Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
145 - Shi


__ADS_3

"Aku minta maaf."


"Untuk?"


"Jika aku tahu lokasi asli kediaman Tetua Haki, kita tidak akan mengalami hal ini dan kau juga tidak akan terluka parah. Jika saja saat Roh Hitam semalam berhasil aku lenyapkan dalam sekali serangan, kau tidak akan terluka parah. Luffy, ini semua salahku. Aku benar-benar payah, bodoh, dan juga tidak berguna."


Shi bertambah menunduk. Rasanya sangat malu tidak berguna dihadapan adik kelasnya ini. Bahkan ada setitik perasaan di mana Shi jadi merasa tidak pantas menjadi salah satu perwakilan Akademi.


Amdara diam, memerhatikan Shi dari samping. Amdara lantas menggelengkan kepala dan membalasnya, "itu tidak benar."


Shi tersenyum kecut mendengar respon Amdara. Dalam hati masih ada rasa tidak percaya bahwa Amdara masih bisa mengatakan apa yang dia ungkapkan tidaklah benar. Padahal jelas-jelas jika Shi tahu di mana tempat asli kediaman Tetua Haki, mereka tidak akan berada di dalam masalah.


"Yah, kau pasti hanya sedang menghiburku kan? Luffy, terima kasih. Ucapanmu cukup menghiburku," ujar Shi sambil menoleh ke arah Amdara yang ternyata menatapnya tanpa ekspresi.


"Kau adalah orang pertama yang tidak menyalahkanku." Batin Shi yang mendadak teringat apa saja yang telah dia alami selama ini.


Sudah banyak teman dan orang-orang sekitar yang menyalahkan Shi atas suatu kejadian yang sebenarnya bukanlah kesalahan Shi sepenuhnya. Amdara adalah orang pertama bagi Shi yang memandangnya berbeda. Seorang yang lebih muda darinya, tapi berpikiran dewasa layaknya teman sebaya.


"Aku tidak menghiburmu." Amdara mendengus. Lalu mengatakan sesuatu yang membuat Shi menatap Amdara dalam.


Amdara dengan suara yang tenang berucap, "kau sama sekali tidak bersalah karena tidak tahu kediaman Tetua Haki. Dan kau tidak bersalah karena tidak bisa menyelamatkanku."


"Aku juga tidak tahu di mana tempat Tetua Haki berada. Apa aku yang tidak tahu ini juga bersalah?"

__ADS_1


Pertanyaan polos Amdara barusan langsung diberi gelengan oleh Shi. Shi tentu tidak bermaksud begitu, tapi kenapa bocah berambut putih ini malah berpikir demikian?!


"Tidak. Kau tidak bersalah, Luffy. Kau murid baru di Akademi, jadi wajar tidak tahu kediaman Tetua."


Amdara mendengus mendengar penuturan Senior Shi. Amdara lalu berucap tanpa nada seperti biasa, "bagaimana dengan Senior Cakra? Dia juga tidak tahu. Jadi maksudmu Senior Cakra yang bersalah?"


Shi membuka mata lebar, sontak menggeleng dengan cepat lagi. Dirinya mengatakan bahwa Cakra juga tidak bersalah dalam hal ini.


Cakra yang terbang di depan mereka nampak menoleh ke belakang ketika namanya terpanggil. Dia menaikkan sebelah alisnya mendengar obrolan dua murid perempuan dari Akademi Magic Awan Langit itu.


"Kalian berdua sama sekali tidak bersalah. Sebagai senior, seharusnya aku menjadi penunjuk jalan untuk kalian. Tapi yang terjadi adalah aku sendiri sama sekali tidak berguna. Bahkan tidak mengetahui kediaman Tetua Haki."


Shi mengembuskan napas. Dia menurunkan pandangan. Tidak tahu harus berkata seperti apa lagi. Berbicara dengan Amdara sepertinya sudah membuat dia terasa nyaman. Tidak disangka juga Amdara yang terlihat hemat bicara bisa cakap bicara seperti ini.


"Apa senior tahu mengapa seseorang terkadang bisa berpikir semua kesalahan adalah akibat dari ulahnya?" tanya Amdara tiba-tiba. Dia tidak lagi mengatakan bahwa dirinya dan Cakra bersalah, atau menyalahkan Senior Shi yang tidak tahu jalan. Namun, Amdara saat ini sepertinya harus berbicara banyak untuk memberi pemahaman kepada Shi.


Shi menoleh, raut wajahnya kurang baik. Dia kemudian menggeleng, tidak tahu jawaban atas pertanyaan Amdara.


Amdara setelahnya mengatakan bahwa orang yang berpikir demikian adalah orang-orang yang memiliki masalalu di mana dirinya selalu disalahkan oleh orang lain. Entah karena rasa takut, atau pun tidak bisa memberi pembelaan terhadap diri sendiri. Alhasil sikap yang dia terima dari orang lain mulai melekat seiring berjalannya waktu. Ketika berpindah tempat pun, jika orang tersebut sudah berpikiran kesalahan yang ada adalah karenanya padahal jelas-jelas bukan, maka orang itu akan terus-menerus menyalahkan diri sendiri.


Pengalaman dan lingkungan memang adalah tempat di mana seseorang memiliki karakter. Karakter bukan hanya terbentuk dari diri sendiri, melainkan berawal dari pengalaman serta lingkungan.


"Kau hanya perlu tahu, bahwa manusia itu memiliki roda kehidupan." Amdara menarik napas dalam sebelum kembali mengeluarkan suara. "Setiap keadaan akan selalu berbeda. Pengalaman yang didapat, pasti akan dijadikan pelajaran di masa mendatang. Dan berusaha menghindari pengalaman yang buruk terulang kembali."

__ADS_1


Shi terus diam mendengarkan. Dia terkesima dengan kalimat demi kalimat yang disusun rapi di dalam bibir mungil Amdara. Semua kalimat itu langsung tertancap di dalam hati dan pikiran Shi.


Cakra yang juga mendengarnya bahkan sampai berkedip. Tidak menyangka seorang Luffy bisa membuat perkataan yang begitu baik dan menusuk hati sekaligus.


Ada yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Namun, Amdara mengutarakan pendapatnya dalam hal ini. Menurutnya, pengalaman orang lainlah yang akan menjadi guru manusia. Karena dengan mendengar langsung pengalaman orang lain, maka kita tidak perlu atau tidak akan melakukan pengalaman buruk yang pernah dilalui orang lain. Dengan kata lain, kita akan melewati jalan di mana tidak terpelosok dalam pengalaman buruk seperti yang pernah dialami orang lain.


Amdara melanjutkan kalimatnya. Dia menepuk pelan bahu Shi menggunakan tangan kanannya.


"Tapi seperti yang aku katakan sebelumnya. Kehidupan memiliki roda tersendiri. Dalam keadaan tertentu, manusia akan merasa dia berada di titik terendah. Entah itu karena orang lain, atau pikiran sendiri."


Shi tersenyum tipis. Dia tahu apa yang dimaksudkan Amdara. Shi saat ini sedang berada di titik di mana dia merasa paling rendah, tidak berguna, dan juga lemah. Tentu sebenarnya itu adalah pemikiran negatifnya. Karena selama ini Shi juga hidup dilingkungan di mana orang-orang selalu menyalahkannya.


Shi berucap, "aku tidak tahu apakah sebenarnya aku salah atau tidak. Tapi ... aku selalu berpikir semuanya memang salahku."


"Mendengar penjelasanmu membuatku berpikir lain lagi. Apa aku ini bodoh karena tidak bisa membedakan mana kesalahan yang benar-benar kuperbuat atau kesalahan yang disalahkan kepadaku," lanjutnya.


Amdara melihat ada nada kesedihan tersirat. Amdara kemudian menepuk-nepuk bahu Shi pelan, seolah dirinya sedang menguatkan.


"Cobalah berpikir secara luas. Senior, menjadi manusia itu memang sulit. Tapi akan mudah jika bisa mengambil hal positif dan meninggalkan negatifnya."


Shi yang mendengar penuturan Amdara malah tertawa kecil. Dia berkata dengan nada meledek, "kau berkata begitu seolah kau bukanlah manusia."


Shi merangkul bahu Amdara. Dengan senyuman manisnya yang menambah kecantikan, Shi tertawa sebelum memuji Amdara yang ternyata begitu cakap bicara. Shi juga mengatakan sesuatu yang membuat Amdara hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


Dalam hati Shi membatin sambil tersenyum ke arah Amdara.


"Tapi terima kasih, Luffy. Kau memang orang pertama yang tidak menyalahkanku. Bukan hanya itu, kau juga orang yang memberi penjelasan dan pemahaman yang membuatku berpikir kesalahan yang ada tidak sepenuhnya harus disalahkan kepadaku."


__ADS_2