Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
242 - Kota Ujung Bumi


__ADS_3

Di tempat yang sangat jauh. Gedung hitam besar terlihat menyeramkan karena di kelilingi oleh pepohonan menjulang tinggi. Gedung yang membentuk lingkaran serta ukiran aneh di bagian atas nampak berbeda. Bahkan ada aura mencekam dari gedung tersebut yang menyeruak.


Di salah satu ruangan paling besar, seseorang yang mengenakan topeng hitam tidak berbentuk tengah duduk di singgasana kebanggaannya. Kaki kanan nya dia letakkan di atas kaki kiri. Jari-jari tangan bergerak mengetuk-ngetuk paha. Tidak terlihat ekspresi pria tersebut, akan tetapi aura yang dia keluarkan sangat membuat orang di hadapannya bertekuk lutut ketakutan.


Suasana di ruangan itu sangat sunyi. Tidak ada barang bagus yang terlihat. Hanya satu singgasana itu, dan satu lukisan seorang pria tampan bersama wanita cantik.


Satu lilin sebagai penerang ruangan tersebut tidak cukup untuk memperlihatkan detail ruangan. Api tersebut tiba-tiba saja bergoyang, padahal tidak ada angin yang menerpa.


"Jadi ... anaknya sudah memunculkan diri?"


Suara dari pria yang duduk di singgasana menggema. Suaranya terdengar berat dan menekan.


Orang yang di depannya mengangguk ketakutan dan mengeluarkan suara gugup, "b-benar, Tuan. Dari kekuatan, serta aura nya sama persis. Anak itu sudah memunculkan diri di Negeri Nirwana Bumi. Dari informasi yang bawahanku katakan, anak itu masih lemah."


"Tidak seperti ayahnya saat dulu masih muda. M-menurutku, bagaimana jika kita habisi sekarang?"


Masih dengan gemeter dia memberi pendapat. Namun, Sang Tuan nya itu diam beberapa detik. Salah satu tangan kanan dia angkat untuk menyangga dagu.


"Hmph. Menarik. Dia benar-benar membuat seorang anak dengan Makhluk itu." Dibalik topeng, dia menyeringai. Bibirnya kembali buka suara, "kekuatan ku akan bertambah tiga kali lipat jika menyerapnya. Walaupun dia terlihat lemah, tapi tetap saja dia adalah keturunan langsung dari Langit dan Dewi. Tidak bisa dipandang remeh."


Sesaat terjadi keheningan. Jelas sekali dia mengetahui jelas siapa Langit dan Dewi. Dan anak yang dimaksud tentu adalah Amdara.


Pria itu kembali berkata, "tapi bukan masalah. Aku akan tetap menyerap dan memusnahkannya dalam sekali serangan."


"T-tuan memang sangat hebat. Tuan pasti akan menjadi manusia paling kuat di dunia."


"Tentu saja. Sekian lama menunggu, akhirnya kesempatan emas ini datang juga. Tunggu waktu yang tepat, aku akan merancang rencana."


Pria tersebut menjentikkan jari. Detik selanjutnya api lilin padam.


"Sampaikan pada anak ku, dia mendapatkan misi besar."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Bawahannya menghilang, di gelap nya ruangan tersebut. Persamaan dengan angin dingin di ruangan berhembus dan membawa perasaan tidak mengenakan bagi orang luar.


Burung-burung di luar gedung tiba-tiba saja mengeluarkan suara keras, sambil terbang cepat ke arah selatan cepat. Sang mencari memang masih menyinari, tapi di sana suasana nya sudah sangat berbeda. Cahaya matahari bahkan sama sekali tidak membawa perasaan tenang.


*


*


*


Sebuah kota besar dengan pemandangan nya yang luar biasa. Gedung-gedung menjulang tinggi di sana. Tapi walau begitu, masih ada pepohonan sekitar dan tanaman berbunga yang menghias setiap jalan. Pepohonan nya juga bukan pohon biasa, melainkan sebuah pohon dengan dedaunan putih kemerah-mudaan, dan beberapa jenis pohon langka.


Udara yang berhembus terasa menyejukkan. Tenang dan damai di sana. Orang-orang berlalu-lalang melakukan aktivitas masing-masing.


Di tengah-tengah kota, terdapat air mancur bangau yang cukup besar. Di tepiannya, terdapat bebatuan warna yang diletakkan secara sengaja. Air itu juga di isi oleh ikan hias dan teratai, menambah keindahan kota.


Bukan tanah biasa di kota Ujung Bumi yang diinjak. Melainkan sebuah kaca dan paping bercorak bangau di sana. Ada juga kerikil-kerikil warna yang mengelilingi pepohonan.


Baik dari Amdara, Shi, Cakra, maupun Tetua Rasmi tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat kota ini. Sangat berbeda dari yang lain. Mereka juga membuka topeng saat memasuki kota Ujung Bumi.


Shi terus mengembangkan senyum semenjak memasuki kota. Dia sampai menggeleng-gelengkan kepala saking takjubnya.


"Tentu saja. Kota ini diberikan sumber daya lebih dari Kekaisaran sendiri."


Celetukkan bernada bangga dari satu murid dari Akademi Nirwana Bumi mengantarkan mereka ke salah satu rumah bertingkat kontan membuat Shi tersedak napas sendiri. Dirinya mengangguk saja tidak ingin membalas.


Murid laki-laki tersebut juga memiliki kharisma yang bisa dirasakan oleh orang lain. Membuatnya disegani banyak orang.


Amdara menatap murid itu di depannya. Mencoba mencari tahu bagaimana kepribadiannya. Mendengar perkataan barusan sudah memberi Amdara pendapat sendiri.


"Di mana Akademinya?"


Pertanyaan Amdara membuat murid di depannya menoleh ke belakang dengan senyum mengembang. Bukan senyuman ramah, tapi terlihat kesombongan di sana.

__ADS_1


"Tidak jauh lagi. Akademi Nirwana Bumi bahkan lebih indah daripada kota ini." Murid tersebut kembali berbicara, "apa kau tidak sabar melihatnya? Tapi, ku pikir kau harus istirahat dulu karena sudah melakukan perjalanan jauh, bukan?"


Amdara menaikkan sebelah alis dan mengangguk. Dia berkata polos, "memang sangat jauh. Kuharap tempat yang disediakan untuk beristirahat cukup nyaman dan diberi jamuan lebih."


Sontak ucapan Amdara benar-benar menghentikan langkah Tetua Rasmi, Shi yang berada di sampingnya nyaris tersandung kaki sendiri. Tidak menyangka Amdara akan berkata demikian.


Murid itu juga terlihat tersentak sampai berhenti melangkah. Menatap Amdara dengan alis sedikit mengerut. Tapi detik selanjutnya dia tersenyum.


"Tentu saja. Bahkan untuk menjamu dalam waktu lama tidak akan menghabiskan sumber daya Akademi." Murid tersebut mengangkat dagu. "Jadi, Nona Muda tenang saja. Kami menyediakan fasilitas terbaik untuk para peserta Turnamen Magic Muda."


"Jadi maksud Senior orang-orang biasa tidak akan bisa menikmati fasilitas itu?"


"Apa maksudmu?" Murid itu menaikkan sebelah alis. Cukup tersentak kembali mendengar lontaran kaliamat tidak terduga. Dirinya berkata angkuh, "untuk apa kami menjamu orang yang tidak berkepentingan dengan Akademi? Bukankah itu hanya membuang-buang sumber daya?"


Dari nada bicaranya sudah mulai tidak mengenakan. Tersinggung? Sangat jelas di raut wajah.


Amdara tersenyum tipis. Sengaja memulai menyulut emosi lawan bicara. Dia baru hendak buka suara lagi, tetapi tangan Shi tiba-tiba membekap.


"Itu benar. Orang yang tidak berkepentingan tidak bisa diberi fasilitas begitu saja." Tetua Rasmi segera menyela lagi. "Murid-muridku sudah sangat lelah karena perjalanan jauh. Bisakah mereka lebih cepat beristirahat?"


Murid yang mengantar itu mengangguk dan kembali menuntun perjalanan. Di ikuti oleh Tetua Rasmi yang sebelumnya mengangguk ke arah ketiga muridnya.


Shi berbisik tepat di telinga Amdara dengan intonasi menekan, "kau ini baru masuk ke kota, tapi sudah mulai mencari masalah dengan murid itu. Luffy, apa kau sadar akan membawa kita ke dalam masalah besar walaupun mungkin menurutmu itu masalah sepele?"


Amdara menaikkan sebelah alis. Dia menghela napas panjang. Lupa jika dirinya terlibat masalah, Tetua Rasmi dan dua Senior nya juga akan terlibat.


"Maaf, Senior."


Shi mendengkus mendengar permintaan maaf junior yang dirangkul ini. Dirinya memperingati Amdara agar bisa lebih berhati-hati dan menjaga sikap.


Cakra yang sedari tadi hanya memperhatikan tiba-tiba buka suara dengan tenang.


"Sebaiknya kita cepat menyusul."

__ADS_1


Shi mengangguk sebagai respon. Masih tetap merangkul Amdara sambil berjalan. Memandang kota Ujung Bumi ini yang terus mengikat netra.


__ADS_2