Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
150 - Irama Ketenangan


__ADS_3

Amdara membeku di tempat, tidak jauh di depannya, Siluman Ular yang begitu besar sedang bergerak ke arah Cakra dan juga Shi yang sedang terduduk lemas. Bibirnya akan buka suara tapi telat. Ekor Siluman Ular berhasil melilit tubuh Cakra dan juga Shi yang langsung berteriak memberontak.


Amdara menahan napas, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Kedua temannya sedang dalam bahaya besar. Terlihat Siluman Ular itu hendak memakan kedua bocah tersebut. Amdara semakin mengepalkan tangan, dirinya ingin sekali menolong. Tapi, kekuatannya tidak akan mampu menolong kedua temannya itu.


Sebuah cahaya muncul di hadapannya. Amdara sampai dibuat terdorong mundur karena cahaya aneh barusan. Mata Amdara terbuka ketika cahaya tersebut sudah menghilang. Dirinya terkejut saat sebuah Seluring Putih nampak melayang-layang di depannya bahkan sedikit mengeluarkan cahaya putih.


Bukan bocah itu yang mengeluarkan dari Cincin Ruang, melainkan benda pusaka tersebut yang muncul dengan sendirinya.


Suara jeritan Shi menyadarkan Amdara yang langsung mengambil benda pusaka yang belum pernah dia latih. Dirinya menggenggam erat, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Siluman Ular telah membuka mulut, hendak memakan kepala Cakra dan Shi sekaligus. Gigi Amdara bergemerutuk, dia menatap Seluring Putih.


"Irama Ketenangan."


Mungkin itu yang berada di pikiran Amdara sekarang. Perlahan dia mulai meniup seluring dengan nada irama ketenangan yang dia harapkan mampu membuat Siluman Ular tenang sehingga tidak memakan tubuh mereka.


Suara dari seluring pusaka tersebut nyatanya sangat berefek. Tanpa mengeluarkan kekuatan, Seluring Putih tersebut dapat mengeluarkan nada yang lebih tinggi dan juga mengeluarkan irama ketenangan yang sangat berefek di sekitar.


Udara tiba-tiba berubah dingin, angin berhembus membawa dedaunan yang mengelilingi tubuh Amdara. Irama ketenangan langsung masuk ke telinga Siluman Ular yang terdiam.


Cakra dan Shi terkejut ketika mendengar suara yang sangat menenangkan tersebut. Hati mereka menjadi teduh, ketenangan menyelimuti tubuh. Cakra yang pernah mendengar irama ini seketika menyapu pandang, mencari sosok yang begitu pandai memainkan seluring. Matanya tertuju pada seorang bocah dekat pepohonan yang sedang memejamkan mata sambil terus memainkan seluring.


Cakra bergumam menyebut nama Amdara, Shi yang mendengarnya menaikkan sebelah alis. Mengikuti arah pandang bocah laki-laki ini. Mata Shi seketika terbuka lebar melihat siapa yang sedang memainkan seluring.

__ADS_1


Siluman Ular perlahan menjatuhkan tubuh Cakra dan Shi. Dia membalikkan tubuh sambil mendesis, mencari siapa yang telah berani memainkan irama ketenangan yang mengganggu telinga.


Amdara masih diam tidak berkutik, terlalu fokus memainkan irama ketenangan tanpa menyadari Siluman Ular sudah berada di depannya.


Shi baru saja akan berteriak memanggil, tapi Cakra langsung mencegah karena yang ada nanti Siluman Ular tersebut balik menyerang. Dilihat sekarang siluman itu masih belum melilit tubuh Amdara.


Amdara perlahan membuka mata, masih tetap memainkan seluring. Tatapan matanya dingin, tepat ke arah mata Siluman Ular. Siluman Ular ini perlahan membungkukkan kepala, entah apa yang dia pikirkan. Amdara awalnya tidak mengerti, tapi dengan keberanian yang entah datang dari mana. Kakinya menginjak kepala Siluman Ular dan duduk di atas kepalanya.


Cakra dan Shi yang melihatnya terkejut bukan main. Keduanya tidak menyangka dengan Amdara yang malah duduk santai di atas kepala Siluman Ular yang sebelumnya sangat ganas saat menyerang.


"A-apa? Dia menjinakkan Siluman Ular ...?" Shi menelan ludah kesulitan. Tubuhnya mendadak lemas. Dia belum pernah melihat seorang bocah yang bisa menjinakkan seekor Siluman hanya dengan irama ketenangan.


"Benda Pusaka itu menambah kekuatan irama ketenangan," ujar Cakra tenang. Tapi tidak dengan tatapan matanya. Shi yang mendengarnya semakin berdecak kagum.


Cakra terdiam, tatapan matanya melihat mata Amdara yang tanpa ekspresi. Melihat tatapan mata itu, Cakra berucap, "Tidak. Ayo naik."


Cakra terbang, dan duduk tenang di belakang Amdara. Shi yang melihatnya membuka mulut.


"He-hei, apa benar siluman ini mengizinkan kita naik?"


Cakra mengangguk dan bergumam sebagai jawaban. Shi ragu-ragu mulai terbang, dan duduk di belakang Amdara bersebelahan dengan Cakra. Kulit yang keras serta licin ketika Shi sentuh membuatnya merinding. Mengingat bagaimana jurusnya sama sekali tidak mempan.


Perlahan tubuh Siluman Ular bergerak dan pergi membawa ketiga bocah di atas kepalanya. Sekarang seolah pikirannya sedang dikendalikan oleh irama ketenangan.

__ADS_1


"L-luffy, siluman ini akan membawa kita ke mana?" tanya Shi yang masih harus tetap berhati-hati dengan siluman ini. Bisa saja secara tiba-tiba Siluman Ular membawa mereka ke sarangnya dan langsung memakan mereka. Pemikiran ini bisa saja terjadi 'kan?!


Tidak ada jawaban, karena Amdara sedang terfokus memainkan seluring. Matanya tertutup, dia sedang berusaha melakukan sesuatu pada tubuh siluman ini.


"Mungkin kita akan di bawa ke sarangnya."


"Apa?!" Shi segera menoleh ke samping tepat ketika Cakra mengatakan sesuatu barusan yang membuat detakan jantungnya berpacu lebih keras. Wajah Shi sudah pucat pasi, dirinya berkata, "Cakra, kau jangan membual. T-tidak mungkin siluman ini membawa kita ke sarangnya. Kau jangan menakutiku."


Cakra menoleh ke samping. Dirinya berkedip, lalu buka suara tanpa nada, "memang ke mana lagi?"


Jawaban Cakra membuat Shi bertambah ketakutan. Dia menoleh ke depan tepat di mana Amdara yang bergeming di tempat. Shi menyentuh kulit Siluman Ular, seketika dia kembali dibuat merinding. Duduk di atas kepala ini juga rasanya Shi tidak kuat lagi saking takutnya.


Cakra dan Shi tentu tidak tahu apa yang sedang diperbuat Amdara sekarang yang membuat Siluman Ular memperbolehkan mereka naik di atas kepalanya dan juga membawa mereka pergi. Jika dilihat raut wajah Amdara, dia seperti sedang menahan kesakitan luar biasa. Wajahnya sudah pucat, napasnya mulai tidak teratur.


Benda Pusaka Seluring Putih merupakan pusaka hebat yang jarang ditemukan. Karena kehebatan Seluring Putih, banyak yang sebenarnya mengincar benda pusaka ini. Salah satu kekuatannya dapat berupa mengeluarkan nada-nada menggetarkan jiwa suatu makhluk. Bahkan karena nada suara yang dikeluarkan, jiwa makhluk tersebut akan ditekan atau yang paling parah adalah dapat dikendalikan oleh si peniup seluring. Tentu Seluring Putih ini sangat berguna dan merupakan salah satu benda yang amat hebat.


Sejauh ini, belum banyak yang tahu mengenai cara pengendalian jiwa makhluk yang sudah terperangkap dalam nada-nada seluring. Bahkan mengenai minusnya benda pusaka ini juga belum banyak yang tahu. Bahkan Amdara sendiri belum menyadari kelemahan atau ada negatifnya Seluring Putih.


Saat Amdara meniupkan Seluring Putih, sesuatu terjadi pada isi pikirannya. Seolah dia memasuki ruangan yang pengap dan juga bernuansa hijau lumut. Dalam ruangan tersebut, Amdara tidak sedang meniupkan seluring. Melainkan duduk di atas batu besar dengan memegang Seluring Putih.


Dia tidak tahu sekarang berada di mana. Tempat yang begitu asing itu mulai terasa ada hawa aneh yang menusuk tubuh. Amdara mengedarkan pandangan, tidak ada benda apa-pun selain batu yang dirinya duduki.


Suara desisan terdengar dari arah depan. Amdara segera memandang ke depan waspada, sambil memegang Seluring Putih. Sosok Siluman Ular muncul dan menggeliat di hadapan Amdara yang tanpa sadar menahan napas dan mengambil sikap waspada. Siluman Ular tersebut menggerakkan kepala, menatap bocah berambut putih yang perlahan memundurkan langkah.

__ADS_1


"Berani sekali kau mengganggu pikiranku. Psssstttt."


__ADS_2