Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
96 - Arena Pertandingan (2)


__ADS_3

Setika penonton dibuat terbelalak mendengar kelas Satu C dipanggil. Mereka bersorak agar pertandingan dianjurkan memilih lawan yang sepadan. Jika pertandingan dilanjutkan, yang ada kelas Tiga Unggulan akan terasa malu. Namun, Tetua Wan tidak mengindahkan dan tetap ingin melihat kemampuan kelas Satu C yang apabila sampai membuat lawan sekali saja terjatuh, maka pandangan mengenai kelas Satu C akan segera berubah.


Amdara menoleh ke arah Aray yang membeku. Wajahnya pucat. Padahal sebelumnya dialah yang paling ingin maju dalam pertandingan ini. Mendadak dibuat bungkam oleh seorang senior laki-laki yang telah berdiri di arena pertandingan dengan gagah.


"A-aray, kau maju."


Dirgan sebagai ketua kelas juga jadi gugup sendiri melihat lawan.


"A-aku ...."


Aray menelan ludah susah payah. Keringat dingin bercucuran di punggung. Dia mengepalkan tangan, tatapannya bertemu dengan lawan di arena yang nampak tersenyum remeh. Walaupun Aray telah mengaktifkan kekuatan, tetapi soal pengalaman dan tingkat kekuatan dia jelas masih sangat dasar. Sementara lawan berada di Tingkat Tahap Bumi, jika nekad melawan Aray akan langsung babak belur dibuat dalam satu serangan.


"K-kita sebaiknya mengundurkan diri di babak pertama ini."


Perkataan Atma barusan diangguki oleh Rinai dan Nada. Sangat mustahil melawan lawan yang berbeda tingkat.


Inay yang mengerti kondisi ini mengajukan diri. Dia berdiri dan berkata, "seberapa kuat senior itu? Haih, aku jadi penasaran. Baiklah, biar aku saja yang---!"


Inay membelalakkan mata saat Amdara melesat dan sekarang berada di tengah arena panggung.


"Hei, Luffy ...! Apa yang kau lakukan?! Ini bagianku ...!"


Inay berteriak kesal. Dia membuat para peserta lain menatap aneh dan remeh secara bersamaan.


Dirgan, Atma, Aray, Rinai, dan Nada juga sama terkejutnya. Mereka menahan napas saat melihat Amdara yang telah memberi hormat dan bersiap melawan.


"A-apa yang kau lakukan Luffy?!" Aray berdiri. Dia baru akan melesat menggantikan Amdara tetapi lengannya dicekal Dirgan.


"Lepaskan aku! Ini berbahaya. Biarkan aku yang melawan senior itu, Ketua Kelas!" Aray menepis lengan Dirgan.


"Untuk pertandingan kali ini ... biarkan Luffy yang selesaikan."


Dirgan yakin pada Amdara yang bisa mengalahkan lawan. Walaupun awalnya dia meminta Aray yang maju, tetapi sebenarnya untuk lawan ini Amdara yang bisa menghadapi.


Aray menatap tidak percaya Dirgan. "Apa maksudmu?! Dia perempuan! Lawan sangat kuat dan kau ...!"


"Hei, Aray. Kau pikir perempuan tidak bisa melawan yang kuat? Dibanding dengan dirimu, Luffy lebih banyak pengetahuan dan pengalaman."


Inay mencibir. Dia bertambah kesal mendengar Aray yang seolah meremehkan kemampuan perempuan. "Murid Organisasi Elang Putih mana ada yang lemah."


"Itu benar, Aray. Kau tenanglah. Luffy pasti sudah memikirkan matang-matang. Dia tidak akan membahayakan nyawa sendiri." Dirgan menepuk bahu Aray dan mengangguk.

__ADS_1


Aray mengepalkan tangan. Dia belum lama bisa mengaktifkan kekuatan dan belum banyak memiliki pengalaman bertarung. Aray menepis tangan Dirgan dari bahunya.


Dengan suara dingin Aray berkata, "jika sampai dia terluka, kau yang pertama kali aku salahkan."


Inay mengedutkan sebelah mata mendengarnya. Dalam hati dia berbicara, "ini pertandingan, tentu saja akan terluka. Hah, kau pikir ini permainan boneka?"


Penonton dibuat gaduh karena melihat perwakilan kelas Satu C yang kini mulai mengambil posisi. Mereka tentu tahu bocah itu adalah penyusup yang pernah muncul di lapangan latihan ini sampai retak dibuatnya.


Keempat Tetua memerhatikan Amdara. Mereka fokus, dan seakan mencari sesuatu. Sementara itu, Guru Aneh tengah duduk melihat pertandingan dengan senyuman di balik topeng. Dirinya yakin Amdara bisa membuat lawan terjatuh walaupun hanya sekali.


Di arena pertandingan, lawan Amdara yang bernama Giba masih memintanya untuk turun dari panggung arena dan mengatakan menyerah sebelum dia menyerang. Amdara sama sekali tidak mengeluarkan kata, dia fokus menyerap kekuatan alam perlahan.


"Hah, keras kepala sekali. Baiklah, kalau begitu aku hanya akan membuatmu terdorong keluar arena."


Giba melayang, dia menutup mata dan detik berikutnya sebuah angin merah mengelilinginya. Semakin besar setiap detiknya.


Amdara tidak berkutik dari tempat. Dia membuat perisai pelindung yang kuat sebelum akhirnya sebuah terjangan angin kuat menyambar ke arahnya.


Terjangan angin dahsyat itu membuat penonton tidak bisa melihat keadaan Amdara yang kini tertutup angin merah. Lawan Amdara menyilangkan kedua tangan depan dada.


"Yah, maaf saja junior. Aku sudah membuatmu malu."


Giba baru akan menatap penonton dengan senyuman. Namun, tiba-tiba sebuah angin biru yang muncul dari atas dan langsung menghantam Giba dengan cepat membuatnya refleks membuat segel perisai.


Sementara angin merah miliknya mulai menghilang dan memperlihatkan seorang bocah berambut putih tengah berdiri dan mengangkat tangan. Darah mengalir dari sudut bibir Amdara, dia mengusapnya menggunakan jari telunjuk dan melihatnya sambil tersenyum.


"Mn. Lumayan."


Angin Giba tentu melukai Amdara. Bahkan segel perisai yang dia buat sampai pecah berkeping-keping. Untunglah Amdara bisa membuat angin biru andalan berada di atas Giba sebelum bocah itu menyadari.


Amdara melibaskan tangan dan detik berikutnya melesat ke arah Giba yang terdorong mundur.


"Kilatan Angin Aliran Pertama."


Angin bak pedang tajam yang tak terhitung jumlahnya berada di belakang Amdara dan siap menyerang Giba yang kini membelalakkan mata tak menyangka.


Lawan Amdara membuat perisai pelindung dan juga melesatkan angin merahnya yang dahsyat. Tidak peduli lagi Amdara yang dari kelas Satu C. Mendapat tekanan hebat dari angin biru milik lawan sudah cukup membuat pemikiran Giba berubah.


Kedua jurus angin yang dilesatkan bertabrakkan. Mengakibatkan angin kejut dahsyat lepas landas. Panggung arena dibuat bergetar hebat. Pada penonton langsung membuat perisai pelindung begitu serangan nyasar nyaris melukai mereka. Begitu terlonjak kaget dengan kedua jurus angin barusan.


Debaman keras terjadi. Kedua peserta terpental dan nyaris keluar dari panggung arena akibat kedua serangan dahsyat.

__ADS_1


Tetua Wan menajamkan mata. Dia mengerutkan alis saat melihat bocah berambut putih itu kini mulai berdiri. Raut wajah tenangnya cukup membuat Tetua Wan tercengang. Kekuatan barusan tidaklah main-main dilesatkan.


Amdara melihat Giba yang juga berdiri menatap dirinya tajam. Seperti menahan amarah cukup besar.


"Meremehkan lawan tidaklah benar."


Kata Amdara sebelum dia mengangkat kedua tangan. Tubuhnya melayang, tidak mempedulikan dengan tatapan orang-orang terhadapnya. Dia hanya harus mengakhiri pertandingan dengan cepat. Giba memang lebih kuat darinya, tetapi sepertinya pengalaman Giba lebih sedikit. Dan tentu itu akan mempengaruhi gerakan serangan.


Apalagi Giba adalah pengendali angin sama seperti Amdara. Hanya saja yang membedakan adalah cara mengontrol angin. Jika dilihat dari warna anginnya, Giba termasuk orang yang mengolah angin tidak dengan ketenangan. Melainkan dia menyalurkan kemarahannya.


"Merepotkan."


Amdara membuka mata, dan setelahnya menyatukan kedua tangan. Sebuah angin beliung biru miliknya muncul tiba-tiba. Angin tersebut nyatanya membawa banyak dedaunan dan bunga-bunga putih entah dari mana. Amdara sendiri menaikkan sebelah alis saat melihat perbedaan angin biru miliknya setelah lama tidak digunakan. Jubah dan ikat rambutnya dilambai-lambaikan angin. Terlihat tenang dan mengagumkan di mata beberapa orang.


Tetua Haki mencium aroma segar yang berasal dari bunga-bunga yang diciptakan Amdara. Dia memerhatikan baik-baik sebelum tatapan kekaguman terlihat.


"Tetua, angin ini mirip dengan angin milik seseorang."


Perkataan Tetua Genta tak langsung diangguki Tetua Haki. Keduanya tak mengalihkan perhatian saat Giba terlihat mengeluarkan angin miliknya juga.


"Apa dia dari marga Ang?"


Tetua Rasmi bertanya pada Tetua Haki. Dia cukup terkejut melihat bocah di arena itu mengeluarkan jenis angin yang mereka kagumi.


"Keluarga Ang ... memang pengendali terhebat di dunia." Tetua Rasmi menggeleng-gelengkan kepala. Dia menahan napas melihat keturunan klan Ang akan saling melawan.


Tetua Haki tak juga buka suara. Dia tengah memikirkan hal lain saat ini.


Suara penonton yang riuh membuat suasana semakin gaduh. Mereka tak menyangka ada pengendali angin yang akan saling melawan. Apalagi dari kalangan kelas tiga, mereka jadi semakin penasaran seberapa kuat angin milik keduanya itu.


Berbeda dengan yang lain, kelompok kelas Satu C itu kini dibuat tegang. Pasalnya Giba pasti akan mengeluarkan jurus hebat yang akan melukai Amdara. Yang paling tegang adalah Aray, dia mengepalkan tangan dan mengutuk dalam hati karena tidak bisa mencegah Amdara masuk arena pertandingan.


Mendengar suara yang membuat telinga Giba memanas itu kini menggeram dan memperbesar angin. Dia sudah tersulut emosi ketika jurus anginnya bisa disamai oleh bocah berekspresi datar itu. Dia sebenarnya dibuat terkejut karena lawan ternyata adalah keturunan klan Ang yang berarti masih keluarganya.


Giba menyatukan kekuatan ke dalam pusaran angin miliknya yang semakin besar. Dia tidak akan bermain-main lagi dan meremehkan lawan kali ini. Karena tahu Amdara walaupun masih sangat muda tetapi memiliki kekuatan besar.


"Hah. Kau lihat siapa sebenarnya si pengendali angin."


Giba tersenyum miring. Tangannya terangkat dan detik berikutnya dia berteriak keras.


"Gangsing angin neraka ...!"

__ADS_1


Dua pusaran angin besar dengan dua warna berbeda berputar di atas arena. Bak gangsing yang tengah saling bertubrukkan. Amdara melesatkan pusaran angin miliknya bersamaan dengan Giba yang dengan cepat nyaris membuat sekitar terbawa kedua angin itu.


Amdara membuat perisai pelindung yang cukup kuat. Tidak menyangka kekuatan Giba sangatlah besar. Amdara tidak mungkin menang jika seperti ini keadaannya.


__ADS_2