Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
44 - Kejadian Tak Terduga (2)


__ADS_3

Suara dabaman kembali terdengar. Tanah berguncang hebat membuat warga yang tengah berjalan santai jadi begitu panik. Mereka segera masuk ke rumah, dan mengunci pintu dan jendela rapat-rapat. Awan tiba-tiba menggelap berbeda, kemerah-merahan dengan hawa dingin. Hujan yang terus mengguyur, tetapi sama sekali tidak menyerap ke tanah.


Ketika wanita tua yang langsung pergi entah kemana setelah meminta mereka untuk berteduh ke salah satu rumah, Amdara membawa teman-temannya ke rumah tua yang masih terbuka.


"Tuan, Nona, izinkan kami masuk."


Amdara merasakan dingin yang semakin menjadi. Begitu pula dengan yang lain. Tidak ada jawaban dari tuan rumah, Senior Fans inisiatif masuk dan memastikan apakah ada si tuan rumah.


"Masuklah."


Tidak ada orang satu pun di rumah tersebut. Jadi Senior Fans memerintahkan yang lain agar segera masuk.


Gelap. Tidak ada penerangan, Senior Fana langsung membuat cahaya di dalam yang dapat menghangatkan tubuh. Rumah yang hanya memiliki satu ruangan yang tidak terlalu besar itu, masih bisa dimasuki tujuh orang. Jubah mereka yang basah, langsung dikeringkan menggunakan kekuatan Senior Fans dan Inay.


"Kak, apa ada sesuatu?"


Amdara bertanya lirih pada Inay yang terlihat cemas akan sesuatu. Jelas Amdara tidak bisa merasakan sesuatu saat ini karena Benang Merah.


Inay yang tengah memegang lengan Amdara sambil menyalurkan kekuatan untuk mengeringkan jubah Amdara mengembuskan napas.


"Bukan masalah besar. Kau jangan khawatir. "


Inay tersenyum sekilas. Tetapi Amdara tahu Inay tengah memikirkan sesuatu.


Suara gemuruh petir bersahutan di atas. Ketegangan ada di benak mereka semua.


"Sebenarnya apa yang terjadi di desa ini?"


Pertanyaan Dirgan mewakili pemikiran mereka. Tidak ada yang bisa menjawab. Hanya dugaan-dugaan yang terlintas di benak masing-masing.


"Kalian tunggu di sini." Senior Fans berdiri, dan menatap Inay. Melewati tatapan matanya, seakan dia mengatakan Inay harus menjaga mereka semua. "Aku akan mengecek keadaan."


Amdara baru saja akan mengatakan sesuatu, tetapi Senior Fans melesat ke arah suara debaman keras, dan hawa keberadaan suatu makhluk yang cukup famous.


"Apa yang harus kita lakukan? Apa kita hanya diam saja di sini?"


Atma menelan ludah susah payah. Dia mendekatkan diri ke Dirgan, pasalnya tanah juga tidak henti bergetar hebat. Seperti akan longsor atau lebih parah desa ini diserang?

__ADS_1


Rinai mendekat ke Amdara, dia meringkuk ketakutan. Nada yang biasanya tertawa cekikikan juga terdiam, dan berpegangan pada lengan Amdara.


Amdara menepuk-nepuk pelan bahu keduanya, menenangkan. "Tidak apa-apa. Kita akan baik-baik saja."


"Seperti yang dikatakan Senior Fans. Kita tidak boleh pergi dari rumah ini. Kita juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jadi ikuti perintah saja. Kita akan baik-baik saja, semuanya tenanglah."


Dalam hati Inay berdoa agar semuanya baik-baik saja. Perasaan tidak asing akan bahaya ini, membuat Inay lagi-lagi dan lagi melirik Amdara yang masih menenangkan Rinai dan Nada.


Di luar, Senior Fans menapak di salah satu atap warga. Raut wajahnya dingin, dia melihat beberapa orang yang pontang-panting berlarian tidak keruan dan berteriak.


"Cepat ...! Pergi dari sini ...!"


"Dia tidak bisa ditahan lagi. Makhluk itu benar-benar akan keluar ...!"


"Tahan sebisa mungkin! Kita tidak boleh sampai lenyap olehnya ...!"


Terlihat ada satu lubang besar yang beberapa orang masuk-keluar sejak tadi sambil berteriak. Wajah mereka ketakutan, ditambah mereka sama sekali tidak ada yang terbang dan menggunakan kekuatan. Hanya ada beberapa wanita dan kebanyakan pria tua.


Senior Fans mendarat, dia menghampiri salah satu warga. Dan mulai bertanya tetapi malah diabaikan. Beberapakali Senior Fans bertanya pada orang-orang ini, tetapi tidak ada yang menjawab. Mereka sibuk dengan pekerjaan genting masing-masing.


Malam sebentar lagi datang, pencahayaan di desa ini hanya menggunakan api yang disimpan di wadah khusus.


"Siapa kau?"


Fans memberi hormat. Dia menjawab, "ada apa di desa ini?"


Pria dengan kulit hitam itu memerhatikan Fans dari atas sampai bawah. Jelas Fans bukan dari warga desa, membuat raut wajah pria itu seketika memburuk.


"Tuan Muda, kau bernasib buruk. Sekarang kau tidak bisa keluar desa dan malah terjebak bersama kami."


Pria itu berekspresi sedih. Dia pergi begitu saja membiarkan Fans yang masuk ke lubang besar. Ada sedikit kejanggalan yang dirasakan, Senior Fans mempercepat langkah memasuki lubang bawah tanah yang amat besar. Hal tak terduga terjadi, tanah di sana semuanya berwarna merah dan berbau menyengat.


Ruangan bawah tanah yang sangat besar, banyak orang-orang yang membawa bambu hitam. Mereka masuk ke satu lorong, cahaya di sana disinari oleh api biasa. Aura hitan pekat muncul dari balik lorong itu, dan saat Senior Fans akan memasuki lorong tersebut, seseorang mencekal pergelangan tangannya.


"Jangan masuk Tuan Muda!"


Orang itu adalah wanita tua yang sebelumnya memberi izin mereka memasuki desa.

__ADS_1


Senior Fans membungkuk memberi hormat. Dia berujar, "maaf, Nyonya. Ada apa sebenarnya?"


Pertanyaan Fans belum sempat dijawab tetapi guncangan pada ruang bawah tanah itu sangat besar, bahkan sampai retak. Debaman keras lagi terdengar.


"Sebaiknya kau pergi dari sini sekarang juga. Ini tidak ada urusannya denganmu."


Wanita itu nampak khawatir. Dia memberi perintah pada orang-orang agar cepat masuk ke dalam lorong.


Senior Fans yang sepertinya mengetahui situasi berbicara, "aku bisa membantu."


Wanita di hadapan Fans menatapnya dalam. "Terima kasih kau mau menolong kami, Tuan Muda. Tapi kami tidak ingin kau lenyap di desa ini hanya karena menolong. Kau cepat--!"


BAAM!


Sesuatu terpental dari lorong tersebut, tubuh seorang pria yang kulitnya mengeriput itu mengeluarkan darah dari mulut dan perut. Wanita yang tak sempat melanjutkan perkataan itu langsung berteriak meminta pertolongan agar jasa* itu segera di bawa keluar.


Senior Fans baru menyadari bahwa warga desa yang dia lihat semuanya sudah tua dan berkulit keriput cokelat seakan jarang sekali makan, terlihat tulang yang terbungkus kulit.


"Aku bisa membantu, Nyonya. Izinkan aku."


Di saat seperti ini adalah kesempatan bagus bagi Senior Fans untuk meminta izin masuk. Wanita tua itu berdecak dan melibaskan tangan petanda Fans boleh masuk.


Ketika aura gelap itu semakin menjadi, Fans segera melesat ke lorong lubang. Bahkan bau menyengat ditambah bau anyir menyeruak begitu dirinya melewati lorong dan tiba di ruang bawah tanah yang lain tidak kalah besar.


Banyak orang yang membawa bambu hitam. Ada beberapa yang telah tewas. Mereka nampak terengah-engah menatap ke jeruji besi amat besar di depan. Salah satu dari mereka langsung melemparkan bambu hitam ke dalam jeruji besar dan ketika itu juga debaman keras dan asap hitam yang sebelumnya pernah Senior Fans lihat terjadi.


Kali ini sesuatu tak terduga terjadi. Suara auman dari balik jeruji besi yang dibuat menggunakan kekuatan terdengar mengerikan di telinga siapa pun.


Orang-orang yang masih bisa mempertahankan tubuh mereka langsung terpental oleh sesuatu. Mereka memuntahkan darah segar dari mulut dan hidung.


Senior Fans terdorong sedikit, sesuatu yang menekan tubuhnya benar-benar membuatnya yakin ada Roh Hitam di balik jeruji ini. Namun, aura ini berbeda. Lebih kuat.


Fans membuat perisai pelindung untuk diri sendiri dan orang-orang yang berada di jangkauannya saat suara auman kembali terdengar. Dia belum sempat melesatkan serangan, tetapi sebuah tangan besar berbulu lebat hitam tengah berpegangan pada jeruji besar.


"A-apa dia akan keluar?!"


Ketegangan kian menjadi saat tangan mengerikan tersebut mulai mencoba merusak jeruji itu. Fans menahan napas sejenak, dia tidak tahu seberapa kuat makhluk itu. Perlahan, jeruji itu mulai remuk.

__ADS_1


Kretak!


__ADS_2