
"Siapa anak itu? Manis sekali."
"Sangat mempesona. Mataku tidak bisa mengalihkan pandangan."
"Haih, Tuan Muda tampan itu membuatku jatuh hati."
"Saat dewasa pasti dia sangat tampan! Sayang sekali sekarang dia masih belum dewasa."
Perkataan-perkataan yang masuk ke telinga Amdara membuatnya mengepalkan tangan kuat. Bukan mengenai 'tampan' yang membuatnya kesal. Akan tetapi dia tidak suka dengan tatapan mereka.
Tetua Widya tentu menyadari hal tersebut Dirinya dibuat berkedip dengan ucapan orang-orang ini. Nyaris saja dibuat tertawa melihat ekspresi Amdara yang sedikit berubah. Tetua Widya kira ekspresi itu karena Amdara dikira laki-laki. Yah, Amdara memang memakai jubah seperti laki-laki, tubuhnya yang kurus dan tinggi membuat siapa pun mengira dia adalah laki-laki. Apalagi tatapan mata tegas sekaligus menenangkan membuat siapa pun terpesona.
Salah seorang gadis berusia kisaran 19 tahun berjalan mendekat dengan langkah anggun. Bernama Wulan. Pakaiannya nampak sangat cantik, rambutnya menjuntai hitam dengan hiasan jepit rambut di sampingnya. Rona merah terlihat di kedua pipi saat sudah berada di hadapan Amdara.
Suaranya malu-malu saat berkata, "kau sangat tampan. Siapa namamu?"
Tetua Widya dibuat berkedip melihat pemandangan sangat langka ini. Dia sampai menahan tawa, terlihat dari tubuhnya yang bergetar.
Sementara Amdara semakin mengepalkan kedua tangan. Tatapannya semakin dingin, tapi gadis di depannya malah semakin terlihat malu-malu.
"Hei, apa yang kau lakukan? Kau ini sudah dewasa. Dia sama sekali tidak cocok denganmu, tahu!"
Suara gadis lain terlihat mulai mendekat. Gadis ini berusia 15 tahun, matanya berwarna merah muda. Wajahnya imut dengan gaun merah muda sangat cantik. Dia bernama Vivi.
Sementara gadis berusia 19 tahun itu berdecak karena ada satu orang yang mengganggunya. Dia menatap tajam Vivi. Dirinya berkata, "siapa kau? Berani sekali mengganggu kami."
"Hmph. Tidak tahu malu. Apa tidak ada laki-laki yang mau denganmu sampai kau nekad mendekati Tuan Muda ini?"
Perkataan Vivi menambah amarah Wulan, dengan tatapan melotot. Dirinya baru hendak buka suara, tapi suara merdu seseorang menyela.
"Kalian jangan bertengkar. Apa tidak malu kepada Tuan Muda?"
__ADS_1
Yang terbang mendarat di samping Amdara adalah gadis berusia 16 tahun. Nampak kalem, tapi sebenarnya tidak. Dia bernama Arum. Ucapannya membuat Wulan dan Vivi seketika terdiam, menatap Amdara yang masih tidak berekspresi.
Pemandangan itu membuat orang-orang dewasa yang berada di dalam ruangan menggelengkan kepala. Andai mereka masih muda, mungkin mereka juga akan melakukan hal yang sama kepada Amdara terkecuali laki-laki nya.
Tetua Widya menepuk pelan bahu Amdara yang langsung menoleh. Tetua Widya buka suara, "aku tidak ingin melukai hati mereka. Jadi urus urusanmu ini."
Setelah mengatakan itu, Tetua Widya pergi begitu saja sambil tertawa. Tindakannya membuat tiga gadis di hadapan Amdara mengerutkan kening kebingungan.
"Tuan Muda, apa dia ibumu?"
Ucapan Vivi membuat Amdara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Berada di situasi macam ini membuatnya ingin sekali membuat mereka merasakan rantai apinya.
"Aku minta maaf. Aku sedang kelelahan dan butuh istirahat," Amdara memberi hormat dan melenggang pergi begitu saja.
Suaranya barusan membuat tiga gadis itu membeku. Seolah baru saja disambar petir di siang hari.
"Suaranya ... sangat imut!" Rona merah kembali muncul di pipi Wulan. Dia sampai menyentuh kedua pipinya, menatap kepergian Amdara.
"Tuan Muda itu ...." Sementara Arum berkedip melihat Amdara yang sudah menaiki tangga menuju ke lantai kedua.
*
*
*
Di dalam kamar penginapan yang sudah dipesan Tetua Widya. Amdara duduk di salah satu kursi. Menghela napas panjang. Kejadian barusan sungguh memalukan. Rasanya Amdara tidak ingin keluar dari kamar kecuali melanjutkan perjalanan.
Amdara melibaskan tangan, sebuah cermin persegi muncul. Memperlihatkan wajah mempesonanya. Wajah tanpa bekas luka, putih bersih. Bibir mungil merah muda alami. Hidung yang tidak terlalu mancung. Mata sebiru langit. Bulu mata lentik. Dan rambut yang diikat ke belakang. Amdara terdiam memperhatikan wajahnya sendiri.
"Indah," tanpa sadar kata itu muncul begitu saja. Saat sadar, dia langsung menghilangkan cermin. Memalingkan wajah ke arah lain. Wajahnya memang tidak merona, tapi telinganya terlihat memerah.
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuat Amdara menoleh, beranjak membuka pintu. Seorang wanita membawakan makanan dan minuman dan berkata, "Tuan Muda, ini makananmu."
Amdara mengambilnya dan mengangguk. Setelahnya pelayan wanita itu pergi. Amdara menutup pintu, duduk kembali ke tempat sebelumnya. Meletakkan makanan dan minuman di atas meja.
Sudah lama dia tidak memanjakan lidah dengan makanan berempah. Dia mengambil sesumpit daging, memperhatikannya lama. Mencium aroma rempah-rempah. Memastikan tidak ada racun. Perlahan dia memasukkan oseng daging ke mulut menggunakan sumpit, mengunyah perlahan dan menelannya, Amdara merasa sangat senang. Dia menghabiskan semangkuk nasi, oseng daging, sayur, buah apel, dan segelas air putih tanpa sisa. Rasa dari oseng daging itu membuatnya sedikit ketagihan.
"Bagaimana cara membuatnya?"
Amdara berkedip. Melihat mangkuk oseng daging yang sudah bersih. Dia berdiri, berniat pergi ke dapur penginapan untuk belajar memasak. Tapi langkahnya terhenti saat mengingat tiga gadis yang sebelumnya membuatnya malu. Amdara menghela napas. Dia berbalik, berjalan menuju sekat untuk mengganti seragam milik Akademi Magic Awan Langit. Seragam itu merupakan pemberian dari Inay karena berulangkali kesal melihat Amdara yang terlihat seperti laki-laki. Amdara juga berinisiatif mengepang rambutnya ke samping menjadi satu. Dia pikir dengan seperti ini tidak dikira laki-laki untuk menghindari hal memalukan terulang kembali. Amdara juga mengenakan cadar tebal untuk menutupi wajah.
Setelah merasa semuanya beres, dia bergegas mencari dapur penginapan. Mungkin karena tempat makan di sini berada di lantai bawah, dapur kemungkinan besar juga berada di sana. Beruntung tidak ada yang memperhatikan Amdara.
Akhirnya tempat yang dicari ketemu. Dia segera memasuki dapur yang ternyata cukup luas itu. Di sana banyak orang yang mengenakan pakaian khas seorang chef. Mereka sedang sibuk-sibuknya membuat masakan. Aroma menggugah selera sampai di indera penciuman Amdara yang tajam.
"Hei, siapa kau?" Seorang pria menatap curiga dari arah samping.
Amdara menoleh, tanpa ragu berkata, "makanan yang disajikan di sini sangat lezat. Aku ingin belajar memasak."
Pria yang membawa nampan berisi piring dan mangkuk kotor itu memicingkan mata.
Dia berkata, "terima kasih atas pujian itu. Apa kau benar hanya ingin belajar memasak? Atau kau ingin mencuri resep rahasia kami?"
Suara pria ini terdengar oleh orang-orang dapur. Mereka sampai menghentikan aktivitas sejenak untuk melihat siapa yang sampai ditanyai seperti itu.
"Aku hanya ingin belajar memasak,"
Ucapan Amdara membuat salah satu seorang wanita mendekat. Dia memperhatikan Amdara yang masih sangat muda. Hal yang membuat mereka curiga adalah cadar tebal yang dikenakan.
Wanita tersebut sambil berdecak pinggang berucap, "Sudah banyak yang mencoba mengambil resep rahasia kami. Untuk memastikan kau bukan seorang musuh, kau harus membuka cadar."
Amdara berkedip mendengar ucapan barusan. Dia menarik napas dalam, dan menghembuskannya perlahan. Yah, wajar orang-orang dapur merasa curiga terhadapnya. Selain Amdara orang asing, Amdara juga mengenakan cadar. Perlahan tangannya mulai membuka cadar. Dan saat cadarnya benar-benar terlepas dari wajah, sesuatu tidak terduga terjadi. Suara barang-barang terjatuh ke lantai yang menimbulkan suara berisik membuat Amdara mengedipkan mata kaget.
__ADS_1