Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
149 - Bertemu Siluman Ular


__ADS_3

Bahkan ketika ada waktu luang, Shi dan Cakra langsung memintanya memperlihatkan tekhnik yang sudah mereka latih selama seminggu ini.


Setelah mengisi perbekalan dengan buah apel, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Buah-buah apel itu disimpan di Cincin Ruang milik Amdara. Awalnya Shi tidak menyangka jika Amdara bisa sampai memiliki benda tersebut. Begitu pula dengan Cakra yang terkejut saat melihatnya.


Mereka tidak mengambil semua buah apelnya. Hanya membawa beberapa buah untuk perbekalan.


Hari semakin sore, ketiga bocah itu tidak beristirahat kembali. Sepanjang perjalanan, mereka terus saja membahas mengenai teknik dasar. Sebenarnya yang paling banyak berbicara adalah Shi, bocah perempuan itu seolah tidak bisa diam saat perjalanan. Yah, Amdara dan Cakra tentunya tidak masalah. Karena tanpa adanya Shi, perjalanan mereka akan terasa membosankan.


Cakra menghentikan terbangnya, dia mengedarkan pandangan seperti sedang mencari sesuatu. Shi dan Amdara yang baru sampai di belakang Cakra mengerutkan kening kebingungan.


"Cakra, apa ada sesuatu?" tanya Shi penasaran. Namun, detik berikutnya dia memfokuskan diri pada indera pendengar. Seketika raut wajahnya berubah serius.


Gerakan cepat, sedang mengelilingi mereka dengan jarak tidak terlalu jauh. Semak-semak bahkan pepohonan sekitar nyaris dibuat bergoyang karena sesuatu. Suara aneh mulai terdengar.


Amdara juga merasakan sesuatu. Dia mengedarkan pandangan dan berkata, "ada siluman."


Tepat ketika Amdara mengatakan hal tersebut, suara desisan terdengar dari arah depan. Cakra sudah menduga, dia bersiap menyerang. Shi tidak mungkin membawa Amdara pergi sekarang, yang ada nanti mereka akan diserang dahulu.


Angin berbalik arah, firasat buruk dirasakan oleh Amdara, Shi dan juga Cakra. Ketiganya bersiap dengan siluman yang akan menghampiri.


Semak-semak yang tinggi itu bergerak tidak wajar. Tatapan ketiga bocah itu jelas terarah ke sana. Tiba-tiba seekor Siluman Ular berwarna hijau lumut muncul, wajahnya menyeramkan. Dia menjulurkan lidah panjangnya sambil mendesis menatap tajam ketiga manusia di hadapannya. Permata merah darah terpasang di kepalanya, bahkan berbentuk piramida besar. Ukurannya sekitar dua setengah meter.


Siluman Ular itu dengan kecepatannya menyerang Cakra yang berada paling depan dengan berusaha melilit tubuh bocah laki-laki itu. Cakra menghindar dengan cepat, dia melesatkan petir-petir ke arah Siluman Ular tapi yang terjadi malah petirnya sama sekali tidak melukai musuh.


Cakra menahan napas, beruntung setelah belajar teknik kecepatan dirinya bisa menghindari terjangan musuh yang tubuhnya secepat kilat.


Amdara dan Shi menyaksikan bagaimana Cakra yang berusaha menghindar dan juga melakukan serangan. Tapi dari semua serangan tidak ada yang menggores kulit Siluman Ular. Seperti kulit itu sangat kuat dan juga licin.


Shi mengangkat satu tangan, detik berikutnya dia mengeluarkan kekuatan besar untuk menyerang Siluman Ular. Musuh yang tidak mengetahui ada serangan, nampak berhenti bergerak karena serangan yang mengenainya. Tapi detik berikutnya dia mendesis, berbalik badan menatap tajam sang pelaku yang berani menyerang dari belakang.

__ADS_1


Shi dan Amdara menelan ludah susah payah. Pasalnya serangan Shi ternyata tidak berdampak sedikit pun pada Siluman Ular tersebut yang sekarang menggeliatkan tubuh licinnya. Menggunakan ekor panjang, dia melibaskannya pada Shi dan Amdara. Kedua bocah itu sontak menghindar secara bersamaan.


Amdara meminta Shi menurunkannya, karena merasa dirinya hanya akan menjadi beban Shi dan juga Cakra. Selagi Siluman Ular berurusan lagi dengan Cakra, Shi akhirnya terpaksa membawa Amdara ke tempat yang agak jauh dari pertarungan.


Shi berpesan agar Amdara menjaga diri baik-baik, begitu pula dengan Amdara yang meminta maaf karena tidak bisa membantu. Setelah kepergian Shi, Amdara menarik napas dalam. Dirinya mengedarkan pandangan ke sekeliling yang hanya ditumbuhi semak belukar yang tingginya melebihi tinggi tubuhnya.


'Beban', itu yang dipikirkan. Entah seperti apa reaksi Tetua Haki ketika melihat kondisi tubuhnya, mungkin saja Tetua Haki akan langsung menggantikan Amdara dengan murid berbakat lainnya. Amdara tentu tidak merasa keberatan, dengan seperti ini dia bisa menjalankan misi asli dari Tetua Bram.


"Apa aku hanya akan diam saja?" Amdara mengembuskan napas. Tubuhnya tidak lumpuh, tapi untuk terbang sendiri rasanya masih belum sanggup.


Perlahan dia bangkit, berjalan ke arah pertarungan teman-temannya melawan Siluman Ular. Amdara tidak bisa duduk diam menunggu teman-temannya mengalahkan musuh yang begitu kuat. Amdara harus melakukan sesuatu, setidaknya dapat membantu kedua temannya yang sedang mempertaruhkan nyawa.


Tapi apa yang bisa bocah berambut putih itu lakukan untuk membantu Cakra dan juga Shi? Tidak mungkin dirinya mengeluarkan jurus. Tubuhnya masih belum pulih.


Suara debaman keras terdengar, bahkan tanah yang diduduki Amdara bergetar karena tubuh Siluman Ular yang baru saja menghantam tanah dengan keras. Siluman Ular mendesis, mendelikkan mata ke arah dua bocah yang kecepatannya luar biasa. Ditambah, sekarang mereka bisa menggabungkan kekuatan. Sampai-sampai kulit Siluman Ular tergores. Walau begitu, Siluman Ular tidak merasakan sakit. Dia kembali menyerang menggunakan kecepatan tinggi dengan ekor, hendak melilit kedua bocah itu.


Cakra terbang menghindar, dengan cara terbang lebih tinggi juga memutari pepohonan sekitar. Dia memfokuskan diri, mencari titik lemah lawan. Ketika memperhatikan baik-baik permata yang berada di kepala Siluman Ular, detik itu juga tubuhnya terkena hantaman keras dari Siluman Ular.


"Sialan! Tubuhnya bukan hanya kuat, tapi juga sangat licin. Siluman ini berumur lebih dari sepuluh ribu tahun!"


Shi menahan napas ketika berusaha mengelak dari serangan Siluman Ular yang kini menargetkannya. Ketika bertarung dengan Siluman Harimau Api, mereka harus menggabungkan kekuatan besar, kali ini mereka tidak memiliki kekuatan besar seperti sebelumnya. Jelas dikeadaan seperti ini mereka berdua akan kalah telak.


Shi mendarat, mengatur pernapasan. Dirinya berusaha menenangkan pikiran. Fokus mengeluarkan jurus api yang seminggu ini dia latih. Matanya terbuka lebar, hawa panas menyelimuti tubuhnya. Angin berhembus terasa panas.


Siluman Ular berhenti sejenak. Dia menjulurkan lidah dan mendesis keras. Perasaan panas itu jelas dia rasakan. Tapi dirinya langsung menyerang Shi tanpa pikir panjang.


Tepat ketika hal tersebut terjadi, Shi memutar tubuh yang langsung membuatnya terbang. Pusaran elemen api mengelilinginya. Semakin membesar hingga ketika jari Shi bergerak ke arah Siluman Ular, bola api muncul dan menerjang musuh.


BAAM!

__ADS_1


Blaaar!


Suara debaman sangat keras terjadi. Akibat serangan dari Shi, membuat tanah berlubamg besar hingga hangus. Asap mengepul di udara, bau daging terpanggang tercium di hidung Shi bahkan Cakra yang tidak jauh.


Cakra melesat ke arah suara debaman. Takut sesuatu yang lebih buruk terjadi. Namun, yang dilihatnya adalah Siluman Ular yang tubuh sebagiannya sudah menghitam akibat api. Siluman Ular tidak bergerak, tapi dia masih hidup. Darah mengalir dari tubuhnya, sisik ular tersebut tergelupas. Nampaknya serangan dahsyat dari Shi berhasil melukai Siluman Ular.


Tatapan mata Cakra beralih ke arah Shi yang tersenyum, sebelum perlahan tubuhnya jatuh. Cakra sontak melesat, membawa tubuh Shi dan mendaratkannya pelan.


Kondisi Shi ternyata buruk. Dia menghabiskan banyak kekuatan hanya untuk mengeluarkan satu jurus itu. Akan tetapi jurus tersebut bahkan tidak dapat membunuh Siluman Ular.


"Ah, maafkan aku. Siluman itu ternyata sangat kuat. Hah ... tubuhku benar-benar lemas sekarang."


Kata Shi, dia mengatur pernapasan. Darah mulai mengalir dari sudut bibirnya. Masih tidak menyangka bisa mengeluarkan kekuatan besar itu, tapi musuh tidak lenyap juga.


"Senior, aku akan memulihkanmu." Cakra menyalurkan kekuatannya pada tubuh Shi selagi Siluman Ular belum bergerak.


Shi hanya bisa mengangguk pasrah. Dirinya terlalu memaksakan diri. Dia berkata lirih, "kupikir latihan selama seminggu ini dapat meningkatkan kekuatanku. Ternyata tidak ada yang berbeda. Aku benar-benar lemah sekali."


"Kau tidak lemah. Jurusmu hebat," ujar Cakra tenang.


Shi tersenyum tipis, dirinya mengangguk pelan. Aliran darahnya sudah mulai teratur. Luka luar dan dalamnya sudah mulai membaik karena bantuan Cakra. Kekuatan dalam tubuhnya pun mulai pulih. Shi tidak mengandalkan bantuan Cakra, dia juga berusaha menyerap kekuatan alam dan juga menyembuhkan diri sendiri.


Shi menggeser sedikit kepalanya ke arah kanan, berusaha melihat kondisi Siluman Ular yang masih belum bergerak. Shi tersenyum dan baru akan buka suara ketika mata Siluman Ular bergerak, menatap tajam balik dan tanpa diduga melesat ke arah mereka.


Shi membelalakkan mata, dia berseru, "Cakra, di belakangmu ...!"


Cakra yang tidak sempat menoleh ke belakang, tubuhnya langsung terlilit oleh ekor Siluman Ular yang tubuhnya sangat licin. Shi juga sama halnya terlilit. Kedua bocah itu tidak bisa melawan karena lilitan itu terasa semakin menekan tubuu. mereka.


Pergerakan Siluman Ular benar-benar tidak disadari Cakra. Dia lengah karena berpikir Siluman itu sudah terluka parah di bagian dalam karena kekuatan Shi. Nyatanya pemikiran seperti itu malah menjerumuskannya ke dalam bahaya sendiri.

__ADS_1


Siluman Ular mendesis, seolah menertawakan kedua bocah ini. Taring panjangnya muncul secara tiba-tiba, mulutnya terbuka hendak memakan kedua tubuh manusia ini.


Shi berteriak, memberontak sekuat tenaga. Tapi musuh malah mengeratkan lilitan hingga nyaris membuat Shi tidak bisa bernapas.


__ADS_2