Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
210 - Pertanyaan


__ADS_3

Amdara dibawa ke tempat Tetua. Tempat agung itu terlihat tidak jauh berbeda dari yang terakhir kali dilihatnya. Di tiga tempat duduk Tetua telah ditempati Tetua Widya, Tetua Rasmi, dan Tetua Genta.


Amdara jelas terkejut atas penjelasan Tetua Widya sebelumnya. Kedua Tetua yang sebelumnya telah tiada telah kembali pulih tanpa ada luka dalam maupun luar sedikit pun. Apalagi Tetua Widya mengatakan bahwa itu semua berkat Amdara yang memasukkan sesuatu ke dalam mulut Tetua Rasmi dan Tetua Widya.


Hampir tidak menyangka, tapi Amdara juga merasa senang. Karena dia berhasil menyembuhkan orang lain.


Tatapan dingin nan tajamnya kembali berubah tenang. Dia menghela napas lega. Amdara berdiri di hadapan tiga Tetua yang masih diam dan memiliki banyak pertanyaan.


Tetua Rasmi menarik napas dalam, dan menghembuskannya perlahan. Dia sedikit memijat kepala akibat mengingat pertanyaan di pikiran.


"Entah ini keajaiban, atau takdir. Anak ini benar-benar berubah. Dari kekuatan, jelas aku merasakan aura lebih besar. Sementara wajahnya juga jauh lebih cantik."


Tetua Rasmi memperhatikan Amdara dari bawah sampai atas, berdecak pelan.


"Aku sampai bingung harus bertanya dari titik mana."


Dia melirik Tetua Genta yang sedari tadi diam dan duduk tidak tenang. Tatapannya tidak pernah berubah ke arah lain, selain Amdara. Merasa sedang diperhatikan, Tetua Genta melirik ke samping, berpas-pasan dengan Tetua Rasmi yang sedikit menunjuk dirinya menggunakan dagu.


Helaan napas terdengar, mengetahui apa yang dilakukan Tetua Rasmi.


"Luffy, aku percaya keajaiban. Dan kau tahu mengapa aku mempercayainya?"


Perkataan Tetua Genta yang tidak terduga membuat Amdara mengerutkan kening bingung. Dia dengan polos menggelengkan kepala.


"Karena aku telah merasakannya." Tetua Genta berhenti sesaat. Dia mengetuk-ngetuk jari telunjuk di paha. Terus melanjutkan ucapan lirih, "dan kau orang yang membuatku percaya bahwa kau adalah sebuah takdir keajaiban."


Amdara tercengang dengan ucapan ini. Dia masih diam tidak berkutik.


Sementara Tetua Rasmi dan Tetua Widya sampai berkedip mendengarnya. Tidak menyangka Tetua dingin itu mengatakan kalimat seperti ini.


Tetua Genta tiba-tiba berdiri, berjalan mendekati Amdara. Tatapan mata keduanya terkunci.


"Karenamu, aku sembuh dari maut. Aku yakin ini takdir. Aku sangat berterima kasih kepadamu, Luffy."


Tetua Genta memberikan hormat tanpa aba-aba. Dia menundukkan kepala. Ucapan barusan benar-benar tulus dari lubuk hati terdalam. Dia merasa berhutang budi besar pada anak ini.


Tetua Widya dan Tetua Rasmi sampai terbelalak kaget. Tapi keduanya tidak mengatakan apa pun. Mereka tahu Tetua Genta merasa memiliki hutang budi besar. Mereka tahu ucapan terima kasih saja tidaklah cukup atas apa yang telah diperbuat Amdara.


Amdara tersentak, dia langsung memberikan hormat dan berkata, "Tetua, mohon jangan memberi hormat pada murid lemahmu. Kau sama sekali tidak pantas melakukannya."


Tetua Genta mendongak, berkedip mendengar perkataan Amdara.


"Tolong angkat kepalamu, sebagai seorang Tetua yang mengajar murid."


Tetua di depan Amdara terlihat tersenyum tipis, dan berhenti memberi hormat.

__ADS_1


"Kau memang berbeda. Tapi aku tetap akan membalas budi kepadamu suatu saat nanti dua kali lipat."


"Jangan terlalu dipikirkan, Tetua."


"Aku juga sangat berterimakasih kepadamu, Luffy. Berkatmu, aku masih bisa merasakan udara yang segar di dunia ini," Tetua Rasmi tersenyum saat sudah berada di depan Amdara.


Amdara terdiam, balik tersenyum sesaat sadar dengan senyuman Tetua Rasmi pertama kali. Dia memberikan hormat.


"Aku sangat senang Tetua sudah sangat pulih."


Tetua Rasmi mengangguk, meminta Amdara berhenti memberi hormat. Dia berkata, "aku akan memberikan hadiah besar untukmu. Tapi mungkin itu tidak akan cukup untuk membayar apa yang telah kau lakukan kepada kami."


"Tidak perlu hadiah. Mohon jangan terlalu dipikirkan. Yang aku lakukan semata-mata hanya karena keinginan murid untuk membantu Tetua Akademi."


Lagi-lagi ucapan Amdara berhasil membuat tiga Tetua kagum. Padahal umur Amdara baru 12, tapi seakan-akan dia seperti orang dewasa. Bijak, berwibawa, dan tenang.


Menurut Tetua Widya, Amdara sangat berbeda dengan murid lain. Saat dua Tetua telah sekarat dan dikabarkan telah tiada, banyak murid yang menyerah dan menangis. Sementara Amdara, masih berusaha menyelamatkan. Saat harapan itu mulai menipis, Amdara marah dan membalas dendam dengan cepat. Bahkan Tetua Widya masih ingat bagaimana aura serta tatapan bengis Amdara saat itu.


Tetua Widya memijat kening, dia belum mengatakan hal ini pada dua temannya. Dia lantas berkata, "tempat ini kurasa kurang cocok untuk lebih banyak mengobrol."


Ketiga lawan bicara menoleh. Tetua Rasmi mengangguk setuju, dia dengan senang menjawab, "baiklah. Sebaiknya kita ke tempat yang santai untuk mengobrol."


"Mn. Kita akan minum teh juga."


Ketiga Tetua itu sepakat untuk pergi ke ruangan lain. Mendadak perasaan Amdara jadi tidak enak. Dia tersenyum getir.


*


*


*


"Luffy, boleh aku tahu apa yang kau masukkan ke dalam mulut Tetua Rasmi dan Tetua Genta?"


Pertanyaan pertama dari Tetua Widya berhasil lolos setelah lima menit mereka duduk tanpa berbicara. Padahal di ruangan itu, dekat jendela dan tempat duduknya nyaman. Namun, entah mengapa suasana jadi berubah canggung.


Amdara menelan ludah. Dia harus berbicara jujur, jika tidak masalah akan kembali datang.


"Itu adalah pil yang kubuat." Amdara lantas mengeluarkan tiga pil berukuran biji sawi yang telah ia simpan di dalam kotak kecil. Meletakkannya di atas meja.


Ketiga Tetua tersentak melihat ukuran pil tidak biasa ini. Apalagi aromanya sangat kental akan rempah herbal.


Tetua Genta mengambilnya, menyipitkan mata. Sangat tidak menyangka, pil kecil inilah yang telah menyelamatkan hidupnya. Ini pertama kali melihat pil luar biasa.


"Kau membuatnya sendiri? Apa kau tahu banyak soal mengolah obat?"

__ADS_1


Amdara menggeleng pelan atas pertanyaan dari Tetua Genta.


"Aku ... hanya sedikit mengerti membuat ramuan."


Jawab sejujurnya dari anak itu. Amdara sendiri sebelumnya juga tidak yakin dengan ramuan kali ini, tak disangka pil itu memang mujarab. Dalam hati berdecak kagum dengan kitab pemberian Are.


"Dari mana kau mendapatkan resepnya, Nak?"


Kali ini Tetua Widya yang bertanya penasaran. Dia tidak pernah menemukan jenis kitab obat di Akademi ini. Pasti Amdara menemukannya di suatu tempat.


Amdara terdiam, tidak mungkin menjawab dari dunia Dark World. Yang ada makhluk istimewa itu akan mendapatkan bahaya kembali.


"Aku membaca dari sebuah kitab. Tapi aku tidak bisa mengatakan dari mana aku mendapatkannya."


Terdengar helaan napas dari Tetua Widya. Dia tahu jawaban ini akan keluar.


Tetua Rasmi yang semula diam mendengarkan melirik sekilas Amdara. Dirinya menyeruput teh yang telah disiapkan.


"Selama kau berlatih di gua, bukankah kau tidak bisa pergi jauh? Lalu dari mana mendapatkan tanaman herbal untuk membuat pil ini?"


Amdara mencoba tenang menjawab pertanyaan Tetua Rasmi. Nampaknya perlahan sesuatu yang ditutupnya akan terbuka.


Amdara berdiri, dan kemudian menciptakan portal perlahan. Pemandangan ini mengejutkan Tetua Widya. Tidak dengan dua Tetua lagi yang sudah pernah melihat Amdara membuatnya saat akan kembali ke Akademi.


"Aku bisa menciptakan portal. Pergi ke Hutan Arwah untuk mencari tanaman herbal."


Amdara mulai menjelaskan. Jawaban ini tidak seluruhnya berbohong. Dia kemudian menghilangkan portal, dan menatap ketiga Tetua.


"Di sanalah aku menemukan Tetua Rasmi dan Tetua Genta."


Ketiga Tetua nampak berpikir sejenak. Sangat masuk akal dengan jawaban Amdara.


Tetua Widya kembali bertanya penasaran, "sejak kapan kau bisa membuat portal, Nak?"


Amdara berkedip. Dia kemudian kembali duduk dengan tenang dan berwibawa.


"Sejak pertama kali masuk ke Akademi. Di lapangan latihan."


Tetua Rasmi yang sedang meminum teh, tersedak tiba-tiba. Punggungnya di usap oleh Tetua Widya pelan yang juga baru mengingat bahwa Amdara dahulu adalah penyusup yang bisa masuk Akademi tanpa terdeteksi.


Tetua Rasmi sampai meletakkan secangkir teh di atas meja dan menggeleng pelan. Dia sampai lupa akan hal itu.


Bahkan Tetua Genta juga terbatuk pelan, mengalihkan pandangan. Dia juga sebenarnya ingin menanyakan hal ini, beruntung Tetua Widya telah bertanya lebih dahulu.


"Jika begitu ... bukankah Tetua Haki juga lupa? Haih."

__ADS_1


Tetua Genta menggeleng-gelengkan kepala tak menyangka. Mana mungkin Amdara akan menurut berada di dalam gua sangat lama dan hanya berlatih. Pasti membosankan! Jelas sekali bocah ini pasti telah pergi tanpa sepengetahuan Tetua Haki.


__ADS_2