hawa asing yang langsung membuat bulu kuduk mereka berdiri. Amdara sendiri tidak merasakan apa pun, karena di inti spiritualnya Benang Merah semakin merambat. Sementara Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada yang juga tidak merasakan apa pun masih bertingkah seperti biasa.


Hujan mulai turun membasahi bumi. Mega merah mulai memunculkan diri, pertanda malam akan segera kembali.


Pintu gerbang yang menjulang tinggi, sebagai petanda sebuah desa ada di baliknya. Papan bertulis 'Desa Air' itu hampir rapuh dan hanya bergantung pada sebelah sisi.


"Siapa kalian!"


Salah satu dari mereka berteriak, lalu menyodorkan bambu itu ke depan. Seakan siap bertarung jika mereka melakukan gerak-gerik mencurigakan.


"Kami ingin melewati desa ini saja." Senior Fans berbicara sopan, "kami bukan orang jahat."


Penampilan lima pria itu seperti manusia biasa tanpa kekuatan. Mereka juga tidak terbang apalagi menunjukkan adanya kekuatan, hanya mengandalkan sebuah bambu.


Mereka saling bertatapan. Dan melihat satu persatu dari orang asing itu.


Amdara masih berekspresi datar. Berbeda sekali dengan Dirgan, Atma, Rinai dan Nada yang terlihat memilih mundur dan bersembunyi di balik punggung Senior Fans, Amdara, dan Inay.


"Ada perlu apa kau melewati desa ini?"


Satu di antara penjaga gerbang kembali bertanya sinis. Suara yang serak menambah kengerian di pandangan mereka.

__ADS_1


"Mohon maaf, Tuan-tuan. Kami ingin pergi ke desa Bumi Selatan." Sepertinya memang Senior Fans harus berkata jujur.


"Tidak bisa. Kalian harus pergi sekarang juga."


Keinginan mereka ditolak mentah-mentah. Bahkan sebelum Senior Fans berkata lagi, kelima penjaga langsung melemparkan bambu mereka dan asap hitam seketika muncul mengaburkan pandangan.


Amdara menutup mata, dia mencoba berkonsentrasi menggunakan indera pendengaran. Akan tetapi yang ada malah telinganya berdarah. Bukan hanya dia, tetapi Inay, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada juga demikian. Terkecuali Senior Fans yang menggunakan perisai pelindung. Dia tidak sempat memberi perisai pelindung pada yang lain. Jadi mereka juga basah kuyup diguyur hujan yang tak kunjung berhenti.


"Uhuk! Senior, kau di mana?"


Suara dari Atma membuat Senior Fans segera mencari bocah-bocah itu untuk segera mendekat ke arahnya.


Rinai berpegangan pada lengan Amdara. Dia menangis, tetapi ditenangkan oleh Amdara.


Asap hitam tak kunjung hilang, Senior Fans terbang dan membuat gerakan tertentu untuk menghilangkan asapnya dalam sekali kibasan.


Andai saja Amdara dapat mengeluarkan kekuatan dengan baik, dia pasti akan dengan cepat menangani asap ini.


Tiba-tiba gerbang terbuka, memunculkan sesosik wanita tua yang mengenakan pakaian sederhana. Berteriak memanggil ke lima penjaga.


"Kalian, cepat bantu yang ada di dalam! Jangan urus mereka!"


Tanah tiba-tiba bergetar. Walaupun samar, tetapi Senior Fans masih bisa menangkap suara debaman dari dalam. Kelima penjaga langsung menghampiri wanita tua itu. Tanpa memedulikan orang-orang asing.


Melihat kesempatan bagus, Amdara berlari ke arah wanita tersebut.


"Nyonya, biarkan kami melewati desa ini." Amdara membungkuk. "Setidaknya izinkan kami berteduh."


Melihat tubuh seorang bocah yang basah kuyup, membuat wanita itu tidak tega. Walaupun tidak mengenal, tetapi dia akhirnya menyetujui agar Amdara dan teman-temannya untuk berteduh. Karena memang jika mereka pergi, jarak dari desa satunya lumayan jauh.


Lima penjaga gerbang menolak mentah-mentah. Mereka tidak setuju dengan keputusan wanita tua itu. Namun, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengurusi pendatang-pendatang itu.


"Tidak ada waktu lagi! Kalian harus cepat ke ruang bawah tanah. Keadaannya tidak bisa dicegah lagi!"


Lima penjaga gerbang nampak tidak ada pilihan lain. Mereka segera berlari pontang-panting.


Wanita itu mengajak Amdara masuk, dan juga teman-teman agar berteduh.


Saat gerbang besar itu terbuka, terlihat tanah yang hitam pekat tetapi sangat kering. Tidak ada tumbuhan yang hidup, padahal di luar gerbang tumbuhan masih hidup. Udara di sana juga cukup pengap, membuat orang-orang kesulitan menghirup udara.

__ADS_1


Guncangan pada tanah semakin menjadi. Wanita tua itu terlihat berwajah cemas dan pucat pasi. Hawa menekan sampai membuat mereka kesulitan berjalan. Hujan semakin deras, sambaran petir di langit menambah suasana mengerikan.


"Kalian cepat pergi ke salah satu rumah warga!"


__ADS_2