
Rantai es bermunculan dari tanah, keluar bergerak-gerak tidak tentu arah. Begitu Amdara menjentikkan tangan, rantai tersebut langsung melilit tubuh Waki sampai kepala. Rasa dingin tidak terkira menembus tulang terasa menyakitkan bagi Waki yang tidak sempat mengelak dam berteriak.
Dia ambruk, kekuatan dalam tubuhnya seolah membeku. Dia sampai dibuat tidak berdaya dan terus mengerang. Layaknya api dari api terpanas mulai terasa dari rantai es membuat Waki benar-benar merasakan sakit luar biasa. Luka luar akibat kekangan rantai, serta luka dalam akibat rasa panas dan dingin secara sekaligus menambah keparahan. Ini sesuatu seumur hidup yang baru dirasakan Waki.
"Sialan! Apa yang kau lakukan padaku?! Ukhh--Akkhh!"
Waki menatap tajam bocah yang telah berani menyerang. Giginya bergemerutuk. Urat-urat nampak menegang.
Sementara Amdara dibalik topeng hanya tersenyum tipis. Ini merupakan sedikit balas dendam karena dulu dia juga menderita akibat Benang Merah karena ulah Waki.
Amdara mendekat dan menarik napas dalam. Kemudian membuka mulut hendak berbicara.
"Paman, kau pasti ingat denganku bukan?"
Waki semakin marah. Dia berteriak.
"Bocah ingusan! Kau yang pernah kuberi serangan Benang Merah. Bagaimana bisa mengeluarkan kekuatan lagi?!"
Amdara sama sekali tidak menjawab. Dia mengepalkan kedua tangan yang mana rantai itu semakin melilit tubuh Waki semakin mengerang. Entah mengapa rasanya cukup menyenangkan melihat lawan tengah tersiksa. Dada Amdara berdetak lebih keras, dia bahkan tanpa sadar kembali menyeringai.
"Takdir. Apa menurutmu aku akan lumpuh selamanya karena Benang Merah?"
Amdara berjongkok. Dia kemudian melanjutkan ucapannya dingin.
"Kau salah. Ingatlah paman, di atas langit masih ada langit. Dan sekarang ... takdir kematianmu datang."
Amdara berdiri tanpa menghiraukan Waki yang mengucapkan sumpah serapah. Amdara menepuk kedua telapak tangan. Kobaran api muncul dari tanah tepat membakar Waki.
"Akhhhh!! K-kau! Ada yang akan membalaskan dendamku! Kau tunggu saja--akkh!!"
Amdara melihat dengan jelas tubuh Waki mulai menghitam. Teriakan memilukan itu akan membuat siapa pun merasakan takut. Bahkan kelima rekan Waki sampai menahan napas melihatnya, rasa sakit yang mereka rasakan seperti hilang beberapa saat.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
"Bo-bocah bertopeng itu! Dia--!"
Amdara mengarahkan pandangan tepat arah lima rekan Waki yang langsung menahan napas. Ada aura menekan yang membuat dada mereka terasa sakit. Amdara menoleh ke arah lain, tepat di mana Tetua Widya yang mematung melihat kejadian tidak terduga ini. Tatapan keduanya bertemu, dan keduanya tidak ada yang berbicara. Pastinya Tetua Widya sangat terkejut akan hal ini. Apalagi yang dilakukan Amdara merupakan suatu hal yang tidak menusiawi.
Amdara menarik napas dalam, dia membuka suara terlebih dahulu.
"Tetua, kau urus penjahat yang lain. Urusan di sini biarkan aku yang membereskan."
Saat sadar, Tetua Widya hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia langsung melesat mencari penjahat lain.
Kepergian Tetua Widya membuat Amdara mengembuskan napas lega. Sepertinya setelah ini selesai akan ada banyak pertanyaan yang akan diajukan.
Tanpa menunggu lama, Amdara membuat rantai es langsung melahap tubuh rekan-tekan Waki. Detik selanjutnya suara debaman akibat tubuh mereka yang langsung membeku meledak tidak menyisakan sehelai benang.
Amdara membuka topeng. Wajah ayunya terlihat jelas apalagi diterangi oleh sang dewi malam. Rambutnya berkibar. Dia menatap langit malam dengan perasaan aneh.
Di sisi lain di rumah kepala desa, sembilan orang rekan Waki masih tidak menyadari jika Waki dan kelima temannya sudah tewas begitu saja. Kesembilan orang-orang ini masih saja bersuka ria sambil makan makanan lezat yang dihidangkan. Mereka saling tertawa melihat tarian yang begitu indah. Kelengahan mereka ini tentunya adalah kesalahan besar.
Di luar, Tetua Widya sudah mengetahui ada sembilan orang lain berada di rumah kepala desa menurut salah seorang warga yang baru saja dia selamatkan karena nyaris kehilangan nyawa karena kelaparan. Tubuh yang kurus, baju lusuh, tubuh terluka parah akibat cambukan, serta tatapan mata yang sudah putus asa itu membuat Tetua Widya mengepalkan tangan. Rasa amarahnya mulai memuncak melihat apa yang telah dilakukan para penjahat.
Hal pertama yang dilakukan Tetua Widya adalah berkonsentrasi untuk menyelamatkan warga desa dengan menggali tanah, membuat terowongan menuju ruangan yang sudah dia tandai.
Di ruangan besar itu, beberapa warga yang terkejut karena tanahnya bergerak tidak wajar langsung terlonjak kaget dan menghindar ketakutan. Beberapa saat kemudian, sebuah akar hijau muncul menambah ketakutan mereka.
"Kalian tenanglah. Aku akan menyelamatkan kalian. Masuk ke dalam terowongan ini."
Suara dari akar tersebut membuat warga desa itu saling pandang. Masih tidak percaya ada bantuan yang sudah lama mereka harapkan. Ada rasa takut juga karena merasa ini adalah jebakan atau mainan yang dilakukan oleh para penjahat.
Seorang pemuda yang tubuhnya sangat kurus mengepalkan tangan. Dia mendekati lubang yang cukup besar itu. Beberapa warga meneriakinya.
"Nak, jangan masuk! Itu adalah jebakan!"
"Menjauhlah, Nak. Kau akan mati jika menuruti akar itu!"
__ADS_1
Pemuda itu menoleh dan tertawa mendengar ucapan barusan. Tawanya seketika membuat orang-orang di dalam ruangan tersentak. Pemuda itu lantas menunduk dan kembali menatap mereka.
"Lalu kenapa? Masuk atau tetap di sini juga akan membuatku mati. Jika lubang ini memang sebuah jebakan, maka kematian lebih baik daripada terus tersiksa di sini!"
Tatapan matanya sendu. Suaranya serak akibat beberapa hari tidak minum. Setetes air matanya mengalir. Perkataannya membuat orang-orang itu terdiam, merenung. Sampai mereka menunduk tidak ada yang menyahut.
Pemuda itu mengusap mata menggunakan lengan dan mulai melangkah memasuki terowongan tanpa memedulikan yang lain.
Beberapa anak yang masih hidup menangis. Mereka semakin dibuat ketakutan setiap harinya. Mereka dilanda dilema saat ini. Sampai seorang kakek-kakek juga mulai masuk ke terowongan.
"Aku rasa yang pemuda itu katakan benar. Kematian lebih baik untukku dari pada siksaan ini."
Habis sudah harapan mereka untuk hidup. Rasa putus asa yang telah lama mengguncang jiwa. Tidak ada lagi keinginan untuk menikmati dunia. Yang ada mereka ingin segera meninggalkan dunia fana ini. Beberapa warga desa juga akhirnya memasuki terowongan. Namun, masih ada yang ragu.
Tetua Widya tidak mengetahui berapa yang memasuki terowongan. Dia sedang fokus membuat terowongan lagi untuk menuju ke dapur.
Sementara itu, di ruang utama salah seorang penjahat keluar dari ruangan. Hendak mencari kamar mandi. Dia celingukan merasa ada yang aneh.
"Ng? Kenapa suara warga desa terdengar ribut?"
Dia mendobrak pintu yang menampung ruangan warga desa. Betapa terkejutnya melihat hanya tinggal beberapa orang saja yang masih berdiri ketakutan, sementara ada yang baru saja memasuki terowongan aneh.
"Hei, apa kalian mencoba melarikan diri lagi?!"
Pria itu mengeluarkan kekuatan besar, tetapi sebuah serangan akar hijau langsung membuatnya terkejut. Dia terus bertukar serangan dengan akar hijau itu.
"Sialan! Siapa yang berani menyerang diam-diam?!"
Beberapa warga yang belum masuk ke terowongan, tanpa diduga dililit oleh akar hijau yang menarik ke dalam terowongan. Teriakan ketakutan terdengar dari mereka. Bahkan si penjahat itu pun dibuat membuka mata lebar. Dia hendak menyerang salah satu orang tetapi langsung di tangkis oleh akar hijau milik Tetua Widya.
Di luar, keringat dingin bercucuran di dahi Tetua Widya. Rencananya gagal total. Dia harus lebih fokus menyerang saat ini.
Sementara itu, suara debaman terdnegar sampai ke ruang utama. Kedelapan penjahat sadar ada yang aneh dan langsung melesat keluar. Namun, tiba-tiba udara di ruangan tersebut berubah dingin. Suhu dinginnya tidak main-main. Kedelapan penjahat memasang sikap waspada, bahkan para penari langsung dibuat ketakutan.
__ADS_1
Blaaar!
Petir menyambar di langit malam. Sebuah pusaran angin beliung di dalam ruangan muncul tiba-tiba membuat semua orang terkejut bukan main. Angin itu bukan angin biasa, melainkan angin yang membawa hawa menakutkan dan menekan siapa pun.