
Sekarang Amdara, Lintang, Pelayan Pria, dan Bocah Pengemis yang ditindas berada di sebuah ruangan. Amdara duduk di samping bocah yang bernama Ian, dia sudah mengobati menggunakan pil yang dia buat dan tidak butuh lama sampai luka luar dan dalam Ian sembuh total.
Di ruangan tersebut suasananya tegang sebab Amdara menatap tajam Pelayan Pria. Sementara Lintang merasa kesal karena pelayannya berbuat onar sampai menindas yang lebih lemah.
Lintang tidak tahu hubungan antara Amdara dan Ian. Tapi nampaknya Amdara memang tidak suka jika ada orang yang menindas.
Lintang menatap tajam pelayan yang berdiri di sampingnya. Pelayan itu menelan ludah susah payah, dia menunduk tanpa mengucapkan sepatah kata. Lintang menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara.
"N-nona Luffy, sekarang apa yang Anda minta?"
Tanya Lintang resah. Jika sampai gagal mendapatkan pil langka itu, dia jelas akan menghajar pelayannya ini.
Amdara diam, melirik sekilas ke arah Ian yang hanya menunduk.
Amdara kemudian berkata, "apa pelayanan di Asosiasi Sinar Dunia baik hanya kepada orang bangsawan, kuat, dan kaya?"
Pertanyaan menohok itu membuat Lintang meremas gaunnya. Dia tersenyum kikuk sebelum menjawab dengan tenang.
"Tentu saja tidak. Semua orang kami layani dengan baik. Kami tidak memandang kasta."
"Oh, benarkah? Lalu bagaimana dengan Ian?"
Amdara menatap Lintang tanpa rasa takut. Dia sudah mengetahui nama Ian karena bocah itu yang memperkenalkan diri.
"Biarkan pelayanku menjelaskan sesuatu, Nona."
Lintang memberi isyarat pada pelayan itu yang langsung mengangguk mengerti. Dia mendongak, menatap Amdara yang ternyata sedang menatap dingin ke arahnya.
"Nona Muda, aku sama sekali tidak menindasnya. Dia datang ke toko untuk meminta uang. Karena aku memang sedang tidak membawa uang, jadi aku menyuruhnya pergi. Tapi dia tetap kekeuh dan memaksa."
Jelas pelayan tersebut tanpa rasa gugup sama sekali. Dia menatap Ian yang semakin menunduk dan mengepalkan tangan.
Amdara melirik sekilas Ian. Dia rasa ada yang tidak beres di sini. Dirinya tersenyum tipis sebelum mengarahkan pandangan ke pelayan.
"Begitukah? Lalu apa yang dilakukan Ian saat itu?"
Dengan percaya diri pelayan tersebut kembali menjelaskan. "Karena saya tidak ingin membuat pelanggan lain terganggu, saya menarik tangan Ian akan tetapi bocah itu malah menangkis dan menyerang saya."
Pelayan itu masih saja menjelaskan tanpa ragu tanpa peduli ekspresi Ian yang saat ini mulai berubah.
__ADS_1
Pelayan dari Lintang ini menggelengkan kepala dan menghela napas seolah tindakannya memang benar dan yang dilakukan Ian salah.
Lintang tersenyum simpul. Dia yakin setelah ini bocah berambut putih di hadapannya akan melakukan transaksi kembali.
"Nona Luffy, jadi bagaimana dengan transaksi kita sebelumnya?"
Amdara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dalam hal negosiasi, Amdara memang cukup lihai lidahnya. Yah, tentu berbicara banyak di saat seperti ini sangat diperlukan.
Amdara melihat kepalan tangan Ian semakin menguat. Dia juga merasakan adanya aura membunuh. Saat Ian hendak mengangkat tangan, dengan cepat Amdara menyentuh tangan Ian.
Sontak Ian terhenyak, dia menatap Amdara yang juga menatapnya tanpa ekspresi. Akan tetapi melihat bola mata biru yang menenangkan membuat Ian hanya mengembuskan napas. Sentuhan tangan Amdara dingin dan cukup menenangkan.
"... kuberi lima puluh pil setiap bulan dengan satu syarat."
Ucap Amdara tanpa ragu. Dia menatap Lintang yang sudah menunggu. Tetapi raut wajahnya sedikit masam karena tidak bisa menaikkan jumlah pil.
"Apa tidak bisa dinaikkan lagi? Ini... haih, baiklah. Kau menang, Nona Muda." Lintang menyentuh kepalanya menggunakan kedua tangan. Jika memberi alasan lagi, akan dianggap sebagai tolakan halus. Lintang kemudian berkata, "Lalu apa syaratnya? Kuharap ini tidak akan membebaniku."
"Aku ingin pelayanmu selalu bersikap ramah, adil, dan tidak membeda-bedakan pelanggan. Bukan hanya pelanggan, tetapi kepada orang-orang."
Amdara tersenyum tipis. Jelas dia akan memanfaatkan hal ini dengan baik.
Baik Lintang, Pelayan Pria, dan Ian berkedip mendengar syarat ini. Mereka bahkan menggaruk pipi yang mendadak gatal.
"Apa hanya ini?" Lintang menatap Amdara sedikit berbeda. Amdara mengangguk pasti. Lintang menghembuskan napas. Walau ada rasa lega, tapi dia masih tidak menyangka akan mendapatkan syarat seperti ini. Mungkin ini sesuatu yang baru baginya. "Baiklah. Ini sangat mudah."
Amdara mengeluarkan sekotak pil yang mereka sepakati dalam jumlah lima puluh butir. Melihat kotak itu, Lintang buru-buru mengambilnya. Matanya nampak berbinar-binar. Dia tidak bisa membayangkan berapa banyak keuntungan yang akan diperoleh jika dilelang.
Lintang melibaskan tangan, saat itu juga tiga tumpukan gunung emas hadir di samping Amdara. Amdara yang melihatnya cukup tersentak.
"Ini transaksi awal kita, Nona Luffy."
Kata Lintang yang langsung diangguki lawan bicara. Lintang juga menyerahkan sebuah segel berbentuk lingkaran yang dengan ukiran dunia dan berwarna kuning keemasan. Segel ini dikatakan sebagai tanda pengenal seseorang.
Amdara mengambilnya dengan senang hati. Dia melibaskan tangan, dan saat itu juga tiga gunung emas menghilang dan masuk ke dalam Cincin Ruang.
Amdara pergi pamit setelah urusannya selesai. Dia masih memegang tangan Ian. Lintang dan Pelayan Pria mengantar kedua orang itu sampai keluar Asosiasi Sinar Dunia.
Lintang melambaikan tangan saat Amdara sudah mulai pergi. Bibirnya tidak henti melengkung karena senang, bahkan kotak pil masih di dalam dekapannya.
__ADS_1
Lintang tiba-tiba menepuk jidatnya. Melupakan sesuatu. "Haih, aku lupa menanyakannya dari bangsawan apa Nona Luffy. Tsk. Tsk. Hari ini benar-benar keuntungan besar untukku."
"Nona, nama Asosiasi Sinar Dunia akan melambung tinggi dan tidak akan ada lagi yang menindas kita! Dengan begitu kita bisa balik menindas yang dulu pernah menindas!"
Suara Pelayan Pria terdengar senang. Dia bahkan memberikan tatapan remeh kembali ke orang-orang yang melewatinya.
Senyum Lintang seketika pudar. Dia melirik pelayan di sekitarnya sinis. Sebuah asap ungu melilit tubuh pelayan di sampingnya yang terkejut bukan main.
"Hmph. Aku bukan orang yang ingkar janji, walaupun itu dengan bocah. Karenamu, transaksi ini nyaris gagal!"
Asap itu melempar tubuh pelayan dengan sangat keras. Lintang kembali berucap dingin, "sekali lagi kau membuat masalah, dalam hitungan detik aku akan langsung melenyapkanmu. Dan satu lagi, ikuti syarat yang diberikan Nona Muda.*
Lintang menghilang setelah mengatakan hal barusan. Sementara pelayan menyentuh lehernya yang terasa sangat sakit. Dia bahkan meludahkan darah segar tidak berdaya.
Di sisi lain, Amdara baru melepas tangan Ian saat sudah jauh dari Asosiasi Sinar Dunia. Ian menyentuh tangan, dan menatap Amdara yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
Sadar, Ian langsung merundukkan tubuh, ah lebih tepatnya nyaris sujud jika saja Amdara tidak langsung meminta Ian berdiri tegap.
"Terima kasih sudah menolongku, Nona Muda."
Kali ini Amdara hanya diam tidak merespon. Ian sama sekali tidak mendongakkan kepala. Amdara yakin Ian salah satu keluarga Nuri.
Pakaian compang-camping, sudah tidak berwarna dengan bau tidak sedap. Rambut acak-acakan, wajah kusam seperti tidak pernah mandi. Dan kaki kotor akibat lumpur itu terlihat jelas di mata Amdara. Amdara merasa kasihan kepada bocah-bocah pengemis.
"Siapa yang menolongmu?"
Amdara langsung mengatupkan bibir. Dia berkedip sendiri sadar dengan ucapannya yang baru saja keluar.
Ian tersentak, dia mendongak menatap Amdara kebingungan. Raut wajah itu terpampang jelas.
"Eh? Bukankah Nona membela dan menegakkan keadilan untukku?"
Amdara menggeleng dan menjawab dengan nada datar, "Aku tidak menolongmu. Aku hanya sedang mencari celah untuk bertransaksi yang lebih menguntungkan."
Setelah mengatakan itu, dirinya langsung membalikkan badan dan melangkah pergi.
Ian menatap punggung Amdara yang semakin menjauh. Dia diam dengan perasaan dan pikiran campur aduk.
Tiba-tiba Amdara menghentikan langkah dan berbalik, dia melemparkan sesuatu ke arah Ian yang langsung bocah pengemis itu tangkap. Rupanya tanda pengenal dari Asosiasi Sinar Dunia yang dilemparkan.
__ADS_1
"Kau akan menjadi orang yang mengantarkan pilku ke Asosiasi Sinar Dunia."