Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
218 - Kekuatan Klan Ang


__ADS_3

Sesepuh di Klan Ang ada tujuh, dan yang berada di tempat Klan Ang sekarang hanya tiga termasuk Deta. Penampilan sesepuh ini tidak jauh berbeda dari Deta. Yakni sudah berjenggot panjang, dan memiliki alis panjang.


Satu bernama Jie, rambut depannya sudah botak, tapi di bagian belakang masih panjang belum lepas. Dia memakai jubah yang identik dengan Klan Ang, yaitu bergambar pusaran angin di bagian belakang. Dia juga mengenakan bros berbentuk angin beliung untuk menghias jubah depan dadanya. Usia yang terlihat sekarang adalah 100 tahun lebih. Wajahnya nampak tidak ramah, apalagi sedari tadi menatap ke arah Amdara sambil memegang tongkat erat.


"Hei, Nak. Kedatanganmu kemari membuat semua orang menaruh kekesalan karena kau menghancurkan bangunan dan membuat keributan. Menurutmu, hukuman apa yang pantas untuk dirimu sendiri?"


Sinis dia berucap. Dia sampai menghentakkan tongkat. Walau sekarang dirinya kesal, tapi raut wajahnya berusaha untuk tenang.


"Berikan penjelasan kepada kami dahulu."


Sela Kung yang merupakan sesepuh Klan Ang juga. Dia terlihat lebih tenang ketimbang Deta dan Jie. Dirinya memiliki ciri khas berupa kumis panjang warna coklat, begitu pula dengan jenggot panjangnya.


"Maaf, akan aku jelaskan. Tuan-tuan pasti tahu bahwa aku Genta, dari Akademi Magic Awan Langit. Kedatanganku kemari membawa Luffy adalah untuk mencari informasi mengenai orangtuanya."


Tetua Genta sebisa mungkin tersenyum dan berusaha menenangkan diri. Pasalnya pangkatnya di sini sangat rendah. Dia melirik Amdara yang masih terlihat tenang. Jika bukan karena anak itu menyelamatkan nyawanya, dia tidak akan melakukan hal nekad dengan datang memari.


Penjalasannya jelas mengagetkan Deta, Jie, dan Kung yang mengerutkan alis.


"Apa maksudmu mencari informasi mengenai orangtua bocah ini?!" Jie bertanya. Tatapannya berubah ke arah Amdara.


Tetua Genta kembali menjelaskan. Dia yakin Amdara dari Klan Ang.


"Tuan Jie, Luffy memiliki kekuatan angin dahsyat. Layaknya seperti orang Klan Ang. Bahkan satu tahun lalu, Luffy berhasil mengalahkan Giba." Tetua Genta terdiam sejenak. Senyumnya kali ini mengembang sempurna mengingat jurus yang sangat mengagumkan. Bibirnya kembali buka suara, "sebuah kekuatan angin yang menyejukkan dan memiliki bunga putih."


Mendengar penjelasan angin tersebut, membuat ketiga sesepuh bertambah bingung. Jika dijelaskan sedikit lagi pasti akan mengerti. Akan tetapi, Tetua Genta meminta Amdara untuk mengeluarkan jurus yang dimaksud.


Sesaat Amdara termenung. Dia mengangguk, berdiri dan mengangkat tangan kanan menengadah.


Sebuah angin biru kecil berputar-putar, membawa kesejukkan tersendiri dan seperti yang dikatakan Tetua Genta, angin itu tiba-tiba memunculkan bunga-bunga putih dengan aroma khas.


Jie tersentak kaget, memperhatikan dengan saksama. Matanya terbelalak, mengetahui jenis bunga tersebut.


"B-bagaimana mungkin?!"


Sama halnya dengan dirinya, Deta juga sampai berdiri saking terkejut. Dia jelas tahu jurus apa itu.


Jie memang kaget, tapi dia masih mengontrol suara. Dirinya mengeratkan pegangan pada tongkat, menatap tajam angin dan Amdara secara bergantian.


"Pengendaliannya memang sangat tenang. Tapi ... angin itu terlalu kecil. Hei, coba kau keluarkan di luar melewati jendela."


Perkataan Jie membuat Amdara menoleh, dia mengangguk. Tangan kanan terkepal, membuat anginnya lenyap. Saat mendekati kaca yang sangat besar, secara otomatis kaca itu menghilang.


Amdara berkedip, dia menarik napas dalam. Di depan sana, halaman gedung ini sangat luas. Terawat, dan memiliki rerumputan hijau. Jari-jarinya bergerak, kemudian terangkat bersamaan sebuah angin beliung muncul. Angin tersebut menerbangkan beberapa tanaman bunga.

__ADS_1


Kali ini Jie dibuat terpana oleh jurus ini. Dia bahkan sampai menahan napas merasakan jurus tersebut.


Deta, dan Kung juga mendekat Amdara. Terpampang jelas angin beliung biru luar biasa.


Tetua Genta yang masih duduk tersenyum puas. Dia bertambah yakin Amdara dari Klan Ang. Dirinya menyeruput teh sebelum mendekat ke arah Deta.


"Bagaimana, Tuan? Bukankah kekuatan angin ini luar biasa?"


Suara Tetua Genta mengagetkan ketiga sesepuh. Ketiganya terdiam dan mengangguk setuju, mengakui kekuatan ini luar biasa.


Ditatapnya Amdara oleh Deta. Rambut putih diikat yang melambai-lambai karena angin, disertai wajah indah itu kembali membuatnya mengingat seseorang. Seseorang yang sudah lama sekali dia nyaris melupakan. Seseorang yang membawa harsa tapi tak luput adanya duka.


"Ikat rambut itu ...."


Deta menahan napas melihat ikat rambut yang dikenakan bocah tersebut. Sangat mirip dan memiliki aura yang sama. Tidak salah lagi.


"Tapi ... bagaimana bisa anak sepertinya tidak pernah kulihat sebelumnya?"


Suara Deta membuat tersentak Jie dan Kung yang langsung berpikir sama. Padahal ketiganya tidak pernah meninggalkan Klan. Walau Klan Ang anggotanya semakin banyak, tapi mereka mengenal setiap orang Klan. Bahkan sampai namanya masih diingat di kepala sesepuh ini.


Dan lagi, Tetua Genta membawanya dari Akademi Magic Awan Langit. Bukankah ini hal mencurigakan?


Amdara menoleh. Tangannya turun, mengakibatkan pusaran beliung menghilang. Dia menatap Tetua Genta yang juga menatapnya, seolah mengatakan kini giliran anak itu angkat bicara.


"Aku dari Negeri Elang Bulan. Sejak kecil."


Amdara menunduk setelah menatap mata ketiga sesepuh. Tangannya terkepal kuat. Dadanya mendadak terasa sesak kala mengingat Tetua Giba yang telah merawatnya, bahkan dirinya belum membalas budi. Entah bagaimana dirinya akan menjelaskan.


Mendengar Amdara dari Negeri sebelah membuat ketiga sesepuh kembali tersentak. Ketiganya kini dipenuhi pertanyaan, tapi membiarkan Amdara menjelaskannya sendiri.


"Dirawat oleh seorang kakek. Beliau hanya menjelaskan, kedua orangtuaku berasal dari Negeri Nirwana Bumi. Dan seperti sekarang, aku tinggal di Akademi."


Katanya tanpa mengangkat wajah. Dia tidak mungkin mengatakan Tetua Giba merupakan Tetua dari sebuah Organisasi Elang Putih.


Sesaat keheningan terjadi. Ketiga sesepuh saling pandang seolah sedang berdiskusi lewat tatapan.


"Ini tidak masuk akal. Kau, pasti sedang membual kan?! Anggota kami selama ini tidak pernah pergi ke Negeri sebelah!"


Jie tiba-tiba menghentakkan tongkat. Seolah tidak terima ada anggota klan yang pergi dan menghasilkan seorang anak di negeri sebelah. Tatapan matanya berubah merah padam.


"Itu memang benar. Dan anggota kami tidak memberitahukan jurus kepada orang selain Klan Ang. Tapi, jurusmu itu jelas dari Klan kami."


Kini Deta turut angkat bicara. Dia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada bocah ini.

__ADS_1


Kung menggelengkan kepala, dan menepuk pelan bahu Deta.


"Kita perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Tatapan Kung beralih ke Amdara yang masih diam. Kung kembali buka suara, "Nak. Siapa nama kakek yang merawatmu?"


"... Kakek Baba."


Amdara mengatupkan bibir setelah berkata. Dia tidak akan menjelaskan lebih. Dia kembali diberi pertanyaan oleh ketiga sesepuh, dan menjawab setenang mungkin.


Ketiga sesepuh saling pandang. Tidak mengetahui siapa kakek tersebut.


Semakin banyak pertanyaan diajukan, semakin bertambah rasa penasaran ketiga sesepuh. Mereka sekarang tahu bahwa Amdara sama sekali tidak mengetahui bagaimana wajah kedua orangtuanya karena 'Kakek Baba' tidak menjelaskan.


Yang jelas, ketiga sesepuh tahu jurus Amdara merupakan dari Klan Ang. Yang menjadi masalahnya, entah siapa orangtua anak ini.


Jurus dari Klan Ang sangat khusus, sulit ditiru oleh klan lain. Jurus dari klan ini diberikan secara turun-temurun kepada anak-cucu. Tidak ada sebuah kitab yang mengajarkan jurus ini. Jadi sangat mustahil Amdara mempelajarinya dari kitab.


Satu jam sudah berlalu begitu saja. Sangat tidak terasa. Ketiga sesepuh sampai berkali-kali menghembuskan napas karena bingung apakah benar anak ini dari Klan Ang atau tidak.


Deta menyeruput teh, melirik ikat rambut Amdara sekilas. Matanya tertutup. Ada sesuatu yang ingin dia utarakan.


"Dari mana kau mendapatkan jurus angin?" Tanyanya sambil menyeruput teh kembali


Amdara mendongak. Kemudian menjawab, "kekuatan angin ... aku mengeluarkan kekuatan ini tanpa sengaja."


Deta nyaris menyemburkan air teh di dalam mulut. Hal itu membuat Kung dan Jie berkedip, dan menggelengkan kepala. Tersentak? Tentu saja. Bagaimana mungkin seseorang mengeluarkan sebuah kekuatan angin tanpa sengaja?


Deta menatap Amdara sambil menautkan alis.


"Lalu siapa yang mengajari jurus angin?"


"... gerakkannya terlintas begitu saja di pikiran."


"Apa?! Bagaimana mungkin! Jurusmu adalah bukan jurus biasa di Klan Ang. Hanya beberapa orang yang bisa melakukannya. Dan salah satunya adalah ... orang yang sangat keras kepala. Dingin, sekaligus menenangkan."


Deta terdiam. Dia yakin dengan jurus Amdara mirip dengan jurus seseorang di Klan Ang.


"Maksudmu orang itu? Tidak mungkin! Aku masih tidak percaya."


Jie menghentakkan tongkat. Menatap tajam Deta yang masih belum buka suara. Jie tahu jurus tersebut, tapi masih menyangkal.


"Kita lihat kembali jurusnya. Dan melakukan satu hal untuk menyakinkan. Jika benar, maka dia memang anaknya."


Kung menengahi. Dia menatap Amdara, memintanya untuk pergi ke halaman depan untuk mengeluarkan jurus kembali.

__ADS_1


Ini akan menentukan keyakinan ketiga sesepuh.


__ADS_2