Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
243 - Cerita dari Amdara


__ADS_3

Tempat istirahat pewakilan dari berbagai Akademi berbeda, tapi yang pasti tempat nya bagus dan sangat nyaman ditinggali.


Sesampainya di tempat yang akan digunakan untuk istirahat perwakilan Akademi Magic Awan Langit, murid yang mengantar mempersilakan.


"Silakan nikmati jamuan di dalam. Kalian pasti akan sangat senang. Karena jamuan nya sangat enak."


Katanya sambil memberi hormat pada Tetua Rasmi yang merespon dengan mengangguk dan berucap, "terima kasih. Kami pasti akan sangat menikmati nya."


Murid itu mengangguk dan langsung melesat pergi begitu saja.


Tetua Rasmi menarik napas lega, lalu mengajak ketiga muridnya untuk masuk.


Begitu daun pintu terbuka, sudah terpampang jelas tempat yang cukup luas dan sangat nyaman. Di atas meja benar saja sudah ada beberapa jamuan yang langsung menggugah selera.


"Kalian bersihkan diri dulu sebelum makan."


Tetua Rasmi berlalu setelah mengatakannya. Cakra juga mencari kamar sendiri untuk membersihkan diri. Begitu pula dengan Shi dan Amdara.


*


*


*


Setelah membersihkan diri, Amdara segera ke ruang depan untuk mengisi perut. Dia harus menjelaskan tentang Naga Air kepada ketiga orang yang sudah menunggu lama.


Di sana, Tetua Rasmi sudah duduk tenang bersama Shi dan Cakra yang tengah menikmati jamuan.


Amdara memberi hormat saat Tetua Rasmi melirik.


"Duduk dan makanlah."


Amdara duduk di salah satu kursi. Meminum air dan mengambil semangkuk nasi, dan menambah oseng daging. Satu suapan masuk ke dalam mulut, sangat terasa bumbu nya dengan daging empuk. Rasanya Amdara baru menikmati makanan yang lebih lezat dari yang pernah dia makan.


"Luffy, apa kau bisa menceritakannya sekarang?"


Pertanyaan Shi membuat Amdara yang sedang mengunyah berhenti. Dia mengunyah kembali sebelum menelan.

__ADS_1


Amdara menatap Shi, Cakra, dan Tetua Rasmi yang menunggu dirinya bercerita. Amdara meminum air dari cangkir keramik kaca.


"... Siluman Naga Air sama sekali tidak berniat menyakiti manusia." Amdara ingat saat Siluman Naga Air yang mengguncang kapal. Dia langsung kembali berbicara, "dia 'hanya' ingin bermain."


Shi yang tengah menyeruput teh ungu tersedak. Dia terbatuk-batuk menatap Amdara tidak percaya.


"Bagaimana mungkin kau bisa berbicara seperti itu?! Jelas-jelas Naga Air berniat mencelakai kita!"


Shi mengusap air di bibirnya. Tidak habis pikir kata yang digunakan adalah 'bermain.' Apa maksud bermain itu adalah bermain dengan nyawa manusia?! Hah! Yang benar saja.


Tetua Rasmi menatap curiga. Dia buka suara, "Luffy, jangan membual. Kita semua tahu Naga itu yang menyerang duluan."


"Itu benar. Haish. Ceritakan dengan jelas, Luffy. Laut berbicara seperti itu tentu saja kami tidak percaya," imbuh Shi sambil meletakkan cangkir.


Dari ketiga orang itu, tidak ada yang percaya. Amdara menarik napas panjang. Mengaduk nasi bercampur oseng daging di mangkuk. Ucapannya sama sekali tidak sepenuhnya berbohong.


"Aku tahu kalian akan sulit percaya. Tapi ku katakan, Naga Air memang tidak berniat menyerang. Tapi penumpang kapal lebih dulu menyerang."


Amdara mulai menjelaskan setelah berhenti mengaduk. "Wajar saja Siluman itu marah. Laut Hitam adalah rumah nya. Dan kita melewati Laut Hitam tanpa izin dari Naga Air. Tentu saja itu sangat mengganggu Naga Air. Jadi dia menyemburkan air dan mengguncang kapal. Jika dia berniat menyerang, kenapa bukan manusia nya saja langsung?"


Amdara melirik sekilas ke arah ketiga orang yang duduk di depannya. Dia mengangguk dan kembali menjelaskan.


"Apa Senior ingat, aku bisa mengendalikan Siluman Ular saat menuju kediaman Tetua Haki?" Amdara berkata dengan tenang, "Aku menggunakan seluring memainkan Irama Ketenangan untuk mengendalikan pikiran Naga Air."


Shi mengangguk-angguk ingat betul Amdara yang memainkan seluring dan membuat mereka menaiki Siluman Ular.


Begitu pula dengan Cakra yang mengingatnya. Kerutan di keningnya tampak jelas. Dia memandang Amdara yang masih duduk dengan tenang.


"Bukankah waktu itu kau tidak memainkan seluring?"


Hanya Tetua Rasmi di sini yang belum mengerti. Dia ingin bertanya, tapi tidak ingin Amdara menjelaskan hal lain untuk saat ini.


Amdara menoleh ke arah Cakra sambil berkedip. Amdara menggeleng dan menjawab.


"Aku memainkan nya. Memang kalian tidak melihatnya?" Tatapan polos Amdara sungguh membuat ketiga orang di hadapannya tidak sadar bahwa dia sedang berbohong. Tetua Rasmi sampai menatap Shi yang menggeleng kan kepala sebagai jawaban. Amdara menahan senyum, dia mengangguk dan mengeluarkan kalimat, "suara seluring nya waktu itu hanya bisa didengar Siluman Naga Air."


"Tapi, saat kau berada di depan Naga Air, kau juga hampir terkena serangan jika tidak diselamatkan oleh seseorang."

__ADS_1


Kembali Cakra bertanya. Kontan Shi yang baru sadar juga mengangguk. Amdara menarik napas dalam, memang harus detail menjelaskan agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Itu karena Siluman Naga Air belum tunduk mendengar Irama Kemenangan."


Cakra dan Shi kembali terdiam. Mendengar cerita ini membuat keduanya berpikir lagi.


Keheningan dalam beberapa saat itu membuat Tetua Rasmi bertanya, "aku tidak tidak tahu jika kau bisa mengendalikan pikiran Siluman."


"... Aku juga sebelumnya tidak sadar bisa melakukannya. Tapi, Irama Ketenangan memang bisa menenangkan siapa pun."


Tetua Rasmi mengangguk-angguk. Dia pernah mendengar tentang irama ini. Tidak menyangka jika irama ini bisa dikuasai Amdara. Entah dari siapa gadis itu mempelajarinya.


Sekarang Tetua Rasmi, Shi dan Cakra tahu sebelumnya Amdara menggunakan seluring untuk mengendalikan Siluman Naga Air. Cerita ini cukup di terima ketiga nya. Hal tersebut membuat Amdara bisa menarik napas lega.


Amdara kembali melanjutkan makan ketika tidak ada lagi yang bertanya. Pertanyaan Shi yang tiba-tiba ini membuatnya tersedak nasi sampai terbatuk-batuk.


"Liffy, jika kau bisa mengendalikan siluman ... apa kau juga bisa mengendalikan pikiran manusia?"


*


*


*


Kota Ujung Bumi jika tidak di lihat keindahan nya secara menyeluruh memang akan membuat diri menyesal. Apalagi Amdara berada di tempat ini tidak lama. Setelah makan, dia tidak beristirahat. Melainkan pergi keluar, tentu nya dengan izin Tetua Rasmi.


Shi sendiri ingin ikut, tapi dia diserang lelah dan kantuk setelah makan. Alhasil tempat tidur adalah jawaban nya.


Sementara Cakra bermeditasi di kamar. Perlu memulihkan kekuatan dan menjaga istirahat untuk Turnamen Magic Muda yang akan dilakukan beberapa hari lagi.


Saat ini Amdara terpesona oleh air mancur di tengah-tengah kota. Dia melihat pantulan diri sendiri di air. Sejenak dia berpikir.


"Dari mana aku mencari informasi nya?"


Amdara mendongak, melihat lalu-lalang orang-orang yang berjalan santai. Ada dari mereka yang mengenakan pakaian Akademi. Termasuk Amdara, hanya saja dia mengenakan cadar berwarna biru dan mengubah warna rambut menjadi cokelat. Tentu ini dia untuk menjaga diri dari pertanyaan tentang Naga Air jika ketakutan oleh orang yang melihatnya.


Orang bernama Ketu pasti akan sangat sulit ditemui dan yang pasti nya dia berada di Akademi. Untuk itu lah Amdara berniat pergi mencari Akademi Nirwana Bumi di luas nya kota Ujung Bumi.

__ADS_1


__ADS_2